
*Keesokan harinya.
Titha ,Kahfi, dan si Rahmat baru saja tiba di Sungai Penuh, yaitu tempat dimana Titha berpisah dengan teman pertamanya saat baru pertama kali menginjakkan kakinya di Kerinci, yaitu si Puti.
Sesaat di dalam mobil, Kahfi bertanya pada si Rahmat.
"Mat, udah sampe mana kita?" Tanya Kahfi pada Rahmat sambil melihat-lihat keluar mobil.
"Kalo gak salah, nama daerah ini adalah Sungai jenuh," ucap si Rahmat menjawab pertanyaan si Kahfi.
"Sungai penuh..." Saut Titha dari kursi belakang.
"Nah itu maksud aku, loh? Kok kamu tahu Tha?" Ucap si Rahmat.
"Dulu pas aku pertama kali Dateng ke sini, ada kenalan aku disini, dia guru juga, dia juga tinggal di sini" jawab Titha.
"Ooh.. cantik gak Tha?" Tanya Rahmat sambil melihat ke arah Titha.
"Cantik, emangnya kenapa nanya gitu Mat?" Ucap Titha.
"Eh eh, Mat! Mat! Hati-hati ada orang di depan!" Ucap Kahfi dengan nada tegang sambil menepuk-nepuk bahu Rahmat.
"Brruukk!!"
Mobil yang di kemudikan oleh Rahmat tak sempat mengelak, mereka menabrak seseorang, sontak mobil mereka langsung di kerumuni oleh warga yang ada di lokasi kejadian itu.
Kahfi dan Rahmat langsung turun dan bergegas menghampiri orang yang ditabrak oleh mereka, begitu pun dengan si Titha, ia sangat syok tapi memberanikan dirinya untuk ikut keluar melihat siapa yang mereka tabrak, dan di saat Titha sampai tepat di depan orang yang telah mereka tabrak, sontak Titha berkata.
"Puti!" Ucap Titha yang tak menyangka bahwa yang sedang tergeletak di tengah jalan itu adalah temannya yang baru saja mereka bicarakan.
"Apa?! Put, Puti!" Saut Rahmat yang mendengar ucapan Titha.
"Cepetan angkat, masukan ke dalam mobil, kita bawa ke rumah sakit," ucap Kahfi dan mengangkat si Puti masuk ke mobil.
*Di rumah sakit umum Sungai Penuh.
Suara roda dari tandu yang membawa si Puti berputar dengan cepat, dibantu oleh Rahmat dan Kahfi yang juga ikut mendorong, serta Titha yang sepanjang jalan menangis karena tak kuasa melihat kondisi temannya itu.
Mereka tiba di depan pintu ruang UGD dan para suster pun menghentikan langkah dari Kahfi dan Rahmat juga Titha, dan mau tak mau mereka harus menunggu diluar pintu itu, sementara Puti dibawa oleh suster masuk kedalam ruang UGD dengan kondisi tidak sadarkan diri.
Melihat Titha yang mondar mandir tak tentu arah, Kahfi pun menghampirinya dan berkata.
"Tha, kamu jangan khawatir ya, kita doakan saja kalau si Puti bakal selamat dan gak kenapa-napa," ucap Kahfi dengan pelan menenangkan Titha.
"Tapi fii, aku benar-benar takut, aku takut Puti nanti kenapa-napa," ucap Puti menjawab Kahfi dengan nada yang tersedu-sedu.
"Ini semua salahku, gara-gara aku si Puti jadi gini," saut Rahmat dengan raut wajah takut dan bersalah.
"Astagfirullah Mat! Jangan ngomong gitu, udah kalian tenang kenapa sih, kita tunggu aja dokter yang menanganinya dulu, kalian jangan nambah masalah lagi," ucap Kahfi menegur Rahmat dan Titha yang gelisah bercampur takut dengan nada tegas.
"Tapi fii, aku udah hampir ngebunuh orang, aku hampir membuat nyawa orang melayang fii!" Ucap si Rahmat yang tambah membuat tegang suasana.
"Istighfar Mat! Istighfar, kamu ingat ayat ini, Allah SWT berfirman:
اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَا دَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Innamaaa amruhuuu izaaa arooda syai'an ay yaquula lahuu kun fa yakuun.
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu." Ucap Kahfi pada si Rahmat.
Mendengar Kahfi berbicara seperti itu, Rahmat dan Titha untuk sesaat sempat berhenti gelisah dan berangsur tenang.
"Bagaimana dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Rahmat gelisah.
"Bagaimana dok?" Tanya Kahfi setelah Rahmat.
"Kami sudah berusaha semampu kami, dan pasien alhamdulillah mampu kami selamatkan, tapi, dia membutuhkan lebih banyak darah, karena dia kekurangan darah akibat banyaknya darah yang keluar dari kepalanya," ucap si dokter pada mereka bertiga.
"Astagfirullah hal'aziim, bagaimana ini?!" Ucap Titha mendengar kabar yang tak mengembirakan dari dokter dengan raut wajah resah.
"Kalau boleh tahu dok, apa golongan darah dari saudari Puti?" Tanya Kahfi pada si dokter.
"Dia bergolongan darah O, mungkin ada di antara kalian bertiga ini yang sama dengan darahnya?" Ucap si dokter.
"Bagaimana ini?! Aku bukan golongan itu," saut Rahmat.
"Aku juga bukan golongan itu," saut Titha.
"Aku! Ambil darahku dok, aku bergolongan darah sama seperti Puti," ucap Kahfi dengan raut wajah serius.
"Baik, silahkan mas ikuti suster ke ruang transfusi darah," ucap dokter pada Kahfi.
"Baik dok," jawab Kahfi.
"Maaf fii, aku tidak bisa bertanggung jawab, padahal aku yang telah-"
"Mat! Tolong jaga Titha sebentar, yah," ucap Kahfi memotong gumam Rahmat.
Rahmat yang mendengar perkataan dari teman dekatnya itupun seketika berlinang air matanya, lalu ia berkata sambil menghapus air matanya.
"Mmm.. pasti, aku akan menjaganya untuk mu," jawab Rahmat dengan penuh haru.
Sementara si Titha hanya terdiam sambil menatap Kahfi yang makin lama makin jauh, setelah bayang Kahfi tak terlihat lagi dari kejauhan, Titha merebahkan badannya di tempat duduk yang tepat berada disampingnya, ia nampak sedang memikirkan sesuatu dengan tatapan yang kosong. Melihat Titha yang melamun dengan tatapan kosongnya itu, lantas Rahmat menghampirinya dan duduk tepat di sebelah Titha, kemudian si Rahmat berkata.
"Kahfi memang orang yang baik," ucap Rahmat tanpa melihat ke arah Titha.
Namun Titha tidak menghiraukan ucapan si Rahmat, ia masih melamun menatap ke arah lantai. Namun si Rahmat juga tidak mau kalah, ia terus berkata pada Titha, hingga pada di ujung kalimat si Rahmat membuat Titha tersentak dan terbelalak sadar memandangi si Rahmat dengan penuh rasa tak percaya, Rahmat mulai berkata.
"Dari dulu.. saat kami masih kecil, ia sudah hafal setengah Al Qur'an, dia tak pernah membuat orang di sekitarnya merasa terganggu, malah membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa nyaman dan bahagia, tapi semenjak kamu datang ke sini Tha, dia berubah, bahkan dia yang tak pernah pergi jauh ataupun merantau, rela mengikutimu ke Lampung hanya untuk mengungkapkan perasaannya terhadap mu," ujar si Rahmat pada Titha dengan panjang lebar.
Titha tersentak dan terbelalak mendengar apa yang telah di katakan oleh si Rahmat, Titha mengalihkan pandangannya yang kosong tadi menjadi tatapan serius ke arah Rahmat, kemudian si Rahmat melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya, tapi, jika tidak sekarang, kapan lagi, bahkan dia pernah bilang padaku, setiap dia mau mengungkapkan perasaannya padamu, ada saja yang mengganggunya, jadi, aku sebagai temannya dari kecil, merasa kasihan padanya, karena bagi Kahfi, kamu adalah cinta pertama dan terakhir baginya," ujar si Rahmat pada Titha.
Dan apa yang telah dikatakan oleh Rahmat membuat hati Titha berdegup kencang, Titha tak berkata sedikit pun setalah apa yang dikatakan oleh Rahmat, Titha mengalihkan pandangannya dari si Rahmat, suasana hati Titha seketika berontak, ia tak bisa mengendalikannya, disisi lain, Titha tengah sedih dengan musibah yang di alami oleh temannya yaitu si Puti, dan di sisi lainya lagi, ia terkejut bercampur bahagia yang tak terbayangkan, karena laki-laki yang selama ini ia kagumi, juga mempunyai rasa yang sama dengannya. Titha tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa merasakan hatinya yang sedang berdegup kencang, kemudian, disaat suasana hati Titha yang tak menentu, datang lagi dokter tadi sambil di temani oleh suster yang membawa dua kantong darah.
"Dokter?" Ucap si Rahmat melihat dokter yang baru saja sampai.
Titha langsung berdiri dan menghampiri si dokter lalu berkata.
"Dok, dimana orang yang bersama mu tadi?" Tanya Titha pada dokter.
"Ah, maksud mbak mas yang mendonorkan darahnya, dia akan menyusul kesini katanya," ucap si dokter menjawab Titha.
"Dok, boleh kami ikut ke dalam, kami ingin melihat keadaan si Puti," ucap Rahmat pada si dokter.
"Tentu saja, mari," jawab dokter.
Titha dan Rahmat pun ikut ke dalam bersama dokter yang menangani Puti, sedangkan si Kahfi baru saja keluar dari ruang transfusi darah, dan bergegas menyusul dokter ke ruangnya Puti.