Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 22



*Didalam mobil Rahmat.


Titha, Kahfi dan Rahmat sedang menuju kembali pulang ke kampung tempat bi Mur tinggal, sekilas nampak Titha yang duduk di kursi belakang menatap Kahfi dari pantulan kaca yang ada di atas antara Kahfi dan Rahmat yang sedang mengemudi, dan Kahfi yang tak sengaja melihat ke arah kaca tersebut melihat Titha yang tengah memandangnya begitu dalam dengan senyuman yang hampir tak bisa dilihatnya, sontak, Titha langsung mengalihkan pandangannya dari kaca tersebut, lalu Kahfi mengalihkan pandangannya ke arah Titha yang ada di kursi belakang lalu berkata.


"Kamu gak papa?" Tanya Kahfi pada Titha.


"Enggak," jawab Titha simpel tanpa melihat ke arah Kahfi.


Kahfi menanggapi Titha dengan tersenyum kecil dan kembali beralih melihat ke arah depan.


Si Rahmat yang tengah mengemudi mengerutkan keningnya, dengan wajah seperti berpikir ia berkata pada Kahfi.


"Fii, aku baru tahu kalau si Salman tuh kayak gitu orangnya, kalau dia gitu terus, mungkin dia gak bakalan kawin deh sampai tua sekalipun," ucap si Rahmat.


Kahfi yang agak terkejut mendengar ucapan temannya itu merasa timing Rahmat ngomong gak tepat, lantas si Kahfi menjawab si Rahmat.


"Jangan gitu ah, kita gak boleh ngedoa'in sesama saudara kita gitu," ucap Kahfi menyauti si Rahmat.


Sedangkan Titha hanya menyimak percakapan antara kedua sahabat tersebut.


"Lah sejak kapan kita saudaraan sama penghuni neraka kayak dia, iih gak ah," ucap si Rahmat.


"Udah dibilang jangan ngedoa'in orang yang enggak-enggak, bagaimana pun kita ini saudara sesama muslim, moga aja dia di berikan hidayah sama yang di atas," ucap Kahfi.


Mendengar ucapan Kahfi yang begitu mengembangkan hati dan menyadarkan Titha, bahwa masih ada orang baik seperti Kahfi yang walaupun sudah di rendahkan dan dihina, ia masih bisa melapangkan hatinya untuk orang yang sudah menyakiti hatinya, Titha tersenyum sendiri di kursi belakang, dan si Rahmat tidak sengaja melihatnya dari kaca yang memantulkan bayangan Titha yang sedang tersenyum, si Rahmat pun membuka mulutnya dan berkata.


"Ngapain Tha? Senyum-senyum sendiri, ke inget sendawanya Kahfi tadi yaa.." ucap Rahmat menggoda Titha.


Titha yang tengah tersenyum itu agak merasa malu karena tertangkap oleh Rahmat, lalu Titha pun menjawab godaan Rahmat tersebut.


"Enggak papa, ih jangan su'uzon," jawab Titha dengan penuh canda.


Mendengar jawaban Titha itu, Kahfi tersenyum kecil dengan raut wajah yang bahagia, namun lagi-lagi, Rahmat mendapati kali ini giliran temanya yang tersenyum, Rahmat langsung angkat lah, gak pake lama.


"Idih-idih, yang atunya lagi yang senyum sendiri, faham aku sekarang, kalian ternyata main batin ya," ucap si Rahmat yang membuat Titha dan Kahfi terkikih bercampur malu.


"Jangan ngelawak mulu, lu fokus aja nyetirnya, kebo," ucap Kahfi yang dengan becanda.


Sedangkan Titha hanya menanggapi ucapan si Rahmat tadi dengan senyuman.


Lalu si Rahmat menyalakan radio yang ada di mobilnya tersebut.


"Baiklah para pendengar radio dimana pun anda berada, berita selanjutnya adalah tentang bulan mulia yang tak lama lagi akan kita jumpai, yaitu bulan ramadhan, menjelang satu hari lagi bulan ramadhan, pemerintah telah menentukan bahwa seluruh sekolah baik SD sampai SMA akan di liburkan dan kembali aktif lagi setelah lebaran-" suara dari radio.


"Waduh, gak terasa ya, padahal baru aja udah lebaran, sekarang udah mau lebaran lagi," ucap Rahmat.


"Iya, bakal sibuk aku," ucap Kahfi menyauti si Rahmat.


"Sibuk? Emang kamu ngapain?" Tanya Titha di kursi belakang.


"Tiap bulan puasa, aku dan murid-murid pengajianku akan full di masjid, apa lagi pas malamnya, kadang kami tadarus dari selesai tarawih sampai sahur," jawab Kahfi.


"Sampai sahur?! Anak-anak?" Tanya Titha kembali.


"Kalo mereka sih, mana yang sanggup aja, kalo yang udah ngantuk dia bakal tidur duluan," jawab si Kahfi.


"Tidur di masjid?" Tanya Titha lagi.


"Iya, kalo bulan puasa udah datang, kami jarang ada dirumah, masjid akan lebih ramai dari pada biasanya," jawab Kahfi.


"Itulah penyakit kita manusia sekarang, kenapa harus pada bulan puasa aja masjid ramai, sedangkan pada hari-hari biasanya jumlahnya gak sampe sepuluh orang, itupun kalo gak kakek-kakek ya anak kecil yang baru SD," saut Rahmat.


"Iya ya, kalo aja masjid selalu ramai kayak bulan puasa," gumam Titha dari kursi belakang.


"Nah itu, yang harus generasi muda seperti kita dan generasi dibawah-bawah kita benahi, sebagai generasi muda, kita gak cuma di tuntut untuk berilmu dan bertanggung jawab, tapi kita juga wajib faham akan ilmu agama, di bidang apapun itu, entah itu fikih, hadits, Al Qur'an, dan lainya, karena tanpa adanya ilmu agama pada generasi muda, maka mereka akan mudah tersesat," ucap si Kahfi menanggapi apa yang dikatakan oleh Rahmat.


"Ya gak ceramah juga kali fii, lu kira kita lagi jum'atan denger khutbah lu," ucap si Rahmat.


"Tapi yang di bilang Kahfi bener," saut Titha dari kursi belakang.


"Inilah yang dibilang, ketika cinta membela cinta," ucap si Rahmat dengan sindiran candanya.


"Apaan sih lu," ucap Kahfi sambil menjitak si Rahmat dengan kopiahnya.


"Bercanda tad," ucap si Rahmat.


Tanpa sepengetahuan Kahfi dan Rahmat, Titha tengah tersenyum sendiri di kursi belakang karena mendengar candaan si Rahmat.


Dan terasa, hari sudah mulai gelap, langit yang biru tadinya sudah memerah, si Titha dan kedua laki-laki yang ada di dalam mobil itu membuka kaca mobil dan melihat keluar, betapa indahnya senja yang menyapa mereka, dengan angin sore yang menerpa mereka, Titha dan Kahfi sempat bertatapan walaupun untuk sesaat, mereka hanya saling melempar senyum lalu kembali memasukkan kepala mereka ke dalam mobil.


Melihat hari yang sudah mulai gelap, Kahfi menyuruh Rahmat untuk mencari sebuah masjid untuk menunaikan ibadah shalat magrib.


"Mat, cari masjid yuk, udah magrib nih," ucap Kahfi pada temannya itu.


"Iya, aku juga mau sholat," saut Titha dari kursi belakang.


"Iya-iya, ini juga lagi nyari," jawab si Rahmat sambil menyetir.


Dan tak lama kemudian, mereka menemukan tempat untuk sholat, namun itu bukan sebuah masjid, melainkan sebuah surau kecil yang terletak di dekat kebun teh di penghujung akhir kebun, surau yang terbuat hanya dari kayu Surian itu memang nampak sederhana dan sempit, tapi ketika si Kahfi, Titha dan Rahmat memasukinya, suasana yang tadinya gerah dan pikiran yang tadinya kacau, seketika hilang tiada bekas, mereka sholat dengan beberapa warga dan para pekerja buruh di kebun teh tersebut.


Beruntung mereka tidak terlambat untuk menunaikan sholat, seorang kakek tua renta tengah mengumandangkan adzan dengan suara yang kadang hilang kadang timbul, tapi beliau sangat berwibawa dan berkarisma, dengan sorban yang dikalungnya dan kopiah putih polos di kepalanya, beliau membuat semua orang tenang dan merasa damai dengan lantunan adzannya.


Dan setelah kakek tua itu adzan dan Iqamah, beliau sudah tak kuat untuk menjadi imam, beliau pun menyuruh Rahmat untuk menggantikan beliau, namun si Rahmat menolak dan berkata.


"Ah saya tidak hanya hafalan ayat kek, tapi teman saya yang ini bisa kek, dia juga ustadz di desa kami," ucap si Rahmat menjawab tawaran si kakek tersebut.


"Tapi Mat, Mat! Aku-"


Belum selesai Kahfi bicara, si Rahmat sudah mendorongnya ke tempat imam.


"Mati aku," gumam si Kahfi.


Dan mau tak mau, si Kahfi pun mengimami seluruh jamaah pada sholat magrib itu, di surau tua yang sederhana dan tidak terlalu besar, lantunan ayat suci Al Qur'an yang dibaca oleh kahfi menggema ke seluruh penjuru ruangan.


*Setelah sholat isya.


Titha dan kedua laki-laki yang bersamanya sedang duduk bersama di dalam surau dengan si kakek yang adzan tadi, kakek itu memuji si Kahfi karena suaranya yang merdu dan jelas dalam menyebutkan ayat suci Al-Quran.


"Saya tadi terkagum-kagum mendengar kamu mengimami kami tadi, sekarang sudah jarang saya bertemu dengan pemuda dan pemudi seperti kalian," ucap si kakek memuji si Kahfi.


"Alhamdulillah, terimakasih kek," ucap Kahfi menjawab si kakek.


"Kalau boleh tahu, siapa nama kalian?" Tanya kakek pada mereka bertiga.


"Boleh kek, saya Kahfi kek," ucap si Kahfi.


"Kalau saya Rahmat kek," ucap si Rahmat.


"Lalu yang ini?" Tanya kakek itu melihat ke arah Titha.


"Saya Titha kek," ucap Titha menjawab si kakek.


"Sepertinya kalian sedang berpergian ya," ucap si kakek.


"Iya kek, kami mau pulang kek," ucap Kahfi.


"Kek, kalau boleh tahu, nama kakek siapa?" Ucap si Rahmat bertanya pada si kakek.


"Namaku? Kalian boleh memanggilku dengan Basri, atau kakek Basri," jawab kakek Basri.


"Kek, saya mau nanya, surau ini sudah berapa sih usianya?" Tanya Titha pada kakek Basri.


"Hmmm, kalau dihitung-hitung, sudah sepuluh tahun kurang lebih, surau ini mulanya bukanlah sebuah surau, melainkan hanya pondok kecil yang digunakan oleh masyarakat menjadi tempat berteduh setelah memetik teh di kebun, tapi karena masyarakat juga terus beribadah di pondok ini juga, maka lama-kelamaan, pondok yang tadinya kecil dan hanya menjadi tempat untuk berteduh, sekarang sudah berkembang menjadi surau yang kita lihat saat ini, tapi walaupun sederhana dan tidak terlalu besar, surau ini banyak menyimpan sejarah dan kenangan masa lalu tentang peristiwa itu," ucap si kakek menjawab pertanyaan dari Titha panjang lebar.


Namun, pada saat ucapan kakek Basri yang terkahir, membuat Kahfi dan Rahmat penasaran, dan berbalik bertanya pada kakek Basri.


"Peristiwa itu? Maksud kakek apa ya?" Tanya Kahfi pada kakek Basri.


"Iya, saya juga tidak faham maksud kakek tentang peristiwa itu," saut si Rahmat yang ada di sebelah Kahfi.


Kakek Basri menghela nafas panjang, dan mulai membuka mulutnya menjawab pertanyaan dari Kahfi dan Rahmat.


"Tepatnya sudah tiga puluh tahun berlalu, sejak kejadian itu menimpa tanah yang subur dan luas ini, saya menyaksikan dan merasakannya sendiri, peristiwa dimana bukit-bukit dan gunung-gunung memaksa burung-burung untuk terbang, dan hamparan sawah yang terlihat seperti gelombang ombak laut, saat itu semua orang yang ada dan menyaksikannya berteriak mengucapkan kalimat tauhid, dan pada saat itu, negeri ini belum secanghih seperti sekarang," ujar si kakek Basri dengan raut wajah meyakinkan.


"Apa pada saat itu terjadi perang di sini?" Ucap Rahmat.


"Tidak, tapi peristiwa ini sudah menjadi legenda turun-temurun di tanah sakti alam Kerinci ini, pada saat itu, di tahun 1965, terjadi musibah besar yang menimpa Kerinci ini, orang-orang tua dulu menyebutnya dengan sebutan gempa 1965, dan gempa itu bukan seperti gempa biasanya, sudah saya bilang tadi, hamparan sawah seperti bergelombang, dan gunung-gunung memaksa burung-burung untuk terbang, saat itu, semua terasa gelap dan takut, seakan-akan kiamat sudah dimulai, dan menurut legenda, gempa yang berkekuatan melebihi khayalan manusia itu akan datang lagi setiap tiga puluh tahun, dan ini sudah tiga puluh tahun berlalu sejak kejadian itu," ujar si kakek Basri.


"Jadi maksud kakek, gempa itu akan datang pada saat ini! Di tahun ini! Haduh bagaimana ini fii, aku belum kawin, belum punya anak, belum-"


"Kitakan masih belum tahu, kamu diam kenapa sih," ucap Kahfi memotong ribunya si Rahmat.


"Apa benar itu kek?" Tanya Titha pada kakek Basri.


"Benar, saya tidak sedang membohongi kalian, sorban inilah saksinya, ketika saya hampir terkena reruntuhan dari masjid, seorang ustadz dengan sorban Hitam menarik saya sebelum reruntuhan itu menimpa saya, tapi saya tidak dapat melihat wajahnya, karena wajahnya begitu bercahaya, lalu ia memberikan sorban hitamnya itu pada saya, dan saya pakai selalu hingga sekarang, dan bisa kalian lihat sendiri, sorban itu sedang terkalung di leher saya sekarang, tapi perlu kalian ingat, saya hanya menyampaikan atau memperingatkan kalian, percaya atau tidak itu terserah kalian, karena legenda tentang gempa 1965 itu memang benar adanya," ujar kakek Basri dengan panjang lebar.


"Baiklah kek, kalau begitu kami pamit dulu kek, kami mau melanjutkan perjalanan kami," ucap si Kahfi dan menyalaminya.


Si Titha dan si Rahmat sempat saling pandang melihat tingkah aneh Kahfi yang tiba-tiba terburu-buru, sebelum akhirnya ikut berpamitan pada kakek Basri.


Kemudian kakek Basri pun berkata sebelum mereka pergi keluar dari surau kecil itu.


"Maaf saya tidak bisa mengantar kalian keluar surau, karena saya sudah tua, saya tidak bisa berdiri lama," ucap si kakek Basri pada Kahfi.


"Gak papa kek, kami juga mau mengemasi barang-barang kami dulu," ucap Kahfi.


Merekapun keluar dari surau kecil tersebut dan meninggalkan kakek Basri sendirian di dalam surau.


Setelah mereka selesai mengemasi barang-barang mereka, Kahfi hendak berpamitan untuk yang terakhir kalinya dengan kakek Basri dan masuk kedalam surau, tapi disaat Kahfi masuk kedalam surau, alangkah terkejutnya Kahfi ketika mendapati bahwa tidak ada seorang pun didalam surau tersebut, kosong dan sepi, Kahfi mulai merasa takut dan cemas, lantas ia langsung keluar dan menemui si Titha dan Rahmat yang ada di dalam mobil.


"Kalian lihat kakek Basri keluar surau gak?" Tanya Kahfi.


"Kamu lupa ya, kan beliau bilang dia sakit kaki, mana mungkin dia hilang begitu aja, lagian kalaupun tuh kakek keluar pasti kita liat, jalannya kakek-kakek seusia kakek Basri itu lambat, selow, kamu bencandanya gak lucu," ucap si Rahmat.


"Eh gak percaya, kalau gak percaya coba lihat sendiri gih," ucap Kahfi.


Mereka bertiga pun mengulang dan masuk ke dalam surau itu lagi, dan benar apa yang di katakan oleh Kahfi, kakek Basri benar-benar menghilang!.


*Rumah Titha. di Lampung.


Di teras rumah Titha. Terlihat pak Harto dan Ibunda tercinta dari Titha Pramulya sedang memasukkan barang-barang ke dalam mobilnya, ibu Titha menghampiri pak Harto lalu berkata.


"Pak, bapak yakin tahu jalannya? Kenapa gak pake bus aja," ucap ibu Titha pada pak Harto yang tengah memasukkan barang kedalam mobil.


"Tenang buk, insyaallah, saya tahu buk, dari pada naik bus, mending kita bawa mobil sendiri buk, di bus mah panas, sempit lagi," jawab pak Harto dengan yakin.


"Benar juga sih, sampe gak ya sebelum puasa," gumam ibu Titha bicara sendiri.


"Sampe... Ibu tenang aja, ini pasti akan membuat neng Titha senang deh," ucap pak Harto pada majikannya itu.