Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 25



*Dua hari kemudian.


Nampak mobil si Rahmat berhenti di depan rumahnya bi Mur, dan perlahan terbuka pintu mobilnya, lalu turunlah yang pertama, yaitu si Rahmat dan langsung menuju ke bagasi mobil di belakang mengambil beberapa koper dan barang-barang lainnya.


Setelah itu, keluar lagi si Kahfi dan ikut membantu si Rahmat membawakan barang-barang masuk ke rumahnya bi Mur.


Dan yang terakhir, keluarlah Titha dan temannya Puti, dengan keadaan kepala yang di perban, Titha dan Puti berjalan perlahan masuk ke halamannya rumah bi Mur.


Nampak dari raut wajah dan nada bicara Puti yang ceria dan lancar, mengartikan bahwa ia sudah berangsur membaik.


Titha pun mengetuk pintu rumah bibinya tersebut, sedangkan si Rahmat dan Kahfi masih di sibukkan dengan barang bawaan mereka yang begitu banyak di bagasi.


*Di bagasi mobil.


         "Astaga, udah mau pindah aja nih barang si Puti," ucap si Rahmat.


         "Ini mah bukan pindah, tapi ngungsi," canda Kahfi.


         "Eh eh, emang gak papa ya, si Puti tinggal sama Titha, dia sekolah gimana? Kan jauh dari sini ke Sungai penuh," ucap si Rahmat sambil melirik ke arah Puti yang berada di depan pintu rumah bi Mur bersama si Titha.


         "Emangnya lu mau nganterin dia,"ucap Kahfi pada Rahmat.


         "Kalau aku sih mau aja," jawab Rahmat tanpa menoleh ke arah kahfi.


         "Huuu... Kesempatan, ngapain Puti sekolah orang pada libur pas bulan puasa," ucap Kahfi sambil mencubit pinggang temannya itu.


         "Aduduh, ya aku tahu fii bukan muhrim," saut si Rahmat dengan raut wajah datar.


         "Udah-udah, tuh lu bawa tasnya Puti, aku bawa nih air minum," ucap Kahfi lalu meninggalkan Rahmat sendiri di bagasi mobil.


         "Ehe eh, curang lu fii, masa aku bawa yang berat lu cuma botol air mineral," ucap si Rahmat lalu menutup pintu bagasi mobilnya dan menyusul si Kahfi.


Rahmat dan Kahfi pun menghampiri Titha dan Puti di depan pintu rumahnya bi Mur.


         "Gimana? Ada bibinya?" Tanya Kahfi pada Titha.


         "Gak tahu, tapi kok banyak sandal ya di sini? Apa bibi lagi ada tamu?" Ucap Titha.


         "Eh eh, bentar. Perasaan bibik gak punya mobil deh," ucap Rahmat sambil melirik ke arah mobil yang ada di samping halaman rumah bi Mur.


Sontak Kahfi dan Titha beralih ke samping rumahnya bi Mur, dan benar apa yang dikatakan oleh Rahmat, ada mobil terparkir di samping rumahnya bibi.


         "Inikan! Jangan-jangan," ucap Titha lalu bergegas kembali mengetuk pintu.


Kahfi yang melihat Titha berubah sikap itupun menjadi penasaran dan menghampiri Titha.


         "Ada apa Tha? Apa kamu tahu siapa pemilik mobil itu?" Tanya Kahfi pada Titha yang sedang mengetuk-ngetuk pintu.


         "Bik.. buka pintunya bik, ini Titha," ucap Titha memanggil bibinya tanpa menghiraukan pertanyaan si Kahfi.


         "Mungkin bibi lagi di dapur belakang," ucap si Rahmat.


Tak lama kemudian, perlahan terdengar suara langkah kaki menuju ke arah pintu yang diketuk oleh Titha beberapa kali, lalu perlahan ganggang pintu itu berputar hingga berbunyi clikt, pintu terbuka.


         "Eh.. neng Tii-"


Titha langsung masuk tanpa menghiraukan orang yang sudah membukakan pintu, sementara itu di depan pintu tinggallah Rahmat, Kahfi, dan Puti yang terdiam sesaat dengan tingkah laku Titha yang tak terduga oleh mereka itu.


         "Bibinya ada pak?" Tanya Kahfi pada si laki-laki yang sudah membukakan pintu itu yang tak lain adalah pak Harto.


         "Maksud mas bi Mur? Kalau bibi mah lagi sholat di dalam, ada apa ya mas?" Ucap pak Harto menjawab Kahfi.


*Sementara itu di ruang tamu rumah bi Mur.


Titha nampak sedang mencari seseorang yang amat di rindukan, tapi ia hanya melihat bibinya yang sedang merapikan mukenanya di sudut ruang tamu, kemudian si Titha menghampiri bibinya tersebut.


         "Bik," panggilnya dengan nada agak keras.


         "Astagfirullah hal'aziim! Ahh Titha, untung tak copot jantung bibi," ucap bibinya yang terkejut karena Titha.


         "Hahaha, maaf bik, ibuk mana ibuk?" Tanya Titha pada bibinya dengan mata yang berbinar-binar tak sabar untuk bertemu dengan ibunya.


         "Ibuk kalau gak salah juga lagi sholat di kamar kamu tuh kayaknya," jawab bibinya dengan senyum kecil.


         "Di kamarku, baiklah makasih ya buk," ucap Titha pada bibinya.


Titha menuju kamarnya, tapi di tahan bibinya sendiri.


         "Eh eh, jangan dulu, biarin ibuk menyelesaikan sholatnya dulu," sergah bibinya sambil memegang pergelangan tangan Titha.


         "Tapi bik, aku mau lihat keadaan ibuk," ucap Titha.


         "Ibuk baik-baik saja. Apa kamu bertemu dengan si Kahfi? Di mana si Salman? Bukannya si Salman bilang kalau ibuk sedang masuk rumah sakit, tapi kenapa ibuk malah datang kesini?" Tanya bibinya yang bertubi-tubi.


Mendengar bibinya bertanya begitu, Titha terdiam dan hening, kemudian bibinya itu melepaskan genggaman tangannya.


Lalu terdengar dari arah pintu depan.


         "Ayo masuk mas, duduk disini, saya panggilkan bibinya dulu," ucap pak Harto pada si Rahmat dan Kahfi yang membawa barang-barang bawaan yang begitu banyak.


Kahfi, Rahmat, dan Puti pun duduk di ruang tamu dan kebetulan melihat Titha dan bi Mur sedang berdiri di sudut ruangan itu.


         "Bibi? Titha?" Ucap Kahfi yang melihat Titha dan bi Mur.


Pak Harto yang mendengar ucapan Kahfi pun menoleh ke belakang.


         "Eh kebetulan sekali, itu bibinya ada," ucap pak Harto lalu pergi menghampiri Titha dan bibinya.


         "Bik kayaknya mereka mencari bibik tuh," ucap pak Harto.


         "Ya udah yuk kita kesana dulu," ucap bi Mur.


         "Tapi bik," desah Titha.


         "Udah ayuk, kamu jelaskan saja di sana," ucap bibinya dan pergi menghampiri Kahfi di kursi.


Titha, pak Harto, dan juga bi Mur pun menghampiri Kahfi dan Rahmat di kursi ruang tamu.


        "Maaf ya nak Kahfi, bibi baru selesai sholat," ucap bi Mur.


         "Gak papa bik," jawab Kahfi.


Lalu tiba-tiba terdengar langkah kaki menuju ke arah ruang tamu dan berkata.


         "Wahh.. ramai sekali, ada ini," ucap ibunya Titha dengan wajah yang bahagia.


         "Ibuk!" Ucap Titha.


Sontak Kahfi dan Rahmat juga si Puti terkejut mendengar Titha memanggil seorang wanita yang agak lebih tua dari bi Mur dengan panggilan ibu.


         "Ibuk?!" Ucap Kahfi tak percaya.


         "Kenapa ibuk gak bilang-bilang kalau mau datang kesini," ucap Titha pada ibunya.


         "Ibu mau bikin surprise buat kamu, tapi kata bibi kamu pulang ke Lampung sama si Salman, apa kamu sudah menerima Salman sebagai calon su-"


         "Titha bakal ceritain semuanya ke ibuk dari pertama kali Titha kesini sampai sekarang, tapi ibuk janji tidak akan marah," ucap Titha yang memotong perkataan dari ibunya.


Ibunya pun terdiam dan hanya mengangguk, walaupun sebenarnya ibunya sudah tahu permasalahannya dari bi Mur.


Titha dan ibunya pun menghampiri Kahfi dan rombongan lainnya yang tengah duduk di kursi ruang tamu.


         "Ibuk duduk sini," ucap Titha.


         "Maaf sebelumnya, kalau boleh saya bertanya, mereka siapa ya bik?" Tanya ibu Titha pada bi Mur.


         "Mereka teman-temannya neng Titha buk," ucap bi Mur.


         "Kenalin buk, saya Rahmat," ucap Rahmat dan menyalami ibunya Titha.


         "Kalau yang ini? Lah itu kenapa kepalamu di perban gitu?" Tanya ibu Titha pada si Puti.


Belum Puti membuka mulutnya, Titha sudah memotong dan menjawab ibunya.


         "Namanya Puti buk, ceritanya panjang buk, nanti biar Titha jelasin semuanya ke ibuk," ucap Titha.


         "Hmm.. kalau mas yang pake kopiah ini?" Tanya ibu Titha pada si Kahfi.


Kahfi sontak gemetar dan takut, karena dihatinya sangat gugup bertemu orang tua dari wanita yang di cintainya, bagaimana pun ia jangan sampai membuat kesalahan.


         "Nama saya Kahfi buk," jawab Kahfi yang agak malu-malu.


         "Sepertinya kalian habis dari mana gitu, mukanya lelah semua," ucap ibunya Titha.


         "Ya kan puasa buk.." saut Titha.


         "Itu yang kepalanya di perban, siapa namanya tadi lupa ibuk," ucap ibu Titha.


         "Puti buk," jawab Puti simpel.


         "Kamu puasa? Kan kamu lagi sakit?" Ucap ibu Titha.


         "Enggak sih buk," ucap Puti menjawab ibu Titha.


Tiba-tiba saja, bi Mur menyinggung soal Salman.


         "Mas Salman mana? Bukannya sama neng Titha?" Ucap bi Mur dengan sengaja.


Mereka semua terbelalak kecuali si Puti.


Melihat Titha yang tertekan dan tak tahu harus berkata apa, bi Mur kembali berkata.


         "Neng, kamu harus kuat dan tegap, mulailah dengan perlahan," ucap bibinya.


Semua orang diam dalam keheningan menunggu Titha membuka mulutnya.


         "Seperti yang ibuk tahu, masalah Titha dengan Salman itu sudah ada sejak hari itu, hari di mana Salman datang kerumah dan melamar Titha." Ucap Titha.


*Flashback.


         "Silahkan diminum airnya mas Salman," ucap Titha menawarkan minum pada Salman.


         "Ah iya Titha, tadi juga udah di minum kok," jawab Salman.


Kemudian tak lama kemudian, si Salman berpindah duduk sekursi dengan si Titha, dan itu membuat Titha tidak nyaman.


         "Maaf Tha, saya gak ada maksud apa-apa, saya hanya tidak enak duduk sendiri, gak papa kan?" Ucap si Salman pada Titha yang sudah merasa curiga.


         "Gak papa mas, asal jangan terlalu dekat," ucap Titha menjawab Salman.


Salman tersenyum mendengar jawaban si Titha, namun lama kelamaan jarak di antara mereka berdua semakin lama semakin dekat hingga tak terasa paha mereka sudah bersentuhan.


Sontak Titha langsung berdiri dan berkata.


         "Maaf mas Salman, kita ini bukan muhrim, dan saya sudah peringatkan itu pada mas," ucap Titha yang sudah terpancing emosinya.


         "Maaf Tha, saya gak bermaksud begitu," ucap si Salman.


         "Terserah apa kata mas Salman, saya mau ke kamar dulu!" Ucap Titha yang sudah tak tahan dengan laki-laki satu ini.


Baru saja Titha melangkahkan kaki kanannya, tak terasa tangan si Salman sudah mengaitkan tangannya di pergelangan tangan Titha.


         "Maafkan aku Tha, sebenarnya aku kesini ingin, ingin.."


         "Ingin apa?!" Ucap Titha.


         "Aku ingin melamarmu!" Ucap Salman dengan raut wajah serius menatap tajam ke arah Titha.


Sontak Titha terdiam, ia baru kali ini mendengar ada seorang laki-laki melamarnya langsung di hadapannya, namun Titha tahu betul bagaimana sifat dan tingkah laku si Salman. Ia tak mau menikah dengan Salman karena Salman adalah orang yang arogan dan suka menghamburkan uang dengan cara yang tak di bolehkan agama, ia kerap pergi ke tempat-tempat hiburan malam. Jadi, Titha menolaknya mentah-mentah.


         "Maaf, aku tidak bisa," ucap Titha.


         "Tidak bisa?!, Tapi kenapa Tha, aku kaya, rumah besar, mobil banyak, belum lagi sahamku yang ada di perusahaan ku, aku pasti bisa membuat kamu bahagia," ucap Salman menjawab Titha.


Mendengar hal itu, si Titha tambah tidak nyaman dan ingin cepat-cepat pergi dari Salman.


*Masa sekarang.


         "Dan tidak hanya sampai disitu, ternyata ia juga mengikutiku hingga kesini, dan mulai mengganggu ku," ucap Titha panjang lebar.


Semua orang diam dan terfokus pada Titha, mereka semua seharian itu mendengarkan cerita yang sangat berat bagi Titha.


Hingga sampailah mereka di penghujung cerita.


         "Dan sekarang, aku bisa kembali lagi kesini gara-gara si Kahfi dan Rahmat, kalau aku tidak bertemu dengan mereka di perjalanan, mungkin Salman bisa menemukan ku lagi," ucap Titha dan menyudahi ceritanya.


*Tiba-tiba terdengar suara adzan Maghrib.


         "Ah? Orang udah adzan, gak terasa udah mau berbuka," ucap pak Harto.


         "Astagfirullah, iya Iyah, kalau gitu, kami pamit dulu bik, buk, pak," ucap Kahfi.


         "Eh jangan, udah kita berbuka bareng aja disini, lagian orang udah adzan, gak baik menunda-nunda berbuka," ucap ibunya Titha menahan Kahfi dan Rahmat yang akan pergi.


Dan merekapun mau tak mau ikut berbuka puasa di rumah bi Mur, dengan suasana yang ramai dan harmonis, sekilas ibunya Titha melihat Titha bisa tertawa lepas dan sangat senang karena bisa melihat putri tercintanya kembali seceria dulu dengan tingkah laku seorang yang mengingatkan ia dengan sosok ayahnya Titha.


Ya, ibunya Titha melihat anaknya itu sangat bahagia dan tertawa lepas saat bersama Kahfi, itu seakan mengingatkan ia dengan kenangan bersama suaminya.


Dan pada malam itu, di suasana bulan penuh hikmah dan rahmat, senyum Titha yang sangat dirindukan oleh ibunya, telah kembali.