
*Di sisi lain.
Tepatnya di perbatasan Kerinci, nampak sebuah mobil berwarna biru maroon sedang terparkir di tepi jalan, dan didalamnya terdapat seorang perempuan dengan jilbab panjangnya, dan dua orang laki-laki yang salah satunya adalah supir dari mobil itu, mereka tak lain adalah si Titha dan Salman, serta supir mereka.
Nampak didalam mobil tersebut Titha dan Salman sedang bercekcok mulut entah apa sebabnya.
"Jadi kamu berbohong! Kamu tahu aku sangat mencemaskan ibu aku, tapi ini semua bohong!" Ucap Titha dengan suara lantang diikuti dengan cucuran air matanya.
"Tha, Titha aku bisa jelasin ke kamu, tii-" saut Salman yang langsung di potong oleh tamparan keras dari Titha yang tepat mendarat di pipi kirinya.
"Plaakk!!"
*Pagi hari di halaman rumah Kahfi.
Suara kicau burung mengawali pagi yang indah itu, dengan sinar mentari yang terang dan hangat, terdengarlah bunyi klakson dari mobil klasik teman Kahfi sudah menyapa sedari tadi, si Rahmat pun membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepalanya lalu memanggil si Kahfi dengan lantang.
"Assalamualaikum, fii, Kahfi.." Ucap Rahmat dari dalam mobilnya memanggil si kahfi.
Tak lama setelah Rahmat memanggil si Kahfi, ia pun keluar dengan tas ransel yang tersandang di punggungnya, di ikuti oleh kedua orang tuanya di belakang, dan menghampiri si Rahmat yang ada di mobil.
"Maaf Mat, kelamaan ya," ucap Kahfi sambil bercanda dengan si Rahmat.
"Kamu mah gitu terus, gak pernah berubah," saut Rahmat.
"Hahaha maaf-maaf deh," jawab Kahfi.
Kemudian bapak dan ibunya Kahfi menghampiri Kahfi dan si Rahmat, lalu berkata.
"Cuma kalian berdua yang pergi?" Tanya bapaknya Kahfi pada Rahmat.
"Iya pak," jawab Rahmat sambil dan keluar dari mobil lalu menyalami kedua orang tua Kahfi.
"Hati-hati ya Mat, jangan ngebut-ngebut, bentar lagi mau hari raya, nanti kalian gak ikut raya gimana," ucap ibunya Kahfi pada Rahmat sambil bergurau.
"Iya buk, aman mah kalau itu, kita cuma bentar disana," saut si Rahmat menjawab ibunya Kahfi.
"Ya udah, kalian hati-hati ya di jalan," ucap bapaknya Kahfi.
Kemudian si Kahfi pun menyalami kedua orang tuanya dengan mencium kedua tangan orang tuanya.
"Ya udah buk, pak, Kahfi pamit dulu," ucap Kahfi setelah menyalami kedua orang tuanya.
"Iyah," jawab kedua orang tuanya.
Kahfi dan Rahmat pun masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun di nyalakan, Kahfi membuka kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah kedua orang tuanya, kemudian mobil pun mulai melaju perlahan, Rahmat bunyikan suara klakson mobil hingga dua kali bunyi, tanda mereka akan pergi dan pamit.
Lambaiannya Kahfi dibalas dengan lambaian juga oleh kedua orang tuanya dari depan halaman rumahnya, melihat perjuangan anaknya untuk mengejar cinta sejatinya, bapaknya Kahfi berkata pada istrinya.
"Gak kerasa ya buk, anak kita udah besar," ucap bapaknya Kahfi pada istrinya.
"Ya elah pak, gak sadar apa, bapak sendiri udah kayak kayu lapuk," gurau ibunya Kahfi pada suaminya.
"Apa kata ibuklah, moga aja tuh anak beneran bawa calon mantu pas balik," ucap bapaknya Kahfi pada istrinya sambil melihat mobil yang di tumpangi oleh Kahfi yang sudah tak terlihat lagi dari kejauhan.
*Sementara itu di perbatasan Kerinci.
Nampak mobil yang di tumpangi Salman sedang melaju pelan, tapi bukan ke arah luar Kerinci, melainkan mereka sudah memutar balik arah mobilnya, karena Salman kehilangan jejak Titha yang telah melarikan diri semalam.
"Haduh kemana lah si Titha ini, kalau saja aku gak kecoplosan semalam, pasti dia gak bakal pergi kayak gini," desah Salman bicara sendri di dalam mobil dengan raut wajah resah.
"Di sini hutan semua mas, masa iya dia pergi ke sini?" Ucap supir pada Salman.
"Pak, bapak fokus aja deh nyetirnya, bapakkan saya yang bayar, jadi ikuti aja apa yang saya katakan," ucap Salman menjawab si supir dengan nada agak ngegas.
"Bab, baik pak," ucap si supir dengan nada pelan karena takut dengan si Salman.
Sudah berjam-jam si Salman mencari keberadaan si Titha yang sudah hilang sejak mereka bertengkar semalam, namun belum membuahkan hasil, Salman tambah gelisah dan cemas, ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
Dengan suasana yang agak sepi, pak Harto terlihat sedang menyapu halaman rumahnya Titha, sedangkan ibunya Titha sedang membersihkan barang-barang di dalam rumah, nampak ibunya Titha sedang membersihkan beberapa foto di lemari di ruang keluarga, disitu banyak terdapat foto-foto Titha dan ayahnya, mulai dari Titha kecil hingga ia wisuda, pas ibunya sedang mengelap foto Titha yang wisuda, tiba-tiba saja kaca dari foto itu retak! Ibu Titha yang melihat itu lantas terkejut bercampur rasa gelisah.
"Astagfirullah hal'aziim, ada apa lagi ini ya Allah, semoga saja Titha baik-baik saja disana," ujar ibunya Titha setelah melihat fotonya Titha yang tiba-tiba retak tadi.
Kemudian di lain sisi, Titha yang sudah melarikan diri dengan membawa kopernya yang cukup berat itu, tengah berjalan di samping jalan raya dengan raut wajah yang lesu dan lemah, nampaknya Titha belum makan apapun setelah bertengkar dengan si Salman, ia sangat lunglai dalam berjalan, dan kantung matanya yang hitam menunjukkan bahwa ia tidak tidur semalaman, Titha tak habis pikir, atas tindakan Salman padanya, ia sekarang betul-betul membenci Salman.
Titha yang berjalan mengikuti jalan raya yang sepi di tengah hutan belantara tak tahu sekarang bahwa ia ada di mana, entah memang Titha beruntung ataupun karena takdir tuhan, Titha melihat ada sebuah mobil yang sepertinya ingin pergi ke arah Kerinci, lantas Titha pun mencoba menghentikan mobil tersebut, dan usahanya tidaklah sia-sia, mobil yang membawa sayur-sayuran itupun berhenti tepat disamping Titha, melihat raut wajah Titha yang lemah dan kurang tidur, lantas si supir berkata padanya.
"Ada yang bisa saya bantu neng?" Ucap si supir tadi pada Titha.
"Maaf pak, kalau boleh saya tahu, bapak mau kemana yah?" Saut Titha menjawab si supir tadi.
"Saya mau ke kerinci neng, memangnya kenapa neng?" Saut si supir menjawab Titha.
Titha merasa lega dan senang, karena mobil yang ia hentikan sesuai dugaannya, mobil itu memang sedang menuju kek Kerinci, lalu Titha berkata pada si supir.
"Kalau boleh, bisakah saya menumpang bersama bapak ikut ke kerinci, soalnya saya juga mau ke kerinci," ujar Titha dengan nada pelan dan tenang.
Si supir sejenak terdiam dan memikirkan permintaan Titha tersebut, ia melihat Titha dari ujung kaki hingga kepala, nampak dari kaki Titha dengan sendal yang sudah rusak dan kakinya yang memerah karena kedinginan, lalu dilihatnya pula wajah Titha yang seperti orang belum makan dan tidur seharian, melihat itu semua, tanpa basa-basi si supir menerima dan membolehkan Titha untuk menumpang di mobilnya.
"Ya udah neng, mari," ucap si supir membukakan pintu mobilnya.
"Boleh pak? Terimakasih banyak pak, tapi.. saya duduk di gerobak aja pak," ucap Titha dengan senang dan gembira.
"Tapi di belakang mah isi sayuran semua neng, mending di depan," ucap si supir pada Titha.
"Gak apa-apa pak, yang penting saya bisa pulang," saut Titha menjawab si supir.
"Ya sudah kalau begitu, silahkan naik neng," ucap si supir.
"Makasih ya pak," ucap Titha menjawab si supir lalu naik ke atas gerobak mobil yang membawa sayuran tadi.
Setelah Titha naik, mobil itupun mulai melaju perlahan, Titha sangat lega dan senang karena bisa pergi dari si brengsek Salman, namun Titha tak tahu bahwa si Kahfi sedang dalam perjalanan juga untuk menyusulnya ke Lampung.
Di tengah perjalanannya kembali menuju ke Kerinci, Titha sempat memikirkan tentang Kahfi, ia takut Kahfi salah faham dan menjauh darinya akibat dari kehadiran si Salman, ia takut orang yang sangat ia cintai walaupun dalam diamnya akan pergi dan menghilang, tak terasa sesaat Titha yang sedang memikirkan si Kahfi, sudah tertidur pulas di gerobak mobil yang berisi sayuran-sayuran.
Sementara itu, si Kahfi dan si Rahmat tengah asyik mendengarkan radio di mobil, mereka saling melempar canda dan gurauan, sampai akhirnya si Rahmat bertanya pada Kahfi.
"Fii, kalau boleh tahu, kenapa sih kamu ingin pergi ke Lampung?" Tanya Rahmat pada Kahfi.
Kahfi yang tersentak dengan pertanyaan dari Rahmat itupun terdiam dan mulai berpikir untuk memberitahukan masalahnya pada si Rahmat atau tidak.
"Lah kok diem, jawab dong fii," ucap Rahmat pada Kahfi lagi.
Akhirnya, si Kahfi memutuskan untuk memberitahukan masalahnya pada si Rahmat, ya gak ada salahnya juga memberitahukan pada Rahmat, mereka berdua juga sahabat dekat dari kecil, kemudian Kahfi mulai membuka masalahnya dan berkata.
"Sebenarnya aku gak ada maksud apapun untuk pergi ke Lampung Mat, sebenarnya, aku tengah menyusul si Titha," ucap Kahfi dengan nada pelan dan tenang.
"Titha? Maksud kamu perempuan yang tinggal bersama bi Mur itu," ucap Rahmat yang agak terkejut mendengar penjelasan dari sahabat dekatnya itu.
"Iya Mat, kemaren aku dari rumahnya bi Mur, lalu si bibi bilang ke aku kalau si Titha itu juga suka sama aku Mat," ujar si Kahfi pada Rahmat yang sedari tadi tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Kahfi.
"Jadi, maksud kamu? Kamu sekarang sedang ngejar si Titha? Tapi bukannya dia berangkatnya sama seorang laki-laki juga fii," saut Rahmat serius.
"Karena itu, aku harus cepat menjumpai si Titha, laki-laki yang bersamanya itu, adalah laki-laki yang terus melamarnya, jadi aku takut dia macam-macam sama Titha," ucap Kahfi lagi.
"Tunggu-tunggu, jadi sekarang kamu mau-" ucap si Rahmat yang langsung dipotong oleh Kahfi.
"Iya Mat! Aku mau menemui Titha lalu menyatakan perasaan ku ini padanya, jika ia berkenan untuk menikah, maka aku siap untuk menghalalkannya," ucap Kahfi dengan nada pelan namun tegas dengan mata yang penuh dengan kesungguhan dan keyakinan.
Melihat sahabatnya yang tengah berjuang untuk mengejar cinta sejatinya, lantas Rahmat pun ikut terbawa suasana dan ingin membantu sahabatnya tersebut.
"Masyaallah fii, tenang aja kalau gitu, sahabat mu ini siap membantumu apapun masalah mu, tapi kita nanti berhenti sebentar di kayu aro ya, di kebun teh, kita isi bensin dulu disitu," ucap si Rahmat pada Kahfi.
"Makasih ya Mat," ucap Kahfi singkat.