Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 16



"Itu baru sebagian jati dirinya yang asli, kamu belum melihat jati dirinya sepenuhnya, bisa dibilang, lebih baik orang gila di pasar dari pada Salman yang sombong dan bangga dengan harta yang dimiliki oleh ayahnya," saut Titha menanggapi sautan si Kahfi.


         "Tok! Tok! Tok!" Suara seseorang mengetuk pintu rumah bi Mur.


         "Assalamualaikum, tha.. ini aku, aku tahu kamu ada di dalam, aku tahu kamu sedang membicarakan aku bukan, cepat buka pintunya, ini aku Salman!" Ucap Salman dari luar rumah dengan sedikit berteriak memanggil-manggil Titha.


Mendengar suara Salman, sontak semuanya yang ada di dalam rumah bi Mur terkejut dan seakan tidak percaya, karena mereka baru saja membahas si Salman, dan sekarang ia ada di balik pintu rumahnya bi Mur.


Titha sangat tertegun, ketika ia mendengar suara Salman, matanya terbelalak dengan raut wajah yang takut dan seakan tak percaya akan kedatangan Salman yang tak disangka-sangka.


Titha pun mulai berpikir untuk membukakan pintu atau tidak, ia terdiam sejenak entah apa yang dipikirkannya, melihat Titha yang tertegun dalam diam, si Kahfi lantas menyadarkan Titha dalam diamnya.


         "Tha.. pikirkan baik-baik, apa yang harus kamu lakukan, turuti apa kata hatimu itu, berpikirlah dengan jernih, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, kita juga belum tahu maksud dan tujuan Salman datang mencarimu," ujar Kahfi dengan nada pelan dengan tatapan yang tenang namun serius.


Titha menatap dalam ke arah Kahfi, ia berpikiran sama atas apa yang di katakan oleh Kahfi, sebaiknya ia tak su'uzon dulu sama Salman, mungkin kedatangannya memiliki maksud lain, sama yang di katakan oleh Kahfi, namun bi Mur berbeda sudut pandang dengan Titha, bibinya itu malah keras menanggapi masalah yang tengah dihadapi oleh Titha, bi Mur tidak membolehkan Titha menemui si kurang ajar itu, Salman.


         "Jangan tha, kamu kan udah tahu sifat Salman gimana, sebaiknya gak usah di jawab," ujar bibinya yang melarang Titha untuk menemui Salman.


Namun Titha tak goyah pendiriannya, ia menjadi tegap dan yakin akan tindakan yang akan dipilihnya, dan itu karena apa yang di katakan oleh Kahfi padanya barusan, Titha pun menanggapi komentar dari bibinya itu.


         "Tapi bik, kasian dia.. jarak Lampung dan Kerinci gak sedekat telunjuk dan jempol, butuh seharian penuh bahkan lebih untuk bisa sampai kesini, Titha akan bukain pintu, bibik gak perlu khawatir, kita lihat aja dulu apa maunya," ujar Titha dengan tenang meyakinkan bibinya.


Kahfi hanya diam di tempat duduknya menatap Titha yang sedang mencoba menghadapi masalahnya.


         "Tapi tha, bibi takut nanti kamu akan tersakiti lagi olehnya," saut bi Mur yang masih melarang Titha untuk membukakan pintu.


Sesekali terdengar suara Salman mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama Titha, ia terus menerus mengetuk pintu, sambil berkata.


         "Tha, buka pintunya tha, ini penting buat kamu, aku gak akan ngebahas masalah lamaran kita, ini tentang ibumu!" Ucap Salman sambil mengetuk-ngetuk pintu berulang kali.


Titha yang mendengarkan Salman menyebut ibunya, tanpa pikir panjang langsung bergegas menuju pintu dan membukanya. Dan setelah Titha membukakan pintu, Salman langsung memegang kedua pundak Titha.


         "Kenapa lama sekali, aku udah hampir mati kedinginan di luar," ucap Salman pada Titha.


Titha sontak menepis kedua tangan Salman yang memegangi kedua bahunya, belum apa-apa Salman sudah kurang ajar di mata Titha.


         "Iiih.. jangan pegang-pegang, ada apa kamu kesini? Terus dari mana kamu tahu kalau aku tinggal di sini?" Sergah Titha dan menanyai si Salman.


         "Galak amat sih, ya udah jelaslah, aku tanya ke orang-orang sini, makanya aku tahu rumahmu, oh ya! Aku hampir lupa, bisa kita bicara di dalam? Ini sangat penting untukmu," ucap Salman yang tiba-tiba raut wajahnya langsung berubah tegang.


Titha mulanya tidak percaya apa yang dikatakan oleh Salman, tapi melihat wajahnya yang berubah tegang membuat Titha percaya padanya, dan mempersilahkan Salman masuk kedalam rumah.


Salman pun masuk dan langsung bertatap muka dengan Kahfi yang sudah duluan ke rumahnya bi Mur, Salman berubah lagi raut wajahnya menjadi gusar, karena melihat Kahfi yang sudah begitu dekat si Titha.


         "Kok? Dia.. ngapain dia ada disini?" Tanya Salman dengan nada mengejek sambil menatap ke arah Kahfi.


Kamu hanya diam di kursinya tak menghiraukan cemooh Salman, ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang keras kepala dan sombong, dan satu-satunya cara menghadapi orang seperti Salman adalah membalasnya dengan kebaikan.


Bi Mur yang melihat si Salman tak ada sopan santun sedikit pun lantas menyauti apa yang dikatakan oleh Salman terhadap Kahfi.


         "Kamu tidak berubah sama sekali ya, berarti selama ini kamu masih menjadi katak dalam tempurung," saut bi Mur membalas ledekan Salman terhadap Kahfi.


Tapi, sindiran bi Mur terhadap Salman tak ada pengaruhnya sama sekali, Salman yang begitu arrogan tak mengerti sindiran yang di maksud oleh bi Mur, jadi dia tak menghiraukannya.


         "Bibik? Ngapain bibi disini? Bukannya bibik bekerja di rumah Titha," Tanya Salman yang kebingungan melihat bi Mur yang dulunya adalah pembantu di rumah Titha di Lampung.


         "Benar kata bibik, kamu gak berubah sama sekali, ya udah duduk disini, aku ambilin minum dulu," ucap Titha pada Salman dengan jutek dan jengkel melihat Salman.


Titha pun pergi kembali ke dapur dan membuatkan segelas kopi hangat untuk Salman, kenapa kopi? Karena Titha sangat tahu selera Salman, ia tidak akan meminum air apapun yang disuguhkan kecuali kopi, jadi Titha membuatkan kopi untuknya.


Setelah selesai membuatkan kopi, Titha langsung membawakan kopi itu ke ruang tamu tempat Salman dan Kahfi juga bi Mur, setibanya di ruang tamu Titha langsung menaruh kopi hitam yang hangat itu tepat di depan si Salman.


         "Wahh.. tuhkan, kamu aja tahu apa yang aku suka, berarti kamu sudah membukakan hatimu untukku walaupun sedikit," ucap salam pada Titha dengan nada bergurau.


         "Kamu jangan asal ngomong ya! Sopan sedikit kenapa sih, gak cuma kita yang ada disini!" Sergah Titha menanggapi Salman dengan sedikit emosi.


Titha yang melihat Kahfi sudah tak secerah tadi merasa tak enak pada Kahfi, dan di lain sisi, Titha takut setelah ini, Kahfi tidak akan seperti biasanya padanya, bisa saja Kahfi akan menjauh perlahan dari kehidupan Titha, dan tiba-tiba menghilang entah kemana, hal itu sangat di takutkan oleh Titha, Titha pun mencoba memecahkan suasana yang terkesan tegang dan kaku itu dengan menanyai Kahfi tentang sepedanya yang rusak.


         "Kahfi, kalau boleh tahu, apa sepedanya sudah bisa dipebaiki?" Tanya Titha sambil tersenyum kecil ke arah Kahfi.


Kahfi yang tadinya terlamun dengan khayalannya tersadar dengan pertanyaan Titha padanya.


         "Hah? Sepeda?, Udah aku perbaiki kok, tenang aja, besok kamu udah bisa ke sekolah pakai itu kok," saut Kahfi menjawab pertanyaan Titha.


Sedangkan Salman hanya menatap Titha dan Kahfi dengan penuh kecemburuan tanpa berkata apapun, ia hampir habis kesabarannya melihat kedekatan mereka berdua, sementara bi Mur sedari tadi melihat dan menatap gerak gerik Salman yang tak bisa tersenyum sedikitpun sejak mulai masuk dari pintu depan, disela-sela Titha dan Kahfi yang sedang hanyut dalam suasana mereka, bi Mur bertanya pada Salman yang membuat Titha dan Kahfi sadar dari suasana mereka yang hangat itu.


         "Ngomong-ngomong, kita belum tahu maksud dan tujuan Salman datang malam-malam begini mencari Titha, bisa kamu jelaskan?" Ujar bi Mur dan membuat semua orang terfokus ke arah Salman.


Mendengar bi Mur berkata seperti itu, Salman baru ingat alasan sebenarnya kenapa ia datang dan mencari Titha, memanglah untuk meyakinkan Titha adalah tujuan pertamanya dalam mengikuti Titha sampai ketempat ini, tapi ada hal yang lebih penting dari lamaran itu sendiri.


         "Hampir saja aku lupa, tapi Titha, kamu jangan terkejut ya, tolong dengarkan aku baik-baik, aku kesini bukan untuk melamar kamu ataupun menikahi kamu, tapi aku kesini ingin menyampaikan kabar mengenai ibumu, jadi, sebelum aku kesini untuk mengikutimu, aku melihat mobil ambulan terparkir di depan rumahmu," ucap Salman pelan agar Titha tidak terkejut.


         "Ambulan?!" Sergah Titha menanggapi apa yang dikatakan oleh Salman.


         "Kamu tenang dulu, jangan berpikir kemana-mana dulu. Kemudian aku melihat ibumu di tandu keluar dan di masukkan ke dalam mobil ambulan itu, lalu menyusul supir mu pak Harto yang sepanjang jalannya ia menangis, kemudian pak Harto melihatku yang berdiri di depan pintu gerbang rumahku, diapun menghampiriku dan langsung memohon padaku, dia bilang-


         "Tolong beri tahu neng Titha mas, ibuknya sakit parah, saya juga gak tahu apa, tapi hanya mas Salman yang bisa bawa neng Titha kembali, tolong mas, saya mohon pada mas, tolong bawa neng Titha pulang," itulah yang dikatakan pak Harto."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Salman, Titha sangat terpukul dan takut, ia langsung hilang kendali, Titha sangat syok, apa yang di katakan oleh Salman sangat-sangat membuat hatinya lemah, Titha tersandar lesu hampir pingsan di kursi, melihat Titha yang hampir pingsan itu, Salman dan Kahfi secara bersamaan menyebutkan nama Titha.


         "Titha..!" Ucap Salman dan Kahfi secara bersamaan.


Mereka berdua malah saling menatap dengan penuh emosi, dan disaat suasana antara Kahfi dan Salman mulai panas, Titha akhirnya jatuh pingsan, baru saja ingin melangkah menghampiri si Titha, Kahfi di tahan oleh Salman.


         "Jangan! Kamu gak ada hubungannya dengan ini, jangan ikut campur lagi, sebaiknya kamu menjauh dari kehidupan Titha, sebelum kamu menyesal, aku sudah memperingati mu," ucap Salman pada Kahfi.


Mendengar apa yang di katakan oleh Salman padanya, Kahfi tertegun, diam membatu seperti patung, Kahfi sangat terpukul dan tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Salman padanya, tapi ia sadar, apa yang dikatakan oleh Salman ada benarnya juga.


Sedangkan bi Mur, ia sangat mencemaskan Titha, bi Mur juga syok mendengar kabar buruk yang diberitahukan oleh Salman, lantas bi Mur menyuruh Salman meletakkan Titha di kamarnya.


         "Astagfirullah, Titha, tha.. Salman cepat angkat dan bawa Titha ke kamarnya di sana!" Ucap bi Mur yang sangat risau dan cemas melihat keadaan Titha yang sangat terpukul mendengar berita dari Salman tentang ibunya yang sedang sakit parah.


Salman pun bergegas mengangkat Titha dan membawanya ke kamar yang ditunjuk oleh bi Mur, sedangkan si Kahfi masih terdiam dengan ucapan Salman tadi, melihat Kahfi yang putus asa itu, bi Mur menghampirinya perlahan.


         "Nak Kahfi, jangan di ambil hati, si Salman memang begitu orangnya, jadi kamu harus sabar dengannya, yah," ucap bi Mur yang mencoba menenangkan Kahfi.


         "Gak papa kok bik, aku juga tahu Salman orangnya bagaimana, tapi untuk sekarang aku sangat mencemaskan Titha, mau tak mau dia harus kembali ke Lampung untuk melihat keadaan ibunya," saut Salman yang merasa kasihan pada Titha.


         "Benar sekali, padahal dia baru saja kembali tertawa setelah ayahnya meninggal, bibik sangat khawatir pada Titha.


Dengan keadaan bi Mur dan Kahfi yang sangat mencemaskan Titha, Salman datang dari arah kamar Titha dan menghampiri bi Mur dan Kahfi, dengan raut wajah yang serius dan mata yang menatap tajam ke arah bi Mur, Salman berkata.


         "Bik, aku akan membawa Titha kembali ke Lampung, ini adalah keinginan dari ibunya sendiri, jadi aku harus memenuhi amanah yang di limpahkan padaku ini," ujar Salman pada bi Mur dengan penuh keseriusan.


Mendengar ucapan Salman, bi Mur sesaat merunduk dan mengalihkan pandangannya ke arah Kahfi, dan saat bi Mur melihat ke arah Kahfi, Kahfi sudah mengangguk duluan, bi Mur tahu betul, berat bagi Kahfi untuk melepaskan Titha, namun itu adalah hal yang tak bisa di tolak, karena ini menyangkut ibunya Titha, setelah melihat Kahfi mengangguk, bi Mur Kembali mengalihkan pandangan dan menatap sayu pada Salman.


         "Baiklah kalau begitu, tolong jaga Titha, jangan membuatnya tambah terluka seperti sekarang, karena ia sudah cukup menderita setelah kepergian ayahnya," ucap bi Mur pada Salman dengan penuh harap.


         "Bibik jangan khawatir, saya aku pasti akan menjaga Titha," saut Salman menjawab bi Mur.


Setelah Salman menjawab bi Mur, ia mengalihkan pandangannya pada Kahfi, salaman menatap si Kahfi dengan tajam dan dengan raut wajah kesal dan benci, sedangkan Kahfi hanya diam tak membalas perlakuan Salman padanya, Salman mengalihkan pandangannya dari Kahfi, ia beralih ke bi Mur dan berkata.


         "Bik, biarkan aku menginap disini, besok, besok aku dan Titha akan langsung berangkat dari sini, karena aku sudah memesan tiketnya," ucap Salman pada bi Mur.


Bi Mur hanya mengangguk mengiyakan, dan setelah itu Salman pun pergi kembali ke kamar Titha untuk melihat keadaannya.


Tinggallah bi Mur dan Kahfi di ruang tamu yang tadi ramai dan harmonis suasananya, bi Mur meraba tangan Kahfi kerena merasa tak enak padanya, namun Kahfi telah memutuskan apa yang akan ia lakukan, raut wajah Kahfi seketika berubah menjadi serius dengan tatapan optimis, Kahfi berkata pada bi Mur.


         "Aku akan ke Lampung, tapi tidak bersama Titha, aku akan mengawasi mereka dari jauh," ucap Kahfi dengan nada tegas dan meyakinkan.