
"Terimakasih buk, adik saya pasti senang, karena saya bisa beli beras, terimakasih banyak buk, Azfar pamit dulu, assalamualaikum.." Azfar dengan girang dan menyalami Titha lalu bergegas pulang untuk memberitahukan pada adik dan neneknya.
Titha merasa lega dan tenang melihat pancaran kebahagiaan dari wajah Azfar yang sangat girang sambil membawa uang yang di berikannya.
Sedang asyik melamun, tiba-tiba buk Ning memanggil Titha dari depan pintu masuk ruang guru, Titha pun berjalan menghampiri buk Ning yang sedari tadi memanggilnya.
Setibanya Titha di dalam ruang guru, ia terkikih melihat pak Akmal yang tersandar di kursinya dan terhengah-hengah dengan pakaian olahraganya yang dibasahi penuh dengan keringat.
"Astaga, kok pak Akmal? Ada apa ini buk Ning?" Tanya Titha pada buk Ning yang melihat pak Akmal terhengah-hengah sambil meneguk segelas air putih.
"Hahaha, kamu tanya sendiri sama pak Akmal, sumpah lucu banget," saut buk Ning menjawab pertanyaan dari Titha.
"Kok buk Ning ketawa sih? Ada apa ini pak?" Tanya Titha pada pak Akmal yang tambah membuatnya penasaran.
Pak Akmal menghela nafas panjang kemudian menjawab pertanyaan dari Titha.
"Tadi, itu anak-anak kurang kerjaan apa, masa pas kami main bola di lapangan dekat dengan sawah tadi, ada murid yang gak sengaja nendang bolanya kekencengan, terus bolanya tepat kena itu sarang lebah, yaa auto ambyar kita," ujar pak Akmal menjawab penasaran Titha.
Mendengar penjelasan dari pak Akmal, membuat Titha terkikih tertawa menanggapi dari apa yang telah di ceritakan oleh pak Akmal padanya.
"Terus gimana?" Tanya Titha sambil terkikih.
"Ya anak-anak pada lari semua, saya ditinggal gitu aja," jawab pak Akmal.
Melihat pak Akmal dengan kejadian konyol yang baru saja di alaminya, sontak memecah suasana yang ada di dalam ruang guru, semuanya tertawa bahagia dengan saling melempar senyum.
*2 jam kemudian...
Bunyi lonceng pertanda kegiatan ngajar mengajar di sekolah sudah usai terdengar ke seluruh sudut sekolah yang sederhana itu, pak Akmal dengan busana yang masih mengenakan pakaian olahraga membunyikan lonceng di depan ruang guru, semua murid pun berhamburan keluar bak semut yang di ganggu sarangnya, dan nampak pak Akmal sedang mengingatkan para muridnya agar tidak keluyuran setelah pulang sekolah.
"Hati-hati ya, jangan singgah di mana-mana, langsung pulang," ujar pak Akmal pada semua murid yang melintas di depannya.
Tak selang beberapa saat, Titha keluar dari ruang guru lalu menghampiri pak Akmal.
"Pak saya duluan ya," ucap Titha pada pak Akmal.
"Ah buk Titha, sama siapa pulangnya buk?" Tanya pak Akmal pada Titha.
"Saya jalan ka-" Titha tersentak karena omongannya di potong oleh seorang suara laki-laki dari gerbang sekolah.
"Pulangnya sama saya aja," saut Kahfi dari luar gerbang sekolah dengan sepeda ontelnya yang klasik itu.
Titha pun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Mas Kahfi?" Desah Titha terkejut melihat Kahfi yang memandanginya.
Kahfi turun dan memarkirkan sepedanya, lalu masuk menghampiri Titha dan pak Akmal yang sedang berdiri di depan dekat ruang guru.
"Assalamualaikum," ucap Kahfi menghampiri Titha dan pak Akmal.
"Walaikumussalam," jawab Titha dan pak Akmal.
"Wah.. ternyata pulangnya sama ustadz Kahfi, kalau begitu saya gak perlu khawatir lagi buk Titha pulang jalan kaki," ujar pak Akmal.
Titha tersenyum kecil mendengar gurau pak Akmal, dan memerah pipinya menahan rasa malu akan perasaannya terhadap Kahfi.
"Kalau begitu ayo kita pulang, Titha, kamu biar aku boncengin," ajak Kahfi menawari Titha.
"Tapikan mas-"
"Jangan mas lah, kahfi aja," sergah Kahfi memotong cakap Titha.
"Iya tapikan kahfikan jadi repot, harus nganterin saya pulang," saut Titha yang merasa tak enak pada Kahfi.
"Enggak kok, nggak ngrepotin sama sekali, yuk, nanti keburu gelap," ucap Kahfi pada Titha.
Titha mengangguk mengiyakan, kemudian Kahfi tersenyum melihat tingkah laku Titha yang malu-malu itu, mereka berdua pun pergi dan pamit dengan pak Akmal.
"Kami duluan ya pak," ucap Kahfi pada pak Akmal.
"Duluan pak," saut Titha yang juga ikut berpamitan dengan pak Akmal.
"Assalamualaikum," ucap Kahfi.
"Walaikumussalam, hati-hati ya.." jawab pak Akmal melihat Kahfi dan Titha pergi dengan sepeda ontelnya yang menambah kesan romansa.
"Hah.. sudah macam pasangan aja mereka berdua," gumam pak Akmal sambil pergi dan masuk kembali ke ruang guru.
Di tengah perjalanan pulangnya, Titha yang di boncengi oleh si Kahfi hanya diam duduk di kursi penumpang tanpa bersuara sedikitpun sambil melihat pemandangan hamparan sawah dan sungai yang mengalir jernih, belum lagi mereka melintas di bawah pohon besar rimbun dan sejuk, hati Titha seolah terasa bermimpi dengan apa yang ia rasakan dan ia lihat, diboncengi oleh seorang pria tampan dan Sholeh di tambah melihat pemandangan alam yang indah dan sejuk dengan suara-suara dari gelincing kaleng-kaleng pengusir unggas di tepian sawah yang luas, sungguh membuat Titha merasa bahagia dan senang.
Kahfi sekilas melirik ke belakang, yaitu ke arah Titha, ia mendapati Titha sedang tersenyum sendiri dengan sesekali memejamkan matanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu? Ada yang lucu?" Tanya Kahfi pada Titha dengan penuh penasaran.
"Enggak, cuma aja.. aku baru kali ini melihat pemandangan seperti ini, indah," saut Titha tanpa melirik ke arah Kahfi.
"Mau aku tunjukkin pemandangan yang lebih keren?" Ucap Kahfi pada Titha.
"Lumayan sih, tapi masih sempat kalau perginya sekarang," jawab Kahfi.
"Ya udah," saut Titha singkat.
"Ya apanya?" Tanya Kahfi bingung.
"Ya.. kita ke tempat yang kamu bilang tadi," jawab Titha yang mulai penasaran.
"Baiklah, pegangan ya, kita agak ngebut soalnya," ucap Kahfi sambil bercanda.
Mereka berdua pun pergi menuju tempat yang di katakan oleh Kahfi tadi, mengitari jalan yang berliku dan naik turun di bukit permai, dengan matahari yang mulai terbenam membuat langit orange kemerahan, membuat Titha terkagum-kagum dengan daerah itu (kerinci). Setelah hampir setengah jam mereka berada di atas sepeda, akhirnya mereka sampai di tempat yang dikatakan oleh Kahfi tadi.
Titha perlahan turun dari sepeda Kahfi, dan menunggu di Kahfi memarkirkan sepedanya di salah satu pohon. Kahfi mengajak Titha untuk mengikutinya naik ke puncak bukit yang di penuhi dengan alang-alang yang gemulai di terpa angin senja.
"Yuk kita ke atas," ajak Kahfi menadahkan tangannya pada Titha.
Titha tersentak melihat Kahfi yang menawarkan genggaman tangan yang terlihat nyaman itu, Titha ragu-ragu ingin mengambil tadahan tangan yang di tawari Kahfi tersebut.
"Udah ayuk," Kahfi mengambil tangan Titha dan menggenggamnya erat.
"Eh eh tunggu," Titha jadi salah tingkah dan malu kucing.
Mereka perlahan berjalan bersama ke atas bukit itu, dan perlahan pula pemandangan yang sangat luar biasa menunjukkan diri pada kedua bola mata Titha yang tak bisa berkedip setelah melihatnya.
"Masyaallah.. fii, ini indah banget.." ucap Titha yang terpesona melihat senja dengan barisan bukit-bukit yang menjulur mengelilinginya.
"Gimana? Indahkan," saut Kahfi.
"Kamu sering kesini? Ke bukit ini?" Tanya Titha pada Kahfi.
"Sering, dulu kalau aku lagi sedih pasti aku akan ke puncak bukit ini," ujar Kahfi menjawab pertanyaan dari Titha.
"Indah banget, baru kali ini aku melihat matahari terbenam di antara barisan bukit seperti ini," gumam Titha dengan mata yang berbinar-binar.
"Ini namanya bukit kayangan," ujar Kahfi.
"Bukit kayangan?, cocok sama tempatnya, emang pantes di bilang kayangan, tempatnya para bidadari yang cantik," gumam Titha sambil melihat ke arah matahari terbenam.
"Dan sekarang aku sedang melihat bidadari itu," ucap Kahfi sambil menatap Titha dengan mata yang berbinar-binar.
Titha tersentak, mendengar apa yang di ucapkan oleh Kahfi barusan, ia mengalihkan pandangannya pada Kahfi, hingga wajah mereka sejajar dalam bertatapan.
"Apa?" Desah Titha pada Kahfi.
"Eeh enggak, maksudnya, anu-"
"Ya udah, pulang yuk, udah gelap nih, nanti bibi khawatir," ucap Titha pada Kahfi.
Perkataan Titha itu menyadarkan Kahfi dari salah tingkahnya.
"Ayuk, oh ya, apa bibi udah bilang sama kamu?" Tanya Kahfi pada Titha.
"Bilang apa?" Jawab Titha yang bingung.
"Ee untuk bulan puasa," saut Kahfi.
"Oh.. masalah ngajar ngaji, ada bibi bilang," jawab Titha yang tambah membuat Kahfi eheemm.
"Jadi gimana?" Tanya Kahfi lagi.
"Mmm... Nanti aku bilang pas kita udah nyampe rumah," ujar Titha pada Kahfi.
Mendengar Titha bilang begitu, Kahfi sedikit patah semangat, tapi ia sudah sangat merasa senang, karena hari ini ia banyak menghabiskan kan waktu bersama Titha.
"Ya udah, di rumah aja deh," saut Kahfi menjawab pernyataan dari Titha.
Merekapun pulang dengan menaiki sepeda tua klasik milik Kahfi, menuruni bukit yang jalannya berliku-liku dengan senja yang menjadi pengiring, adalah hari yang indah dalam hidupnya bagi Titha, ia tak pernah segembira ini dan sebahagia ini selama hidupnya, walaupun ia tidak memperlihatkan ekspresi senangnya itu di hadapan Kahfi.
Merekapun sampai di halaman rumahnya bi Mur, si Kahfi pun pamit dengan Titha.
"Salam sama bibi ya, aku duluan ya, assalamualaikum," ucap Kahfi berpamitan dengan Titha.
"Walaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, makasih ya mas Kahfi," ucap Titha.
"Gak pake mas, Kahfi aja," saut Kahfi dari kejauhan sambil mengayuh sepedanya.
Titha tersenyum kecil melihat Kahfi yang semakin lama seminggu jauh dan hilang dari pandangannya, kemudian Titha masuk kerumah.
"Assalamualaikum, bik.. Titha pulang.." Ucap Titha setelah masuk ke dalam rumah.
Melihat suasana rumah yang sepi dan sunyi, Titha merasa agak seram dan takut karena suasana rumah yang agak seram, sesekali ia memanggil bibinya namun tak ada jawaban dari sang bibi, Titha sudah mencari bi Mur di kamarnya, di dapur, dan di ruang tamu tapi tak ada tanda-tanda keberadaan si bibiku.
Sepintas Titha teringat pesan bibinya yang menyuruhnya untuk membantu membersihkan gudang, lantas Titha langsung bergegas ke gudang. Titha perlahan membuka pintu gudang dan memetik kontak lampu yang ada di dekat pintu gudang di sebelah kanannya, dan ketika lampunya hidup!.
"Astagfirullah! Bibik! Bik.. ada apa ini bik, kenapa banyak darah di sini?! Bik.. jawab Titha bik, bik!" Titha syok melihat bibinya tanggal sudah terkapar di tengah lantai gudang dengan genangan darah yang mengepung seluruh bagian kepala dari bi Mur.