
"Kenapa tha..? Kok senyum-senyum sendiri, ciyee ke inget yang tadi ya," goda bi Mur pada si Titha.
"Ah gak lah bik, ada-ada saja bibi ah," Titha pergi membawa gelas bekas teh yang di minum oleh Kahfi ke dapur.
"Ada yang lagi jatuh cinta nih yee.." Ucap bi Mur dari ruang tamu menggoda si Titha.
"Iih.. bibi!" Saut Titha dari dapur.
*Keesokan harinya.
Titha tengah menunggu bi Mur pulang dari masjid, setelah shalat subuh. Ia terus melihat tiap detik jam yang berdetak, karena pada hari ini adalah hari dimana Titha masuk untuk mengajar di SDN no 34 desa Betung kuning. Tak lama menunggu, jam sudah menunjukkan jam 06:00 wib, Titha masih terduduk di kursi di ruang tamu menunggu kepulangan bi Mur yang dari subuh belum pulang-pulang.
"Assalamualaikum.." Suara bi Mur yang baru saja pulang.
Mendengar suara bibinya, Titha langsung mengambil tasnya dan menghampiri bi mur.
"Bik.. kok lama sekali pulangnya, Titha udah nunggu bibi dari tadi," gumam Titha pada bi Mur.
"Tadi pas selesai bibi shalat subuh di masjid, banyak ibuk-ibuk dan nenek-nenek ngajak bibi jalan santai, ya bibi mau gak mau ikutlah, ada apa ya neng?" Ujar bi Mur dan kembali bertanya pada Titha.
"Neng? Jangan panggil neng deh bik.. bibikan gak lagi kerja di rumah aku, sekarang bibi panggil aku Titha aja yah," saut Titha.
"Terserah kamu deh, tapi ngomong-ngomong neng- " belum apa-apa Titha memotong ujar bi Mur.
"Iih.. bibi mah, Titha.. bukan neng, inget ya bik.. Titha jangan panggil neng lagi yah.." Gumam Titha pada bi Mur.
"Iya deh.. iya, Titha mau kemana udah rapi begini?" Tanya bi Mur yang penasaran melihat penampilan Titha serba hitam putih.
"Nanti Titha jelasin sama bibi pas udah pulang ya, assalamualaikum.. Titha pergi dulu bik.." Titha mengambil tangan bibinya dan menyalaminya, lalu pergi.
"Eh eh kamu udah sarapan?" Tanya bi Mur dari pintu rumahnya.
"Udah bik.." Jawab Titha dari luar pagar bi Mur.
Titha pun pergi menuju SDN no 34 desa Betung kuning yang berada di sebelah desanya bi Mur. Dalam perjalanannya, Titha sangat menikmati pemandangan di sekitarnya, bisa melihat hamparan sawah yang luas dan berjalan di bawah pohon beringin besar dan juga rindang, sepintas suasana itu mengingatkan Titha pada mimpinya waktu berada di Lampung. Saking takjubnya Titha dengan panorama yang dinikmatinya, ia lupa dengan tujuannya, ia tersadar ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 06:30 wib, yang berarti ia sudah terlambat.
"Astaga! Aku udah telat, gimana ini, kayaknya gak ada angkot di desa seperti ini, haduhh.." Riuh Titha yang sedang kebingungan.
"Kring kring.." Suara lonceng sepeda menyinggahinya, Titha lantas beralih pandang ke sumber suara itu.
"Mas Kahfi!" Ucap Titha yang baru melihat Kahfi dengan sepeda ontelnya yang sangat klasik.
"Assalamualaikum.." Salam Kahfi menyapa Titha.
"Walaikumussalam, mas Kahfi mau kemana?" Tanya Titha yang rada-rada malu.
"Mbak Titha sendiri mau kemana?" Kahfi balik nanya pada Titha.
"Mbak? Jangan panggil saya mbak bisa gak mas, saya ini masih muda kok, baru 24 tahun," gumam Titha yang rada-rada malu pada Kahfi.
"Kalau gitu jangan panggil saya juga dengan mas, saya juga masih muda kok, baru 25 tahun," jawab Kahfi sembari melempar senyum kecil pada Titha.
"Saya harus cepat, saya sudah terlambat, assalamualaikum.." Ucap Titha dan berjalan pergi.
"Eh eh pergi kemana?" Tanya Kahfi.
"Saya mau ke SDN no 34 desa Betung kuning," jawab Titha tanpa menoleh.
Mendengar hal itu, Kahfi tahu bahwa jarak untuk menuju ke sana cukup jauh, jika di tempuh dengan berjalan kaki akan menghabiskan waktu sekitar satu jaman. Kahfi lantas menaiki sepeda tuanya dan mengejar Titha.
"Mau saya antar?" Ucap Kahfi menawarkan tumpangan pada Titha yang sudah kirengetan.
"Gak apa-apa, saya gak mau ngerepotin mas Kahfi," jawab Titha.
"Udah gak papa, naik, jauh loh SD-nya," saut Kahfi yang berusaha meyakinkan Titha.
"Tapi mas Kahfi sepertinya masih banyak urusan," gumam Titha.
"Titha, jangan mbak," kata Titha sambil menudukkan pantatnya di tempat duduk tumpangan di belakang sepeda Kahfi.
"Oh iya, Titha, saya panggil Titha, kamu, boleh?" Tanya Kahfi yang sudah mulai mengayuh sepedanya.
"Boleh, kalau manggilnya mas Kahfi, kamu juga, boleh?" Saut Titha yang kembli bertanya pada Kahfi.
"Boleh, tentu saja. Kamu mengajar di SD 34?" Tanya Kahfi.
"Iya, kok kamu tahu?" Titha menjawab dengan tersenyum kecil.
"Kamu ngajar apa disana?" Kahfi kembali bertanya.
"Ngajar agama," Jawab Titha.
"Oh.." Saut Kahfi.
*Setibanya di SD 34.
Titha turun dari sepeda Kahfi dan melihat ke arah SD yang ternyata masih belum masuk jam pelajaran, banyak murid yang berlarian dan bermain, dan masih banyak juga yang baru datang.
"Eh aku kira udah terlambat tadi," gumam Titha.
"Kamu belum tahu ya, banyak dari murid disini dari mereka yang tidak mampu, ada yang dari jauh dan ada juga yang tinggal di pedalaman hutan karena membantu orang tuanya berkebun, jadi disini gak seperti SD pada umumnya, para guru disini sepakat untuk mengurangi beban yang di tanggung oleh para murid itu, oleh sebab itu disini masuknya lambat dan pulangnya cepat," ujar Kahfi menjawab semua kebingungan yang ada di kepala Titha.
Titha terdiam dan melamun melihat para murid yang sedang bermain itu, ia tak dapat membayangkan beban seperti apa yang mereka pikul, sedangkan mereka masih kecil seperti sekarang, Titha terlihat kasihan pada murid-murid itu.
"Assalamualaikum, ini benar ibuk Titha?" Ucap salah satu guru yang sekilas sebaya dengan bi Mur, menghampiri Titha dan Kahfi di depan gerbang sekolah.
Mendengar ada yang menyebutkan namanya, Titha lantas tersadar dari lamunannya.
"Ah iya buk.. saya sendiri," jawab Titha sambil menyalami guru yang menghampirinya.
"Eh kok ustadz ada disini?" Tanya guru SD yang menghampiri mereka itu.
"Ah enggak buk Tika, saya cuma ngantar ibuk Titha," jawab Kahfi.
"Ustadz? Kok ibuk manggilnya ustadz?" Tanya Titha yang bingung.
"Oh ya buk Titha belum tahu ya, hampir semua murid di sini adalah muridnya ustadz Kahfi ini," ujar buk Tika pada Titha.
"Di luar sekolah, saya ngajarin anak-anak ngaji di masjid, rata-rata mereka semua itu ngaji sama saya," saut Kahfi menjelaskan pada Titha.
"Oh.." Saut Titha.
"Ya udah, ayuk kita masuk, ustadz mau masuk juga?" Ucap buk Tika.
"Ah gak buk makasih, saya mau ke sawah," jawab Kahfi.
"Oh ya udah," jawab buk Tika.
"Makasih ya.. Kahfi," ucap Titha tersenyum kecil pada Kahfi.
"Sama-sama, saya pergi dulu ya, assalamualaikum.." Jawab Kahfi lalu pergi mengayuh sepedanya.
"Buk Titha istrinya ustadz Kahfi ya?" Tanya buk Tika pada Titha.
Titha terbatuk mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut buk Tika, itu sangat membuat Titha terkejut.
"Ah bukan buk, saya belum menikah, lagian saya juga baru disini buk," jawab Titha.
"Abisnya baru kali ini saya lihat ada yang manggil dia dengan nama aslinya, rata-rata orang sini manggil dia kalau gak ustadz ya mas," ujar buk Tika pada Titha.
Titha dan buk Tika berjalan di lorong sekolah yang sudah tua dan lapuk, sekilas Titha memandang setiap sudut sekolah yang sudah tua itu, Titha dapat membayangkan bagaimana rasanya belajar di tempat yang tidak layak ini, dengan tiang kayu yang sudah di makan usia, dan atap genteng yang sudah banyak bocor, membuat Titha sangat prihatin dengan kondisi sekolah, belum lagi kondisi para murid, yang sejak kecil sudah ikut memikul beban hidup bersama orang tuanya.