
*Setelah mereka selesai makan.
Semuanya merasa kekenyangan dan terlalu banyak makan, terutama si Rahmat, ia tersandar ngengeh di kursinya, sedangkan Kahfi dan Titha tidak sebegitunya seperti Rahmat yang ususnya bak samudra yang luas.
Di saat mereka tengah duduk didalam, terdengarlah suara mobil yang baru saja datang dari depan rumah makan, mulanya Titha, Kahfi, dan Rahmat tengah asyik mengobrol di meja makan mereka, tapi, suasana yang harmonis itu hilang dalam sekejap ketika seseorang dari mobil yang baru saja datang tadi masuk ke dalam rumah makan.
Nampak dari mobil yang baru saja tiba di rumah makan tersebut, perlahan pintu mobil bagian depannya terbuka, nampak sebuah kaki menginjak tanah di luar mobil dengan sepatu hitam yang mengkilat, dan celana goyang hitam setinggi mata kaki.
Pria yang baru saja keluar dari mobil tersebut lalu masuk ke dalam rumah makan tersebut, tanpa mengajak supirnya yang masih di dalam mobil.
Ia memesan di dekat meja kasir, dengan gaya yang sok glamor dan alis yang terangkat sebelah, lalu berkata pada si kasir.
"Mbak, saya pesen nasi putih dengan ayam goreng krispi yang di atasnya di taburin sama bumbu pedesnya, terus airnya cola dingin pake batu es," ucapnya pada si kasir.
Si kasir hanya terdiam dengan tatapan bingung sambil menatapnya, si kasir tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh ia barusan, dalam pikiran si kasir hanya ada sambal pete dan semur jengkol, belum terlalu larut dalam bingungnya, si kasir lantas menanyakan pada laki-laki yang memesan tadi, lalu berkata.
"Maaf mas, saya tidak tahu apa yang mas maksud, tapi kami cuma punya sambal pete sama semur jengkol mas, mas pilih mana antara kedua itu, biar saya antar ke meja mas," ucap si kasir.
"Apa?! Pete sama jengkol? Nggak-nggak! Saya alergi sama makanan begituan, ya udah saya pesen airnya aja," ucapnya pada si kasir.
"Teh apa kopi mas?" Tanya si kasir pada laki-laki yang belum disadari oleh Titha.
"Haaahhh! Terserah mbak deh, saya tunggu disana," ucap si pria menunjuk ke arah salah satu meja di dekat mejanya Titha dan Kahfi.
Ia pun pergi ke meja yang ia tunjukkan tadi, sedangkan si Titha dan Kahfi yang masih asyik mengobrol belum juga menyadari kehadiran si pria yang duduk tepat di belakang meja mereka dengan posisi mereka yang juga saling membelakangi.
Lagi dan lagi, si Rahmat membombardir si Kahfi yang berada di sebelahnya.
"Uuaaaaarrraakk!" Sendawa si Rahmat yang bagaikan bom atom di Hiroshima.
Kahfi yang menerima telak bom yang di luncurkan oleh sahabat karibnya itu pun seketika mengkerutkan keningnya dengan tangan yang mengipas-ngipas di depan hidungnya yang sudah terasa lumpuh akibat sendawa dari Rahmat, Kahfi mulai jengkel dan ingin membalas temannya itu, ia pun menghirup napas panjang lalu mengeluarkan hawa Pete dari tenggorokannya yang paling dalam.
"Huuaaakkrkk!" Sendawa Kahfi yang lebih kuat dari bom atom yang di luncurkan oleh Rahmat.
"Buset, ini mah udah kayak setingkat kiamat kubro," ucap si Rahmat yang tersiksa dengan counter attack dari si Kahfi.
Sontak Titha yang duduk tepat di depan mereka tertawa pecah dengan sampai menangis, Titha di buat sakit perut oleh tingkah laku Kahfi dan Rahmat yang konyol itu.
Namun, gelak tawa itu seketika buyar, ketika laki-laki yang duduk tepat di belakang mereka merasa terganggu dan menghampiri Titha dan Kahfi, laki-laki itu berdiri tepat di sebelah Kahfi, lalu berkata.
"Mas, mas punya otak gak, saya sangat tergang-"
"Kamu!" Ucap Titha memotong perkataan laki-laki yang menghampiri mereka, Titha sangat terkejut melihat laki-laki yang ada di depan matanya tersebut.
"Salman?!" Ucap Kahfi yang juga terkejut dengan kehadiran si biang kerok yang menghampiri mereka.
"Titha?!" Ucap si Salman yang juga tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Jadi dia yang bawa kamu pergi Tha," saut Rahmat dari kursinya dengan polos.
"Ooohh.. jadi laki-laki ini yang membuat kamu tidak mau menerimaku! Baik kalau begitu, jangan salahkan aku kalau dia akan menyesal karena telah merebut mu dari ku," ucap Salman pada Titha sambil menarik kerah baju si Kahfi yang masih duduk di kursinya dengan raut wajah penuh dengan emosi.
Kahfi menepis tangan Salman yang mencengkram kerah bajunya, lalu berkata.
"Maaf mas, jangan salah faham dulu, saya dan Titha tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman biasa dan kebetulan bertemu," ucap Kahfi dengan raut wajah keras menahan emosinya.
"Alaahh, kamu pikir saya bodoh, kamu kira saya gak tahu, hahh! Sejak pertama kali saya bertemu dengan kamu dan Titha pada hari itu, saya melihat Titha selalu memandangi mu, jadi buat apa lagi kamu mengelak," ucap Salman dengan nada keras dan ngegas.
"Salman! Kamu apa-apaan sih, kita dilihat orang banyak kalau begini," sergah Titha yang juga ikut bersitegang dengan kedua laki-laki yang mencintainya tersebut.
"Titha! Kamu jangan ikut campur, gara-gara si miskin ini, kamu tidak lagi memberiku tempat didalam hatimu, padahal akulah orang pertama yang menjadi teman mu sejak kecil," ucap Salman dengan nada ngegas dan penuh emosi hingga membuat semua orang yang ada di rumah makan tersebut melihat ke arah mereka.
Kahfi mencoba mendinginkan kepalanya, ia tak mau masalah ini terus berkepanjangan, walau resikonya ia harus kehilangan Titha, Kahfi pun berkata dengan pelan dan tenang.
"Bukannya saya mau ikut campur tentang urusan mas sama Titha, tapi tolong mas hargai Titha, dia butuh waktu untuk itu, bukannya dia tidak menerima mas, tapi dia belum bisa untuk menentukan pilihannya," ucap Kahfi dengan pelan pada Salman yang sudah meluap-luap emosinya.
"Belum menentukan pilihan? Sudah jelas aku satu-satunya pilihan yang tepat, apa kamu mau mengatakan kalau Titha mau memilih antara aku dan kamu, hahahaha, kamu tahu, aku ini dari keluarga terhormat, sedangkan kamu, hanya seorang laki-laki miskin yang tidak tahu diri-"
"Salman cukup! Kamu sudah kelewatan," sergah Titha memotong di sela-sela umpatan si Salman.
Namun Salman tak menghiraukan Titha, ia terus mencaci si Kahfi yang masih duduk diam di kursinya.
"Apa kamu tahu, siapa ayahku, siapa ibuku, mereka adalah orang terkaya di Indonesia, keluarga kami sangat kaya, dan hampir seluruh pembantu di rumah kami, itu mirip dengan mu"
"Salman udah!" Sergah Titha lagi.
Sedangkan si Rahmat yang duduk di sebelah Kahfi, hanya diam terpelongo tak dapat berkata-kata, ia tak menyangka seorang Salman memiliki mulut yang lebih pedas dari sambal pete yang dimakannya.
Lalu si Kahfi, ia masih diam menahan emosinya terhadap Salman, ia tidak mau membuat masalah di depan Titha, walaupun sekarang ia sangat ingin memberi pelajaran pada si Salman yang terus mencacinya.
"Lebih baik kamu kembali pada orang tua mu itu, lalu tanyakan, kenapa dia telah melahirkan anak seperti mu yang tidak ta-"
"Buugg!!"
Pukulan dari Kahfi tepat mendarat di pipi kirinya si Salman, Kahfi sudah kehabisan kesabaran, ia seketika meledak disaat ada seseorang siapa pun itu, yang mengatai orang tuanya.
Semua orang terbelalak melihat itu, terutama si Titha, ia tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Kahfi, selama ini yang ia tahu tentang Kahfi hanyalah seseorang yang baik dan murah hati juga penuh dengan senyuman, Titha tak bisa berkata-kata, mulutnya serasa telah dijahit, matanya serasa di congkel dengan paksa, melihat apa yang barusan terjadi tepat di depan matanya.
Sedangkan si Salman, ia bangun dari jatuhnya, dan hendak membalas pukulan dari Kahfi, tapi, disaat Salman baru saja mengangkat tangannya, tiba-tiba saja, muncul seseorang dari belakang tubuhnya dan memegang pergelangan tangan si Salman tepat sebelum ia mengayunkannya ke arah Kahfi.
Salman sontak langsung membalikkan badannya ke belakang dan hendak ingin menyerang orang yang sudah menghentikan pukulannya, namun niat Salman yang sedang murka itu seketika buyar, melihat orang yang memegang pergelangan tangannya tadi adalah perkejaan rumah makan yang bertubuh tinggi besar, dengan wajah yang agak seram menatap Salman dengan tajam, lantas si pekerja rumah makan itu membuka mulutnya, lalu berkata pada Salman.
"Siapa yang kau bilang miskin tadi?! Cepat habiskan makanan mu lalu pergi dari sini!" Ucap si pekerja yang rumah makan dengan nada tegas melotot ke arah Salman.
Salman yang sedang murka tadinya, seketika mati kutu, dan menarik tangannya yang di pegang oleh pekerja rumah makan itu, lalu bergegas pergi dari rumah makan itu.
Namun sebelum ia pergi, ia sempat mengancam Titha dan Kahfi dengan kata-katanya yang tajam.
"Aku akan mengingat ini, kamu akan menyesal!, kita lihat saja nanti," ucap Salman sambil menunjuk dengan tangan kirinya ke arah Kahfi.
Salman pun pergi meninggalkan rumah makan yang sederhana itu, ia masuk kedalam mobil dan langsung pergi.
Dan setelah si Salman pergi, semua orang yang ada di rumah makan itu merasa tenang dan kembali melanjutkan makan mereka, sedangkan si pekerja rumah makan yang menghentikan Salman tadi, masih berdiri tepat di depan Kahfi yang diam mematung.
"Jangan di ambil hati ustadz, jikalau saya menjadi ustadz, mungkin saya akan melakukan hal yang lebih dari ustadz," ucap si pekerja rumah makan itu.
"Ustadz? Bapak kenal dengan Kahfi?" Tanya Rahmat sambil menarik Kahfi duduk.
Sementara Titha, masih berdiri menatap si Kahfi dengan penuh kekhawatiran.
"Fii, kamu gak papakan?" Tanya Titha pada Kahfi.
Kahfi diam tak menjawab pertanyaan si Titha, ia tetap menunduk dan tak mau melihat ke arah Titha.
Sedangkan si pekerja rumah makan yang masih berada di sebelah Kahfi juga ikut khawatir dengan ini, ia lantas menawarkan air pada mereka.
"Tunggu sebentar ya, saya ambilkan air putih dulu, agar ustadz dapat menenangkan diri," ucap si pekerja rumah makan lalu pergi mengambil segelas air putih.
"Makasih ya pak," ucap Titha.
"Maaf Tha!" Ucap Kahfi dengan tiba-tiba, yang membuat Titha dan Rahmat terpaku saling menatap mendengarkan Kahfi.
"Maafkan aku Tha, aku sudah melampaui batas, dan membuat mu malu," ucap Kahfi yang masih merunduk enggan melihat Titha.
"Kamu gak salah fii, yang salah itu si Salman, dia yang duluan mancing-mancing, kamu gak berhak minta maaf," ucap si Rahmat.
"Benar kata si Rahmat, kamu gak salah apa-apa, dan kamu juga gak perlu minta maaf segala," ucap Titha menyambung perkataan si Rahmat.
"Tapi Tha-"
"Makasih fii, kamu sudah membelaku tadi," ucap Titha memotong perkataan Kahfi.
Mendengar itu, lantas Kahfi perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Titha dengan mata yang berbinar-binar, Kahfi tersenyum mendengar perkataan yang di ucapkan Titha padanya, dan begitupun si Titha, ia membalas senyuman dari Kahfi dengan senyum juga.
Tak lama kemudian, datanglah pekerja rumah makan yang hendak mengambilkan air putih untuk Kahfi tadi.
"Maaf, ini air putihnya ustadz, silahkan diminum," ucap pekerja rumah makan yang bertubuh tinggi besar tadi pada Kahfi.
"Makasih pak Sudin," jawab Kahfi yang sudah agak cerah kembali raut wajahnya.
"Loh? Kalian saling kenal?" Tanya si Rahmat pada Kahfi.
Kahfi tak menghiraukan kan pertanyaan dari temanya itu, ia langsung meminum air yang telah di berikan oleh pak Sudin padanya.
"Iya mas, saya mengenal ustadz Kahfi," saut pak Sudin pekerja rumah makan tadi.
"Kok bapaknya manggil Kahfi ustadz?" Sekarang giliran Titha lagi yang bertanya.
"Gini mas, mbak, saya kenal dengan ustadz Kahfi sudah lebih dari dua tahun terakhir, waktu itu, saya dan istri juga anak saya, sedang dalam perjalanan ke luar daerah, dan waktu itu, mobil yang kami naiki mogok tepat di depan masjid tempat ustadz Kahfi tinggal, pas itu, hari sudah mulai gelap, dan saya bingung mau nginep di mana, sedangkan anak saya itu masih kecil, seusia anak kelas empat SD kalau gak salah, kemudian kamipun menyempatkan diri untuk sholat Magrib di masjid dekat dengan mobil kami mogok tadi, nah pas selesai sholat, saya melihat si ustadz Kahfi ini lagi ngajar anak-anak seusia anak saya ini belajar ngaji, jadi saya hampiri lah ustadz Kahfi lalu bertanya," Assalamualaikum ustadz, maaf menggangu, ustadz tahu gak tempat menginap atau perumahan yang bisa di sewakan, saya dan istri saya sedang dalam perjalanan keluar kota, tapi mobil kami sedang mogok, dan anak saya gak mungkin tidur di mobil yang sempit dan penuh dengan barang-barang," ucapku pada ustadz, lalu si ustadz sejenak melihat anak saya dari kejauhan, lalu menyuruhnya untuk ikut bergabung dengannya belajar mengaji, ya saya suruh tuh anak saya ikut ngaji, kemudian si ustadz sambil ngajar ngaji bilang sama saya," bapak tidur aja di masjid ini, kalau masalah ijin, biar saya bilang sama pengurus masjid, kalau ada apa-apa bapak tinggal bilang sama saya," kata ustadz ada saya, nah jadi sejak saat itu, saya suruh anak saya untuk jadi salah satu muridnya ustadz, dan sampai sekarang dia juga masih ngaji sama ustadz," ujar si pekerja rumah makan itu atau pak Sudin pada Titha dan Rahmat.