Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 31



Hari yang di nanti-nantikan pun tiba, di rumah sederhana yang di huni oleh bi Mur, nampak si Titha sedang bercermin dengan gaun putih indah berkelip cahaya dari pantulan riasan di gaunnya, semua orang tertuju padanya yang selama ini hanya di lihat sebagai wanita sederhana dengan hijab panjangnya, juga seorang guru SD di sebuah desa yang juga jauh dari kata peradaban.


Dan sekarang wanita itu, wanita yang pernah hancur hatinya akibat di tinggal oleh laki-laki yang ia anggap sebagai pelindung hidupnya, yaitu ayahnya sendiri, kini ia akan menikah dengan laki-laki yang ia cintai dan menggantikan posisi ayahnya sebagai imamnya.


Titha perlahan meneteskan air mata dari depan cermin, ia tak menyangka bahwa ia akan menikah tanpa ada sosok seoarang ayah di sampingnya.


Dan perlahan seseorang memeluknya dari belakang lalu berkata.


"Jangan bersedih, ibuk yakin pasti ayah juga sedang berbahagia disana, melihat putrinya yang cantik begini," ucap ibunya dengan penuh kasih sayang


Titha mengalihkan badannya, lalu berbalik memeluk ibunya kembali dengan erat sambil berkata.


"Ibuk, Titha gak kuat kalau gini," ujar Titha yang sudah deras bercucuran air mata.


Ibunya lalu menghapus cairan bening yang ada di pipi anaknya itu, lalu perlahan membimbingnya berjalan ke luar menuju pelaminan yang sederhana.


Langkah demi langkah terasa sangat berat dan canggung bagi Titha, perlahan dari sudut matanya ia melihat Kahfi sudah menunggu dan duduk tegap di sebelah pak penghulu, dengan kopiah hitam dan jas hitam pula, melihat calon suami yang gagah dan penuh dengan senyuman menyambut kedatangannya, membuat Titha lupa dengan kesedihannya tadi, ia pun mulai melebarkan bibirnya, dan membalas senyuman dari Kahfi.


Mereka akhirnya pun duduk bersama mengahadap penghulu, dengan suasana yang tenang dan nuansa masjid yang terbuat dari kayu, menambah kesan tersendiri bagi mereka.


Pak penghulu pun memulai akad dengan lafaz


"Bismillahirrahmanirrahim,".


2 jam berlalu sebelum akad, dan itu karena banyaknya acara yang mengharuskan sangkut paut dengan adat di sana, ada silat, ada bapeno/menyampaikan hajat serta doa dari kedua keluarga mempelai pria dan wanita, sampai akhir, kata yang di tunggu-tunggu, dan membuktikan serta berjanji di hadapan Allah, dengan nada tenang dan tak tergesa-gesa Kahfi menjawab pak penghulu.


"Saya terima nikahnya Titha Pramulya binti Chandra-".


Beralih ke tempat ayahnya Salman!


Nampaknya, ayah si salman ataupun pak Alwis, ia tidak tahu kalau hari ini adalah hari pernikahannya Titha dan Kahfi.


Dan tak lama kemudian, datang salah satu anak buah beliau yang menghampiri beliau.


"Maaf pak," ucap anak buahnya dengan raut wajah yang takut.


"Ya ada apa?" Tanya pak alwis padanya.


"Anu pak, aa.. itu, si anu-"


"Anu-anu, kamu gagap atau apa?" Bentak pak Alwis padanya.


"Saya nggak sengaja mendengar tadi, dari percakapan yang saya temui dijalan, saya dengar kalau mereka akan pergi ke pernikahannya neng Titha," ujar anak buahnya dengan takut.


"Apa katamu!" Sambil mengibas jatuh gelas yang berisi kopi yang ada di mejanya.


Beralih lagi ke acara nikahnya Titha dan Kahfi.


"Sahh? Sah?" Ujar pak penghulu.


"Saahhhh!" Jawab saksi dan orang-orang yang menghadiri pernikahan mereka yang sederhana itu.


Seketika Titha langsung memeluk ibunya yang duduk tepat disamping itu, air mata gadis itu tak tertahankan, dan keluar deras jatuh ke pipinya, ia sangat terharu dan bahagia, sampai tak dapat berkata apapun.


Hala yang sama juga dirasakan oleh Kahfi, Kahfi sangat terharu dan bahagia, karena ia sudah sah dan telah menyatukan ikatan yang suci dihadapan tuhan dengan wanita yang telah tuhan pilih untuknya.


Kemudian acarapun dilanjutkan dengan penuh suasana harmoni dan bahagia, kedua orang tua mereka juga tak henti-hentinya menangis.


Lalu Kahfi pun memegang tangan Titha dan menariknya mendekat, mereka saling bertatapan dan tersenyum, hingga Titha perlahan menundukkan kepalanya lalu memejamkan matanya, dengan tenang dan lembut tangan Kahfi naik dan memegang kepala Titha dan perlahan mendekati Titha lalu mencium kening istri tercinta.


Semua larut dalam suasana yang amat bahagia itu, tak ada yang terlihat suram dan kaku, semuanya penuh dengan senyuman dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka semua.


*Time skip.


2 minggu kemudian.


Nampak di halaman rumah si Kahfi beserta bapak dan ibunya, yang sedang asyik mengobrol santai di teras depan.


"Eh buk, ngapain tuh menantu kita di dalem?" Tanya bapaknya Kahfi pada istrinya.


"Ibuk suruh bikinin teh buat kita pak," jawab istrinya tanpa melihat ke arah suaminya itu.


"Ihh baru juga dua minggu punya menantu, udah ibuk susahin aja," saut suaminya dengan nada cuek.


"Ya dari pada dia gak ada kerjaan pak," kata istrinya yang tak mau kalah.


"Gak ada kerjaan gimana buk? Sejak tuh anak jadi mantu kita, semua pelerjaan negara ini ibuk serahkan padanya, mulai nyuci baju, masak, bersih rumah, bagi ayam bapak makan-“


"Tuh bapak sendiri juga nyuruh dia ngasih makan ayamnya bapak," potong istrinya yang mulai jengkel dengan suaminya.


"Kan cuma ngasih ayam makan apa susahnya sih, tinggal lempar-lempar beras, mending ibuk nyuruh dia yang bermanfaat aja," ujar suaminya yang cerewetnya minta di colok.


"Itusih manfaatnya jangka pendek, suruh dia yang jangka panjang aja, misalnya bikinin cucu buat kita," ujar suaminya sambil tertawa ke arah istrinya.


"Apa? Cucu?," Saut istrinya.


"Iya cucu, ibuk gak mau, ya udah bapak aja," canda suaminya yang bisa meluluh lantakkan kejutekan harimau betina.


"Eh enak aja, ibuk juga mau, minimal 3 orang, satu cowok, 2 cewek deh," ungkap istrinya itu.


"Kalau bapak sih maunya empat orang, dan itupun cowok semua, biar tak masukin jadi TNI semua, hahah," ungkap suaminya.


Tengah asyik mengobrol, akhirnya menantu mereka keluar dengan dua gelas teh hangat yang dibawakannya.


"Ini tehnya pak, buk, silahkan di minum," suguh Titha pada kedua mertuanya.


"Eh makasih ya taa.." saut bapaknya si Kahfi.


"Itu suamimu kemana? Kok gak keliatan dari pagi tadi, sarapan aja gak ada," tanya ibunya Kahfi pada Titha.


"Kalau itu anu buk, dia katanya lagi gak enak badan," ujar Titha.


"Demam?" Tanya ibunya Kahfi lagi.


"Eh ta, kalian udah punya hadiah buat kami gak? Terserah cewek atau cowok yang penting 4 orang ya," saut bapaknya Kahfi yang nyeletuk aja.


"Eh bapak apaan sih, nanyain yang enggak-enggak," saut istrinya.


"Bapak pesen aja dulu buk, biar tuhan yang nentuin nanti, gitu aja kok marah, cucu kita juga nanti," cakap mertua laki-lakinya.


"Itu bukan urusan kita bapak.. ah tahu ah, ibuk mau masuk dulu, bapak nggak seru," ambek jarimau betina di mulai.


"Eh buk, ibuk, mau kemana? Ini abisin tehnya dulu bukk, lah ngambek tuh malaikat," cakap bapaknya Kahfi.


Titha hanya terkikih melihat tingkah laku kedua mertuanya itu.


"Ya udah taa, bapak juga mau masuk, itu suamimu bangunin, suruh minum wedang buatan bapak, pasti sembuh kalau dia udah minum itu," cakap bapaknya Kahfi pada menantunya itu.


"Iya pak, ya udah ini biar Titha yang bawa ke dalem, bapak duluan aja," jawab Titha pada mertuanya yang gokil itu.


"Ya udah, eh ya, jangan lupa pesenan bapak tadi ya, minimal empat orang ya, haha," ujar mertuanya itu lalu pergi masuk ke dalam rumah.


Titha terdiam dan terpikirkan perkataan mertuanya itu dengan lucu gimana gitu.


"Minimal? Empat?, Haha ada-ada aja eh si bapak," kata hati Titha yang terkikih sendiri.


Dan tiba-tiba dari depan rumah tersebut, dengan perlahan ia membuka pintu pagar tersebut dan mendekati Titha dengan topeng di wajahnya, dan dengan nada keras orang yang tak di kenal itu memanggil nama Titha, kemudian.


"Doorr!!" Suara tembakan yang dangat jelas dan terdengar hingga menggema di kampung itu.


Kahfi yang tengah tertidur di kamarnya seketika bangun dan berlari keluar mencari sumber suara tembakan itu, dan benar saja, Kahfi terpaku dan tak bisa bicara apa-apa, ia melihat seorang wanita yang amat dicintainya telah tergeletak bersimbah darah di lantai teras rumah, Kahfi langsung merangkul dan meletakkan wanita kesayangannya itu di pangkuannya.


Begitu pun bapaknya Kahfi, juga terpaku sskaligus emosinya terbakar habis, beliau langsung menantang orang tak dikenal tersebut dan sempat berkelahi dengan bapaknya Kahfi, dan melihat dan mendengar kerasnya suara tembakan tadi, warga pun juga datang ke lokasi dan kebetulan melihat bapaknya Kahfi yang sedang bertarung dengan si tersangka, dengan sigat dan tanpa pikir panjang warga langsung membantu dan orang tak dikenal itu berakhir babak belur. Dan bapaknya Kahfi pun membuka topeng yang dikenakan oleh pelaku tersebut lalu berkata.


"Siapa kamu sebenarnya? Haah!" Tanya bapaknya Kahfi dengan penuh emosi dan linangan air mata.


"Pak alwis!!" Cakap Titha yang juga tak menyangka bahwa yang ingin menembaknya tadi ialah beliau.


"Kamu kenal ta?" Tanya Kahfi dengan nada berat.


"Ke kenal, dia itu adalah ayahnya Salman!" Ujar Titha yang sangat shock itu.


"Apa? Salman?, Jadi.. dia.. ibuukk!!" Teriak Kahfi sambil memeluk ibunya yang telah tertembak dan terbaring di pangkuanya.


Air mata tak terbantahkan lagi, ditinggal oleh seorang ibu yang amat ia cintai, ibu Kahfi meninggal karena menyelamatkan Titha yang tak lain adalah menantunya sendiri.


Namun sebelum Kahfi keluar tadi, ibunya Kahfi sempat berpesan pada menantunya itu.


"Taa.. ibuk titip anak kesayangan ibuk ya.. tolong jaga dia, ibuk juga bersyukur punya menantu cantik dan baik kayak kamu, ta..." Pesan terakhir dari sang ibunda tercinta sekaligus mertuanya yang istimewa.


Dan hari itu, baru sekali seumur hidup Titha melihat suaminya menangis begitu dalam, dan itu juga telah Titha alami sebelum Kahfi, Titha juga merasa bersalah karena mertuanya meninggal karena menyelamatkan dirinya, namun tak bisa di pungkiri, nasi sudah menjadi bubur.


Keesokan harinya.


Tepat di tengah pemakaman desa yang terletak di sebuah bukit hijau nan luas, semua orang turut berduka dalam proses penguburan ibunda tercinta Kahfi dan mertua dari Titha Pramulya.


Setelah pak ustad membaca doa, dan semua orang sudah berangsur berkurang, akhirnya tinggallah mereka bertiga, yang tak lain adalah Kahfi, Titha, dan bapaknya Kahfi.


"Maaf buk, Kahfi betul-betul minta maaf, karena belum bisa bahagiakan ibuk, padahal ibuk selalu bilang mau cucu yang sholeh dan shalihah," ucap Kahfi dalam hatinya.


Titha memeluk Kahfi dengan penuh kasih, dan dihampiri oleh bapaknya, yang juga ikut mengelus pundak dari anak tercintanya itu.