
"Iya Mat! Aku mau menemui Titha lalu menyatakan perasaan ku ini padanya, jika ia berkenan untuk menikah, maka aku siap untuk menghalalkannya," ucap Kahfi dengan nada pelan namun tegas dengan mata yang penuh dengan kesungguhan dan keyakinan.
Melihat sahabatnya yang tengah berjuang untuk mengejar cinta sejatinya, lantas Rahmat pun ikut terbawa suasana dan ingin membantu sahabatnya tersebut.
"Masyaallah fii, tenang aja kalau gitu, sahabat mu ini siap membantumu apapun masalah mu, tapi kita nanti berhenti sebentar di kayu aro ya, di kebun teh, kita isi bensin dulu disitu," ucap si Rahmat pada Kahfi.
"Makasih ya Mat," ucap Kahfi singkat.
*Kayu aro, di sebuah rumah makan.
Mobil yang di tumpangi Titha baru saja sampai di kayu aro, dan memarkirkan mobilnya disebuah rumah makan, titha yang tengah tertidur di gerobak belakang di hampiri oleh si pak supir yang membawanya, pak supir tersebut membangunkan Titha.
"Neng, neng? Bangun neng, kita istirahat dulu," ucap si pak supir membangunkan Titha.
Mata Titha perlahan terbuka, dan akhirnya bangun dari tidurnya.
"Ah ada apa pak? Apa kita sudah sampai?" Tanya Titha pada si pak supir sambil mengusap-usap kedua matanya.
"Iya neng kita udah sampai di kerinci, sekarang kita di kayu aro," saut pak supir menjawab Titha.
"Kayu aro?" Ucap Titha dengan nada bingung.
"Iya neng, neng mau makan?" Ucap pak supir pada Titha.
"Ah gak usah pak, saya mau ke toilet dulu," ucap Titha menjawab si pak supir.
"Kalau begitu saya duluan ya neng," ucap si pak supir lalu pergi masuk ke dalam rumah makan.
Titha yang masih merasa terkantuk-kantuk itupun, lantas turun dari atas gerobak mobil yang di tumpanginya, ia melihat sekeliling, ternyata memang benar, bahwa ia sedang berada di kayu aro, Titha menjadi percaya kalau dia sedang berada di kayu aro karena dia sempat melihat pemandangan hamparan pohon teh yang luas ini ketika ia dalam perjalanan pertamanya ke Kerinci, Titha pun bergegas mencari toilet.
Disaat Titha mencari toilet di sekitaran rumah makan itu, tak lama setelah itu, mobil Kahfi dan Rahmat tiba dan memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah makan tersebut, Kahfi keluar duluan dari mobilnya.
"Eh fii, lu gak turun, makan yuk," ucap Rahmat mengajak Kahfi makan.
"Kamu duluan aja, aku mau ke toilet dulu, dari tadi aku nahannya, saut Kahfi menjawab ajakan Rahmat.
"Ya udah, eh lu pesan apa, biar aku pesenin," ucap Rahmat lagi pada Kahfi.
"Apa aja deh, aku udah gak tahan lagi nih, aku ke toilet dulu ya," ucap Kahfi menjawab si Rahmat tanpa melihatnya dan langsung pergi ke toilet.
Rahmat pun masuk ke dalam rumah makan, dan memesan makanan.
"Mbak, pesen rendang sama lele gorengnya," ucap si Rahmat pada salah satu pekerja di rumah makan itu.
"Satu porsi mas?" Tanya si pekerja rumah makan.
"Dua porsi, satu lagi untuk temen saya," ucap si Rahmat.
"Siap mas, silahkan duduk disana mas," saut si pekerja rumah makan.
Rahmat pun duduk di tempat yang di tunjuk oleh pekerja rumah makan tadi, sambil menunggu si Kahfi ia memeriksa kembali barang-barang yang ada di dalam ranselnya.
Di lain tempat, tepatnya di toilet umum, Titha yang sudah selesai mencuci muka baru saja keluar dari toilet dan ingin pergi ke rumah makan untuk menambah tenaga, di saat Titha lewat di depan toiletnya laki-laki, salah satu pintu toilet itu terbuka dan keluarlah seorang laki-laki yang membuat Titha terkejut dan begitupun si laki-laki, yang lebih terkejut lagi dari pada Titha.
"Titha!" Ucap Kahfi.
"Kahfi!" Ucap Titha.
Mereka berdua tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini, dengan rasa senang bercampur bingung di antara mereka berdua, Kahfi berkata pada Titha
"Bukannya kamu ke Lampung sama Salman? Kok kamu disini? Salman mana?" Tanya Kahfi pada Titha.
"Ceritanya panjang-" ucap Titha yang dipotong oleh suara perutnya yang keroncongan.
"Ya udah nanti aja ceritanya, makan yuk, temen aku mungkin udah pesen makanan didalam," ucap Kahfi mengajak Titha makan di rumah makan.
"Boleh?" Ucap Titha dengan rada-rada malu.
"Boleh, emang harus ada surat ijin dulu ya kalo mau makan?" Ucap si Kahfi becandain si Titha.
Titha yang tadinya lesu dan murung, akhirnya bisa kembali ke moodnya, dengan adanya si Kahfi, tak butuh waktu lama untuk Titha bisa kembali tersenyum.
Merekapun pergi ke rumah makan, Titha tak tahu bagaimana bisa ia bertemu laki-laki idamannya itu, namun Titha sempat bingung, kok si Kahfi ada di kayu aro, ngapain?, Tapi ya sudahlah, Titha merasa lebih aman dan nyaman dengan Kahfi dari pada dengan si pengemis cinta, Salman.
Belum lama saat mereka memasuki rumah makan, Rahmat sudah melambaikan tangan memanggil si Kahfi dari meja makan di sudut jauh.
"Fii, Kahfi, sini-sini, duduk sini," ucap Rahmat memanggil Kahfi.
Kahfi yang melihat dan mendengar suara panggilan dari Rahmat lantas langsung pergi menuju tempat Rahmat bersama titha.
Setibanya Kahfi dan Titha di tempat Rahmat, Rahmat sempat terkejut dan terheran melihat si Titha.
"Loh? Kok, kamukan-" ucap Rahmat yang langsung di potong oleh Kahfi.
"Udah nanti aja ceritanya, mending kita makan dulu, sini tha, duduk sini," ucap Kahfi dan menyuruh Titha duduk tepat di sebelah meja makan.
Titha pun duduk di sebrang meja makan, sementara si Kahfi dan Rahmat duduk sederet di bagian meja yang tepat berhadapan dengan Titha, melihat nasi dan lauknya yang kurang untuk Titha, Kahfi pun menanyai Titha dengan berkata.
"Oh nasi buat kamu belum, bentar aku pesenin, kamu mau apa?" Ucap Kahfi pada Titha.
"Apa aja deh," saut Titha menjawab tawar Kahfi.
"Eet! Eet, tunggu!" Sergah Rahmat menahan si Kahfi.
"Ada apa? Kamu mau pesen lagi? Rakus amat sih lu, tuh sambel pete aja belum lu abisin," ucap si Kahfi dengan nada becanda.
Melihat tingkah laku dua laki-laki yang ada di depannya itu, Titha terkikih melihat mereka berdua yang konyol dan lucu.
"Kamu duduk sini aja, biar teman baik mu ini yang pesenin buat calon istri temennya, hahaha," ucap si Rahmat lalu cepat-cepat pergi meninggalkan Kahfi dan Titha.
Kahfi terbelalak dan berkata.
"Astagfirullah! ada-ada aja yang di omongin, pesen sana," ucap Kahfi yang malu dengan omongan temannya yang tidak ada remnya itu.
Titha kembali terkikih melihat tingkah laku mereka, rasa takut dan emosinya setelah bertengkar dengan si Salman seketika hilang dibuat Kahfi dan temannya itu, sementara si Rahmat pergi memesan makanan lagi, Titha memanggil Kahfi dan berkata.
"Fii, itu temen kamu?" Tanya Titha pada Kahfi yang masih salah tingkah.
"Ah? Iya, masa kamu lupa, kan dia yang manggil aku pas bapaknya bi Mur meninggal," ucap Kahfi menjawab Titha sambil kembali duduk.
"Ohh.. yang itu ya, inget-inget, yang suka ngaji di masjidkan," ucap Titha.
"Iya, nanti aku kenalin, tapi ngomong-ngomong, kok kamu bisa disini, Salman mana?" Tanya Kahfi pada Titha.
Titha untuk sesaat terdiam karena teringat kejadian sebelumnya saat ia bertengkar dengan Salman, namun Titha percaya pada Kahfi.
"Sebenarnya, aku sudah di tipu oleh Salman.." Ucap Titha.
Dan ia pun menceritakan semuanya dengan panjang lebar pada Kahfi. Sementara dari kejauhan, si Rahmat yang sedang memesan makanan untuk Titha tadi hanya memandang mereka berdua dari kejauhan dengan tersenyum sendiri, pekerja rumah makan yang melihat si Rahmat tertawa sendri lantas menyapanya.
"Mas? Ada apa mas, kok ketawa sendiri, nanti mas dibilang sawan loh," ucap si pekerja rumah makan pada Rahmat.
Senyum yang ada di wajah Rahmat lantas hilang seketika berganti fokus dengan mimik serius, lalu membalas sautan dari pekerja rumah makan itu.
"Gimana mbak, udah pesenan saya tadi?" Ucap Rahmat dengan nada bicara dan mimik yang sok cool.
"Udah mas, nih, nasi sama sambel petenya, lauknya nyusul ya mas, lagi di goreng soalnya," ucap si pekerja rumah makan pada si Rahmat.
"Oh ya udah gak papa, makasih ya mbak," ucap si Rahmat lalu pergi dengan membawakan nasi dan sambal pete menuju ke tempatnya tadi.
Di meja makan, Titha dan Kahfi masih asyik dengan topik pembicaraan mereka yang serius itu, dan disaat Titha berkata.
"Terus, aku tampar dia sekuat mungkin-" ucap Titha yang sedang asyiknya berbicara dengan Kahfi namun di potong oleh kedatangan si Rahmat yang tak sengaja mendengarkan ucapan Titha.
"Apa? Tampar? Siapa yang kena tampar?" Saut Salman sambil meletakkan bawaannya di meja makan.
Kahfi terkejut dengan sautan dari temannya itu, dan melihat ke arah Rahmat, lalu berkata.
"Kamu ngagetin aja, untung aja aku gak jantungan," ucap Kahfi pada Rahmat.
"Ya maaf, nih pesanannya, nasi ama sambelnya," ucap si Rahmat.
"Lauknya?" Ucap Titha lagi.
"Iya Mat, mana lauknya, masa cuma makan pake sambal, mana sambalnya sambal pete lagi," ujar si Kahfi.
"Sabar... Napa, lauknya lagi di goreng, bentar juga di anter," saut Rahmat menjawab si Kahfi.
Tak lama setelah itu, salah satu pekerja rumah makan datang dengan membawakan lauk yang dibicarakan oleh mereka tadi, pekerja itupun meletakkan lauk itu tepat dihadapan mereka bertiga.
"Ini lauknya mbak, mas, selamat menikmati," ucap si pekerja rumah makan tersebut.
"Makasih ya mbak," ucap si Titha.
Pekerja rumah makan itu mengangguk menjawab Titha, lalu pergi kembali bekerja, dan si Titha, Kahfi dan Rahmat, akan mulai mengisi perut mereka dengan menyantap makanan yang sedari tadi sudah menggoda mereka.
"Ya udah, ayo kita makan, mumpung masih hangat," ucap si Kahfi.
Si Titha malah tertawa mendengar ucapan si Kahfi, dan itu membuat si Kahfi bingung, si Kahfi pun bertanya pada Titha.
"Kok ketawa? Emang ada apa? Ada yang salah?" Tanya Kahfi pada Titha dengan nada bingung.
Lantas Titha menjawab," gak sih, hahaha, temen lu aja udah dari tadi ngunyah, nasinya aja tinggal separoh," ucap Titha sambil tertawa melihat tingkah laku teman Kahfi yang lucu.
Kahfi pun beralih melihat ke arah si Rahmat yang sedang asyik menyantap sambal pete.
"Astagfirullah! Eh sejak kapan nih baskom makan, eh kalau makan tuh baca doa dulu, main seruduk aja," ucap Kahfi pada si Rahmat yang tengah lahap menyantap sambal pete.
Si Rahmat mah acuh aja, sikat terus.
Melihat temannya sudah makan duluan, lalu Kahfi berkata pada Titha.
"Ya udah, mari kita makan tha.." ucap si Kahfi yang beralih melihat ke arah Titha pula.
Eh tahunya si Titha juga udah start duluan dari Kahfi, Kahfi lantas memasang raut wajah kosong sambil menatap si Titha, lalu berkata.
"Sama aja," ucap Kahfi dengan nada sebal pada Rahmat dan Titha.
Mereka bertiga mulai menyantap makanan yang ada di depan mereka dengan lahap, sesekali Titha terlihat melirik ke arah Kahfi, entah apa maksudnya, tapi setiap Titha melirik ke arah si Kahfi, pasti diawali dengan senyuman dan di akhiri dengan senyuman pula, intinya, Titha tersenyum setiap menatap si Kahfi tanpa sepengetahuannya.