Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 30



*Time Skip.


Tiga hari sebelum lebaran, ayah dari Salman menginjakkan kakinya untuk pertama kali di tanah subur Kerinci.


Ia sangat marah, dan di matanya penuh dengan amarah dan dendam yang gelap.


Hingga ia bergumam.


         "Tunggu saja, ayah pasti akan membawa wanita yang kamu cintai bersamamu, Salman."


*Sementara itu di rumah Kahfi.


Setelah berbuka puasa, Kahfi duduk diam di depan teras rumahnya yang sederhana, lalu dihampiri oleh bapaknya.


         "Fii, ada yang mau bapak omongin bentar," ujar bapaknya.


         "Bapak?, Apa itu pak?" Tanya kahfi dengan raut wajah bingung.


Kemudian bapaknya Kahfi duduk di kursi tepat di sebelah anaknya itu.


         "Sebentar lagi kamu akan menikah, dan semuanya boleh di bilang sudah siap, Bapak cuma ingin tahu, bagaimana perasaan kamu sekarang?" Ujar bapaknya.


         "Huh? Perasaan?!, Kalau boleh jujur pak, aku sangat tegang, bahagia, sedih, bingung, dan takut. Semuanya ada padaku sekarang," ujar kahfi menjawab bapaknya.


         "Itu juga yang bapak rasakan pas waktu bapak mau menikah dengan ibuk mu, semuanya juga ada pada bapak, tapi kamu tahu kenapa bapak bisa melewati itu semua," ujar bapaknya Kahfi.


         "Tidak pak," jawab kahfi.


         "Itu karena kakek mu bilang gini pada bapak, "tenanglah, jangan sampai rasa takut, bahagia, sedih, dan bingung mu itu mengalahkan rasa cintamu terhadapnya!" Itulah yang dikatakan oleh kakekmu, dan bapak pun kembali percaya dengan kekuatan cinta bapak pada makmu," ujar bapaknya Kahfi.


Kahfi hanya terdiam mendengar bapaknya, ia merasa percaya kembali dengan kata-kata dari bapaknya yang dikutip dari pesan kakeknya sendiri.


         "Dan bapak cuma menambahkan sedikit dari pesan kakekmu itu," ucap bapaknya.


         "Apa itu pak?" Tanya Kahfi.


         "Bapak mau cucu 3 cukup," ucap bapaknya Kahfi dengan penuh senyuman yang hangat.


*Beralih ke rumah bi Mur.


Nampak Titha sedang bersiap-siap untuk pergi ke masjid melaksanakan sholat tarawih, ia berpamitan dengan ibunya juga seisi rumah itu.


         "Buk, bik, pak Harto, Titha ke masjid dulu mau sholat tarawih, ini pintu Titha kunci dari luar ya," ucap Titha dari pintu depan.


         "Iya hati-hati nak," jawab ibunya dari dapur.


         "Assalamualaikum," ucap Titha.


         "Walaikumussalam," jawab ibunya.


Dan sesampainya Titha di masjid, ia kembali di izinkan oleh yang kuasa bertemu dengan calon suaminya itu.


Seketika mereka saling salah tingkah dan malu-malu.


         "Ah?! Kahfi, kamu baru sampai juga?" Tanya Titha dengan kikuk.


         "Iyah, kamu juga ya?" Ucap kahfi pada Titha.


         "Iya, aa kalau begitu aku duluan ke dalam, assalamualaikum," ucap Titha yang tak tahan lagi lalu pergi meninggalkan Kahfi.


         "Titha!" Panggil Kahfi dari belakang dan menghentikan langkah Titha.


         "Aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan, untuk itu, jangan sampai semua rasa itu mengalahkan rasa cinta mu terhadapku," ucap Kahfi pada Titha.


Titha tersentak mendengar ucapan Kahfi itu, dan tanpa menoleh ke arah Kahfi, Titha melanjutkan jalannya menuju tempat wudhu.


*Lalu hari pertama pun usai, dan menyisakan dua hari lagi sebelum lebaran.


Keesokan harinya. Di rumah bi Mur nampak pak Harto sedang membelah samping rumah, lalu dihampiri oleh bi Mur.


         "Susah, tapi itu juga mengajarkan saya bagaimana cara menghargai dan mensyukuri apa yang sudah diberikan tuhan pada saya," jawab pak Harto yang membuat bi Mur terdiam.


         "Ciee tumben pak Harto ngomong bijak," ucap Titha yang tiba-tiba muncul.


         "Tapi betul apa yang saya bilangkan neng," ucap pak Harto pada Titha.


         "Mantap pak, itu juga bisa jadi pesan dakwah loh," saut Titha.


         "Eh neng, eh salah maksudnya Titha, gak kerasa ya, dua hari lagi udah lebaran, habis itu kamu nikah sama si Kahfi," ucap bi Mur menggoda Titha.


         "Bibik mah, doa'in aja ya bik," ucap Titha menyauti bibinya.


         "Kalau itu mah neng gak usah bilang juga kita pasti akan doa'in neng yang terbaik deh pokoknya," saut pak Harto.


         "Makasih deh pak," ucap Titha sambil tersenyum.


*Dua hari itupun berlalu dengan cepat sampai akhirnya, Suara yang di nanti-nantikan berkumandang.


         "Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Laa ilahha illallah Wallah hu Akbar," suara takbir dari gema corong masjid menyebar ke seluruh sudut desa yang makmur dan suhur.


Nampak Titha serta ibu juga bibinya baru saja keluar dari pintu masjid dan kembali di izinkan Allah untuk bertemu dengan calon suaminya.


         "Eh buk Rani, pak Sudin, mohon maaf lahir batin ya," ucap bi Mur yang menyapa duluan.


Titha dan Kahfi hanya bertatap sebentar lalu memalingkan pandangan mereka.


         "Mohon maaf lahir batin buk, pak," ucap ibunya Titha.


Hingga mereka berhenti di rumahnya bi Mur sambil mengobrol ringan dan bercanda dengan aneka makanan khas daerah Kerinci.


Lalu tiba-tiba bapaknya Kahfi berkata.


         "Gak terasa ya, sebentar lagi kita juga akan menjumpai hari yang bahagia, apa lagi setelah lebaran," ucap bapaknya Kahfi.


         "Iya, itu pasti akan menjadi hari yang paling bahagia bagi mereka berdua," saut bi Mur.


         "Tiga hari lagi, tepatnya pas lebaran ke empat," saut ibunya Titha.


         "Semoga lancar ya," saut ibunya Kahfi.


         "Aamiin," saut semua orang.


Sementara itu, Titha dan Kahfi tengah duduk di depan rumah bi Mur tepatnya di bawah pohon di halaman rumah bi Mur.


         "Tidak terasa ya," ucap kahfi secara tiba-tiba.


         "Hah?" Saut titha bingung.


         "Sebentar lagi kita akan bersatu dengan sah dan melenyapkan dinding yang menjadi penghalang bagi kita selama ini," ucap Kahfi.


         "Tapi jangan salah, dinding itu juga sangat membantu bagi manusia dan orang yang bukan mahramnya untuk melakukan maksiat dan dosa, aku faham maksud kamu fii," saut Titha.


         "Huh?" Jawab Kahfi.


         "Aku tahu yang kamu maksud adalah syari'at, dan kita akan bersatu dengan syari'at itu sendiri dengan bersumpah di hadapan Allah dengan Al-Qur'an sebagai saksinya," ujar Titha pada Kahfi.


Kahfi tersentak mendengar perkataan dari Titha yang tak ia sangka itu, dan membuat Kahfi percaya akan keputusan illahi.


         "Ternyata kamu memang wanita yang pantas untukku Tha.." ucap Kahfi tanpa melihat ke arah Titha.


         "Kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Titha.


         "Aku tahu kalau kamu dari keluarga kaya dan berwibawa, tapi bukan itu yang membuat aku mencintaimu, melainkan akhlak mu yang sangat menggoda ku, hingga menyentuh mu pun aku takut mengotori kesucian dari akhlak mu yang indah itu," ucap Kahfi dengan penuh rasa dari lubuk hatinya.


Mendengar hal itu, gantian kali ini giliran Titha yang tersentak oleh perkataan dari Kahfi.


         "Kalau begitu, aku serahkan diriku ini padamu setelah kita akad, dan aku mohon bimbinganmu sebagai calon imamku nanti," ucap Titha dengan penuh senyuman melihat ke arah Kahfi yang tidak melihatnya.