
"Bboooomm!!" Suara ledakan dari benturan kedua mobil tadi yang terdengar sangat keras dan besar.
Semua yang ada disana berhamburan dan berterbangan, pecahan-pecahan dari mobil Salman dan mobil Tanki yang meledak berhamburan di mana-mana.
Dan menutupi semua sudut jalan, semua orang yang ada di lokasi itupun langsung berhamburan memadati tempat kejadian.
Dari ledakan yang ditimbulkannya, sulit untuk mengatakan kalau ada yang selamat dari ledakan seperti itu, dan sudah pasti akan meninggal bagaimana pun usahanya untuk menyelamatkan diri.
Sesaat kemudian, bunyi sirine polisi maupun ambulan terdengar keras menuju lokasi kecelakaan.
*Sore harinya setelah tragedi Salman.
Di halaman rumah bi Mur.
Titha sedang menyapu halaman rumah bi Mur dengan sapu lidi, ditemani oleh si Puti yang duduk di kursi dekat dengan pintu.
Disaat Titha sedang menyapu, Puti berkata padanya.
"Tha.. kamu ya, yang beliin bubur?" Tanya Puti pada Titha.
Titha sambil menyapu tanpa melihat ke arah Puti lantas berkata.
"Bukan tii, itu dari si Rahmat" jawab Puti dan terus menyapu-nyapu.
"Rahmat?" Desah Puti yang seakan ingat dan lupa dengan nama yang disebutkan oleh Titha padanya.
"Iya Rahmat, yang nabrak kamu," sambung Titha tanpa melihat ke arah Puti.
Puti mengerutkan keningnya, dan mencoba mengingat nama Rahmat.
"Ohh yang pas waktu itu tuh ya," ucap Puti tiba-tiba.
"Iya.." saut Titha cuek.
"Terus yang satunya lagi itu siapa?" Tanya Puti lagi.
"Satunya lagi yang mana?" Ucap Titha.
"Itu.. yang tinggi putih, mancung," ucap Puti.
"Kahfi maksud kamu?" Ucap Titha pada Puti.
"Kahfi? Nama dia Kahfi ya, di lumayan ya Tha," gumam Puti seperti membayangkan Kahfi.
"Lumayan?" Saut Titha bingung dengan perkataan si Puti.
"Ya lumayan, maksud aku tuh dia lumayan ganteng, terus baik lagi, kayaknya kamu cocok deh sama dia," ucap Puti pada Titha.
Titha tersentak dan seketika pipinya mulai memerah.
"Apaan sih kamu, ada-ada saja," ucap Titha sambil memalingkan wajahnya.
"Iih aku serius," sambung Puti.
"Ada-ada saja kamu ah," saut Titha yang malu-malu lalu bergegas pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan Puti di teras rumah.
"Eh aku serius.. Tha, Titha.." panggil Puti yang tak di hiraukan oleh Titha.
Lalu Titha memanggil nya dari dalam rumah.
"Puti.. masuk sini, udah mau berbuka," panggil Puti dari dalam rumah.
"Iya iya," jawab Puti lalu ikut masuk ke dalam rumah.
*Dirumahnya Kahfi.
Ibunya Kahfi sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, sementara bapaknya sedang asyik membaca koran di kursinya.
Sementara si Kahfi baru saja pulang dengan si Rahmat entah dari mana, dan ia pun masuk ke rumah.
"Assalamualaikum," ucap Kahfi yang baru saja masuk.
"Walaikumussalam," jawab bapak dan ibunya.
"Kamu dari mana aja?" Tanya ibunya sambil membawakan makanan ke atas meja makan.
"Anu buk, dari nemenin si Rahmat," jawab Kahfi lalu duduk di kursi samping bapaknya.
"Gimana itu si siapa namanya lupa ibuk," ucap ibunya.
"Titha?" Saut Kahfi.
"Nah iya, si Titha, gimana?" Tanya ibunya.
"Itu-"
"Udah-udah, nanti aja ceritanya, itu orang udah adzan, gak baik Nunda berbuka," ucap bapaknya Kahfi yang memotong dan menyudahi semua percakapan pada saat itu.
Setelah mereka selesai berbuka dan sholat, Kahfi maupun kedua orang tuanya tengah berkumpul di ruang keluarga dengan harmonis.
Lalu ibunya Kahfi kembali bertanya tentang Titha pada anaknya itu.
"Ehh fii, kalau boleh ibuk tahu, gimana soal calon menantu ibuk itu," ucap ibunya sambil bercanda.
"Calon mantu? Ibuk mah jangan ngomong yang enggak-enggak ah," saut bapaknya Kahfi.
"Ya kan perkataan adalah doa pak," jawab ibunya Kahfi.
Kahfi hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tuanya itu.
"Lain kali aja aku ceritakan buk, sekarang udah mau sholat tarawih," ucap Kahfi pada ibunya.
"Ibuk mu itu paling cerewet kalau yang begituan," saut bapaknya meledek istrinya sendiri sambil bergurau.
"Iih bapak tahu apa soal cinta, bapak aja gak ada romantis-romantisnya sedikit pun," gumam ibunya Kahfi sambil memalingkan wajahnya.
"Ya udah pak, buk, aku ke masjid duluan," ucap Kahfi lalu berdiri pamit pada kedua orang tuanya.
"Iya hati-hati ya," ucap ibunya.
"Tuh anak juga udah gede, dia pasti hati-hati," saut bapaknya Kahfi yang membuat istrinya semakin geram.
"Iih bapak apa sih," ucap ibunya Kahfi dengan jutek.
"Jiah ngambek nih, aku demen nih yang beginian," ucap bapaknya Kahfi menggoda istrinya.
*Di halaman rumah bi Mur.
"Buk.. bik, Titha ke masjid duluan ya," ucap Titha dari halaman rumah.
"Iya hati-hati Tha.." saut ibunya dari dalam rumah.
Titha pun pergi menuju ke masjid.
Dalam perjalannya menuju masjid yang jalannya hanya berbalut tanah, Titha berjalan sambil membawa mukenanya dan saling sapa menyapa dengan warga yang juga ingin menuju masjid untuk menunaikan sholat tarawih.
Saat Titha tiba di depan pintu pagar masjid, ia tak mengira akan bertemu dengan laki-laki yang di kaguminya.
"Kahfi?!" Ucap Titha yang terkejut melihat Kahfi.
"Titha?" Ucap Kahfi juga tak menyangka akan bertemu gadis pujaannya.
Mereka sama-sama salah tingkah, dan tak tahu berkata apa-apa, sampai akhirnya, Kahfi yang membuka mulutnya duluan.
"Aa.. bagaimana keadaan si Puti?" Tanya Kahfi pada Titha.
"Huh? Puti, Puti sudah baikan, dia malah bantu bibik narik air di sumur belakang rumah," jawab Titha.
"Narik air? Ternyata dia wanita yang tangguh," ucap Kahfi bercanda.
"Iya," saut Titha yang ikut tersenyum kecil.
"Ya udah, aku duluan ya, aku yang bertugas malam ini," ucap Kahfi pada Titha.
"Bertugas?" Ucap Titha dengan raut wajah bingung.
"Iya, aku yang jadi bilal malam ini," ucap Kahfi.
"Ohh.." ucap Titha.
"Assalamualaikum," ucap Kahfi berpamitan pada si Titha.
"Walaikumussalam," jawab Titha dan tersenyum kecil melihat punggung Kahfi yang semakin lama semakin menjauh.
Lalu Titha pun bergegas ikut juga masuk ke dalam masjid.
Sementara itu.
*Di Rumah sakit, di Lampung.
Suara isak tangis dari pak Alwis yang tak lain adalah ayahnya Salman bergema di seluruh ruangan otopsi.
Ia sangat terpukul karena telah kehilangan anak keduanya, yang mana dulunya, anak pertama atau kakak Salman Danar, juga pergi dengan cara yang tragis.
Pak Alwis dengan masih memakai jas dan kemeja putih didalamnya mencium kening anaknya Salman yang sudah hitam bercampur darah.
"Maafkan ayah, ayah berjanji akan membalas wanita yang telah membuatmu begini!" Desah pak Alwis yang menaruh dendam pada wanita yang dicintai oleh Salman, yang tak lain adalah Titha.