Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 2



*2 hari kemudian.


Di tempat pertemuan antara keluarga korban dan pihak pesawat. Titha bersama ibunya di temani juga oleh Salman, masuk ke ruangan tersebut, dan menunggu kehadiran dari orang pihak pesawat.


Sesaat setelah Titha dan ibunya masuk ke dalam ruangan, Titha merasa atmosfer di ruangan itu sangat hampa dan gelap, semua orang yang ada di dalam ruangan itu terlihat sakit dan patah semangat, karena mereka semua adalah korban juga seperti yang di rasakan oleh Titha dan ibunya. Ada yang membawa anaknya yang masih sangat kecil belum bisa bicara, ada nenek-nenek yang menangis karena kehilangan anaknya, dan begitupun dengan keluarga-keluarga yang lain, mereka semua mengeluarkan air mata.


Melihat semua itu, si Titha tak tertahankan untuk mengeluarkan air matanya, ia langsung terbawa suasana dan meratap di pangkuan ibunya,


         "Astagfirullah hal'aziim ... buk," ucap Titha yang mendekap di bahu ibunya.


         "Udahlah Titha ... mungkin ini cobaan yang Allah berikan untuk kita.. jadi kita harus sabar," saut ibunya yang berusaha menahan tangis.


Pintu ruangan terbuka, dan masuklah seorang yang ber jas serba hitam. Semua keluarga korban langsung diam dan terpaku pada pria yang baru saja masuk. Pria ber jas itu langsung naik ke mimbar dan berbicara.


         "Maaf atas keterlambatannya, saya dari pihak pesawat-"


Belum selesai bicara, semua keluarga korban kecuali Titha dan ibunya langsung menyerbu ke depan mimbar dan meratap-meratap atas kehilangan keluarga mereka, ada yang meninju-ninju meja, ada yang yang menggendong anaknya yang menangis kencang, pokoknya semuanya kacau balau dan tak terkendali. Mendengar terjadi keributan di dalam, beberapa petugas keamanan datang masuk dan menenangkan suasana yang tegang tadi. Kemudian pria yang bernama Pardi tadi melanjutkan penyampaiannya.


         "Saya sangat malu atas terjadinya tragedi ini, saya mewakili semua kepengurusan penerbangan Indonesia, dengan ini meminta maaf yang sebesar-besarnya pada seluruh keluarga korban kecelakaan pesawat BM12 yang jatuh pada tanggal 14 Juni 1995, hari Kamis, pukul 14:00 wib. Dengan ini kami nyatakan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya dan akan mempertanggungjawabkan semua yang terjadi atas kejadian ini, saya pribadi sangat malu dan meminta maaf yang sebesar-besarnya pada seluruh keluarga korban," ujar si Pardi dan langsung meninggalkan ruangan dengan keamanan yang ketat melindunginya dari amukan keluarga korban.


*Keesokan harinya.


Di tempat pemakaman umum. Titha dan ibunya, juga semua orang tetangga maupun warga di tempatnya, menghadiri prosesi pemakaman ayahnya, yaitu pak Candra. Titha dan ibunya terlihat sedang menangis di atas kuburan ayahnya, melihat ayahnya yang sudah kaku dan mengenakan kain kafan yang serba putih, sedang di masukkan di liang kubur, lantas si Titha tak sanggup lagi menghadapi kenyataan ini, ia langsung pingsan setelah orang memasukkan ayahnya ke liang kubur, saat itu Salman juga menghadiri prosesinya, dan membawa si Titha bertepi di bawah pohon beringin yang rindang. Di bawah pohon itu, Salman mendudukkan Titha di pohon itu, dan mengipas-ngipas Titha.


Selesai prosesi pemakaman. Semua orang memanjatkan doa bersama-sama, dan kali ini, ibunya Titha lagi yang pingsan, semua orang yang hadir merasa kasian pada Titha dan ibunya, karena di tinggal oleh pak Candra, yang mana di kalangan masyarakat setempat, pak Candra di kenal sebagai seorang yang berbudi luhur, dan sangat dermawan, beliau suka bersedekah dan juga termasuk orang yang cinta dengan masjid.


*Seminggu kemudian.


Di rumah Titha. Titha sedang membantu ibunya menyiapkan makanan di dapur.


         "Titha ... panggil pak Harto gih, bilang sama dia kita makan sama-sama aja," ucap ibunya.


         "Iya buk ... bentar Titha panggilin yah," Titha pergi memanggil pak Harto yaitu supir nya untuk makan bersama


Di halaman rumah. Pak Harto sedang mencuci mobil peninggalannya pak Candra atau ayahnya Titha. Kemudian si Titha datang menghampiri pak Harto.


         "Pak ... pak Harto," panggil Titha.


         "Iya neng ... ada apa? apa yang bisa saya bantu?" saut pak Harto yang bergegas menghampiri Titha.


         "Itu ibuk ... udah masak didalem, yuk kita makan bareng," ajak Titha.


         "Waduh neng, kalau itu mah saya gak enak neng makan sama majikan satu meja makan," ujar pak Harto.


         "Yah ... Gak papalah pak, makan bareng kan lebih enak, dari pada bapak makan sendirian mulu," saut Titha.


         "Gak usahlah neng, bapak nanti aja pas udah selesai ini cuci mobil," jawab pak Harto yang merasa tak enak.


         "Haduh ... si bapak ih udah ayuk, nanti Titha lapor ke ibuk kalau bapak gak nurutin perintah, gimana? yuk ... ayukk ...," Titha memaksa pak Harto dan menariknya masuk kerumah.


         "Tu ... tunggu dulu neng, bapak matiin ini dulu, keran airnya dulu, nanti tagihan airnya naik bapak juga yang di salahkan," canda pak Harto.


         "Huss ... bapak ada-ada aja," Titha juga menanggapi candaannya pak Harto.


Ibunya Titha sangat bersyukur, karena Titha tidak larut dalam rasa sedihnya atas perginya ayahnya, dalam waktu seminggu setelah ayahnya meninggal, ia sudah mampu untuk tertawa seperti biasa, mungkin ia sudah ikhlas dengan kepergian ayahnya, pak Candra.


*Setibanya di ruang makan.


Titha dan pak Harto masuk dari pintu belakang rumah.


         "Assalamualaikum ... buk ...," salam pak Harto yang baru masuk.


         "Walaikumussalam, kok lama banget, ini nanti sambelnya keburu dingin," saut ibu Titha


         "Iya buk ... nih pak Harto nya sok malu-malu," jawab Titha.


         "Kenapa malu, malu ama majikan sendri, ada-ada aja pak Harto ah," saut ibu Titha.


         "Ya udah ... silahkan duduk pak, kita makan bareng," ucap Titha.


         "Iya ... duduk duduk pak, biasanya ada bi Mur, tapi dia lagi pulang kampung, bahkan nanti kalau si bibi tahu kalau si ayah udah gak ada gimana ya," ujar ibu Titha.


         "Ah iya makasih buk," saut pak Harto.


Merekapun makan dengan lahap di ruang makan, serta candaan dari pak Harto yang bisa membuat senyuman di wajah Titha kembali, sekilas saat makan si Titha sempat terhenti makannya, karena teringat dengan ayahnya, tapi karena adanya pak Harto yang lucu dengan istilah-istilah anehnya, Titha sudah tidak lagi galau dan mogok makan, malah setelah kematian ayahnya, si Titha sudah bertambah dewasa dan bertujuan untuk memenuhi permintaan terakhir dari ayahnya, yaitu Titha harus menyelesaikan kkn dan lulus kuliah. Itulah yang membuat Titha bangun dari keterpurukannya setelah di tinggal oleh ayahnya.


         "Neng Titha ... kalau boleh bapak tahu, neng mau ngapain setelah ini?" tanya pak Harto pada Titha.


         "Kalau itu mah pak, Titha kayaknya mau nerusin kuliah dulu, kkn terus wisuda, itu adalah permintaan terakhir ayah pada Titha," jawab Titha sambil membawa piring.


Ibunya Titha hanya tersenyum sendiri mendengar percakapan Titha dan pak Harto.


         "Wah ... kalau begitu bapak sangat mendukung neng, bapak akan bantu neng Titha sampai dapat gelar sarjana nanti dan wisuda," saut pak Harto yang menyemangati si Titha.


         "Aamiin pak, makasih Lo pak," jawab Titha.


Kemudian ibunya Titha nyaut.


         "Ibu juga sangat mendukung kalau kamu mau nerusin kuliah kamu, lalu wisuda, ibu kepengen banget foto bareng sama kamu yang pake toga hitam sambil memegang ijazah," ucap ibu Titha.


Mendengar perkataan dari ibunya, si Titha kembali termotivasi untuk melanjutkan kuliahnya dan membuat ibunya bangga dan bahagia.


         "Iya buk ... do'ain Titha terus ya buk, supaya Titha cepat sukses," saut Titha.


         "Dan dapat suami yang Sholeh," saut pak Harto yang menyambung perkataan dari Titha.


         "Heh ... suami? ah pak Harto bisa aja," canda Titha yang malu-malu.


         "Aamiin ... kamu ah, udah di do'ain pak Harto yang baik-baik gak kami aminin," ujar ibunya yang juga bercanda.


         "Iya buk ... Aamiin ...," saut Titha dengan senyum mempesonanya.


Dan semenjak itu, si Titha pun mengubah gaya hidupnya, ia memilih hidup dengan cara seperti ayahnya, Titha mulai memakai hijab yang panjang dan syar'i tanpa menutupi parasnya yang cantik, begitupun akhlaknya, Titha juga berubah, ia melanjutkan kedermawanan ayahnya yang suka bersedekah.


Sekarang si Titha sudah mulai berkuliah lagi, ia yang sekarang bukan lagi gadis yang suka merengek pada ayahnya seperti dulu, ia sekarang sudah begitu dewasa dan pintar serta selalu mendalami ilmu agama.


*1 tahun kemudian.


Dari dalam gedung auditorium, terdengar suara penyebutan gelar-gelar sarjana yang melakukan wisuda pada hari ini. Di dalam gedung auditorium itu, ibu Titha dan supirnya pak Harto, sedang menyaksikan wisudanya Titha, mereka menunggu orang menyebut nama Titha.


        "Kok lama banget ya gilirannya Titha?" ucap ibunya.


         "Mungkin setelah ini namanya neng Titha buk," jawab pak Harto.


Benar yang di katakan oleh pak Harto, nama Titha pun disebut oleh protokol.


"Berikutnya, wisudawati dengan nilai terbaik tahun ini, dari jurusan pendidikan agama Islam, Titha Pramulya ... dengan nilai rata-rata 3,4-" suara pembawa acara di atas podium.


Ibu Titha sangat bahagia ketika mendengar anaknya adalah lulusan terbaik tahun ini, deraian air mata bahagia pun tak terbendung di mata ibunya, begitupun pak Harto, pak Harto juga menangis haru melihat Titha mengambil ijazahnya dan sudah menyelesaikan permintaan dari ayahnya, ibu Titha dan pak Harto melambai-lambai dari kejauhan pada Titha, Titha yang melihat ibu dan pak Harto membalas lambaian mereka dengan mengangkat ijazahnya.


Acara pun berlanjut, salah satu pembawa acara kembali melanjutkan acaranya.


         "Baiklah, dengan ini kami ucapkan selamat kepada lulusan terbaik tahun ini, Titha Pramulya ... Kami mohon kepada saudari Titha untuk menyampaikan sepatah kata untuk semua orang yang ada di dalam gedung auditorium ini, pada saudari kami persilahkan," pembawa acara memberikan microfon pada Titha, kemudian dengan tarikan nafas panjang, Titha pun mulai membuka sambutannya dengan salam.


         "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... sebelumnya, saya ucapkan ribuan terimakasih dan rasa syukur yang amat besar kepada Tuhan yang maha esa, yaitu Allah Subhanawata'ala, dan terimakasih juga kepada nabi besar kita, Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Saya Titha Pramulya, Alhamdulillah di nobatkan menjadi lulusan terbaik pada tahun ini, dan saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya akan menjadi lulusan terbaik, itu semua bukan karena saya saja, karena kesuksesan yang saya raih sampai saat ini adalah bentuk dari kasih sayang orang tua saya," Titha mulai meneteskan air mata, "dan dulu pas ayah saya meninggal, saya sempat jatuh dan tidak tahu berbuat apa, namun, di saat saya jatuh terpuruk seperti itu, ibu saya datang membawakan cahaya dan menggenggam tangan saya, ibu.. ibu saya lah yang membuat saya seperti ini, ialah penyemangat saya dalam menggapai mimpi saya, setiap malam sehabis sholat, saya selalu mendoakan beliau, agar selalu sehat dan bahagia-"


Mendengar pidatonya Titha, semua orang yang ada di dalam auditorium meneteskan air mata, mereka terharu mendengar kisah hidup Titha yang banyak lika-liku.


         "Sekarang ... sudah saatnya giliran saya untuk menggantikan ibu saya, saya akan membahagiakan ibu ... untuk dia yang selalu ada di saat semua orang meninggal kita dan untuk dia yang selalu sabar dengan seribu satu tingkah laku dan kenakalan kita, terimakasih ibu, aku sayang ibu," ujar Titha dan menutup pidatonya.


Setelah Titha menutup pidatonya itu, semua orang di dalam gedung auditorium bertepuk tangan dengan penuh haru yang menyentuh hati.


Setelah acara selesai. Ibu Titha dan pak Harto menunggu di luar gedung auditorium, selang beberapa saat, terlihat dari kejauhan Titha sedang berlari mendekati ibunya, alangkah bahagianya ibunya, melihat Titha yang sudah mewujudkan impian ayahnya, sesampainya Titha di depan ibunya, ia langsung bersujud di kaki ibunya dengan Isak tangis bahagianya ibu Titha menarik Titha dari sujudnya dan saling berpelukan.


         "Ibuk ... Titha udah berhasil menuhin permintaan ayah ...," ujar Titha dengan Isak tangisnya.


         "Alhamdulillah  nak ... ibu sangat bangga padamu ... ayah juga pasti sangat bangga padamu nak," ujar ibunya yang sangat bahagia dan memeluk Titha dengan erat.


Melihat hal yang mengharukan ini, pak Harto juga ikut terbawa suasana, ia juga menangis haru melihat Titha yang sudah sukses.


         "Selamat ya neng Titha ... semoga ilmunya bermanfaat," ucap pak Harto sambil memberikan bunga.


Mereka bertiga sangat bahagia pada hari itu, dan setelah acara wisudanya Titha selesai, mereka langsung ke pemakaman tempat ayahnya di makamkan.


Di tengah pemakaman yang sunyi, dengan hembusan angin yang hilang timbul, Titha meletakkan foto wisudanya di atas makam ayahnya.


         "Yah ... Titha udah lulus yah ... dan Alhamdulillah Titha juga dapat lulusan terbaik di kampus tahun ini yah ... ayah yang tenang ya disana, biar ibuk Titha yang jaga, Al-fatihah ...," ucap Titha dengan linangan air mata di pipinya, menghadiahkan foto wisudanya pada ayahnya dan bacaan surah Al-fatihah untuk salam perpisahannya.