Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 15



Kahfi tersenyum kecil melihat Titha yang berusaha menyakinkannya.


         "Insyaallah, sudah Isa. aku duluan ya, ini sepeda biar aku bawa kerumah aku dulu untuk dibperbaiki, assalamualaikum," saut Kahfi menjawab Titha dan pamit pergi meninggalkan titha.


         "Beneran ini, makasih ya," ucap Titha dari pintu pagar rumah bi Mur sambil melihat Kahfi yang sudah jauh.


Kahfi membalas Titha hanya dengan lambaian tangan ke atas tanpa melihat ke arah Titha sambil mendorong sepeda Titha yang putus rantainya.


Tanpa disadari Titha, sejak tadi dari kejauhan di lain tempat, Salman nampak sedang membuntuti Titha hingga ia menemukan dimana Titha tinggal, Salman hanya memandangi Titha dari kejauhan dengan rasa emosi dan kecemburuan yang besar terhadap Kahfi.


         "Bagaimanapun, aku harus mendapatkan persetujuan dan meyakinkan Titha agar ia bisa menerimaku untuk menjadi suaminya," gumam Salman dalam hatinya.


Setelah melihat tempat tinggal Titha, Salman merasa harus terus mengawasinya dan perlahan-lahan mendekati Titha kembali, setelah melihat Titha yang masuk kedalam rumah, Salman pun pergi untuk mencari kontrakan ataupun tempat untuk ia diami sementara selama berada di kerinci.


*Malam harinya, di rumah bi Mur.


Titha baru selesai sholat dan sedang merapikan mukenanya, sedangkan bi Mur juga baru saja selesai lebih dulu dari Titha, bi Mur yang baru saja selesai sholat di kamarnya lantas keluar dan menghampiri Titha di ruang tamu, dengan jalannya yang terlihat berat bi Mur merebahkan badannya di kursi yang ada di ruang tamu.


         "Haah.. udah sholatnya tha..?" Tanya bi Mur pelan.


         "Udah bik, bibik udah mendingan? Bibik mau makan apa? Biar Titha buatin yah," jawab Titha terus menawarkan bibinya makan.


         "Gak usah, bibi gak mau apa-apa sekarang, gimana? Kamu udah bisa?" Ucap bi Mur yang kembali bertanya pada Titha.


         "Bisa? Maksud bibik bisa apa?" Tanya Titha yang berbalik menanyai bibinya dengan wajah bingung.


         "Belajar sepedanya, kamu udah bisakan?" Saut bibinya dan lanjut menanyai Titha.


         "Alhamdulillah bik, Titha udah bisa, cuma tinggal ngelancarin pas nyeimbangkan aja," saut Titha menjawab pertanyaan dari bibinya.


         "Tok tok tok!" Bunyi suara ketukan pintu.


         "Assalamualaikum," ucap seseorang dari balik pintu rumahnya bi Mur.


Mendengar ada orang yang memanggil, Titha bergegas menuju ke sumber suara untuk membukakan pintu.


         "Ah? Kayaknya ada orang manggil bik, Titha bukain pintu dulu ya bik," ucap Titha pada bibinya.


         "Iyah," saut bi Mur menjawab Titha.


Titha pun pergi menuju ke pintu depan dan membukakan pintu tersebut, ketika ia membukakan pintu tersebut, hal yang ia bayangkan ternyata memanglah si kahfi, nampak dari celana goyang hitam hinga atas dengan kopiah hitamnya, ternyata itu memang si Kahfi, ia memang datang untuk memenuhi keinginan Titha yang ingin berbicara padanya.


         "Assalamualaikum, maaf aku terlambat, soalnya aku ke sukurannya temen, dia mau nikah bentar lagi," ujar Kahfi pada Titha.


        "Walaikumussalam, gak terlambat kok, yuk masuk," saut Titha menjawab salam dari Kahfi dan mempersilahkannya masuk.


Kahfi pun masuk kedalam dan menjumpai bi Mur yang tengah duduk di kursi ruang tamunya.


         "Assalamualaikum, bik, gimana bik? Udah mendingan?" Ucap Kahfi dan menyapa bi Mur yang tengah duduk di kursi ruang tamu.


         "Eh, nak Kahfi, tumben sekali kamu datang begini, ada apa?" Ucap bi Mur menyambut Kahfi.


         "Silahkan duduk, mau minum apa? Kopi? Teh?" Ucap Titha menawarkan minum pada Kahfi.


         "Ah, jangan repot-repot tha," saut Kahfi menjawab tawaran dari Titha.


         "Ah kayak orang lain aja, udah kamu bikinin teh aja tha, si Kahfi suka minum teh," saut bi Mur yang ikut menggoda si Kahfi.


         "Kalau begitu aku buatin dulu ya, kamu ngobrol-ngobrol aja dulu dengan bibik," ucap Titha lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan segelas teh hangat buat Kahfi.


Sementara itu, si Kahfi tinggal di ruang tamu bersama bi Mur, bi Mur yang penasaran dengan kedatangan si Kahfi lantas bertanya pada Kahfi.


         "Apa yang membuatmu kesini? Apa ada hal yang penting?" Tanya bi Mur pada si Kahfi.


         "Ah tidak bik, anu.. si Titha yang menyuruhku untuk datang, katanya ada yang ingin dia bicarakan," ujar Kahfi menjawab bi Mur.


Mendengar penjelasan si Kahfi, bi Mur salah menduga kalau Titha ingin mengutarakan isi hatinya pada Kahfi, jadi bi Mur pun senyum-senyum sendiri.


         "Ada apa bik? Kok senyum-senyum," ucap Kahfi melihat bi Mur yang terkikih sendiri.


Tak lama kemudian, si Titha pun datang dengan segelas teh hangat yang dibuatnya untuk Kahfi, Titha meletakkan segelas teh hangat itu tepat di depan Kahfi kemudian menawarkannya.


         "Ah aku jadi ngerepotin kamu nih," saut Kahfi.


Titha tersenyum kecil, kemudian Titha melihat bibinya itu senyum-senyum sendiri, Titha pun menyapa bibinya.


         "Bik, kenapa bibik senyum-senyum sendiri?" Tanya Titha polos.


Kemudian bibinya tersadar dari duganya tadi dan beralih mendengar pertanyaan dari Titha.


         "Ah? Gak, gak papa, jadi ada apa si Kahfi datang menemui kami? Apa ada hal yang penting?" Ucap bi Mur yang sengaja bertanya kembali untuk melihat rahasia Titha.


Baru saja si Kahfi mengangkat bibirnya untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh bi Mur, si Titha sudah. 


Pertanyaan Bi Mur yang duluan memotongnya.


         "Ah, aku yang menyuruhnya datang bik," ucap Titha terang-terangan.


         "Tumben? Biasanya kamu gak mau tuh bawa laki-laki kerumah," saut bi Mur.


         "Itu.. ah bibik mah, itukan dulu. Sebenarnya Titha mau jelasin masalah Titha yang belum selesai di Lampung," ujar Titha pada Kahfi dan bibinya.


         "Masalah?" Saut Kahfi dan bi Mur dengan wajah bingung dan penasaran.


         "Tunggu-tunggu, kenapa kamu ingin mengatakannya padaku? Padahal kita kan baru saja kenal?" Saut Kahfi melontarkan pertanyaan pada Titha.


        "Kalau itu aku tidak bisa mengatakannya," ucap Titha menjawab pertanyaan dari Kahfi.


Melihat Titha yang jarang seperti ini, bi Mur sudah tahu pasti akan sifat Titha, bila ia sudah menyukai sesuatu, maka ia tak akan menyerah sampai ia memiliki apa yang diinginkannya, bi Mur meluruskan suasana.


         "Tunggu dulu, sebaiknya kamu ceritakan dari awal, agar kami tahu apa permasalahan mu, sampai membuat mu gelisah seperti ini," ujar bi Mur pada Titha.


Titha pun terdiam dalam keheningan, ia teringat dengan apa yang terjadi di rumahnya beberapa waktu yang lalu sebelum ia ke kerinci, ia teringat pada hari pertama saat Salman datang kerumahnya untuk melamar, Titha pun menarik nafas panjang, dan mengeluarkannya perlahan-lahan.


         "Sebenarnya, ini tentang hati, di mana aku di paksa untuk mencintai orang yang tidak aku cintai sama sekali, sebelum aku datang kesini, aku sudah beberapa kali dilamar olehnya," ucap Titha sambil teringat masa-masa yang tidak ingin di ulanginya itu.


         "Dilamar!?" Saut bi Mur yang terkejut mendengar penjelasan Titha.


         "Apa yang kamu maksud adalah pria yang kita temui tadi?" Tanya Kahfi pada Titha.


         "Siapa? Dimana?" Desah bi Mur yang begitu penasaran dengan masalah yang dialami Titha ini.


         "Iya, si Salman," jawab Titha singkat.


         "Salman! Maksudmu Salman anaknya pak Alwis pengusaha kaya tetanggamu itu," tanya bi Mur yang sangat terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Titha.


         "Iya bik, dia terus mencoba mendekati Titha, dan dia juga sok-sok baik gitu karena mau ngambil hati ibuk, supaya ibuk setuju dengan lamarannya," ucap Titha pada bibinya.


Sedangkan si Kahfi terdiam dan merasa minder ketika bi Mur menyebutkan latar belakang Salman yang begitu glamor bagi Kahfi, baginya, sudah memiliki motor butut saja itu sudah termasuk mewah di desa ini.


         "Terus, bagaimana bisa dia bisa bertemu dengan mu disini? Apa dia mengikutimu?" Tanya Kahfi pada Titha.


         "Itu sudah pasti iya, sebenarnya sebelum aku kesini, pada hari itu.. Salman datang kerumah dan bertamu, kemudian pak Harto memanggil ibu dan aku, jadi kamipun keluar dan menghampiri si Salman yang sudah duduk di ruang tamu dengan jas hitam kantornya yang licin dan mengkilat, sebelum ia mengatakannya, kami hanya mengobrol-ngobrol tentang hal biasanya, namun pada saat-saat terakhir, barulah dia mengatakan hal itu, hal yang tak ibu dan aku sangka-sangka, dia melamarmu," ujar Titha pada bibinya dan Kahfi yang terpaku mendengarkan kisah Titha.


         "Jadi apa ibuk menyetujuinya? Bibi yakin ibuk pasti menolaknya, kamu kan tahu sendiri si Salman bagaimana," saut bi Mur dengan nada serius dan meyakinkan.


Sementara Kahfi hanya mendengarkan apa yang Titha ucapkan secara panjang lebar itu, Kahfi sangat faham akan apa yang di rasakan oleh Titha saat itu sampai saat ini, ia pasti terkekang karena si Salman selalu mengikutinya, tersirat di hati Salman-


         "Seandainya aku berada dengan mu pada saat itu, mungkin akulah yang lebih dulu melamarmu, Titha," Desah Salman dalam hatinya


Kemudian si Titha melanjutkan penjelasannya.


         "Benar, ibuk tidak menyetujui lamaran Salman, tapi sebelum itu ibuk juga menyerahkan hal itu padaku, namun karena sikap Salman yang arrogan, dan suka berhura-hura, sudah pasti ibuk tidak akan menyetujuinya, jadi ibuk menolaknya, namun setelah itu, si Salman malah tidak terima dengan keputusan ibu, ia malah naik emosinya dan pergi begitu saja," ujar Titha dengan raut wajah kesal dan gelisah.


         "Pantas saja sikap dan tutur katanya tadi sangat kasar dan tidak ada etika sama sekali," saut Kahfi.


         "Itu baru sebagian jati dirinya yang asli, kamu belum melihat jati dirinya sepenuhnya, bisa dibilang, lebih baik orang gila di pasar dari pada Salman yang sombong dan bangga dengan harta yang dimiliki oleh ayahnya," saut Titha menanggapi sautan si Kahfi.


         "Tok! Tok! Tok!" Suara seseorang mengetuk pintu rumah bi Mur.


         "Assalamualaikum, tha.. ini aku, aku tahu kamu ada di dalam, aku tahu kamu sedang membicarakan aku bukan, cepat buka pintunya, ini aku Salman!" Ucap Salman dari luar rumah dengan sedikit berteriak memanggil-manggil Titha.