
*2 bulan kemudian.
Di dalam kamar. Titha sedang melihat foto-foto wisudanya, sambil mendengarkan radio.
"Tahun ini, pemerintah umumkan kebutuhan calon pegawai negeri sipil dengan kuota mencapai 5000 orang di tiap daerah dan-" suara berita dari radionya Titha.
Mendengar hal itu, si Titha langsung menutup album fotonya dan bergegas menyiapkan bahan-bahan untuk tes CPNS.
Ia turun dari kamarnya ke lantai bawah sambil membawa sebuah map yang di jepit di tangannya, ibunya Titha tak sengaja melihat anaknya itu tergesa-gesa,
"Titha ... Titha ... ada apa? kamu mau kemana bawa map segala," tanya ibunya.
"Titha mau ke kampus buk ... mau legalisir ijazah," jawab Titha.
"Kamu mau ngelamar kerja? mending kamu lanjutin aja perusahaannya ayah, dari pada kamu susah nyari kerja begini," ujar ibunya, Titha lantas menghampiri ibunya dan memegang tangan ibunya
"Buk ... bukannya Titha gak mau, tapi Titha udah mutusin kalau Titha bakal jadi wanita yang mandiri ... dan bisa membahagiakan ibu dengan hasil jerit payah Titha sendiri," ucap Titha sambil mengelus-elus tangan ibunya.
Ibunya Titha tersenyum mendengar perkataan Titha dan memeluknya dengan erat.
"Baiklah ... kalau begitu ibuk pasti mendoakan kamu agar dapat mencapai keinginan kamu itu," saut ibunya Titha.
"Iya ... makasih buk," ucap Titha.
Titha pun bergegas pergi ke kampusnya untuk menglegalisir ijazah sarjananya, sesampainya di kampus, Titha melihat seorang pria yang ia kenal dan lalu menghampirinya.
"Mas Salman? ini mas Salman kan?" ucap Titha.
"Titha? ngapain kamu disini?" jawab Salman.
Mereka berdua pun bercerita lama di kampusnya Titha, hingga Titha sudah menyelesaikan pekerjaannya di kampus itu.
"Ya udah mas ... aku pulang dulu," ucap Titha pada Salman.
"Ah iya ... kamu hati-hati di jalan ya," jawab Salman.
Titha pun pergi dan semakin jauh dari Salman, sedangkan Salman, hanya memandangi Titha dari kejauhan.
"Seandainya aku bisa memilikimu, mungkin aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini," desah Salman dalam hatinya.
*1 bulan kemudian.
Terdengar suara radio yang sedang di otak-atik dengan suaranya yang serak kacau, ternyata itu si Titha yang sedang menunggu pengumuman hasil dari tes CPNS.
"Baiklah ... kami akan bacakan nama-nama orang yang lulus dalam seleksi bahan untuk CPNS tahun 1995, Yoga Purwanto, Siti Nurhaliza, Dio Permana, Sandy Sandoro, Mahmudi Ismail,
Sampai ke penyebutan nama terakhir, Titha belum mendengar namanya di sebutkan, apakah dia tidak lulus, di hatinya sangat deg-degan dan takut.
Fikri Haikal, Suri Muh, dan Sinta Aprilia. Itulah nama-nama orang yang lulus dalam tes bahan CPNS tahun 1995-" bunyi suara radio.
Mendengar namanya tidak di sebutkan, Titha sangat galau dan lesu, ia menjatuhkan badannya ke atas kasur.
"Hahh ... setidaknya aku sudah berusaha semampuku," desahnya Titha.
Namun, disaat si Titha sudah benar-benar rela dan ikhlas dengan ketidak lulusannya, radio yang ia dengar tadi kembali berbunyi.
"Maaf, untuk info yang tadi, untuk calon PNS atas nama Sinta Aprilia, itu di gagalkan karena tidak melengkapi syarat-syarat yang telah di tentukan, dan akan di gantikan dengan nama, Titha Pramulya, saya ulangi ... sebagai gantinya, Titha Pramulya. Dan itulah nama-nama orang yang lulus bahan tes CPNS tahun 1995-" bunyi suara radio.
Mendengar hal itu, Titha baru sadar.
"Huh? Apa! Aku lulus ... Alhamdulillah ... Buk ... buk ...!" Titha dengan girang bergegas ke lantai bawah untuk memberitahukan pada ibunya bahwa ia lulus.
Dari lantai dua suara Titha sudah terdengar girang memanggil-manggil ibunya, ibunya Titha yang ada di bawah dengan cepat menghampiri Titha, dan tepat di anak tangga terakhir, Titha tidak sengaja bertemu ibunya.
"Buk ... buk ...," ujar Titha yang girang itu.
"Iya iya ada apa? Kenapa?" Tanya ibunya dengan cemas.
Belum selesai ibunya bicara Titha memeluk ibunya dengan dekapan yang hangat.
"Alhamdulillah buk ... bahan Titha udah diterima," ujar gadis 24 tahun itu.
Mendengar perkataan dari anaknya itu, ibunya Titha bingung.
"Bahan apa? Kamu di terima kerja?" Tanya ibunya.
"Gak buk ... Titha bakal jadi guru kalau Titha lulus tes selanjutnya," jawab Titha.
"Alhamdulillah ... nak ibuk kira apa ... ternyata ini," Mereka kembali berpelukan dengan air mata bahagia yang keluar dari kelopak mata anak dan ibu itu.
Sedang hangat-hangatnya suasana antara Titha dan ibunya, pak Harto datang menghampiri mereka.
"Buk ... buk ... di luar kayaknya ada mas siapa namanya ... kalau gak salah mas Rahman," ujar pak Harto.
Titha dan ibunya melepaskan pelukannya.
"Rahman? maksud bapak mas Salman?" Tanya Titha.
"Nah itu neng ... betul mas Salman," jawab pak Harto.
*Setelah semua yang terjadi.
Diruang tamu. Salman beserta Titha juga ibunya dan pak Harto duduk bersama seperti biasanya, bercanda, tertawa diruang tamu. Sampai akhirnya, si Salman menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke rumah Titha.
"Maaf sebelumnya buk, maksud saya kesini ingin menyampaikan suatu hal yang penting bagi saya, dan ini menyangkut Titha juga," ujar Salman dengan logatnya yang ala-ala orang pejabat gitu.
"Apa itu nak Salman? katakan saja," jawab ibunya Titha.
Sedangkan Titha hanya diam saja mendengarkan Salman dan ibunya berbincang.
"Jadi gini buk ... ibuk ... kan tahu sendiri kedekatan saya dan Titha itu bagaimana, bahkan kami sudah kenal sejak kami masih kecil dulu, nah disini saya mau minta restu pada ibuk.. untuk melamar Titha," ujar si Salman.
Mendengar Salman berkata seperti itu, Titha sangat terkejut dan seakan-akan dirinya sedang di pasung dengan besi baja.
Ibu Titha juga terkejut mendengar ujar si Salman, perkataannya sangat tiba-tiba.
"Maaf? Maksud nak Salman apa ya?" Tanya ibu Titha yang rada-rada bingung.
"Ya ... tadi buk ... saya mau minta restu ibuk ... buat ngelamar si Titha," Salman menegaskan kembali maksudnya tersebut.
Ibu Titha dan Titha terdiam sesaat dan saling memandang sekejap mata. Melihat keadaan dan perasaan anaknya yang belum siap untuk itu, ibunya Titha harus berpikir secara jernih dan teliti agar tidak membuat langkah yang salah dan membuat anak satu-satunya tidak bahagia atas keputusannya.
Titha yang melihat ibunya kebingungan mau menjawab apa dengan ujarnya Salman, lantas mengambil tangan ibunya lalu berkata pelan.
"Buk ... Titha belum siap untuk itu ... Titha mau bahagiakan ibuk.. dulu," dengan nada sayu Titha berbisik lembut di telinga ibunya.
Mendengar bisikan dari putri tersayangnya itu, lantas ibunya Titha menjawab ujar Salman.
"Maaf ... nak Salman, bukannya ibuk ... tak merestui mu dengan anak ibuk ... si Titha, tapi kalau untuk sekarang ibuk belum bisa menyetujuinya, karena si Titha belum siap untuk itu," jawab ibunya Titha.
Mendengar jawaban dari ibunya Titha, Salman sedikit tak bisa menerima dengan keputusan ibunya Titha, dalam hati Salman ia sangat optimis ingin melamar si Titha, hingga keluarlah kata-kata yang membuat Titha dan ibunya merasa jengkel.
Ibu Titha terusik dan sedikit jengkel dengan tanggapan si Salman.
"Bukan begitu nak Salman! Bukan itu yang membuat ibuk.. akan melepaskan Titha, tapi ibuk akan akan melepaskan Titha jika ada pria yang bisa bertanggung jawab dan bisa membahagiakan Titha tentunya, dan satu hal lagi, ia mempunyai iman dan akhlak yang baik. Kalau masalah harta, ibuk.. tidak butuh hal seperti itu.. ibuk.. ingin menantu ibuk.. yang Sholeh dan tidak angkuh," jawab ibu Titha dengan sedikit ngegas.
Salman terdiam!. Ia lantas naik emosinya dan tak terima dengan jawaban ibunya Titha.
"Baiklah buk ... kalau begitu saya akan kesini lagi dengan ayah saya untuk meyakinkan ibuk, bahwa saya pantas menjadi suaminya Titha. Permisi buk," Salman berdiri dan pergi tanpa meminum air teh yang disuguhkan untuknya.
Setelah Salman pergi. Titha dan ibunya saling menatap di ruang tamu tadi.
"Buk.. gimana ini..?." Tanya Titha dengan rada-rada cemas.
"Kamu tenang aja, urus aja kerjaan mu itu, biar ibuk.. yang urus masalah ini, yaah ...," jawab ibunya Titha dengan melontarkan senyuman.
Pak Harto hanya diam sambil membersihkan minuman di meja.
"Ah.. pak biar Titha yang bersihin, bapak duduk aja," ujar Titha yang mengambil alih gelas pada pak Harto.
"Tapi neng-" saut pak Harto.
"Udah.. bapak duduk aja," ucap Titha.
Titha pergi ke dapur sambil membawa gelas berisikan teh tadi. Sementara di ruang tamu tinggal ibunya dan pak Harto.
"Gimana ini pak? Saya sangat jengkel dengan keluarganya si Salman, mereka begitu angkuh dan tidak mempunyai sopan santun yang baik," ujar ibu Titha pada pak Harto.
"Saya pun kurang setuju buk.. kalau neng Titha sama mas Salman, orangnya pelit, angkuh seperti ibuk bilang," jawab pak Harto.
"Saya khawatir pada Titha pak, memang ia sudah wajib menikah, tapi saya belum melihat pasangan yang cocok untuknya," desah ibu Titha.
"Jangan bilang begitu buk ... saya pernah denger ceramah siapa, lupa, dia bilang gini, ‘laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk pula, dan begitupun sebaliknya,’ gitu katanya buk.." saut pak Harto.
"Ah ... bapak bisa aja ... semoga si Titha dipilihkan jodohnya yang terbaik ya pak," jawab ibu Titha.
"Aamiin ...," saut pak Harto.
*Lima hari kemudian.
Di depan pintu rumah Titha. Salman dan ayahnya pak Alwis datang mengetuk-ngetuk pintu.
"Permisi ...," ucap Salman menekan bel rumah. Dari dalam rumah, pak Harto dari belakang bergegas kedepan membukakan pintu mendengar suara bel, di depan pintu.
"Ah ... lama sekali, kemana sih orang rumah ini?!" desah Salman yang sudah sedikit kesal, lalu pintupun terbuka.
"Ada yang bisa saya bantu?" ujar pak Harto
"Pak? saya dan ayah saya mau ketemu sama ibunya Titha," ujar si Salman.
"Oh mas Salman ... dan ini..?" pak Harto bingung karena tidak mengenal ayahnya Salman.
"Saya ayahnya Salman, Alwis ... pemilik perusahaan beras di Jakarta," saut ayahnya Salman sambil bersalaman dengan pak Harto.
*Di ruang tamu rumah Titha.
Pak Harto mempersilahkan Salman dan ayahnya duduk.
"Silahkan duduk mas ... pak ... biar saya panggilin dulu si ibuknya.. sebentar ya," pak Harto pergi memanggil ibunya Titha di kamar.
*Setelah lima menit berlalu.
Ibunya Titha datang dan duduk menemani Salman dan ayahnya di ruang tamu.
"Maaf ya ... saya lama karena harus memakai jilbab dulu," ujar ibunya Titha.
"Tidak apa-apa ... yang penting kami bisa bertemu dengan calon menantuku ... hahaha," jawab ayahnya Salman dengan bercanda.
"Ah ... ternyata anda pak Alwis," jawab ibunya Titha.
Salman hanya diam menunggu Titha keluar dari kamarnya, tak lama berbincang, pak Harto datang dengan membawakan teh panas untuk di suguhkan.
"Maaf ya ... cuma ini yang bisa kami suguhkan ... soalnya si bibi lagi pulang kampung.." ujar pak Harto dengan tiga gelas teh hangat di nampan.
"Ah.. tidak apa-apa," jawab ayahnya Salman.
Salman yang merasa aneh dengan sunyinya rumah ini karena tidak melihat keberadaan si Titha lantas menanyakan hal itu pada ibunya Titha.
"Buk ... kok dari tadi saya tidak melihat si Titha ya..?" tanya si Salman.
"Oh ... si Titha ... dia udah dua hari yang lalu berangkat ke Jakarta, dia lagi tes CPNS tahap akhir disana," jawab ibu Titha.
Mendengar hal itu, Salman merasa bahwa ibunya Titha sedang menjauhkan anaknya agar tidak menemui si Salman, Salman sontak mengeluarkan kalimat yang tidak disangka-sangka oleh ibu Titha.
"Jangan bilang kalau ibuk ... sedang menyembunyikan Titha agar lamaran ini tidak terjadi..!" ucap Salman dengan rada-rada ngegas.
Pak Harto mulai merasa jengkel dengan dua beranak itu, pak Harto pun tak tahan dengan kata-kata yang keluar dari mulut si Salman.
"Mas jangan su'uzon dulu, neng Titha memang lagi ikut tes CPNS kok, mungkin seminggu lagi baru pulang," saut pak Harto.
Ayahnya Salman ikut menanggapi tentang masalah ini.
"Salman! kamu jangan bicara begitu, jaga sopan santun mu, maafkan atas kelancangan anak saya ini buk ... tapi sayang sekali saya tidak bisa melihat calon menantuku hahaha," saut ayahnya Salman sambil memecah suasana agar tidak tegang lagi.
Ibu Titha hanya bisa tersenyum kecil melihat dua beranak yang angkuh itu.
"Sebelumnya saya ingin berterimakasih, karena sudah berniat melamar anak saya satu-satunya, tapi saya tidak bisa memutuskannya begitu saja tanpa persetujuan dari Titha, sebaiknya nak Salman menunggu ia pulang dulu," jawab ibu Titha.
Mendengar ucapan dari ibu Titha itu, Salman sudah habis kesabarannya.
"Jadi ... saya harus menunggu seminggu lagi ya buk, saya tidak bisa menunggu selama itu," jawab Salman.
"Tapi itu yang dikatakan Titha, ia mau menyelesaikan tesnya dulu," jawab ibunya Titha yang sudah rada-rada cemas dengan nada bicara Salman yang ngegas.
"Brraaakkk!!"
Salman membuat gelas tehnya terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
"Baiklah kalau begitu! Saya akan buktikan pada ibuk ... bahwa Titha akan mengatakan sendiri kalau ia akan menerima saya menjadi suaminya," ucap Salman dengan emosinya.
Pak Harto terkejut dan langsung berdiri di depan ibunya Titha untuk melindunginya, jikalau Salman melampaui batas.
"Saya juga merasa bahwa ibuk ... sedang menyembunyikan sesuatu, sebenarnya ini kesempatan yang langka karena jarang sekali orang kaya seperti kami mau menikahkan anak kami dengan anak seorang bos yang perusahannya bangkrut," saut ayah Salman yang membuat hati ibu Titha memanas.
Salman dan ayahnya lalu berdiri dan pergi begitu saja, sementara ibu Titha dan pak Harto sangat syok karena tidak pernah dilakukan seperti itu sebelumnya.
"Buk ... ibuk yang sabar ya buk," ujar pak Harto.
"Saya bersumpah tidak akan merestui dan melarang Titha dekat dengan keluarga sombong itu (Salman)," desah ibunya Titha.