
*Keesokan harinya.
Titha bangun dari tidurnya, dan ia baru sadar di sebelah ada Puti, temannya sendiri, Titha pun perlahan turun dari tempat tidurnya karena takut akan membangunkan Puti yang sedang terlelap.
Kemudian terdengar suara panggilan bi Mur memanggilnya dari arah dapur.
"Neng.. neng Titha," panggil bibinya yang sedang menuju ke arahnya.
"Ya.. bik.." ucap Titha dan pergi membukakan pintu kamarnya tersebut.
Titha pun membuka pintu kamar dan sudah mendapati bi Mur tengah berdiri di balik pintu itu.
"Ah?! Bibik kaget aku," ucap Titha yang terkejut.
"Haha, itu ada yang lagi nyari neng di luar," ucap bibinya.
"Bik, kan Titha udah bilang jangan panggil Titha neng lagi, apa gara-gara ibuk datang ya, pokoknya jangan ada neng lagi di antara kita, ya bik." Ucap Titha pada bibinya.
"Iya Tha," ucap bibinya.
"Nah kan enak. Bik, ngomong-ngomong, siapa yang nyari aku pagi-pagi begini?" Tanya Titha pada bibinya.
"Kalau itu kamu lihat aja sendiri," ucap bi Mur menjawab Titha lalu pergi.
Titha pun pergi ke belakang untuk mencuci mukanya dan memakai jilbab.
Setelah memakai jilbab, Titha pun pergi ke pintu depan dan membukanya.
"Assalamualaikum," ucap tamu tersebut pada Titha.
"Walaikumussalam, eh Kahfi?! Ada apa pagi-pagi begini?" Jawab Titha yang terkejut dengan sosok yang mencarinya.
"Ini aku mau mengembalikan sepeda mu, sudah aku perbaiki," ucap Kahfi.
Titha tersenyum kecil dan pergi menghampiri si Kahfi di halaman rumah.
"Wahh.. makasih ya," ucap Titha dengan tersenyum kecil.
"Kamu puasa?" Tanya Kahfi pada Titha.
"Huh? Ya iyalah, memangnya kenapa?" Jawab Titha.
"Kamu gak mau nyobain nih sepeda?" Ucap Kahfi dengan sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kemudian Titha tersenyum lalu berkata.
"Boleh?" Ucap Titha sambil melirik ke arah Kahfi.
"Bolehlah, inikan sepeda kamu," jawab Kahfi.
"Iya Iyah," ucap Titha dengan pipinya yang memerah karena malu salah tingkah.
Di sisi lain, ibunya Titha nampak sedang memandangi anaknya itu dari balik jendela rumah, ia melihat Titha dan Kahfi yang begitu dekat dan cocok bagi ibunya.
Namun disaat ia sedang termenung melihat anaknya dan Kahfi sedang bergurau senda di halaman rumah, tiba-tiba bi Mur datang dan menepuk bahu ibunya Titha.
"Lihat apa buk?" Ucap bi Mur pada ibunya Titha.
"Astagfirullah hal'aziim! Bik, ngagetin aja," saut ibu Titha yang terkejut karena bi Mur.
"Haha, maaf buk, abisnya saya lihat ibuk diem.. aja, emang lagi liat apa sih buk?" Tanya bi Mur pada ibu Titha.
"Menurut bibik, mereka cocok gak?" Ucap ibunya Titha bertanya pada bi Mur tanpa melihat ke arahnya.
"Mereka?" Saut bi Mur bingung.
Bi Mur pun mendekat ke jendela dan melihat Titha yang sedang tertawa bersama Kahfi di halaman rumah.
"Oh.. jadi ini yang bikin ibuk diem. Ibuk belum tahu sih.." ucap bi Mur menggoda ibunya Titha.
"Tahu apa maksud bibi?" Tanya ibu Titha yang semakin penasaran.
"Sebenarnya, si neng suka sama si mas Kahfi, begitupun si mas Kahfi, dia juga suka sama neng Titha, tapi.."
"Tapi kenapa bik?" Tanya ibu Titha yang tak sabar dengan sambung cerita bi Mur.
"Mereka sama-sama menyembunyikan perasaan mereka, neng Titha pernah bilang sama saya buk, katanya si mas Kahfi mirip sama almarhum bapak, ayahnya neng Titha," ujar bi Mur pada ibu Titha.
Mendengar perkataan dari bi Mur, ibunya Titha sekilas sempat terdiam, lalu berkata.
"Saya juga merasakan hal yang sama bik, si Kahfi memang serasa seperti mas Candra, tutur katanya pun hampir mirip dengan mas Candra," ucap ibunya Titha dengan nada pelan dan terkesan sedih.
"Ibuk yang sabar ya, tapi yang pastinya, entah kenapa mereka berdua belum menyatakan perasaannya satu sama lain, apa itu karena mas Salman ya buk," ucap bi Mur sambil melihat ke arah jendela dan memandangi Titha dan Kahfi.
"Itukan sudah jelas bik, kita sudah mendengar semuanya dari Titha. Saya mau minta tolong boleh bik?" Ucap ibunya Titha pada bi Mur.
"Bolehlah, mintak tolong apa buk?" Ucap bi Mur.
"Kita bakal membuat mereka mengakui perasaan di antara mereka," ucap ibunya Titha.
"Caranya?" Tanya bi Mur pada ibunya Titha.
"Sini saya bisikan," ucap ibunya Titha dan menarik tangan bi Mur mendekat.
Sementara si Kahfi dan Titha masih asyik mengobrol di halaman rumah, dan di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba datang sebuah mobil dan membunyikan klaksonnya.
"Beep beep..." Suara klakson mobilnya si Rahmat.
"Astagfirullah hal'aziim!" Ucap Kahfi spontan karena terkejut.
Lalu si Rahmat turun dari mobilnya dan menghampiri Kahfi dan Titha.
"Hehe, terkejut ya," ucap Rahmat bercanda.
"Hehe, terkejut ya," saut Kahfi meledek si Rahmat.
"Dari mana kamu Mat?" Tanya Titha pada si Rahmat.
"Dari rumah, eh Puti mana?" Tanya Rahmat lagi.
"Ada di dalam, tadi sih masih tidur, tapi kayaknya udah bangun," jawab Titha.
"Idih lu gak puasa ya Mat?! Ngapain lu bawa-bawa bubur segala," ucap Kahfi yang melihat di tangan Rahmat ada satu kantong bubur.
"Enak aja, ini tuh buat si Puti, diakan butuh makan buat minum obatnya," jawab si Rahmat.
"Jangan-jangan lu su-"
"Nih Tha, kasih si Puti ya, kalau dia nanya dari siapa, bilang aja dari orang yang udah nabrak dia," ucap si Rahmat memotong Kahfi.
"Fii kamu sibuk gak?" Tanya si Rahmat pada Kahfi.
"Kenapa?" Tanya Kahfi kembali.
"Ikut aku bentar yuk, ada yang mau aku omongin," ucap Rahmat.
"Disini aja kenapa?" Ucap Kahfi.
"Ini penting, aku tunggu kamu di mobil, cepat ya," ucap si Rahmat dan masuk ke mobilnya.
Lalu si Kahfi pamit pada Titha.
"Ya udah aku pamit dulu, ini sepedanya mau di letakkan di mana?" Ucap Kahfi pada Titha.
"Ah, di sini aja, nanti biar aku sendiri yang bawa ke dalam," ucap Titha pada Kahfi.
"Baiklah, aku pamit ya, assalamualaikum," ucap Kahfi pamit pada Titha dan menghampiri si Rahmat yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Titha membalas kahfi hanya dengan senyuman di wajahnya.
*Di Lampung.
Nampak pak Alwis yang tak lain adalah ayahnya Salman sedang memarahi Salman di dalam kantornya.
"Apa yang kamu pikirkan! Karena kamu perusahan kita terancam batal bekerja sama dengan perusahan yang sudah menandatangani kontrak. Sebenarnya apa yang kamu lakukan selama ini?! Hahh?!" Bentak ayahnya Salman pada Salman.
Salman hanya duduk di kursi yang ada di depan meja kerja ayahnya, lalu perlahan membuka mulutnya.
"Aku.. aku mencintainya," ucap Salman pelan tanpa melihat ke arah ayahnya.
"Cinta?! Jadi kamu masih berharap mendapatkan perempuan yatim itu!" Bentak ayah Salman yang terdengar keras dari kantornya, hingga beberapa karyawan melihat ke arah pintu kantornya.
"Yah! Jaga mulut ayah, jangan ulangi lagi kata-kata itu," sergah Salman yang sudah tak tahan dengan perlakuan ayahnya.
"Brrruukkk!" Ayah Salman mengacak-ngacak semua yang ada di mejanya.
"Gara-gara perempuan yatim itu, kamu menjadi begini, dasar bodoh!" Maki ayahnya dan berlalu pergi meninggalkan Salman sendirian di dalam ruang kantor yang berantakan.
Tinggallah Salman seorang diri dalam ruangan yang berantakan, ia diam dengan penuh emosi di wajahnya, namun tak ia sadari, di tiap sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang jatuh ke bawah.
Salman tak kuasa menahan sedih dan emosinya, kenapa kehidupannya penuh dengan kehancuran dan kegelapan, semenjak ia di tinggalkan oleh almarhum kakaknya.
Ia selalu tertekan akibat ayahnya yang selalu menyalahkan kematian kakaknya karena Salman. Dan sebenarnya, Salman tidak begitu bahagia dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya, karena ia selalu di tekan oleh masa lalunya yang kelam.
Tiba-tiba datang salah satu karyawan masuk kedalam ruangan pak Alwis dan melihat Salman duduk diam dengan linangan air mata.
"Ketua?! Kenapa anda menangis? Kok berantakan semua?" Ucap karyawan itu dengan raut wajah bingung.
Salman menghapus air matanya dan langsung berdiri dari posisi duduknya, dan berlalu pergi tanpa menghiraukan karyawan yang menanyainya.
"Ketua? Anda mau kemana? Ketua?!" Panggil karyawan itu dengan cemas melihat tingkah laku Salman yang mencurigakan.
Salman dengan mata yang masih merah dan penuh air mata keluar dari ruangan ayahnya dengan tergesa-gesa.
Ia pun beralih menuju ke parkiran di halaman kantor ayahnya itu, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Salman langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, walau air matanya tak henti-hentinya mengalir, karena teringat dengan almarhum kakaknya.
*Flashback.
Waktu itu, Salman yang masih duduk di bangku SMA sedang asyik bermain dengan salah satu gadis bernama Cecilia, Salman sangat menyukainya sepenuh hati, namun Salman tak tahu akan siapa yang ada di hati Cecilia, Cecilia adalah teman sekelas Salman pas waktu SMA, Cecilia dikenal sebagai salah satu gadis tercantik dan terpintar di sekolahnya itu.
Namun, suatu hari, Salman tak sengaja memergoki Cecilia yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki di depan kelasnya sendiri. Dan Salman pun mencoba mendekati mereka karena Salman tak bisa melihat dengan jelas sosok laki-laki yang sedang mengobrol dengan gadis idamannya.
Perlahan-lahan Salman mulai mendekati Cecilia dan laki-laki yang bersamanya itu, dan alangkah terkejutnya Salman, dengan apa yang dia lihat. Salman melihat Danar, yaitu kakaknya sendiri sedang menyatakan perasaannya pada Cecilia, sontak Salman berlari kencang ke arah kakaknya dan mendorongnya hingga terjatuh dari lantai dua di gedung sekolahnya.
Sontak para siswa langsung ramai mengerumuni Danar yang sudah terkapar di samping lapangan basket dengan sepucuk bunga yang masih ada di genggamannya.
Salman yang melakukan itu, langsung terdiam seperti orang yang tak percaya, ia perlahan memanjangkan lehernya untuk melihat kebawah, dan apa yang ia lihat sangat memukul hatinya. Salman langsung berlari ke bawah menghampiri kakaknya yang sudah terkapar di samping lapangan basket dengan kepala yang mengeluarkan darah.
Semua siswa nampak syok dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat, karena ada orang yang bunuh diri di SMA ternama mereka.
Setibanya Salman di bawah, ia tak bisa berkata-kata, mulutnya seakan di jahit, dan berjalan perlahan menuju tubuh Danar yang terkapar dengan genangan darah yang mengelilingi nya, Salman terduduk lesu, cairan bening mulai keluar dari tiap sudut matanya. Sambil melihat kedua tangannya, ia meraung-raung dengan Isak tangis yang meronta-ronta.
Ia tak percaya, atas apa yang sudah ia lakukan, ia sudah membunuh saudaranya sendiri.
Lalu di saat Salman yang meronta-ronta tak karuan menyesali perbuatannya, ambulan datang dengan bunyi sirinenya dan para petugas medis langsung mengangkat tubuh Danar yang di penuhi darah, Danar nampak tak berkata apapun, ia benar-benar tak bergerak dan bersuara, melainkan hanya ada tetesan darah ditiap langkah petugas ambulan saat memasukkannya kedalam mobil.
Dan diwaktu yang bersamaan, ayahnya Salman atau pak Alwis juga datang ke sekolah dan histeris langsung menghampiri Salman yang sedang meraung-raung menyebut nama Danar.
"Salman, apa yang terjadi nak? Kenapa Danar? Danar kenapa man?!" Tanya ayahnya dengan nada cemas dan khawatir sambil mengguncang-guncang tubuh Salman.
"Aku.. aku.. sudah-"
"Dia mendorong Danar hingga jatuh dari lantai dua," ucap Cecilia yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Mendengar itu, ayah Salman atau pak Alwis sangat syok dan berhenti mengguncang tubuh Salman.
"Yah, aku tidak bermaksud begitu-"
"Danar?! Danar? Danaaarr!" Ucap pak Alwis sambil berteriak menyusul ambulan yang membawa Danar tanpa mempedulikan Salman.
Dan sejak hari itulah, sikap ayahnya berubah pada Salman, ia lebih sering di marahi dan di pukuli oleh ayahnya atau pak Alwis.
Mungkin itu yang membuat Salman arogan dan egois.
*Masa sekarang.
Salman langsung menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, walau air matanya tak henti-hentinya mengalir, karena teringat dengan almarhum kakaknya.
Salman semakin menambah kecepatan mobilnya, tanpa menghiraukan apapun.
Salman menunduk kaku dengan deraian air mata yang terus mengalir tanpa melihat ke arah depan. Dan hal yang tak diinginkan pun terjadi.
Datang dari arah depan salman mobil Tanki minyak besar yang melaju kencang, mobil Tanki itu pun membunyikan klaksonnya berkali-kali pada Salman, namun Salman tak menghiraukannya, dan mobil Salman pun semakin dekat dengan mobil Tanki tadi dengan kecepatan di atas rata-rata. Semakin dekat, dan semakin dekat.
"Bboooomm!!" Suara ledakan dari benturan kedua mobil tadi yang terdengar sangat keras dan besar.
Semua yang ada disana berhamburan dan berterbangan, pecahan-pecahan dari mobil Salman dan mobil Tanki yang meledak berhamburan di mana-mana.
Dan menutupi semua sudut jalan, semua orang yang ada di lokasi itupun langsung berhamburan memadati tempat kejadian.
Dari ledakan yang ditimbulkannya, sulit untuk mengatakan kalau ada yang selamat dari ledakan seperti itu, dan sudah pasti akan meninggal bagaimana pun usahanya untuk menyelamatkan diri.
Sesaat kemudian, bunyi sirine polisi maupun ambulan terdengar keras menuju lokasi kecelakaan.