
*Sungai penuh, 11:45 wib/7 Agustus 1995.
Di depan kosan Puti. Titha berpisah dengan Puti.
"Ya udah.. aku duluan ya.. kamu hati-hati tha," ucap Puti pada Titha yang duduk di dalam mobil.
"Iya ti.. kamu juga hati-hati.. assalamualaikum," jawab Titha sembari pamit.
"Iya Walaikumussalam," saut Puti.
Akhirnya, Titha pergi meninggalkan Puti. Titha kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari rumah bibinya di kerinci, tempat yang selama ini ia ingin kunjungi.
Sudah 2 jam perjalanan si Titha mencari-cari rumah bibi Mur, ia tak sengaja melihat seorang yang mirip dengan bi Mur yang sedang menyapu halaman rumahnya. Titha menghentikan mobilnya.
"Pak berhenti pak," ucap Titha pada pak supir.
"Udah sampe neng?" tanya pak supir pada Titha.
"Iya pak," jawab Titha.
Pak supir pun menghentikan mobilnya, dan membantu membawa barang-barang Titha menuju rumah yang Titha rasa rumah bi Mur.
"Assalamualaikum," ucap Titha bersalam.
"Walaikumussalam ... ehh ... Neng Titha..?! Kok neng bisa disini neng," ternyata benar dugaan Titha, itu memang bi Mur, bi Mur sangat terkejut melihat Titha yang sudah dewasa dengan parasnya yang cantik dan menawan.
"Bi ... kenapa sih bibi gak pulang ke Lampung, ibuk udah rindu sekali sama bibi loh," gumam Titha pada bi Mur.
"Haduh ... bibi juga rindu sama si ibuk neng ... tapi mau bagaimana lagi neng, si bapak lagi sakit, gak ada yang jagain," Saut bi Mur dengan sedikit mengiba pada Titha.
"Oh.. bapaknya di mana bi?" tanya Titha pada bi Mur.
"Ada neng di dalam.. yuk masuk neng," ajak bi Mur pada Titha.
Mereka pun masuk kerumah sederhananya bi Mur, yang mana hanya berdindingkan dari papan kayu dan motif-motif adat yang mempunyai makna tersendiri. Disaat Titha mulai melangkahkan kakinya melewati pintu, ia tak berkedip sedikit pun melihat rumah bi Mur yang sangat kental dengan aura adat dan budaya dari tanah kerinci itu sendiri, sebelum Titha masuk kerumah bi Mur tadi, ia melihat ada sebuah genangan air seperti kolam tapi berukuran kecil yang terbuat dari batu, Titha pun menanyakan hal itu pada bi Mur.
"Bi.. itu pas Titha mau naik tangga tadi kok ada kayak kolam kecil ya di sebelah tangga?" tanya Titha pada bi Mur.
"Oh itu ya.. neng, kalau itu sih udah lama di situ, udah dari bibi masih kecil dulu.. hampir semua rumah di desa bibi ini punya kolam kecil di rumah mereka," jawab bi Mur.
Mendengar bi Mur menjawab begitu, di pikiran Titha hanya terpikir.
"Mana bisa ya ikan hidup di kolam sekecil itu.. apa cuma untuk hiasan?" gumam Titha dalam hatinya.
"Emang bisa ya bi ... ikan idup di kolam sekecil itu?" tanya Titha pada bi Mur.
"Ya enggaklah neng.. kolam itu bukan untuk ikan, tapi itu sudah menjadi tradisi disini neng.. sebelum kita bertamu.. kita harus mencuci kaki maupun tangan kita terlebih dahulu neng.. baru boleh masuk keruma," jelas bi Mur pada Titha.
"Oh.. gitu ya bi.. Titha gak tahu soal adat dan tradisi di sini bi," jawab Titha.
"Ya.. bibi tahu juga nengkan baru aja kesini, nanti bibi ceritakan semua yang ada di kerinci ini, terutama di desa bibi ini," saut bi Mur pada Titha.
"Bener ya bi," jawab Titha.
"Iya ... neng tenang aja kalau masalah itu mah, yok kita masuk dulu," ujar bi Mur dan masuk kerumah bersama Titha.
"Allahuakbar.. Allahuakbar...!" Adzan Maghrib berkumandang di desa kecil yang damai dan tenang.
Titha menghampiri bi Mur.
"Bi.. Titha mau ambil wudhu, dimana yah..?" tanya Titha pada bi Mur.
"Oh.. iya neng.. maaf ya neng.. kalau lama, soalnya di rumah bibi ini mah serba manual, kagak ada yang namanya mesin, ngambil air aja pake katrol di sumur," jawab bi Mur.
"Gak papa bi.. sini biar Titha aja bi," titha menggantikan bi Mur yang sedang mengambil air di sumur belakang rumahnya.
Di tengah suasana malam yang damai, Titha sangat khusuk dalam sujudnya, dan nampak seperti seorang bidadari yang sedang menyembah tuhan yang esa, dengan mukena yang putih polos dan paras yang cantik menawan, sungguh serasa seorang bidadari yang jatuh dari surga.
Di tahyat akhirnya, Titha mengucapkan salam dan berdoa dengan penuh tawakal dibawah rumah tua yang masih kokoh dan membuat suasana hati menjadi damai dan tenang.
"Ya.. Allah.. ampunilah semua dosa-dosa ayah dan ibu saya sebanyak apapun itu, dan jagalah mereka sebagai mana mereka menjaga hamba, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba ya Allah.. dan mudahkanlah Rezki bibi dan sehatkan lah bapaknya bibi ya.. Allah," ujar titha.
Sedang khusuknya berdoa, terdengar teriakan bi Mur dari kamarnya bapak.
"Astagfirullah..! Pak..! Bapak.. ! Kenapa ini..?" ucap bi Mur dengan cemas.
Mendengar suara bibi yang cemas dan sedikit berteriak, Titha langsung menyudahi doa nya dan bergegas menuju sumber suaranya bibi tanpa melepaskan mukenanya, sesampainya di kamar bapak.
"Astagfirullah.. bi.. bapak kenapa bi..?!" tanya Titha yang cemas dan tegang.
Melihat keadaan bapaknya bi Mur, Titha teringat dengan ayahnya, Titha terdiam sesaat sebelum bi Mur menyapanya.
"Neng! Neng Titha..!" panggil bi Mur yang tak di dengarkan Titha, bi Mur menarik mukenanya.
"Hah? Ya bi," jawab Titha yang tersadar.
"Tolong kamu panggilkan orang yang ada di masjid neng.. mungkin ada yang bisa mereka bantu.. atau biar bibi aja.. neng tolong lihat bapak bentar ya," ucap bi Mur yang sudah sangat cemas dengan keadaan bapak yang kejang-kejang.
"Gak usah bi ... biar Titha aja yang ke masjid.. bibi tunggu aja dirumah, ya udah Titha pergi dulu," tanpa pikir panjang Titha pergi dengan mukenanya yang masih terpasang, menyusuri sawah-sawah menuju ke masjid tanpa membawa lampu maupun senter.
Sedangkan bi Mur menunggu dirumahnya dengan rasa cemas dan gelisah. Setibanya Titha di masjid, ia tanpa pikir panjang masuk kedalam dengan mukenanya yang sudah kotor karena lumpur sawah yang ia tempuh dalam perjalanan ia menuju masjid, Titha melihat ada sekelompok pemuda yang sedang membaca Al-Qur'an di depan, ia langsung menghampiri mereka.
"Assalamualaikum..!" dengan nada yang terengah-engah.
"Pak bisa ke rumahnya bi Mur sekarang! Penting! Cepat!" ucap Titha pada sekelompok pemuda yang sedang membaca Al-Qur'an tersebut.
"Ya udah.. neng.. ayo cepat kita kesana!" Gumam salah seorang pemuda.
Merekapun bergegas menuju rumahnya bi mur.
*Setibanya mereka di rumah bi Mur.
Titha menunjukan jalan menuju kamarnya bapak.
"Kesini mas.. cepat," desah Titha yang semakin khawatir.
"Astagfirullah.. bi.. ada apa ini bi?" tanya salah seorang pemuda pada bibi Mur.
Mereka melihat bapak sudah tak ada lagi harapan, kakinya sudah lalai, dagunya sudah mulai encok sedikit. Bi Mur tak kuasa menahan tangis, dan Titha memeluk bi Mur dan menenangkannya, salah seorang pemuda menghampiri bapak yang terkapar di atas kasurnya yang sudah usang.
"Maaf bi.. saya mohon ijin ngajar bapak istighfar," ucap pemuda itu pada bi Mur.
Dengan terbata-bata dan sedih bi mur mengizinkan pemuda itu,
"Iya fi," jawab bi Mur.
Keadaan bapak sudah semakin lemah dan dagunya sudah nampak jelas encoknya, suasana di rumah bi Mur semakin tegang dan resah.
"Laa ... Ilaha.. illallah ...," ucap pemuda yang mengajari bapak istighfar, dengan kesadaran yang terbatas, bapak berusaha beristighfar walaupun apa yang ia katakan sudah tidak jelas lagi, dan untuk kedua kalinya.
"Laa.. Ilaha.. illallah...," ucap si pemuda itu.
Lagi dan lagi bapak mengucapkan kata istighfar secara terbata-bata, dan untuk yang ketiga kalinya.
"Laa.. Ilaha.. illallah...," ucap pemuda itu.
Dan bapak dengan tenang dan sedikit menutup matanya, bapak beristighfar dengan sangat jelas tanpa terbata-bata seperti yang sebelumnya, namun setelah itu, mata bapak sudah tak terbuka lagi, mulutnya sudah encok jelas, dan kaki dan tangannya sudah sangat lalai.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..!" ucap salah seorang pemuda yang mengajar bapak beristighfar tadi.
Bi Mur yang mendengar itu sontak tak kuasa menahan tangis, ia langsung memeluk bapak dengan tubuh yang lalai dan pucat, bapak telah pergi meninggalkan bi Mur untuk selamanya, Titha yang berada di sebelah bi Mur seakan-akan mengulang pas waktu ayahnya meninggal, suasananya persis sama disaat ayahnya meninggal, melihat bi Mur menumpahkan air matanya di atas tubuh bapak yang sudah tua renta bertinggalkan kerangka tulang, Titha tak kuasa menahan tangis, ia ikut terbawa arus suasana yang sedih.
Di tengah Isak tangis bi Mur, hujan mulai menyinggahi rumah bi Mur, Petir dan kilat terus bergantian meramaikan kepergian bapaknya bi Mur, suara hujan semakin kencang karena bentrok dengan atap rumahnya bibi, walau derasnya hujan, gemuruhnya petir, dan silaunya kilat, suara tangis bi Mur mengalahkan itu semua, bi Mur sangat terpukul dengan kepergian bapak, karena hanya bapaklah yang bi Mur punya.
Salah seorang pemuda memegang bahu bi Mur sembari berkata.
"Yang sabar ya bi," ucap pemuda itu sembari menarik kain sarungnya dan duduk di sebelah jasad bapak.
"Kalian cepatlah ke masjid dan panggil mas Kahfi ya.. terus bunyikan tabuh untuk memberitahukan ini pada semua warga," ucap salah satu pemuda yang menyuruh temannya untuk mengumumkan kematian bapak.
"Iya.. baiklah.. saya langsung kerumahnya mas Kahfi," pemuda itupun langsung bergegas menuju rumah mas Kahfi.
Walaupun hujan deras dan petir yang bergemuruh serata kilatan yang tiada henti membuat hati resah dan gundah.
Sementara Titha yang masih duduk terdiam harus melihat suasana yang pernah di alami olehnya untuk kedua kalinya, membuat ia merasa lebih sadar akan kuasa Tuhan yang maha kuasa. Inilah hidup, semuanya sudah di atur oleh yang kuasa. Gumam Titha dalam hatinya. Bi Mur lalu merebahkan kepalanya di pundak Titha yang masih banjir dengan linangan air mata duka.
"Neng ... bapak udah pergi.. sekarang bibi tinggal sendirian," desah bi Mur yang sudah kehabisan suara karena menangis.
"Bi ... istighfar bi.. bapak gak bakal ninggalin bibi selagi bibi terus berdoa buat bapak.. bibi yang sabar ya," jawab Titha sembari memeluk bi Mur
"Assalamualaikum..!" ucap salam salah seorang pemuda yang masuk ke dalam.
"Walaikumussalam," jawab Titha dan semua orang di kamar yang menemani bapak.
Titha sesaat terdiam merasa tenang dan damai setelah melihat salah seorang pemuda yang di panggil tadi, ia terus menatapnya karena merasakan ada ketenangan dan kenyamanan saat melihat wajah pemuda itu.
"Mas Kahfi.. akhirnya kamu sampai," ujar salah satu pemuda yang duduk tepat disebelah bapak tadi.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Kahfi yang baru saja melihat jasad bapak.
Si Kahfi lalu menghampiri bi Mur yang masih tersandar lemah di pangkuan Titha.
"Bi.. bibi jangan khawatir ya.. mari kita doakan bapak, agar di bapak bisa tenang dan di tempat kan di sisi Allah," ucap Kahfi dan membantu bi Mur duduk di dekat jasad bapaknya.
Semua orang pun mengikuti perkataan yang disuruh oleh Kahfi, Titha merasa bahwa Kahfi adalah orang yang berpengaruh di desa karena sebelum kedatangannya, suasana sangat kacau dan gelap, tapi setelah ia datang, seketika suasana terasa tenang dan damai, walaupun gemuruh hujan yang masih berkecamuk di luar.
Dan pada malam itu, di tengah hujan dan gemuruh petir, serta kilat yang terus bermunculan, menjadi iringan kepergian dari bapak bi Mur. Kahfi memimpin berdoa malam itu, hingga selesai. Setelah semuanya selesai, Kahfi menyuruh temannya untuk membeli kain kafan untuk bapak.
"Sekarang tinggal kain kafannya bapak, bisakah kalian belikan kain kafan.. ini pakai saja uang saya dulu," ucap si Kahfi sambil memberikan uang Rp.50.000.
Menyadari bahwa itu tanggung jawabnya sebagai tuanya dari bi Mur, Titha langsung memotong pembicaraan Kahfi dan temannya.
"Ini.. pakai uang saya saja," saut Titha mengeluarkan uang Rp.100.000 dari dalam dompetnya.
Teman Kahfi ragu ragu untuk mengambilnya namun Titha bersikeras memberikan uangnya.
"Udah.. ambil ini.. saya yang akan mengurusnya untuk bi Mur," gumam Titha pada Kahfi dan temannya itu.
Tanpa pikir panjang. Teman Kahfi langsung pergi membeli kain kafan, setelah kepergian temanya, Kahfi mengalihkan pandangan dan tak sengaja saling bertatapan dengan Titha, sekilas mereka saling pandang seolah perasaan mereka sudah bersatu dan terhubung.
"Kamu," ucap Kahfi dan Titha secara bersamaan, Meraka berdua menjadi salah tingkah, wajah Titha memerah malu.
"Brruukk!"
Bi Mur terjatuh pinsan di samping Titha. Sontak Titha dan Kahfi terkejut dan menghampiri bibi yang terkapar di sebelah Titha.
"Bi.. bibi..!" ucap Titha yang cemas.
"Sebaiknya bawa bibi ke kamarnya.. biarkan ia beristirahat," saut Kahfi dan membawa bi Mur ke kamarnya.