Kerinci 1995

Kerinci 1995
Chapter 29



*Dua hari kemudian.


Tepatnya setelah sholat isya, nampak di depan rumah bi Mur Kahfi beserta kedua orang tuanya tengah bertamu untuk melakukan "duduk duo piak". Yang kalau di artikan ke dalam bahasa Indonesia itu berarti duduk dua pihak, yang mana yang di maksud itu adalah kedua pihak antara pihak laki-laki dan pihak perempuan, dan duduk berarti musyawarah atau rapat, juga perkumpulan.


Jadi pada malam itu, saat Kahfi datang ke rumahnya bi Mur, ia bermaksud untuk melakukan duduk duo piak, atau pun menanyakan atau lamaran.


         "Assalamualaikum?!" Ucap bapaknya Kahfi.


         "Assalamualaikum? Bik..?!" Sambung ibunya Kahfi.


Lalu pintu itu pun terbuka.


         "Walaikumussalam, eh pak Sudin buk Rani, masuk-masuk, udah di tunggu sama buk Titha," ucap bi Mur dan mempersilahkan mereka masuk.


Kahfi dan kedua orang tuanya pun masuk ke dalam, dan perlahan-lahan nampak dari pandang mata Kahfi, ia perlahan melihat Titha dengan jilbab putih bersih tengah duduk di kursi dengan ibunya menunggu kedatangannya, belum duduk di dekatnya saja sudah membuat hati Kahfi gemetar, ia ditundukkan oleh rasa cinta yang luar biasa pada Titha dan mengekangnya dengan senyuman manis di wajahnya.


Kahfi dan kedua orang tuanya sampai tepat di depan Titha dan ibunya, begitupun pak Harto yang juga ada di sana.


         "Silahkan duduk, bentar ya saya buatin minum dulu," ucap bi Mur.


         "Gak usah repot-repot bik.." saut ibunya Kahfi.


         "Ah gak kok buk, yuk jeng," ajak bi Mur pada pak Harto.


Jeng adalah panggilan antara bi Mur dengan pak Harto saat mereka masih bekerja di Lampung dulu.


         "Huh? Aku juga?" Tanya pak Harto pada bi Mur.


         "Udah sini cepat bantuin," ucap bi Mur.


         "Iya-iya, maaf pak, buk, saya kebelakang dulu bantuin bibik," ucap pak Harto lalu menyusul bi Mur ke dapur.


         "Iya pak," saut ibunya Titha.


Dan sekarang tinggallah mereka saja di ruang tamu yang sederhana itu.


         "Maaf sebelumnya, sebaiknya kita berkenalan dulu, karena pepatah juga mengatakan, tak kenal maka tak tahu, haha," ucap bapaknya Kahfi pada Titha dan ibunya.


         "Yang betul itu tak kenal maka tak sayang, bapak malu-maluin aja," saut ibunya Kahfi.


         "Nanti kalau bapak bilang sayang, ibuk marah," saut bapaknya Kahfi menjawab istrinya.


         "Itu lain lagiiii," ucap ibunya Kahfi sambil mencubit pinggang suaminya.


         "Pak, buk, udah ah, serius sedikit kenapa," saut Kahfi yang sedikit malu melihat tingkah laku kedua orang tuanya yang sempat-sempatnya bercanda.


         "Ini nih bapak mu duluan," ucap ibunya Kahfi.


         "Ya akan sebelum bicara kita harus kenalan dulu, baru-"


         "Pak udaaah.." saut Kahfi menegur bapaknya yang kocak itu.


         "Iya-iya maaf-maaf," ucap bapaknya Kahfi.


Melihat keluarga Kahfi yang begitu unik dan kocak, ibu Titha dan Titha terkikih dan sempat iri pada mereka.


         "Keluarga bapak harmonis sekali ya," ucap ibu Titha sambil sedikit tertawa.


         "Makasih buk, ngomong-ngomong kita sampai dimana tadi ya?" Ucap bapaknya Kahfi.


         "Kenalaann" saut saut Kahfi sambil menepuk keningnya.


         "Oh iya, kenalin, saya Jamal bapaknya Kahfi," ucap bapaknya Kahfi.


         "Saya Rani, ibunya Kahfi," sambung ibunya Kahfi.


         "Saya Fatimah, ibunya Titha, salam kenal ya," ucap ibunya Titha.


*Di Lampung.


Di sebuah rumah yang megah dan mewah, tepatnya di dalam sebuah ruangan terdengar suara berisik seperti suara barang-barang yang di pecahkan. Dan ternyata benar, di dalam ruangan tersebut sangat berantakan dan kacau, semuanya pecah, bahkan pintu lemari saja ada yang hancur seperti sudah tertabrak sesuatu.


Sungguh situasi yang menyedihkan, perlahan pak Alwis berdiri dan mendekat ke salah satu foto yang terpanjang di dinding ruangan itu, ia menangis! Walaupun tidak bersuara tapi air matanya terus mengalir tak mau berhenti.


         "Hahahaha, kamu jangan khawatir, ayah pasti akan membunuh perempuan itu, karena sudah membuat kamu begini, hahahh," gumam pak Alwis bicara sendiri sambil menatap foto Salman dengan setelan jas hitamnya.


*Kembali ke rumah bi Mur.


Nampak semuanya harmonis dan damai, semua orang yang ada di ruang tamu saling melempar canda dengan senyuman yang lebar.


Namun di tengah suasana yang asyik itu, tiba-tiba ibunya Titha bertanya pada Kahfi yang mana pertanyaan itu membuat semua orang terdiam.


         "Nak Kahfi!" Panggil ibunya Titha pada Kahfi.


         "Huh? Iya buk?" Saut Kahfi.


         "Kalau boleh ibuk tahu, kenapa nak Kahfi memilih anak saya sebagai calon istri nak Kahfi?" Tanya ibunya Titha dengan nada pelan dan tenang.


Seketika semua orang yang tadinya tengah asyik bersenda gurau diam, dan baralih ke Kahfi, yang mana jawaban dari Kahfi itu sangat membuatku semua orang penasaran termasuk Titha sendiri.


         "Kenapa saya memilih Titha?. Tidak lebih dan tidak kurang hanya karena akhlak dan agamanya buk," ucap Kahfi menjawab ibunya Titha dengan nada pelan dan tenang juga.


Tapi entah kenapa jawaban yang diberikan Kahfi membuat semua orang damai dan tersenyum mendengarnya. Termasuk ibunya Titha, ia juga tersenyum lalu berkata.


         "Satu hal yang ibuk ingin ingatkan pada kalian jika memang nanti kalian akan menikah, saling bantu lah dalam hal apapun, kekurangan kamu juga kekurangan Titha, dan kekurangan Titha juga kekurangan mu, begitupun sebaliknya, intinya, saya mewakili almarhum suami saya, menerima lamaran anak bapak," ucap ibunya Titha yang membuat Titha tersentak dan menangis mendengar perkataan ibunya.


Seketika Titha langsung memeluk ibunya dengan erat, sedangkan Kahfi juga gemetar hatinya mendengar perkataan dan nasehat dari calon mertuanya itu, linangan air mata tak dapat Kahfi sembunyikan, ia tertunduk sambil berkata.


         "Alhamdulillah..." Ucapnya dengan pelan dan terkesan terharu.


Semua orang ikut berbahagia mendengar hal itu, bi Mur juga ikut menyumbangkan air matanya sambil mengelus-elus pundak Titha, lalu pak Harto langsung menggoda Titha dan Kahfi sambil menari ala jaipongan.


         "Ciee.. udah sah nih calon suami istri, kawin.. kawin.. Minggu depan aku kawin, kawinn," canda pak Harto dengan tariannya yang aneh.


Sedangkan ibunya Kahfi juga ikut menangis dan beralih memandangi suaminya.


         "Bapakkk!" Panggil ibunya Kahfi dengan ngegas di tekingan suaminya.


         "Huh? Udah pagi? Yah tinggal lagi deh subuhnya," ucap bapaknya Kahfi sambil mengusap matanya.


         "Di situasi langka begini, malahhh tidur," desah ibunya Kahfi memarahi suaminya yang terbangun akibat teriakannya.


Spontan melihat tingkah laku calon mertuanya yang kocak, Titha dan ibunya serta orang se isi rumah itu tertawa dengan lepasnya.


Dan di tengah-tengah tawa dan suasana yang bahagia itu, Kahfi dan Titha sempat bertatapan dan saling melempar senyum, seakan waktu berhenti hanya untuk mereka berdua.


Dan setelah semua hak yang sangat indah tadi, sudah tiba saatnya dimana pesan terkahir dari lamaran di sebutkan.


         "Jadi kapan kita tetapkan tanggal pernikahan mereka?" Tanya ibunya Kahfi pada ibunya Titha.


         "Sebaiknya sesudah lebaran saja," ucap bapaknya Kahfi.


         "Iya, saya juga setuju kalau sudah lebaran," saut ibunya Titha mengiyakan perkataan bapaknya Kahfi


         "Jadi sudah lebaran ya, saya mah ikut aja," sambung ibunya Kahfi.


         "Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu, ini udah kelamaan takut ibuk gak sempat buat makanan untuk sahur nanti," ucap bapaknya Kahfi pada ibunya Titha.


         "Iya, kami pamit dulu kalau begitu, nak Titha, ibuk pamit," sambung ibunya Kahfi lalu berdiri bersama suaminya dan Kahfi.


         "Iya pak, buk, hati-hati di jalan," jawab Titha dengan ramah.


Ya udah kalau begitu,kami duluan ya, assalamualaikum," ucap Kahfi


         "Walaikumussalam," ucap Titha dan ibunya juga pak Harto dan bi Mur.


Dan ketika si Kahfi sudah pergi, Titha tiba-tiba memeluk ibunya lagi dan membuat ibunya terkejut.


         "Makasih ya buk," ucap Titha sambil memeluk ibunya.


Mendengar itu, ibunya mengeratkan pelukannya dan mengelus kepala anak tercintanya itu. Bi Mur dan pak Harto juga ikut berbahagia melihat ibu dan anak itu berpelukan.