
"Dok, dimana orang yang bersama mu tadi? " Tanya Titha pada dokter.
"Ah, maksud mbak mas yang mendonorkan darahnya, dia akan menyusul kesini katanya," ucap si dokter menjawab Titha.
"Dok, boleh kami ikut ke dalam, kami ingin melihat keadaan si Puti," ucap Rahmat pada si dokter.
"Tentu saja, mari," jawab dokter.
Titha dan Rahmat pun ikut ke dalam bersama dokter yang menangani Puti, sedangkan si Kahfi baru saja keluar dari ruang transfusi darah, dan bergegas menyusul dokter ke ruangnya Puti.
*Sementara itu, di Kayu Aro.
"Masyaallah.. jadi ini kerinci," ucap ibu Titha sambil memandang keluar dari dalam mobilnya.
"Indah banget ya buk," saut pak Harto sambil mengemudi.
"Iya pak, jadi gak sabar mau ketemu sama bibik," ucap ibunya Titha.
"Saya yakin pasti neng Titha akan terkejut," ucap pak Harto.
"Heboh pasti itu," ucap ibunya Titha sambil tersenyum.
*Kembali ke rumah sakit.
Dokter sudah lama pergi meninggalkan Titha dan Rahmat di dalam ruang tempat Puti dirawat, Rahmat nampak sangat merasa bersalah sambil menatap sayu si Puti yang terbaring lemah, dengan balutan perban di kepalanya, Puti masih belum sadarkan diri, namun kata dokter ia akan sadar dengan berangsur-angsur jika darahnya yang sudah keluar banyak itu sudah kembali stabil.
"Assalamualaikum," ucap Kahfi yang baru saja masuk membuka pintu.
"Walaikumussalam," saut Titha dan Rahmat menjawab si Kahfi.
"Bagaimana keadaan si Puti?" Tanya Kahfi pada kedua orang yang sedang melihatnya.
"Kamu dari mana saja?" Ucap si Rahmat yang berbalik bertanya.
"Aku dari toilet, kenapa?" Ucap Kahfi menjawab si Rahmat.
"Kata dokter tadi, ia akan baik-baik saja, kita hanya perlu berdoa dan menunggu saja," ucap Titha menjawab pertanyaan Kahfi tadi.
Kahfi mengangguk pelan mendengar apa yang dikatakan Titha dan beralih duduk di kursi yang ada di dalam ruangan itu, Kahfi merebahkan badannya dan menghela nafas panjang.
"Ada-ada saja peristiwa yang kita alami belakangan ini," ucap Kahfi sambil memandangi langit-langit tanpa melihat ke arah Titha dan Rahmat.
Titha dan Rahmat beralih menghampiri si Kahfi dan ikut merebahkan badan mereka duduk di sebelah Kahfi.
"Iyah," saut Titha dengan nada pelan.
"Apa kalian merasakan hal yang sama?" Ucap si Rahmat tiba-tiba.
Kahfi dan Titha mengalihkan pandangan mereka dengan tajam ke arah Rahmat.
"Maksud kamu Mat?" Ucap Kahfi.
"Apa kalian ingat, waktu kita ketemu kakek Basri?, Ia mengatakan hal yang persis serupa dengan apa yang kita alami, dan itu adalah tanda-tanda sebulum terjadinya bencana itu," ucap si Rahmat dengan raut wajah tegang.
"Kalau di pikir-pikir, bener juga yang dikatakan si Rahmat fii," saut Titha yang mulai ikut terbawa suasana.
Kahfi diam tak menanggapi si Rahmat walaupun sebenarnya ia mendengar apa yang sahabatnya ucapkan itu, sekilas Kahfi terlihat sedang menatap langit-langit dengan raut wajah yang terlihat seperti orang yang sedang berpikir.
"Semoga-"
Titha dan Rahmat langsung melirik ke arah Kahfi begitu mulutnya terbuka.
"Semoga saja, apa yang dikatakan oleh kakek Basri itu tidak benar, lagi pula tidak ada manusia yang tahu tentang masa yang akan datang, selain Allah," ucap Kahfi dengan raut wajah serius.
Rahmat dan Titha terdiam sengang, apa yang dikatakan oleh Kahfi memanglah benar dan mutlak, tapi di hati Rahmat, masih ada rasa was-was akan apa yang dikatakan oleh kakek Basri.
"Benar kata Kahfi, sebaiknya kita serahkan semuanya pada Allah," ucap Titha.
Rahmat menghela nafas panjang.
"Besok, kita sudah mulai puasakan," ucap si Rahmat dan mengalihkan topik.
"Puasa?, Serius Mat?! Haduuhhh.." gumam Titha yang seakan melupakan sesuatu.
"Memangnya kenapa Tha?" Ucap si Rahmat.
"Aku belum selesai masukin nilai anak-anak ke dalam rapor mereka, cik, gimana ini," ucap Titha.
"Berarti, malam nanti, kita sahur dong?!" Saut Kahfi yang terkejutnya terlambat.
"Coba kamu nyalain radio tuh Tha, mana tahu kita salah info," ucap si Rahmat pada Titha.
Titha pun menghampiri radio yang terletak di atas meja dekat dengan tabung oksigen di kasurnya Puti.
Titha menyalakan radio.
"Halo apa kabar masyarakat Indonesia dimana pun anda berada, tidak terasa kita sudah mau memasuki bulan suci Ramadhan, yang mana pada pagi hari tadi, kementerian agama sudah mengumumkan kapan dan mulainya kita akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, dan hari itu jatuh pada esok hari dan sudah di sahkan atau ketuk palu, dan kita beralih ke berita lainnya, yaitu kuota haji-" bunyi suara radio.
"Tuhkan betul kataku, besok puasa," ucap si Rahmat.
"Haduh gimana ini? Rapornya belum ke isi semua lagi," desah Titha.
"Kan bisa di bagi di rumah, gak harus di sekolah," saut Kahfi berbicara pada Titha.
"Emang bisa?" Tanya Titha yang agak terkejut dengan pernyataan si Kahfi.
"Bisa, dulu aja rombongan pak Akmal ngambil rapornya di masjid sama aku," ujar si Kahfi pada Titha.
"Masjid?! Bukanya itu lebih gak masuk akal dari pada di rumah," ucap Titha.
"Dulu tuh.. pihak sekolah yang bikin kayak gitu, katanya syarat buat ngambil rapor itu harus setor ayat dulu, baru bisa ngambil rapor, dan di sisi lain, mereka bisa hafal Al-Qur'an juga," saut si Rahmat.
"Ooh.. gitu, tapi aku juga setuju deh dengan cara itu," ucap Titha.
"Ya udah, kayak gitu aja," ucap si Rahmat.
*Di sisi lain.
Di saat Titha, Rahmat dan Kahfi tengah mengobrol di kursi dekat dengan tempat tidur Puti, Puti yang tengah terbaring dengan mata tertutup itu perlahan membuka kelopak matanya, semakin matanya terbuka, semakin terang penglihatannya, walaupun mulanya agak buram-buram. Setelah penglihatannya sudah mulai nampak jelas, Puti membuka mulutnya dengan suara yang pelan.
"Aku dimana?" Ucapnya dengan nada yang sayu.
"Puti, kamu udah sadar, Alhamdulillah.." ucap Titha sambil meraih tangan Puti.
"Alhamdulillah," ucap Kahfi dan Rahmat.
"Titha? Kamu Titha kan?" Tanya Puti sambil menatap Titha yang terus menggenggam tangannya.
"Iya tii, ini aku Titha," ucap Titha menjawab Puti.
"Kita ada di mana Tha?" Tanya Puti lagi pada Titha.
Sebelum menjawab pertanyaan dari temannya itu, Titha sekilas melirik ke arah Rahmat dan Kahfi.
"Kita lagi dirumah sakit tii," ucap Titha.
"Rumah sakit? Ngapain kita di rumah sakit?" Tanya Puti.
Titha mulai takut dan kembali terdiam sambil menatap Kahfi.
"Apa kamu tidak ingat, tadi pas kamu sedang menyeberang jalan, dan kami tidak sengaja menabrak mu, lalu.. ya.. jadinya seperti ini," ucap Kahfi pada Puti.
Puti beralih melihat ke arah Kahfi lalu berkata.
"Dia siapa? Terus itu, siapa?" Ucap Puti yang bertanya dengan nada pelan sambil melihat ke arah Kahfi dan Rahmat.
"Aaa.. Meraka temanku, jangan khawatir, mereka juga orangnya baik-baik," ucap Titha menjawab si Puti.
Tiba-tiba.
"Aakk!" Desah Puti kesakitan sambil memegang kepalanya.
Sontak Titha dan Kahfi juga Rahmat panik.
"Ada apa tii, Puti.." ucap Titha mencoba menenangkan Puti.
"Mat cepat kamu panggil dokter," ucap Kahfi pada Rahmat.
"Iya, aku akan segera kembali," ucap si Rahmat lalu bergegas pergi memanggil dokter.
*Setelah dokter memeriksa keadaan Puti.
"Ingatannya, tidak terganggu sama sekali, hanya saja kepalanya lebam akibat terbentur, biarkan dia beristirahat dengan baik," ucap pak dokter.
"Tapi saya mau pulang dok," ucap Puti dengan nada pelan.
"Tii, kalau kamu pulang, kamu gak bakal cepat sembuh, lagian kamu cuma sendiri di kosan kamu, terus siapa yang akan ngerawat kamu kalau nanti terjadi apa-apa," saut Titha menanggapi pernyataan dari temannya itu.
"Tapi Tha, aku gak punya ua-"
"Kalau itu kamu gak perlu khawatir, biar saya yang urus itu," ucap si Rahmat tiba-tiba.
"Tapi-"
"Benar, biar kami yang urus itu, yang penting kamu bisa cepat sembuh dan kembali sehat seperti biasanya," potong Kahfi menyambung ucapan Rahmat.
Puti terdiam dan perlahan dari kedua sudut matanya keluar cairan bening, Puti tak tahu ingin bicara apa lagi.
"Tuh, kamu tenang aja, kami pasti bantu kamu kok," ucap Titha pada Puti.
"Terimakasih Tha, dan.." ucap si Puti pada Titha dan terputus karena tidak mengenal kedua laki-laki yang ada di depannya.
"Oh ya, saya Kahfi, temennya Titha," ucap Kahfi.
"Kalau saya Rahmat, temannya Kahfi dan Titha, baru sih." Ucap Rahmat.
Kemudian Puti tersenyum kecil setelah berkenalan dengan Kahfi dan Rahmat.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," ucap pak dokter.
"Tapi dok, apa besok saya sudah boleh pulang?" Tanya Puti yang menghentikan langkah kaki dari pak dokter tersebut.
Kemudian pak dokter berbalik arah dan kembali menghampiri Puti yang terbaring di atas kasur.
"Tapi saudari harus melakukan pemeriksaan dulu, jika pendarahan di kepala saudari ini sudah berhenti, maka saudari kami bolehkan pulang," jawab dokter itu pada Puti.
"Lalu kapan pemeriksaan itu dok?" Tanya Puti lagi pada dokter.
"Siang besok, jam 10, jika pendarahannya sudah berhenti total, mungkin setelah dzuhur saudari bisa pulang," ucap si dokter dan di akhiri dengan senyuman.
"Alhamdulillah.. kamu bisa pulang besok tii," ucap Titha yang ikut senang mendengar pernyataan dari dokter.
"Baiklah, saya permisi dulu," ucap pak dokter itu lalu pergi meninggal mereka.
*Setelah dokter pergi.
Suasana yang tadinya tegang dan kelap seketika sudah berubah menjadi sebuah keharmonisan di antara mereka berempat.
Nampak di raut wajah si Puti yang tadinya pucat sudah kembali ceria dan bersinar.
"Ee.. mau manggil apa ya? Duh" desah si Rahmat yang tak sengaja terdengar oleh Puti.
"Ada apa mas Rahmat?" Tanya Puti sambil bersandar di atas kasurnya.
Rahmat terdiam jadi salah tingkah.
"Heh, ada apa kata Puti tuh," saut Kahfi menyadarkan Rahmat.
"Ee.. anu, mbak, eh neng-"
"Puti aja gak papa, panggil aja Puti," potong Puti.
"Maaf sebelumnya, karena sudah membuat kamu jadi begini," ucap si Rahmat dengan nada pelan.
Sementara Kahfi dan Titha hanya memandang mereka berdua.
"Gak papa, saya sudah maafkan kok," ucap Puti menjawab Rahmat.
"Terimakasih," ucap Rahmat pelan dan berakhir dengan senyum kecil pada Puti.