
Sejak saat itu kondisi Karin sering tidak stabil, apalagi telah memasuki bulan ke-5. Terkadang Karin sehat, terkadang dia juga sering sakit-sakitan seperti sekarang.
Setiap Kondisi Karin menurun sedikit saja, Devian dengan sigap membawa karin kerumah sakit. Bahkan Devian juga membeli beberapa peralatan di rumah sakit agar bisa merawat istrinya yang terkadang muak terlalu lama disana.
Tapi, sekarang Karin berada di rumah sakit lagi dan lagi! Jujur dia lelah namun dia harus bertahan demi Devian dan little sunshine mereka.
" Devian pipi sebelah kanan aku bengkak,ya?" tanya Karin. " Dev! Lihat kakiku juga bengkak.". Karin cengengesan sendiri menutupi rasa sakit yang dia rasakan.
Devian tidak tau harus menanggapi bagaimana. Dia senang melihat senyuman wanitanya, tapi di sisi lain dia khawatir berlebihan malah sesekali dia kesulitan bernafas saking khawatir-nya.
" Sunshine! Lihatlah anak kita bergerak." Devian sedari tadi mengusap perut Karin memastikan anak mereka di dalam sana sering bergerak, karena jika pergerakan anak mereka pasif. Akan sangat berbahaya untuk little sunshine-nya.
" Lihatkan! Kami itu baik-baik saja."
Devian mengiyakan saja, dia tidak boleh membuat istrinya stress karena jika Karin stress maka keadaannya semakin buruk.
" Sekarang waktunya minum obat,ya?"
" Apakah harus? Tadi kan sudah disuntik terus minum obat, kenapa sekarang minum obat lagi?" meski mengeluh Karin tetap meminum obatnya meski terpaksa.
" Beberapa menit setelah ini, kamu tidur ya?"
" Aku tidak mengantuk!"
" Tapi, ini waktu istirahat kamu sunshine."
Karin diam. Semenjak penyakitnya ini terbongkar, Devian memperlakukannya bagai bayi baru lahir.
Tidak boleh ini, tidak boleh itu!
Harus makan yang ini.
Sungguh Karin merasa tertekan dengan semua ini. Karin mengerti Devian masih takut dengan kondisinya, tapi sikap berlebihan Devian ini malah membuat dirinya tak nyaman.
Devian persis seperti dokter yang hanya memastikan kesehatan fisiknya, tapi tidak ada yang memastikan kesehatan mentalnya. Seharusnya Devian mendukung sekaligus meyakinkan Karin.
Bahwa semua akan baik-baik saja.
" Kamu masih takut,ya?"
" Takut apa?" Devian tidak ingin terlalu kentara. Maka dari itu, dia pura-pura bodoh.
"Tentang preeklamsia!"
Terdengar helaan nafas berat dari Devian.
" Siapapun akan takut jika berada di posisi aku, my sunshine. Bagaimana mungkin orang yang sangat dicintai berada di ambang kematian, aku masih bisa tenang. Aku tidak bisa! Aku tersiksa dengan segala ketakutan di pikiran ini." lirih Devian.
Karin menggenggam tangan Devian sesekali mengelus pelan punggung tangan suaminya.
" Maaf sayang karena kekhawatiran ini membuat sikapku berubah. Aku sangat mencintaimu dan little sunshine." Devian mengecup pelan kedua mata istrinya.
" Uhh, udah jangan sedih-sedih lagi! Bagaimana kalau kamu mendongeng?" Karin merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Devian sebagai bantal. " Ayo mendongeng suamiku. Ceritakan sampai aku tertidur di pangkuanmu, ya!"
Devian memejamkan matanya sejenak. Setiap Karin mulai memejamkan matanya, bayang-bayang ketakutan lagi-lagi menghantuinya. Devian takut mata indah sunshine-nya tidak terbuka kembali. Devian takut mata yang selalu menatapnya penuh cinta tidak bisa lagi dia lihat. Terkadang Devian mengalami mimpi buruk karena ketakutan ini.
" Hanya tidur, oke?"
Karin kembali membuka matanya." Hei, jangan berpikiran buruk seperti itu! Aku hanya tidur bukan meninggal." Devian tetap saja khawatir berlebihan, untung Karin mencintainya jadi rasa khawatir berlebihan itu dimaklumi.
" Baiklah! Aku akan mendongeng." Devian mengelus rambut indah Karin sambil melanjutkan ceritanya, " Cerita ini bercerita tentang seorang pangeran yang bertemu dengan wanita nakal. Dia---,"
" Hei! Aku mau cerita anak-anak! Kelinci dan kura-kura atau lainnya, bukan yang dewasa seperti itu!" potong Karin.
"Tapi kamu sudah dewasa, sunshine!"
" Little sunshine masih anak-anak." Karin menunjuk perutnya.
Oke! Devian mengalah.
" Suatu hari ada seekor kelinci lucu yang sedang menikmati makanannya. Namun, Karena terlalu menikmati makanan dan tidak memperhatikan sekitar. Dia jadi menabrak seekor harimau."
" Stop, Dev! Kenapa harimau? Yang ada ceritanya bakalan langsung tamat, karena kelincinya dimakan!" protes Karin.
" Aku sedang menceritakan kisah pertemuan kita dalam bentuk dongeng anak-anak, sunshine. Tentu aku harus tetap menggambarkan diriku sebagai sosok yang kuat dan mendominasi." jelas Devian bangga.
" CK! Kenapa tidak sekalian digambarkan sebagai rubah saja? Kamu kan licik! Suka memanfaatkan sesuatu dalam kesempitan!"
" Oh, boleh juga!" spontan Karin menjitak kepala suaminya. Berharap dapat mengurangi kepercayaan diri yang terlalu berlebihan itu.
" Udah ayo mendongeng lagi!" Karin kembali memejamkan mata.
" Pada suatu hari seekor kelinci sedang berjalan sambil menikmati sebuah wortel. Namun, langkahnya terpaksa berhenti ketika seekor rubah termenung di pinggir jalan. Kelinci itu merasakan aura kesepian dalam diri rubah, maka dari itu si kelinci memutuskan mendekat secara perlahan." Devian berhenti sejenak.
" Si kelinci tidak bicara apapun, dia hanya memberikan makanan yang paling disukainya kepada rubah kesepian itu. Si rubah yang heran langsung menanyakan tindakan si kelinci ' Kenapa kau memberikan ini padaku?' si kelinci menjawab, 'Kau tampak kesepian, aku tidak tau apa yang kau butuhkan. Jadi, aku memberikan sesuatu yang paling kusukai.' kelinci tau rubah masih tidak mengerti, dia pun melanjutkan perkataannya.
' Sesuatu yang dianggap berharga bagi orang itu diberikan kepada orang yang merasa tidak berharga, akan mengubah pemikiran mereka bahwa dirinya berharga ketika menemukan orang yang tepat.'
Sejak kejadian itu, si rubah mulai mengubah pandangannya. Dan seiring berjalannya waktu bukan hanya pandangan yang berubah, namun perasaan si rubah juga ikut berubah.
Pada akhirnya kisah mereka menjadi acuan bagi para hewan yang selalu merasa kesepian. Memang kehidupan tidak selamanya bahagia, tetapi rubah dan kelinci tidak menyesal. Karena mereka menemukan seseorang yang tepat, dan bisa merasakan perasaan saling menyayangi dan disayangi."
Selesailah dongeng anak-anak versi Devian. Dia mengelus pelan rambut Karin yang masih berada di pangkuannya.
" Have a nice dream, my sunshine! I love u dan terimakasih telah memilihku sebagai pasanganmu." Devian memindahkan kepala Karin ke bantal empuk khusus pasien, lalu ikut merebahkan dirinya.
Tidak butuh waktu lama Devian pun ikut terlelap. Devian kelelahan karena urusan kantor yang terlalu banyak meski telah dibantu oleh sekretaris Juna, ditambah Devian tidak menyewa satupun perawat untuk menjaga wanitanya. Karena dia ingin berada di setiap perjuangan Karin meskipun harus meninggalkan pekerjaannya.