IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Penyesalan



Tepat pagi hari pemakaman telah selesai, namun Devian masih betah menatap nisan papa Teo. Sekretaris Juna juga masih setia menemani Devian termenung, sampai cuaca berubah menjadi mendung tidak ada tanda-tanda bos-nya beranjak.


" Tuan, Sebaiknya kita pulang."


" Apa Karin bisa dihubungi?"


" Pelayan mansion mengatakan nona Karin sempat pulang, tetapi kembali pergi ketika mengetahui papa Teo sedang dimakamkan." Devian menghela nafas kasar. Seharusnya dia menjumpai Karin di restoran tadi malam. Tetapi kesedihan dan kesibukan mengurus papa Teo membuat dia lupa.


Sekitar jam 3 sekretaris Juna mengingatkan, dan Devian berusaha menghubungi Karin menggunakan hp Sekretarisnya, meskipun hanya sambungan operator yang dia dapatkan.


" Pergilah!" Bukan tanpa alasan Devian kekeh berada di pemakaman di waktu yang cukup lama.


Devian menunggu Karin!


Tanpa mereka sadari Karin berdiri di balik pohon besar menggunakan kaca mata hitam dan masker.


" Aku ingin memelukmu, tapi kamu tidak menginginkan keberadaan ku." ucap lirih Karin.


Lumayan lama, akhirnya sekretaris Juna berhasil meyakinkan Devian untuk pulang. Tepat setelah mereka meninggalkan pemakaman papa Teo, Karin keluar dari persembunyiannya.


" Papa, you're a great daddy! Karin selalu mendoakan kebahagiaan dan ketenangan untuk papa." Suara Karin tercekat menahan tangis, " Maaf Karin memutuskan untuk meninggalkan Devian papa. Karin tidak ingin memaksakan kebahagiaan!" Karin menatap langit yang mulai rintik-rintik, terpaksa dia meninggalkan pemakaman papa Teo setelah meletakkan bucket bunga yang indah disana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di mansion Devian tidak langsung ke kamar, dia berada di ruang tamu menunggu Karin.


Sangat lama dirinya menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Karin. Dengan langkah kaki malas-malasan dia berusaha menuju kamarnya.


Kriett...


Devian menatap sekeliling kamar.


Sepi! Itulah yang dia rasakan.


Devian terus memasuki kamar sampai langkahnya terhenti melihat sebuah amplop coklat besar teronggok di kasurnya.


Gemetaran tangan Devian membuka amplop tersebut. Berharap apa yang ada di pikirannya salah!


Devian membukanya perlahan sampai ujung kepala surat dengan logo sebuah instansi pemerintah itu menyembul. Jantung Devian menghentak kuat, perasaannya makin tak karuan.


Devian terduduk lemas, surat perceraian yang beberapa hari lalu diurusnya sekarang tertera tanda tangan Karin disana. Selembar tulisan tangan, kartu kredit, juga kunci mobil. Devian memejamkan mata seiring dengan jatuhnya bulir bening manakala dia melihat cincin pernikahan yang juga terdapat di dalam amplop.


" Karin!" teriak Devian menggema sambil meremas kuat surat perceraian.


Sejak kapan Karin mengetahuinya surat cerai itu?


Seharusnya dia tidak sebodoh itu meletakkan asal surat cerai!


" Maaf Karin!"


" Karin!"


Berulang kali Devian memanggil Karin, berharap kejadian ini tidak nyata. Kata maaf terus diucapkan tiada henti mengingat perempuan yang selalu dia sia-siakan.


Devian kira dia bakalan senang Karin meninggalkan dirinya. Nyatanya pria itu malah dihantui penyesalan! Ada perasaan yang sulit dia jelaskan, tetapi air matanya bisa menjelaskan semuanya. Jika minta dijabarkan, rasanya kepergian Karin lebih menyakitkan dibanding kesendirian yang selama ini diinginkannya.


Di saat sosok Karin hadir, hanya makian, ejekan dan sifat acuh yang ditunjukkannya! Andai Devian bisa memutar waktu, dia tidak akan membuat perjanjian konyol itu!


Dia tidak akan berkata dengan yakin, dirinya tidak akan mencintai Karin.


Harapan dan kenangan mereka memenuhi benak Devian, menimbulkan sesak yang membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas.


Tidak mau larut dalam kubangan penyesalan. Devian berlari keluar kamar sambil menghubungi Sekretaris Juna. Saat ini, tujuannya adalah ruang CCTV.


Devian menelusuri beberapa tempat yang Karin kunjungi. Devian tidak menyangka Karin telah menyiapkan kepergiannya dari jauh-jauh hari.


' Kenapa disaat gue mencintai Lo, kesempatan itu telah habis?'


' Gue butuh Lo!'


Devian memukul-mukul dadanya mengurangi rasa sesak, sayang sekali bukannya berkurang sesaknya semakin bertambah tatkala dirinya selalu membandingkan Karin dengan gadis masa kecilnya.


' Bolehkah gue mengatakan Lo itu pelangi di hidup gue?'


" Tuan?" Sekretaris Juna masuk ke ruang cctv.


" Karin pergi Juna! Istri gue pergi! Cepat lacak keberadaannya." Histeris Devian.


Baru kali ini sekretaris Juna melihat tuan-nya memperlihatkan kesedihan hatinya. Padahal sewaktu meninggalnya papa Teo atau bahkan ibu kandungnya, Devian masih bisa mengendalikan emosi.


" Maaf tuan. Ponsel nona Karin mati sehingga saya tidak bisa melacak lewat GPS yang tuan pasang di ponsel nona Karin."


" Suruh anak buah menyebar jika perlu sewa detektif untuk mencari beberapa tempat yang sekiranya Karin tempati!" terdapat kecemasan bercampur amarah yang sangat kuat terdengar dari setiap kata yang dilontarkan Devian.


Sekretaris Juna melangkah menjauh sambil bergumam ' Lihatlah nona, perasaan anda terbalas. saya saksinya! Saya melihat tuan menangisi kebodohannya. Perjuangan nona selama ini tidak sia-sia. Kembalilah nona, saat nona merasa sudah siap.'


Devian kembali ke kamar dengan langkah gontai setelah menyalin rekaman CCTV juga flashdisk yang berisi rekaman Karin.


Hari hampir menjelang malam, tidak mau membuang-buang waktu Devian mengambil kunci mobil berharap menemui Karin di sekitar jalan yang dia lalui.


Tanpa sadar Devian berhenti di toko bunga. Devian ingat Karin menyukai bunga mawar, meskipun tidak tau keberadaan Karin. Devian tetap membeli sebuket bunga mawar.


Padahal sewaktu Karin ada, dia enggan memberikan bunga mawar jika tidak dipaksa Karin.


Devian terus menulusuri jalan sampai dia berhenti di jalanan yang dulu menjadi kenangan terburuk Karin?


Disini! Di jalanan ini! Devian meninggalkan Karin sendirian tanpa memikirkan resiko apa yang akan dihadapi Karin.


Devian kembali meneteskan air matanya. Dua orang yang selalu memperhatikannya dengan tega pergi secara bersamaan.


Papa Teo yang selalu mengharapkan sapaan hangat darinya sudah pergi untuk selamanya.


Akankah perempuan yang selalu menemani dirinya pergi untuk selamanya juga?


Devian menggelengkan kepalanya menghalau pemikiran buruk.


Merasa rindu dengan Karin, Devian membuka iPad yang sudah tersimpan rekaman Karin juga kejadian CCTV di mansion.


Video pertama yang dilihat adalah kegiatan melukis di ruang rawat Karin. Di awal Devian tersenyum melihat kejahilan Karin.


Karin dengan segala kejahilan dan perhatian berhasil merobohkan pertahanan yang dibangun sekuat mungkin olehnya.


Video terus berlanjut sampai Devian melihat Karin memaksakan senyumannya.


' Apa yang dia katakan?'


Devian sekali lagi merutuki kebodohan ketika dia ingat tanpa perasaan dia memuji Angel.


Senyum yang indah, huh?


Seharusnya dia sadar seindah apapun senyuman gadis masa kecilnya, nyatanya senyuman seseorang yang selalu berada di sisinya lebih indah! Ah bukan! Senyuman Karin sangat menawan.


Dia tidak harus menyakiti perasaan Karin jika benar dia tidak memiliki perasaan untuk Karin.


Devian juga tidak harus meruntuhkan dengan sangat jahat perasaan cinta Karin.


Devian kembali menangis, dia bahkan belum meminta maaf atas kejadian tamparan sewaktu Karin di cafe menemui wanita jahanam itu.


Bahkan setelah dia menampar Karin malah berusaha menciptakan kegiatan bersama dengannya, yang dengan kurang ajar dia selalu menolak tanpa menghargai usaha Karin.


Devian sangat merutuki egonya!