IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
BALAPAN



Keadaan Karin kembali seperti semula, berusaha menutupi sakit hatinya.


" Ehem! Udah bangun Lo?" tanya Karin, ketika melihat Devian bersandar di kepala ranjang sambil memejamkan matanya.


" Hmm! Kemana Lo? Gak guna banged jadi istri! Kenapa gak Lo bangunin gue?"


" Malas!"


Ingin sekali Karin melempar sandal tepat ke arah mulut Devian, enak saja mengatakan gak guna! Sedari tadi dia bersusah payah memastikan apakah panas Devian mulai turun atau tidak.


" CK! Cepat bantu gue! Gue mau mandi."


" Huh? Lo masih panas. Gue bantu lap aja ya?"


" Udah cepat bantuin gue ke kamar mandi! Lebay banged pakai acara lap! Lo kira gue sakit parah?"


" Harapannya gitu sih!" Dongkol Karin.


Namun, Karin tetap mengantarkan Devian di depan pintu kamar mandi.


" Pergi sana!"


" Tenang gue gak tertarik sama Lo!" Jawab Karin.


Karin terus ngedumel sekalipun Devian sedang berada di kamar mandi.


" Bagusnya gue biarkan aja! Sampai dia sakit parah, terus gue ambil alih tuh perusahaan! Untung pemikiran gue gak sampai kesana tadi! Dasar suami gak punya hati!"


" Siapa yang gak punya hati?" tanya Devian tepat di belakang Karin yang sedang menepuk-nepuk bantal tidur barangkali ada debu.


" Suami gue!" balas Karin yang masih tak sadar.


Eh?


" Ehem! Maksudnya---,"


" Apa? Enak ya ngomongin gue dibelakang?" Devian menjewer telinga Karin.


" Ouch! Sakit Devian! KDRT Lo!"


" Gak peduli!"


" Lepas!" Karin menatap sinis Devian sambil tersenyum smirk.


Tangan yang awalnya berusaha melepaskan jeweran Devian, mulai beralih ke leher lalu menjalar ke dada Devian.


" Mesum Lo!" ucap Devian menyingkirkan tangan nakal Karin.


" Cie! Jantung Lo berdetak tuh!" Karin tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Devian seperti anak gadis yang hendak digoda.


Padahal Karin berani melakukan karena Devian memakai baju, jika saja Devian melepas baju dan memperlihatkan otot perutnya. Bisa dipastikan Karin-lah yang salah tingkah.


" Owh! Naughty girl ya!" Devian membalas perlakuan Karin, kini berbalik dirinya yang melakukan hal sama.


" Ih, awas! Dasar mesum! Udah jelas masih sakit!" oceh Karin sambil berusaha menghindar dari Devian.


Devian tertawa bahagia melihat reaksi waspada Karin, dengan gerakan cepat tangan Devian memegang pinggang Karin dan satunya lagi menjalankan pembalasan.


" Devian! Dosa tau!"


" Gak sayang." Karin rasanya ingin menampar wajah menjijikkan Devian, bisa-bisanya mengedipkan sebelah mata kearahnya.


" Persis seperti om-om mesum!" Perkataan Karin berhasil menghentikan aksi Devian.


" Pala Lo om-om mesum!"


Setelah-nya Devian menghempas tubuhnya ke kasur yang baru dirapikan oleh Karin.


" Lo sakit atau gak sih? Heran gue, masih ada aja tenaga!"


" Gue cuma demam, bukan sakit jantung!" Devian memejamkan matanya, memikirkan cara cepat menyingkirkan ibu tiri Devian.


" Pergi sana Lo! Ganggu ketenangan gue!" Karin pergi begitu saja tanpa protes, Muak melihat wajah Devian.


...****...


Besok harinya, Keadaan Devian mulai sehat.


Devian yang keras kepala memaksakan diri untuk bekerja.


Entah naluri sebagai istri, Karin merasa khawatir dan memutuskan menemani Devian kerja.


Kali ini tak ada sopir ataupun sekretaris Juna yang menjemput. Devian ingin mengendarai BUGATTI CHIRON kesayangannya.


Sekitar beberapa menit, mobil mewah Devian memasuki parkiran khusus CEO.


Karin turun dengan elegannya, namun seorang wanita merusak situasi.


" Tuan Devian!"


" CK! Gue kira udah tiada, di apartemen." gumam Karin pelan, kesal Mia menghancurkan mood-nya.


" Hmm!"


" Terima kasih ya, tuan atas tempat tinggalnya." ujar Mia lembut.


Karin menampilkan wajah ngeselin ke Mia.


" Tu-tuan Devian, tunggu!"


" Saya tidak lagi tinggal di apartemen tuan, saya sadar seharusnya menuruti keinginan ibu, Bukannya melawan."


Mia tersenyum senang, berkhayal kalau Devian tersentuh mendengar perkataannya.


Dan Devian mengira Mia wanita baik yang menyayangi ibunya.


" Oh, baguslah!" Devian tidak mau meladeni Mia, pikirannya sekarang memfokuskan pada ibu tirinya.


Sikap Devian Kemarin, hanya sebatas kasihan!


Mia yang tak bisa berkata-kata lagi, termenung. menatap kepergian Karin dan Devian.


Pikirnya, bukannya Devian mulai baik padanya? Kenapa sekarang jadi berbeda?


Apa karena Karin?


Mia berdecak sebal, semakin membenci Karin.


...*****...


" Jadi Lo mau ikut balapan itu? Nyawa Lo berapa sih Devian!" Hari ini mereka kembali membahas cara menyingkirkan ibu tiri Devian.


Namun, ocehan Karin yang tak terima Devian ikut balapan mobil hanya karena pimpinan sindikat black mengadakan pertandingan ilegal .


Memang tujuan Devian hanya ingin mengetahui siapa pimpinan sindikat black, tapi gak harus balapan juga, kan?


Karin heran dengan jalan pemikiran suami keras kepalanya!


" Malam ini, jam 12. Oke! perintahkan 2 orang suruhan menyamar menjadi penonton"


Sekretaris Juna mengangguk.


Dia mengerti tuannya ikut balapan hanya untuk senang-senang, walaupun alasannya juga ingin mengetahui siapa pimpinan sindikat black.


" Aish! Baru juga sembuh! Udah sok-sokan balapan."


" Jangan lupa kurung dia di kamar! Kita tidak mungkin membawa wanita berisik."


" Enak aja! Gue ikut! Pesona memikat gue hebat. Mana tau pimpinan sindikat tertarik sama gue, terus jadi mudah menyingkirkan ibu tiri Lo!" khayalan Karin.


Devian melemparkan bantal sofa ke wajah Karin, lalu menyuruh sekretaris Juna kembali bekerja.


" Eh, sirik aja jadi suami!"


Devian tak lagi meladeni pembicaraan tidak jelas Karin, Sebaliknya Karin senyum -senyum sendiri.


Harapannya beberapa langkah lagi, ibu tiri Devian dan semua permasalahan di keluarga Devian selesai!


Jika waktu itu tiba, Karin akan berjuang mendapatkan cintanya Devian.


Tanpa dipedulikannya kalimat HUJAN SEBELUM BADAI.


Khayalan memang indah, tapi kenyataannya berbanding terbalik.


...****...


Malam harinya tiba,Devian telah berada di sirkuit balap.


" Sekretaris Juna! Dia gak akan mati, kan?"


" Tidak nona!" jawab malasnya, dikarenakan pertanyaan yang entah ke-berapa kali ditanyakan oleh Karin.


" Serius-lah?"


Karin melihat kebelakang, ternyata sekretaris Juna sudah menjalankan misinya.


" Huh, dasar! Pamit dulu,kek! Sekretaris sama bos sama aja!" omel Karin tak memperdulikan beberapa orang melihatnya.


DI LAIN SISI


" Udah lama gue gak menghirup udara kebebasan!" ujar Devian, sesekali matanya mencari wajah yang sekiranya pimpinan sindikat black.


Balapan segera dimulai, motor Devian segera masuk ke arena balapan. Suara deru motor yang lebih dari satu saling bersahutan.


BRUM


BRUM


BRUM


Tak lama setelahnya, seorang wanita berpakaian minim muncul guna memberikan aba-aba START. Wanita itu mengibarkan bendera hitam ke udara, lalu berteriak mengatakan ' MULAI'.


Para pembalap langsung menancapkan gas semaksimal mungkin, mengadu kecepatan mereka.


Devian tersenyum senang tatkala dirinya yang memimpin di depan. tetapi beberapa menit kemudian, Devian mengumpat tatkala salah satu pembalap menggantikan posisinya.


Sementara itu, Karin yang tengah asik melihat sekitar harus terganggu karena tiga orang pria mendekatinya.


...Mengakibatkan perhatian penonton teralihkan....