
Sejak Karin terbangun, Devian terus menemani istrinya. Pria berwajah tampan itu menggenggam tangan Karin. Devian tidak sekalipun beranjak dari Karin, bagaikan karet yang tak bisa putus.
Sesekali Devian mencium tangan Karin juga mengelus rambut wanitanya.
" Bangunlah sayang.Kamu belum sarapan, bukan?" ucap lirih Karin, tau sejak malam sampai pagi ini Devian hanya duduk diam di sampingnya.
" Sayang? Kamu sarapan,ya?" tak mendapati respon dari Devian, Karin kembali mengulang.
" Aku tidak bisa makan, my sunshine! Setelah tau apa yang terjadi, aku bahkan sulit mengatur nafas. Aku ta--kut...,"
" Hei, tenanglah! Ur sunshine and ur little sunshine akan baik-baik saja." Karin berusaha menenangkan Devian.
Sedari tadi Devian terus saja menangis dan berulang kali berkata takut.
" Lihatlah ini! Kamu seperti bayi yang takut kehilangan ibunya." canda Karin.
" Ya, aku bayi besar!"
" Uuh, suamiku sedang merajuk!"
" Karin, stop bertingkah baik-baik saja! Kamu bahkan menyembunyikan penyakit ini. Dan tidak mengatakan bahwa kakimu mulai bengkak karena penyakit ini! Kenapa kamu tidak mengatakan apapun, padaku? Kamu juga tidak mengeluh. Kamu membuatku terlihat seperti suami egois dan bodoh yang tidak tau kondisi istrinya."
Karin mengulum senyum-nya." Siapa yang bilang kamu egois dan bodoh? Bagiku kamu adalah suami pengertian dan pintar, kok! Jangan berkata seperti itu lagi ya, my lovely husband!" Karin mengelus pelan rambut halus Devian. " Aku tidak mau kamu khawatir. Aku bungkam karena tidak ingin kamu khawatir berlebihan." lirih Karin menunduk merasa bersalah telah menyembunyikan penyakit ini.
" kamu seharusnya mengatakan tentang ini sejak awal, sayang. Kamu seharusnya tetap meminum pil kontrasepsi! Aku memang menginginkan anak, tapi aku tidak mau keinginan ini menyakiti dirimu!" Devian tidak bisa menerima alasan yang diberikan sunshine-nya.
" Jangan khawatir, sayang! Aku dan ur little sunshine pasti baik-baik saja. Kamu tau? Saat mama mengandung kami, dia juga mengalami hal ini. Tapi, mama yakin semuanya akan baik-baik saja. Meskipun salah satu dari kami harus pergi saat persalinan." Ya. Orang tua Karin pernah berada di posisi ini saat mengandung Karin dan saudara kembarnya, tapi sayang kembarannya meninggal saat dilahirkan.
Maka dari itu, Karin selalu ditekan sempurna agar bisa menjadi ahli waris mengingat dirinya anak tunggal. Namun, kedatangan Angel merubah segalanya. Karin yang dulu hanya pasrah mengikuti aturan orang tuanya, mulai berani mengutarakan perasaan tertekan dan cita-cita yang selalu dia impikan.
" Karena itu, dulu aku melakukan berbagai cara agar kamu bisa menjauh dari Angel! Aku ingin balas budi, karena angel merubah pemikiran kedua orang tuaku." bumil cantik itu tersenyum manis." Dan aku tidak menyangka lelaki yang ku paksa menikah, sekarang mencintaiku."
" Jadi, jangan khawatir apalagi takut suami tersayang-ku! Kalau kamu terus begini, aku jadi tidak bersemangat untuk berjuang."
Devian masih saja diam.
Karin tau Devian kalut, perlahan dia menarik tangan Devian dan meletakkan ke arah perutnya.
" Percaya padaku, sayang! Aku dan ur little sunshine akan berjuang melawan penyakit ini." ucap Karin.
Tangan Devian perlahan bergetar. " Aku takut kehilanganmu." Devian terisak sambil ketakutan. Di dunia ini, hanya Karin tumpuan dan poros hidup Devian. Devian tidak bisa membayangkan bagaimana kedepannya jika wanitanya tidak berada di dekatnya.
Melihat itu, Karin langsung mendekap sang suami erat. " Aku akan berjuang semaksimal mungkin untuk bertahan, agar suamiku tidak kehilanganku."
...----------------...
Malam harinya Devian demam tinggi. Kondisinya turun drastis akibat stress dan kelelahan.
" Sunshine..." Setelah percakapan pagi tadi, Devian mendadak menjadi manja. Dia terus merengek tak mau menjauh dari Karin.
" Hmm."
" Jangan pergi ya?"
" Aku akan berusaha." Wajah Devian mendadak lesu.
" Bagaimanapun keadaanmu aku akan mendampingi, menjaga dan merawat sunshine-ku! Aku juga harus berusaha dan tidak akan membiarkan sunshine dan little sunshine berjuang tanpa diriku!" tekad Devian.
" Kalau begitu, maukah suamiku menuruti kemauan ngidam sunshine-nya?" goda Karin.
" Kamu ngidam apa? Aku akan berusaha menuruti semua kemauan kamu!"
" Ya! Katakan, sunshine-ku ini ingin apa?"
" Aku mau suamiku bernyanyi lagu potong bebek angsa di lobi rumah sakit!" ujar Karin bersemangat dengan mata berbinar.
Glek!
Devian menelan ludahnya." Sunshine, a--aku sepertinya masih demam. Entah kenapa badanku rasanya lemas semua." Devian tiba-tiba saja membaringkan badannya di ranjang khusus pasien yang membuat Karin terpaksa bergeser sedikit.
" CK! Katanya akan menuruti semua keinginanku.Dasar buaya darat!"
Devian menarik tangan Karin pelan meminta dielus kepalanya." Sebenarnya, aku tidak bermaksud menolak. Tapi, untuk yang satu itu---,"
" Banyak alasan!" potong Karin. " Kalau gak mau, bilang aja!" Karin memasang wajah sedih yang membuat Devian merasa serba salah.
Oh, ayolah! Dia dikenal sebagai pebisnis kejam nan dingin. Bagaimana mungkin dia harus menjatuhkan image-nya di lobi rumah sakit dengan bernyanyi lagu
' potong bebek angsa'!
" Hmm, bagaimana kalau nyanyi disini saja? Emang kamu mau suara bagus dan wajah tampanku ini dinikmati semua orang?" Devian berharap negosiasi ini berhasil.
" Apa salahnya?"
Benar kata pepatah jangan terlalu berharap pada ekspetasi." Sunshine, aku akan bernyanyi tapi hanya untuk kamu dan little sunshine. Aku tidak mau membagikan suara dan wajah tampanku secara gratis pada orang asing!" Devian mendusel wajahnya pada dada Karin.
" Uhh, ucapan buaya darat ini sungguh manis! Tapi, karena aku istri yang baik dan pengertian. Maka aku izinkan kamu bernyanyi di ruang ini, dengan satu syarat lagunya tetap 'potong bebek angsa'."
" Baiklah." dengan senang hati diterima, karena Devian sadar dia memang selalu malu-maluin jika di hadapan istrinya.
Devian pun mulai bernyanyi.
...Potong bebek angsa...
...Masak di kuali...
...Nona minta dansa...
...Dansa empat kali...
...Sorong ke kiri, Sorong ke kanan...
...Lala Lala 3x...
" Yeay! Selesai sunshine. "
" Ihh, lala-lala nya salah tau! Kamu juga gak sambil berjoget!" protes Karin.
" Tadi gak ada perintah jogetnya, kok! Kenapa sekarang ada?"
" Ada! Kamu-nya yang gak dengar. Udah ayok ulang lagi." Karin menyiapkan kamera merekam aksi memalukan suaminya. Dia bahkan tertawa lepas, menonton joget kaku dari pria yang dicintainya.
Sedangkan Devian dia malah keasikan mempermalukan diri ketika melihat tawa lepas dari wanitanya.
puas tertawa dan sedikit kasihan melihat suaminya. Karin pun meminta Devian kembali mendekat.
" Terimakasih suamiku! Sunshine-mu ini beruntung mendapatkan suami seperti kamu. Suami yang mengedepankan kebahagiaan wanitanya terlebih dahulu." Karin mencium hidung mancung Devian lalu kembali melanjutkan ucapannya." Aku tidak menyesal mengambil keputusan ini, karena aku percaya kedepannya akan baik-baik saja."
Hati Devian berdegup dengan sangat kencang. " Aku juga berterima kasih kepada sunshine- ku ini. Terimakasih telah memaksa-ku untuk menikahi dirimu. Karena, kalau itu tidak terjadi. Mungkin aku tidak tau rasanya dicintai dengan tulus. Dan untuk keputusan kamu, meski sedih aku akan tetap memberi segala bentuk dukungan pada my sunshine."