IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Menjadi Kunci Cadangan



Karin sedang beristirahat di kamar Devian, rencananya dia akan mencari tau segala rahasia mulai dari mansion keluarga Devian.


Tok! Tok!


" Papa?"


" Kamu kesini bersama Devian?"


" Maaf papa, Devian akhir-akhir ini sibuk." Karin menundukkan kepalanya, " Hmm! Papa apa bisa kita membicarakan hal penting di sini?" langkah pertama harus mencari tau dari orang yang paling dekat, salah satunya papa Teo. Entahlah, bagaimana reaksi papa Teo jika membahas rahasia masa lalu.


" Tentang apa?"


" Papa masuk dulu, karena ini sangat penting!" Untung saja Devian pernah mengatakan tempat paling aman dan tak bisa disentuh oleh orang lain adalah kamarnya. Jadi, baik ibu tiri maupun adik tiri Devian tidak akan bisa mengetahui apa yang mereka bicarakan.


Sesaat hanya keheningan yang tercipta.


" Maaf kalau ini akan membuat papa tersinggung, tapi Karin harus melakukan semua ini, demi kebahagiaan Devian."


" Apa kamu sangat mencintai-nya, nak?"


" Ya! Karena itu Karin memaksakan diri untuk ikut campur tentang Devian." Papa Devian menganggukan kepalanya pelan sambil menatap serius menantunya.


" Bolehkah Karin mengetahui rahasia masa lalu yang disembunyikan versi papa? Ini terdengar tidak sopan! Tapi, Karin ingin menyelesaikan permasalahan berantai ini. Karin juga ingin Devian tidak hidup dalam tekanan." Keheningan beberapa menit.


" Kamu tau, nak? Papa sadar Devian sangat membenci papa karena papa menutupi perihal kejadian di masa lalu. Tapi, semakin bertambahnya umur, satu hal yang papa ingin lakukan. Menceritakan semua yang papa tau, lalu melihat reaksi Devian atas semua cerita itu." papa Teo tersenyum sedih.


" Apa rahasia ini papa juga terlibat?" tanya Karin hati-hati.


" Papa tidak berharap kamu akan percaya. Saat itu, ibu kandung Devian seringkali sakit-sakitan, paling parahnya ketika papa memberikan teh hijau pada ibu Devian. Sehabis meminum teh, Ibu kandung Devian muntah darah. Papa panik, saat di rumah sakit dokter mengatakan ibu kandung Devian di racun." papa Teo menatap tangannya yang gemetar hebat," Papa bukan pembunuh! Ketika mendengar fakta itu, papa segera mendatangi kepala pelayan, ibu kandung sekretaris Juna. Dan hal sama terjadi pada ibu kandung sekretaris Juna. Papa menemukan ibunya tergelak tak bernyawa, tanpa barang bukti apapun." Karin menggenggam tangan papa Teo. Satu fakta yang baru diketahuinya, juga keadaan papa Teo yang masih menyimpan trauma atas kejadian masa lalu.


" Papa menutupi ini semua agar Devian dan sekretaris Juna tidak menghakimi papa?"


" Ya! Maaf ini terkesan egois. Papa bukan pembunuh, papa tidak sanggup melihat mereka membenci papa."


" Setelah kematian ibu Devian, apa alasan papa menikahi ibu tiri Devian? Bukankah papa harusnya merasa bersalah?"


" Karena ibu tiri Devian memiliki rekaman kejadian, yang terlihat seperti papa sudah merencanakan semua itu! Setiap malam papa selalu ketakutan, kalau rekaman diketahui oleh Devian. Tetapi, berkat kedatangan kamu. Papa berkeyakinan kamu bisa melawan ibu tiri Devian. Melihat diri kamu yang pantang menyerah, meyakinkan papa untuk memberikan perusahaan kepada Devian."


" Jaga diri kamu baik-baik, nak! Hanya itu kejadian versi papa. Papa harap kamu bisa menemukan kepingan puzzle itu. Papa tidak berharap kamu akan percaya pada semua cerita papa. Jika kamu bertanya, kenapa papa dengan mudah menceritakan kejadian itu. Karena papa tau kamu orang yang berpikir lebih dalam. Kamu orang yang tidak mudah percaya pada satu cerita saja."


Karin tersenyum menatap kepergian papa Teo.


" Maaf papa, Devian harus tau informasi ini." Karin mematikan rekaman, lalu menyimpannya ke flashdisk. Flashdisk tempat penyimpanan bukti kejadian sebenarnya di masa lalu. Setelah terbongkar, Karin akan memberikan Flashdisk pada Devian.


Suda beberapa hari tinggal di mansion keluarga Devian. Tidak ditemukan hal mencurigakan dari para pelayan ataupun adik tiri Devian. Karin bahkan meretas CCTV dan mengecek beberapa tempat yang di anggap biasa dijadikan tempat penyimpanan rahasia.


" Huh! Pantas saja Axel bekerja sama dengan wanita jahat itu! Ini benar-benar sulit!" Karin menatap cincin pernikahan dirinya.


" Untuk membuka satu rahasia harus ada kunci cadangan yang bisa membongkar rahasia yang berantai ini!" Karin kembali menegakkan tubuhnya ketika sebuah ide terlintas di kepalanya, " Aku harus membagi ide ini kepada Axel!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Devian dan sekretaris Juna sekarang berada di sebuah gubuk bersama seorang Kakek penyakitan.


" Hei Juna! Benarkah Kakek ini mengetahui-nya?" bisik Devian.


" Ya tuan!"


" Ehem! Sungguh anak muda sekarang tidak sopan!" Kakek tua menghentakkan tongkatnya yang membuat Devian juga sekretaris Juna terkejut.


" Dasar kakek tua mengesalkan!" Devian menggerutu tertular sifat Karin.


" Huh! Beberapa tahun lalu seseorang juga mencari kebenarannya. Sangat menyesal mengingat dulunya saya lebih tergiur dengan uang."


" Lelaki matre!" Devian segera menutup mulutnya saat keceplosan menyuarakan isi hati.


" Heh kalian! Kalau bukan karena saya yang sudah tua, tidak ingin lagi menyimpan perasaan bersalah. Tidak Sudi saya menerima tamu seperti kalian."


Devian mengutuk dirinya yang tertular kelakuan Karin. Istrinya yang beberapa hari masih di negara asal mereka.


" Maafkan tuan saya." ucap sopan sekretaris Juna.


" Ck! Saya hanya mau mengatakan sekali! Jadi dengarkan baik-baik."


FLASHBACK ON


Kembali ke masa lalu.


Sudah menjadi keseharian menjadi pemulung, lelaki berumur 40 tahun yang sedang beristirahat di rerumputan terpaksa terusik mendengar mobil berhenti diikuti dengan suara rintihan kesakitan seorang wanita.


Diam-diam mencari tempat persembunyian sambil melihat kejadian mengerikan menurutnya.


Seorang wanita yang umurnya diperkirakan sama, keluar dari mobil menatap angkuh wanita yang sedang merintih kesakitan.


" To---tolong!"


" Diamlah! Segala yang berkemungkinan menghalangi ambisiku, akan aku habisi!" wanita angkuh menekan kakinya ke dada korban.


" Siksa dia!"


Suara kesakitan tidak berhenti, lelaki berumur 40 tahun shock melihat wanita sekejam itu. Ingin menolong, tapi rasanya percuma. Pengawal wanita kejam itu sangat banyak.


" Dia sudah mati?CK! Cepat sekali!" kesalnya, " Sterilkan semua jejak yang ada ditubuhnya! Jangan sampai ada bukti secuil pun!"


Lelaki berumur 40 tahun itu hendak pergi, tetapi terhenti oleh tembakan yang hampir mengenai tubuhnya.


" Apa yang kau lakukan disana!?"


" Maaf Nyonya! Saya tidak sengaja lewat." memakai bahasa isyarat. Untung dirinya mempelajari bahasa isyarat.


" Apa kau melihat semua kejadian?" Secepatnya lelaki berumur 40 tahun menggelengkan kepalanya.


" Berikan dia uang dan segera pergi dari sini!"


" Apa kita tidak membunuh-nya nyonya?"


" Dia bisu! Biarkan saja lelaki bodoh itu pergi, jika sampai kejadian ini diketahui, kita akan mencari dia!"


Setelah diberikan uang dan ancaman, lelaki berumur 40 tahun berlari meninggalkan tempat tersebut.


FLASHBACK OFF


" Apakah wanita ini?" Devian menunjukkan foto ibu tirinya kepada kakek tua.


" Ya! Dia wanita kejam! Saya bahkan harus berpura-pura bisu demi keselamatan!"


" Setelah kejadian, apakah ada seorang pemuda yang mencari bukti?"


" Ya! Saya merasa bersalah menutupi kebenaran. Sewaktu itu, saya terlalu takut mati, ditambah tergiur dengan uang yang diberikan. Jadi, saya memilih menutup mata." meski perasaan bersalah tidak hilang, setidaknya kakek tua lega sudah memberitahu kebenaran kepada dua pemuda ini.


Jika kematian menjemputnya, Dia hanya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada anak laki-laki yang dulu menangis memohon kebenaran tentang ibunya. Berharap dua pemuda di hadapannya bisa menyampaikan kepada anak laki-laki itu.