IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
PARA VVIP



" Ck! Lepaskan bodoh!" Karin menendang bagian inti lelaki yang memegang lengannya.


Akhh!


" BERANI SEKALI KAU!" merasa tidak terima dengan perlakuan Karin, kedua temannya pun memukul Karin bersamaan.


Bugh!


" Aww!" Karin memegang perutnya yang terkena bogeman mentah dari mereka.


" SIAL! DASAR LELAKI BODOH! BRENGSEK!BINGONG! LEMAH! PENGECUT!" berbagai macam umpatan Karin ucapkan. bahkan Karin melempar makanan ke arah mereka. Makanan yang tadi dibeli untuk menemani dirinya melihat balapan.


Di waktu bersamaan juga dua orang suruhan Devian mendekati Karin.


" Gak usah bantu gue! Biar gue sendiri yang kasih pelajaran sama dua lelaki BODOH ini!" tak lupa Karin menekankan kata 'Bodoh' sambil menunjuk mereka dengan tatapan geram.


" Tapi nona ----,"


" Diam! Kalian pergi sana, selesaikan perintah Devian." Karin langsung membalas pukulan mereka dengan melempar sepatunya. Selanjutnya, dia menendang mereka.


Untung semasa kecil orang tua Karin mendaftarkannya taekwondo.


Perkelahian pun terjadi, fokus penonton tidak lagi ke balapan. Malahan, sorakan penonton mendominasi perkelahian mereka.


Tidak sedikit para cowok mengagumi Karin. Bahkan sekretaris Juna yang tadi menghilang, tergesa-gesa melerai perkelahian.


Dia hanya khawatir rencana mereka gagal karena ulah istri bosnya.


" NONA HENTIKAN!" banyak penonton menyoraki sekretaris Juna, sedangkan Karin yang masih ngamuk tidak memperdulikan teriakan sekretaris dari suami menyebalkan-nya.


" Hahaha! RASAKAN ITU! SAKIT,KAN? DASAR COWOK ALAY!" sepertinya Karin menikmati perkelahiannya. Dan kedua cowok yang merasa harga dirinya jatuh, terus saja menyerang tanpa sadar bahwa teman satunya meninggalkan mereka karena tidak ingin menanggung malu, akibat dikalahkan oleh perempuan.


" KARIN STOP!" itu bukan suara sekretaris Juna, melainkan Devian. Ternyata balapan telah selesai tanpa adanya pemenang. Ya, karena Devian dan pembalap yang tadi menyainginya memasuki start bersamaan.


Devian memeluk Karin lalu mengusap wajah Karin dengan sebelah tangannya.


" Sadar istri bodoh! Lo jelek banged kalau ngamuk," Devian tertawa pelan tatkala Karin memperlihatkan wajah merajuk.


" Mereka godain gue! Meski gue cantik, gak seharusnya dipegang-pegang! Cukup Di kagumi aja," curhat Karin pada Devian.


" Iya gue tau, biarin aja. Ayo pergi! Gue ngantuk," ajak Devian.


Seketika Karin tersadar dengan rencana awal mereka, " Eh? Rencana kita?" Devian menghembuskan nafas pelan.


" Pikirkan besok aja."


" Gak bisa ---," sebelah tangan Devian menutup mulut Karin, tanpa peduli Karin sedang menatap tajam dirinya.


...----------------...


Sepasang manusia baru tiba sehabis balapan, mereka saling menatap tajam.


" Puas Lo caper, ha?"


" Gue udah bilang! Si bangsat itu yang godain gue! Bodoh banged gue biarin aja!" Devian menghembuskan nafas kasar sambil mengacak-acak rambutnya.


" Emang gak dapat, petunjuk disana?"


" Enggak. Gue pikir, yang ikut balapan juga salah satu dari mereka ," geram Devian.


" Tebakan gue mereka bergerak dibelakang layar. Balapan itu memang milik mereka, tapi taruhan mereka bukan di balapan!"


" Maksud Lo?" Karin berdecak melihat kebodohan Devian.


" Mereka bertaruh siapa yang akan menang! Lebih tepatnya, para VVIP mengeluarkan sejumlah uang untuk menonton di balik layar dan bertaruh orang mana yang akan menang!"


" Sial! Gue pernah dengar tentang itu! Berarti, gue harus nyamar jadi VVIP biar gue tau siapa bos mereka?"


" Ya! tapi ini gak semudah yang kita pikirkan." Devian mengangguk setuju. Karin yang merasa lelah dengan semuanya, memutuskan istirahat. meninggalkan Devian yang masih sibuk dengan rencana di otaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Gue mencintai Lo." bisik Karin, setelahnya mengendap-endap keluar dari rumah.


Jika ditanya, kapan rasa cinta itu tumbuh? Karin tidak tau, yang jelas ketika sudah mencintai seseorang. Dia berjanji pada dirinya untuk kebahagiaan seseorang yang dia cintai.


Karin kembali ke tempat balapan berharap mendapat petunjuk disana.Berkat pengajaran dari Mateo, Karin mulai terbiasa berpikir lebih dalam. maka dari itu, dia berfikir pasti ada petunjuk meski sedikit karena balapan ini dijadikan ajang taruhan para VVIP.


" Ughh, capek juga!" keluhan Karin yang terus menelusuri sekitaran balapan, Sampai dia tidak sengaja menemukan lorong di basement paling ujung.


" Bos!" Karin segara mencari persembunyian ketika melihat beberapa orang hormat pada seorang laki-laki bertopeng yang masih tampak muda.


" Apa bos besar yang mereka bilang itu masih muda?" gumam Karin.


" Bagaimana bisa ada keributan saat balapan itu! Gara-gara kalian para VVIP minta diulang balapan ini! Awas saja terulang lagi, nyawa kalian pengganti nya!" Karin menatap dalam kegelapan punggung laki-laki yang dipanggil bos besar.


Merasa terlalu lama berada di tempat berbahaya, Karin memutuskan menjauh dari lorong itu. Sampai dia tak sengaja menabrak seseorang " Aww!" teriak Karin sambil menatap seseorang yang menabraknya.


" Hai, kita ketemu lagi."


" Lo?"


" Axel!" menjawab kebingungan Karin.


" Ngapain Lo disini!" Axel mengangkat sebelah alis nya seolah heran dengan pertanyaan Karin.


" Pertanyaan itu,lebih cocok untuk kamu. Apa kamu gak mendengar informasi kalau tempat ini sudah lama ditutup karena berbahaya?"


" Gak tau!" Karin membenarkan topinya lalu pergi begitu saja.


" Menarik." Axel mengambil gelang Karin yang terjatuh. " Kita akan ketemu lagi" ucap Axel menatap kepergian Karin tanpa berniat memberikan gelang itu.


...----------------...


MANSION DEVIAN


" Habis darimana, Lo?" Karin mengumpat tatkala usaha dia yang berhati-hati dalam memasuki rumah tetap ketahuan juga.


" Sini Lo!"


" Aduh! perut gue sakit suami! Gue ke kamar bentar, ya?" Devian segera menarik jaket Karin.


" Sial! Lo ketemu sama cowok?"


" Huh?" cengo Karin.


" Jawab!" Karin mencium badannya, dan teringat dia sempat menabrak lelaki yang bernama Axel.


" Gue gak ketemuan sama cowok! Gue cuma gak sengaja nabrak cowok aneh!" jelas Karin.


" oh,ya?" Karin menganggukkan kepalanya cepat. " Terus ngapain Lo keluar?" tanya Devian sambil mengelus-elus kening Karin.


" Ehem! Jangan dekat-dekat, dong! gue-nya jadi gugup!" sedikit menjauh Karin pun melanjutkan perkataannya," Gue balik ke tempat balapan tadi! dan Lo harus tau! Bos besar sindikat black itu masih muda!"


" Terus?"


" What?"


" Lo belum lihat wajah nya, kan?" spontan Karin menggelengkan kepalanya.


" Tapi, gue dapat informasi! Balapan itu akan diulang, dan gue perintah-kan Lo harus jadi salah satu VVIP itu!" tekan Karin.


" Terus Lo jadi apa?"


" Gue bakal jadi para wanita bayaran." jawab-nya dengan santai.


" Tugas Lo, temanin gue!" Devian menjewer telinga Karin, sebelum menjauh dari manusia yang akan berubah menjadi singa betina.


" Devian! sakit suami jahanam!" teriak Karin menggelegar di seluruh mansion.Sedangkan yang diteriakkan, tertawa puas berhasil menjahili singa betina mansion ini.


Kesal dengan kelakuan Devian, Karin membalasnya dengan mengunci pintu kamar ketika melihat Devian sedang berada di kamar mandi, setelah itu pergi ke kamar tamu melanjutkan istirahat tertundanya tadi.