IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Peraturan VVIP



HOSPITAL


Sekretaris Juna sibuk mengurus administrasi dan segala hal tentang Mia. Sedari tadi Karin hanya menatap pintu ICU yang kini menangani Mia. Berulangkali Devian menyuruh duduk tetapi tidak didengarkan olehnya.


PLAK!


Bunyi tamparan keras menyadarkan Karin.


" Dasar perempuan murahan! Pembunuh!" Karin tertawa sinis.


" Pembunuh? Kata itu lebih cocok untuk anda! Anda seorang pembunuh yang paling kejam! Seorang Pembunuh mental dan psikis anak! Bahkan anda tidak cocok dipanggil seorang ibu!" Ibu Mia tidak terima dikatakan seorang pembunuh terlebih pikiran dan hatinya sedang kacau karena menerima kabar anaknya bunuh diri dengan cara menabrak dirinya ke mobil. Salah satu pekerjaan yang sering dia lakukan ketika membutuhkan uang.


" Apa! Tidak terima? Bagaimana rasanya melihat anak penurut anda terbaring di ranjang rumah sakit, huh?! Pemikiran sesat anda yang menjadikan keadaan seperti ini!" Karin tersenyum sinis, " Seharusnya anda memberikan contoh dan ajaran yang baik. Tapi apa? Anda hanya seorang ibu yang haus akan harta juga kekuasaan!" ucapan Karin persis dengan anaknya. Ibu Mia awalnya ingin menyalahkan Karin, namun perkataan yang dilontarkan Karin membuat dirinya tersadar kebahagiaan sesaat yang dia impikan tidak lebih berharga dari kehidupan yang harusnya dipenuhi rasa syukur.


Ibu Mia menangis sejadinya melihat anak satu-satunya terbaring lemah di ruang ICU. Kata andai menjadikan penyesalannya bertambah.


Andai saja dia tidak gila harta.


Andai saja dia tidak mendengarkan hinaan orang-orang tentang keadaannya.


Andai saja dia mendukung pemikiran baik anaknya .


Hanya kata andai yang menemani tangisan nya.


Sekitar 2 jam dokter yang menangani Mia keluar.


" Bagaimana keadaan pasien, dok?" tanya Karin.


" Maaf kami tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien." Karin tau ini. Selama di perjalanan Yang dipikiran nya adalah apakah Mia akan selamat? Karena Karin sempat memeriksa denyut nadi serta detak jantung Mia yang mulai melemah.


Ibu Mia menangis tersedu-sedu sambil menjambak rambutnya.


" Keadaan pasien saat dibawa ke rumah sakit setelah mengalami tabrakan sudah tidak sadarkan diri. Kami, tim dokter yang menangani pasien telah melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi maaf pasien meninggal dunia karena benturan yang kuat di daerah kepala." penjelasan lengkap dokter tersebut.


" Kepada pihak keluarga dimohon mengurus prosedur formal ." Sekretaris Juna segera mengikuti dokter tersebut untuk mengurus administrasi pemulangan jenazah Mia.


Ibu Mia terus saja menangis meski pemakaman Mia telah selesai.


" Berhentilah! Lebih bagus anda berubah menjadi lebih baik dan jadilah manusia yang open minded setelah ini. Anak anda pasti akan bahagia melihat anda menjadi pribadi yang lebih baik." Karin meninggalkan ibu Mia diikuti oleh Devian.


Ibu Mia menatap kepergian Karin sambil mengucapkan kata maaf dan terimakasih dengan lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang dari pemakaman, Mereka tidak langsung pulang. Melainkan menuruti permintaan Karin yang ingin makan martabak mesir.


" Hmm enak!"


" Gak sedih lagi, Lo?" Devian berdecak sebal melihat Karin tetap asik menikmati makanan, menghiraukan pertanyaan-nya.


" Kita pulang, sekretaris Juna!"


" Jangan!" Karin menahan sekretaris Juna.


" Woi! Suami Lo itu gue!"


" Kenapa Lo dekatnya sama Juna?"


" Karena sekretaris Juna baik. Shut! Habisin makanan Lo! Habis ini kita pulang." sia-sia berdebat dengan Karin, Devian memilih menatap tajam sekretaris Juna sebagai peringatan. Namun, sekretaris Juna yang ditatap memutuskan untuk tidak peduli, karena saat ini dia lapar dan capek.


......................


Hari yang ditunggu oleh mereka sudah tiba. Entah darimana Devian mendapatkan pin yang dikhususkan untuk VVIP. Yang jelas malam ini mereka akan pergi ke tempat balapan itu sebagai para VVIP.


Karin sudah bersiap memakai dress hitam dipadukan dengan high heels hitam dan sedikit aksesoris yang membuat penampilannya memukau. Karin akan menemani Devian menjadi para VVIP, sedangkan sekretaris Juna bertugas mengawasi lorong di mana Karin berhasil menemukan sebuah informasi. Devian juga meletakkan beberapa bodyguard nya di beberapa tempat. Tidak lupa pula Devian dan Karin menggunakan topeng sebagai syarat dalam pertemuan VVIP.


Mobil sport Devian berhenti di jalur para VVIP. Mereka dituntun salah satu orang yang ditangannya memiliki tatto sama persis dengan pin yang sedang digunakan Devian.


" Apa ini semacam kode rahasia,ya?" bisik Karin pada Devian menatap pin yang digunakan Devian dijadikan sebagai alat pengenal.


" Silahkan letakkan di sensor pin yang tuan gunakan." Devian meletakkan pin nya pada sensor yang terdapat di lift itu.


" Mereka menggunakan pin ini untuk menaiki lantai yang tidak diketahui oleh siapapun jika tidak memiliki pin." Karin mengangguk setuju dengan perkiraan Devian.


" Sekalipun itu polisi tetap tidak mengetahui hal ini, kan?" Tanya Karin yang dibalas anggukan juga oleh Devian.


Benar perkiraan Devian. Lift membawa mereka entah ke lantai berapa yang jelas tidak di lantai yang angka-nya sudah tertera di lift tersebut. Lantai yang hanya bisa dimasuki oleh para VVIP.


" Sepertinya pin itu penentu segalanya. Darimana Lo dapat ini?" Karin masih penasaran bagaimana cara Devian mendapat nya.


" Karena gue kaya."


" Lo kira gue bodoh? Gue tau, tidak semua orang kaya bisa mendapatkan pin ini! Selain orang itu penguasa di salah satu wilayah dia juga harus memiliki hal atau hubungan yang bisa dikatakan sama dengan bisnis rahasia yang ada disini."


" Ya, anggap aja gue lagi beruntung." Karin berdecak sebal melihat kelakuan Devian yang sangat menyebalkan.


" Selamat malam para VVIP-ku. Kalian pasti tidak sabar menonton balapan, bukan? Maka dari itu, silahkan tentukan siapa taruhan para VVIP!" jelas pembawa acara heboh, " Kalian pasti sudah melihat di sudut kanan dan kiri sudah tertera nomor punggung pembalap. Pilih taruhan kalian dengan duduk di salah satu sudut tersebut. Lalu nantikan balapannya sebentar lagi!"


" CK kenapa tidak ada pembalap yang kemarin?"


" Benar! Kami ingin menonton pembalap yang seri itu!"


BERBAGAI OCEHAN PARA VVIP SAAT MENGETAHUI PEMBALAPNYA TIDAK SAMA DENGAN YANG KEMARIN.


" Lihat! Mereka merindukan lelaki keren ini!" bisik Devian bangga.


" Gak usah ge'er! Mereka bahkan tidak mengenal Lo!" ingin rasanya Devian mencekik Karin. Karin saja yang tidak tau betapa kerennya dia balapan waktu itu! Lagian siapa suruh sibuk berkelahi, jadinya tidak melihat seberapa keren suami tampannya ini menarik perhatian para wanita bahkan VVIP.


" Diharapkan para VVIP tenang! Jika kalian masih tidak terima, jangan salahkan kami menembak mati kalian saat ini." aura dari pembawa acara ketika mengatakan itu sangat menakutkan, " Silahkan tentukan taruhan kalian dan nikmati hidangan mewah ini, ya!" hanya sebentar pembawa acara ini mengubah suasana sekaligus moodnya.


" Apakah ada peraturan begitu?"


" Sebelum mendapatkan pin , para VVIP sudah menerima semua peraturan yang tertera sekalipun peraturan itu mengorbankan nyawa. "


" What! Kenapa Lo gak bilang! Tau gini, mending gue sama sekretaris Juna ." Karin menyesal memasuki ruangan para VVIP. seketika pemikiran buruk muncul di kepalanya.


Bagaimana kalau melanggar salah satu peraturan? Apa dia akan ditembak, juga?


" Lo gak nanya! Lagian tenang aja, Lo aman kalau mengikuti tatanan acara dengan tenang tanpa protes." Devian tersenyum geli melihat raut wajah Karin. Memang itu tujuannya membawa Karin. Melihat Karin yang selalu emosian dan memiliki kesabaran setipis tisu harus mengikuti acara tanpa mengeluh ataupun protes. ya, siapa tau Karin jadi manusia sabar setelah acara balapan.