IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Kunci Cadangan Yang Gagal



Karin membuat perjanjian pertemuan pada ibu tiri Devian. Dan disinilah mereka sekarang, duduk berhadapan saling menatap tajam.


" Sangat tidak terduga! Kau langsung mendatangiku hanya untuk mengumpulkan semua kejahatan-ku?" ibu tiri Devian tersenyum remeh, " Apa kau tidak memprediksi bahwa hari ini adalah hari kehancuran-mu!"


" Kehancuran-ku? Are you kidding me?"


" CK! Kau masih bisa tertawa? Ya, kita lihat saja sekitar 2 jam lagi!" Karin mengernyitkan keningnya tidak tau apalagi yang direncanakan ibu tiri Devian.


" Selama menunggu kehancuran-mu, bagaimana kalau kita menikmati hidangan." tawar ibu tiri Devian sangat santai.


" Agar kau bisa meracuni-ku? Oh, apa ya nama racunnya? Racun Arsenik?" Karin tersenyum miring, " Bahkan racun itu, masih bisa dideteksi oleh medis jika memiliki alat yang canggih, tapi kenapa papa Teo tidak bisa mendapatkan bukti itu? Apakah tenaga medis-nya disuap?"


Karin cukup suka dengan hasil kerja Axel. Setelah Karin mengirimkan rekaman suara pengakuan papa Teo. Axel sibuk meneliti dan mendatangi rumah sakit yang menangani ibu kandung Devian.


Untung saja Karin kembali menelpon Axel, dan mengatakan ide-nya. Jadilah, Karin mendapatkan bukti terbaru lagi, yang bisa digunakan untuk menjatuhkan lawan.


Bukankah ini teknik manipulasi yang bagus? Membuat lawan merasa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.


Dan Boom!


Lawan akan mengatakan semua-nya!


" Hebat bukan? Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui! Aku membunuh dua orang dalam satu waktu, tanpa tau siapa pembunuh sebenarnya!" ingin Karin melempar makanan yang tersaji ke depan wajah jelek ibu tiri Devian.


" Aku akui kau cukup hebat mengetahuinya, Anak bodoh itu bahkan tidak bisa menemukan kebenaran tentang ibu-nya. Sayang sekali kau lebih memilih anak bodoh itu! Seharusnya kau tetap di pihak-ku maka kau akan hidup senang."


" Senang? Kau menghancurkan kebahagiaan dua anak yang pada saat itu membutuhkan sosok ibu!" teriak Karin mewakili perasaan sedih Devian.


" Mereka yang terlebih dahulu menghancurkan diriku! Wanita bertiga itu, hidup bahagia setelah menghancurkan hidup ku!"


" Bertiga?"


" Hahaha! Kau hanya tau sebagian informasi, ya? Biar ku bagi tau. Dulunya aku adalah wanita paling bahagia, memiliki 2 sahabat lelaki, dan satu pacar yang tampan dan kaya."


" Karena kedatangan mereka, semuanya hancur! Hanya karena aku miskin! Sahabat laki-laki ku, memilih meninggalkan aku dan menikahi wanita kaya! Tak hanya itu, pacar yang selalu aku banggakan menikahi wanita hasil dari perjodohan orang tuanya! Aku dulunya bintang dipaksa meredup oleh orang yang berkuasa! Lelaki yang aku cintai bahkan tidak tau orang tuanya membayar orang untuk memperkosa ku!" Ibu tiri Devian mengeratkan genggaman gelas kaca yang berisi wine.


" Dan sekarang kau mengatakan aku menghancurkan hidup mereka? Aku disini hanya ingin kembali menjadi bintang!" Karin tidak tau siapa pacar ibu tiri Devian.


Apakah papa Teo, atau ayah dari sekretaris Juna?


" Kau kembali merebut papa Teo?"


" Hahaha! Kau pikir aku akan kembali menjalin kasih dengan lelaki yang ku cintai? Aku lebih suka membunuh-nya, bersama wanita pilihannya!"


" Jadi, papa Teo bukan lelaki itu? Kenapa kau mengancam papa Teo untuk menikahi mu?"


" SAHABATKU, HARUS KEMBALI KEPADAKU! Sayang ayah dari sekretaris Juna meninggal duluan. Jadi, aku hanya bisa mengikat lelaki itu! Bukankah sahabat juga harus merasakan apa yang dialami oleh sahabatnya?"


" Kau gila! Kau wanita paling gila yang pernah aku temui! Aku tidak tau , keluarga siapa yang kau hancurkan selain sekretaris Juna dan Devian. Tapi, sekarang kau harus menerima hukuman ini!"


" Aku gila? Mereka-lah yang gila!"


" Kau tidak harus membunuh!" teriak Karin. Untung saja tempat ini telah disewa olehnya.


" Mereka juga tidak harus membayar orang untuk memperkosa-ku! Kau perempuan sialan, tidak mengerti apa yang aku rasakan!"


PLAK!


Pertengkaran itu, terhenti ketika sebuah tamparan diberikan kepada Karin.


" Devian?" Karin masih belum mengerti situasi yang terjadi.


Kenapa Devian malah menamparnya?


" Udah gue bilang, jangan pernah ikut campur masalah keluarga gue!"


" Dev? Dengarkan gue dulu, gue berhasil---,"


PLAK!


Sekali lagi Karin ditampar oleh Devian.


" Devian!" teriak Karin menggelegar. Rasa kesal, sedih dan kecewa bercampur satu.


" Apa yang Lo lakuin disini, huh? Rencana apa lagi yang Lo buat dengan wanita jahanam ini!"


" Rencana apa!? Jangan bilang Lo terpengaruh dengan ucapan dia!?" Pantas Karin merasa aneh, kenapa ibu tiri Devian sangat mudah menyampaikan kebenaran padanya. Ternyata ada rencana busuk yang dia ciptakan.


" Apa yang dia katakan pada Lo?"


... Seharusnya Karin sadar waktu 2 jam yang diberikan oleh ibu tiri Devian. Dia menunggu Devian datang Ke negara asal mereka! ...


" Heh! Lo Bahkan bersikap playing victim?"


" Playing victim? Okey! Gue gak mau bahas ini, tapi setidaknya Lo harus nahan dia! Gue punya bukti tentang kebenaran di masa lalu!" Karin menatap ibu tiri Devian, yang masih bisa santai menikmati wine-nya.


" Lo pikir gue bakalan percaya? Karena Lo papa Teo masuk ke rumah sakit! Papa gue mengalami kecelakaan setelah Lo suruh papa menemui Lo di sini!"


" Ha? Papa kecelakaan? Gue bahkan belum menemui papa seharian ini!" sangkal Karin.


" Sekretaris Juna berikan bukti nya!"


Karin menatap bukti chat di hp papa Teo yang hampir retak, karena kecelakaan.


Sungguh, dia tidak mengirim chat itu!


Oh! Karin ingat sebelum pergi menemui ibu tiri Devian, dia meletakkan hp nya di meja makan. Dia pergi sebentar ke kamar mandi.


Jangan bilang ada seseorang yang menyalahgunakan hp nya?


" Gak! Ini bukan gue!" Karin ingin menjelaskan tapi itu akan percuma. Devian lebih percaya dengan bukti.


" Bukan Lo? Lo masih menyangkal? Dengan jelas Lo berada disini! Dan lebih mengejutkan lagi, Lo bersama dengan wanita jahanam ini!" Devian menyugar rambutnya kebelakang,


" Jangan bilang kalian mengadakan pesta setelah membuat papa kecelakaan?"


" Gue berada disini membongkar kejahatan wanita jahanam! Gue bahkan tidak tau siapa yang mengirim chat itu kepada papa , Dev!"


" Tidak tau? Ini nomor Lo, Karin! It's okey kalau Lo ngirim ini hanya ingin mengajak papa makan malam bersama. Tapi, Lo berada disini malah duduk menikmati makanan bersama wanita busuk ini! Gue lebih percaya Lo bekerja sama dengan wanita jahanam membunuh papa gue!"


" Gue gak seburuk itu Devian!" teriak Karin serak menahan tangisannya.


" Gak seburuk itu? menurut gue, Lo perempuan paling buruk yang bahkan tidak cocok bersanding dengan gue!" hina Devian.


Sekretaris Juna Bingung menghadapi situasi di depannya. Awalnya mereka tidak percaya Karin berada di restoran, atau jika benar Karin mengajak papa Teo. Karin pasti sedang menunggu sendiri bukan seperti sekarang sedang menikmati wine bersama ibu tiri Devian.


" Siapkan surat cerai secepat mungkin, sekretaris Juna! Gue tidak Sudi bersama wanita ini!" Devian membalikkan badannya meninggalkan Karin.


" Sebelum surat cerai itu datang, gue sendiri yang membuktikan ini tidak seperti yang Lo pikirkan!" sebelum pergi Karin menatap tajam ibu tiri Devian yang tersenyum.


Lihat saja karma akan datang pada wanita jahanam! Janji Karin.