IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
KEJUTAN UNTUK DEVIAN



Hari ini ulang tahun Devian, waktu terakhir Karin berjuang. Setelah berkunjung ke rumah Angel, perasaan Karin sedikit terobati. Dan sisa harinya, Karin hanya menemani Devian di kantor meski di acuhkan.


Sejak pagi Karin sudah sibuk memesan restoran, kue, dan beberapa kejutan lainnya. Untung saja Devian sudah pergi duluan, jadi Karin lebih leluasa mengerjakan semuanya.


Karin akan merayakan di dua tempat. Pertama di mansion keluarga Devian, kedua di restoran.


Tapi Karin akan menunggu di restoran! Perayaan di mansion keluarga untuk meyakini perasaan Devian. Jika Devian membalas perasaannya, Devian akan menyusul ke restoran melalui alamat yang nanti diberikan oleh pelayan mereka.


Bagaimana kalau Devian tidak datang ke restoran?


Maka, Karin harus tau diri! Dia akan menjauh karena jawabannya sudah jelas. Devian tidak menyusul ke restoran berarti Devian tidak bisa membuka hati untuknya.


Dan perjuangan Karin selama ini sia-sia.


Menjelang sore waktunya Karin menuju restoran. Namun, sebelum pergi Karin kembali memeriksa makanan kesukaan Devian yang tadi di masaknya, kue pesanan juga hiasan sederhana.


" Nanti tolong berikan alamat restoran saat Devian sampai, ya." Karin menitipkan pesan pada pelayan kepercayaannya.


" Baik nona!"


Akhirnya Karin pergi menuju restoran dengan perasaan campur aduk.


Tepat pukul jam 7 malam, Devian pulang bersama sekretaris Juna. Seharian ini dia kelelahan harus menghandle dua perusahaan sekaligus.


Langkah Devian terhenti ketika memasuki ruang tamu. Pelayan di mansion keluarganya berdiri membawa kue tart lengkap dengan lilin yang menyala di atasnya. Terlalu banyak yang Devian pikirkan membuat dia lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.


" Selamat ulang tahun tuan muda! Semoga anda selalu diberikan kebahagiaan." mereka membungkuk hormat setelah kue tart pindah ke tangan Devian.


" Terima kasih banyak." manik mata setajam elang asyik melihat lilin yang menyala, masih tidak menyangka mendapatkan kejutan seperti ini. Sudah lama dirinya tidak merayakan ulang tahun.


Kejutan sederhana yang terasa menyentuh hati, pikirnya!


" Terimakasih sama nona Karin, tuan! Nona Karin sejak pagi sibuk menyiapkan kejutan ini." Devian mengangguk.


" Dimana nona Karin?" tanya sekretaris Juna.


Pelayan kepercayaan Karin, memberikan surat kepada sekretaris Juna mengingat Devian sedang memegang kue tart.


" Sebelum membuka surat ini, lihatlah layar proyektor!" Note yang dituliskan Karin. Sebagian pelayan mulai menyalakan layar proyektor.


Devian tercengang melihat video pertama yang ditampilkan. Video saat mereka memainkan I statement, bisa dilihat Karin mengambil melalui CCTV rumah sakit.


Lanjut video kedua saat mereka melukis bersama.


Devian terus melihat rentetan video sampai kegiatan Barbeque party mereka adalah hal terakhir yang Karin lakukan untuk menyenangkan hatinya.


Devian baru sadar saat bersama Karin dia selalu tersenyum. Seketika Devian memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar.


" Tuan?" sekretaris Juna menunjukkan isi surat yang diberikan Karin. Devian kembali memberikan kue kepada pelayan, lalu mengambil surat itu.


APA LO UDAH MEMBUKA HATI BUAT GUE? GUE YAKIN PASTI LO KETAWA LIHAT KEJUTAN ALAY, GUE!


MAKLUMI AJA! NAMANYA JUGA CINTA. KALAU LO ADA PERASAAN MESKI SEDIKIT, DATANGLAH KE RESTORAN XX.


Surat singkat dari Karin.


Devian kembali melihat video yang terus berulang di layar proyektor.


" Juna kita pergi kesana!" sekretaris Juna tersenyum tipis.


Satu hal yang harus diketahui! Devian selalu meminta pendapat pada sekretaris Juna tentang kelakuan Karin.


Di awal kegiatan rancangan Karin, Devian mengaku risih. Namun, seiring berjalannya waktu Devian menceritakan seolah-olah kegiatan mereka sangat menyenangkan.


Disaat Devian menceritakan dengan wajah yang berseri-seri, Sekretaris Juna selalu mengatakan


' Anda telah mencintai nona Karin, tuan! '


Dengan yakin Devian menyangkal dan kembali ke mode datarnya. Seperti itulah perdebatan mereka selama di kantor.


" Juna! Apakah Karin masih mencintaiku?"


" Kenapa anda bertanya seperti itu? Jika nona tidak mencintai anda, tidak mungkin nona menyiapkan segala kejutan buat anda!"


" Tapi, gue sering menyakitinya. Terkadang gue mengabaikan dia." Sekretaris Juna diam saja, bingung juga mau memberi nasehat seperti apa.


" Cepatlah Juna! Karin pasti sudah menunggu lama!"


" Ini sudah cepat tuan!" geram sekretaris Juna.


Kring! Kring!


" Tuan tolong angkat telepon saya. Sepertinya penting!"


" Tidak!" Sekretaris Juna berdecak sebal, Dia menepikan mobil lalu menerima panggilan.


" Halo?"


" Dengan keluarga tuan Teo?" Mengetahui pihak rumah sakit yang menghubungi, sekretaris Juna mengaktifkan loud speaker.


" Ya."


" Bisakah keluarganya segera datang ke rumah sakit? Tuan Teo saat ini kritis." Sekretaris Juna menatap Devian, menunggu keputusan tuannya ini.


" Putar arah Juna! Kita ke tempat papa dulu!"


Sejujurnya keputusan ini sangat sulit bagi Devian. Berharap Karin masih mau menunggu beberapa jam lagi.


" Tuan, anda bisa mengabarkan nona Karin. Dengan begitu nona Karin tidak akan kecewa pada tuan." Devian mengikuti perintah sekretaris Juna.


" CK! Baterai handphone gue habis!" Umpat Devian.


" Pakai handphone saya saja!"


" Tidak usah! Kita hanya melihat keadaan papa Teo sebentar."


Dengan kecepatan tinggi, mereka berhasil menempuh rumah sakit dalam waktu 5 menit.


" Bagaimana keadaan papa Teo?" Devian menghentikan perawat yang baru keluar dari ruang ICU.


" Tunggu sebentar tuan!"


" Apa yang terjadi?" Devian melihat lampu darurat di ruang ICU mati. Tepat setelahnya, beberapa dokter keluar dan di belakang perawat mendorong brankar tempat papanya berada.


" Maaf tuan. Pihak dokter telah mengusahakan semampunya, kecelakaan juga penyakit tuan Teo menjadi faktor utama yang tidak bisa diselamatkan."


" A--pa?"


" Tepat pukul 10 malam tuan Teo dinyatakan meninggal dunia."


Devian terdiam.


" Papa." suara Devian tercekat memanggil papa Teo yang tertutupi selimut putih.


" Bangun pa! Maafkan Devian. Devian terlalu egois." Mata sekretaris Juna berkaca-kaca.


Devian menahan tangisannya. Dengan tangan gemetar Devian membuka sebagian selimut putih, " Izinkan Devian memeluk papa untuk terakhir kalinya." Setetes air mata Devian merembes keluar.


Sekuat tenaga Devian menahan air matanya, masih dengan suara tercekat dia mengizinkan dokter mengurus sesuatu yang belum selesai sebelum dirinya membawa papa Teo ke pemakaman.


BRAK!


Devian meninju dinding rumah sakit sebelum pergi ke taman belakang.


Selagi menunggu sekretaris Juna mengurus administrasi, Devian termenung mengingat kenangan dengan papanya.


Devian tertawa miris, ternyata hanya sedikit kenangan bersama papanya.


Baru-baru ini, Devian mendapatkan fakta bahwa selama ini papa Teo selalu menjaga dirinya diam-diam.


Devian pikir papa Teo tidak menyayanginya sejak dia dipindahkan ke luar negeri. Devian tidak tau, papa Teo sama tertekannya menjalani hidup dengan wanita jahanam.


Jujur Devian rindu pelukan hangat papanya.


Devian tidak tau kalau ditinggalkan papa Teo, akan sesakit ini. Dulu dia selalu berpikir, dia bisa hidup tanpa papanya. Dia tidak butuh sosok papa.


Nyatanya, kebencian yang selalu dia tunjukkan adalah bentuk kasih sayang yang tidak bisa diungkapkan.