IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Honeymoon



Hari yang ditunggu Devian pun tiba. Penuh keceriaan di wajahnya berbanding terbalik dengan istrinya yang terus cemberut mengingat mereka baru saja baikan beberapa hari, namun Devian langsung mengadakan honeymoon. Dimana Devian baru memberitahu dirinya ketika sudah sampai di negara Swiis.


Kini mereka berada di hotel mewah dengan gaya klasik. Devian membawa Karin ke dalam kamar yang sangat luas dan mewah. Di balkon kamar ada kolam renang pribadi.


Karin menatap takjub kamar yang dipesan oleh Devian. Karin tidak menyangka Devian sudah mempersiapkan segalanya.


" Apa kau suka?"


" Ini terlalu berlebihan." Karin menatap wajah Devian.


" Apanya yang berlebihan! Ini cukup sepadan untuk honeymoon kita berdua, my sunshine." Devian berjalan menuju balkon kamar, menikmati indahnya pemandangan di negara Swiss.


Karin membuang nafasnya, tak ingin memperpanjang debat Dengan Devian.


Karin lebih memilih merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size, diikuti Devian yang langsung memeluk Karin. Tidak butuh waktu lama mereka pun terlelap karena rasa lelah perjalanan.


Dua jam kemudian Karin terbangun merasakan perutnya yang terasa lapar. Ia melihat ke arah samping dimana Devian masih tertidur pulas.


Karin melepaskan pelukan Devian, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Hendak beranjak Devian malah terbangun dan kembali menariknya ke dalam pelukan.


" Devian lepas! Aku lapar." Karin memberontak di pelukan Devian.


Devian membuka mata perlahan menatap Karin yang masih sibuk melepaskan diri.


" Kenapa my sunshine?" Devian mengelus lembut pipi Karin.


" Aku lapar!"


" Akan ku pesankan makanan untukmu." Devian bangun dari tidurnya meraih gagang telepon yang berada di samping tempat tidurnya. Sedangkan Karin beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk cuci muka.


Usai dari kamar mandi Karin menuju balkon menikmati keindahan kota Swiss.


" My sunshine." Devian tiba-tiba datang dan memeluk tubuh Karin dari belakang, sembari mencium pipi mulus Karin.


" Ini sangat indah."


" Kamu menyukainya?" tanya Devian semakin mengeratkan pelukannya.


" Iya aku suka." untuk sesaat mereka saling menghirup udara segar di negara Swiss.


Sampai Devian tiba-tiba membicarakan,


" Nanti rencana liburan Baby Moon, kita akan ke negara impianmu." Devian tidak sadar senyuman Karin seketika luntur.


" Babymoon?"


" Ya! Kalau kamu hamil aku berharap kita memiliki anak perempuan. Tapi kalau dapatnya lelaki tidak masalah juga, asal sifatnya tidak menurun dariku." jelas Devian bersemangat menceritakan impiannya.


Karin hendak mengucapkan sesuatu namun suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring.


" Sepertinya itu makanan kita." Devian segera melangkah mendekati pintu kamar.


Seorang pegawai hotel membawakan beberapa makanan untuk tamu hotelnya, tidak lama pegawai hotel keluar dari kamar Devian setelah meletakkan makanan di meja yang tersedia di kamar tersebut.


" Ayo makan, kau lapar kan!" ajak Devian menduduki Karin tepat di sebelahnya.


" Terimakasih." Karin menatap beberapa makanan yang sedikit asing baginya, namun jiwa laparnya tidak memperdulikan itu. Ia lebih memilih menyicipinya terlebih dahulu. Jika enak akan ia makan, sedangkan yang tidak enak dia suruh Devian menghabiskannya.


Usai makan Karin segera membersihkan dirinya, membiarkan Devian yang sibuk memeriksa email perusahaan.


Karin menatap dirinya di depan cermin. Apakah dia harus mengatakan permasalahan keluarganya dulu mengenai anak pada Devian? Tapi Karin tidak mau menghancurkan harapan Devian. Lumayan lama Karin termenung, dia meyakinkan dirinya untuk menikmati saja honeymoon ini dulu.


Setelah itu Karin menggosok seluruh rongga mulutnya agar tidak diketahui Devian saat berciuman nanti.


Selesai membersihkan diri, Karin mengenakan lingerie yang sudah dipersiapkan Devian jauh hari.


" Dia selalu hidup bersama otak mesumnya!" gerutu Karin melihat lingerie seksi menjadi lebih seksi ketika dipakainya.


" Rasanya aku ingin pulang saja!" mendadak Karin takut dan gugup. Karin terus mondar-mandir tidak berani menemui Devian.


Tok! Tok!


" Karin?" Karin tau dia sudah sangat lama berada di kamar mandi. Dengan mengumpulkan keberanian Karin pun membuka pintu kamar mandi.


Devian melotot melihat penampilan Karin yang begitu seksi. Refleks Devian menatap tubuh Karin dari atas sampai bawah, memindai seluruh anggota tubuh Karin yang begitu menggairahkan.


Jakun Devian turun naik, aliran darahnya semakin memanas. Sekuat tenaga Devian menahan gairahnya." You look so sexy, my sunshine." puji Devian.


Karin tersenyum malu.


Devian tersenyum penuh kebahagiaan, akhirnya malam ini mereka akan menjadi pasangan suami istri sesungguhnya.


Devian menghampiri tubuh Karin langsung menaklukkan bibir Karin dengan penuh gairah. Devian mengecup, mencium bahkan menggigit kecil bibir Karin dengan penuh gairah.


Karin pasrah saat Devian terus mencium bibirnya. Karin mencoba mengimbangi permainan lidah Devian walaupun dia masih awam melakukannya.


Saat Karin kehabisan nafas Devian baru melepaskan pagutannya. Menatap sayu wajah Karin yang memerah. Dada Karin turun naik meraup udara sebanyak mungkin setelah kehabisan nafas.


" My sunshine, apakah kau sudah siap?" Devian mengelus pipi Karin yang memerah.


Karin mengangguk malu dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Devian menyeringai senang, dia menggiring tubuh istrinya ke ranjang empuk. Mendorong pelan agar tubuh Karin terlentang.


Devian merangkak naik menindih tubuh Karin." Aku sangat menantikan ini. Kau benar-benar yakin ingin melakukannya, my sunshine?" tanya Devian memastikan Karin siap melakukan itu.


" Aku yakin. Lakukanlah dengan perlahan."


" Baiklah. Jika aku menyakitimu lukai-lah tubuhku!" ujar Devian.


Napas hangat Devian yang wangi menyeruak ke tengkuk dingin Karin. Dengan spontan Karin membuka matanya. Tangannya berpegangan kokoh di atas pundak Devian yang sedang menatapnya juga.


" Aku mencintaimu." ucap Karin pelan.


" I love u too, my sunshine." balas Devian seraya menikmati leher Karin sesekali.


Tak tau sejauh mana hal itu terjadi, yang pasti Karin telah resmi menjadi milik Devian seutuhnya.


Mata Devian terpejam lama saat ia memberikan kecupan hangat di dahi wanita itu, sangat lama! Hingga Karin tersenyum bahagia, dia merasakan kehangatan cinta dari lelaki yang sedari dulu dicintainya.


" Terimakasih telah menjadikanku yang pertama. Aku sangat mencintaimu, my sunshine!" Devian menurunkan tubuhnya untuk mencium perut Karin." Kuharap mereka berhasil menjadi baby."


Deg!


Karin meremas seprai yang sudah tak terbentuk saat mendengar harapan Devian.


Dia ingin jujur, tapi Karin berpikir harus menunggu waktu yang tepat.


Karin berusaha tersenyum ketika Devian kembali menatapnya. Lagi dan lagi Devian mencium dahi, pipi, dan bibir Karin mengungkapkan perasaan bahagianya.


Malam ini, di bawah bintang yang bersinar terang. Pasangan itu untuk pertama kalinya melakukan hubungan suami istri.


Devian merebahkan badannya ke samping, memberikan Karin waktu istirahat sejenak. Lelaki berparas tampan itu mengusap rambut Karin dan menyandarkan kepala wanitanya ke dada bidang nan gagah.