IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Kekecewaan



Karin terus memukul dada Devian melampiaskan kekecewaan yang besar." Gue bukan wanita yang bisa Lo perlakukan seenaknya! Gue tau ini kesalahan gue yang muncul di hidup Lo."


" Gue gak ada niatan buat balas dendam Karin! Gue benar-benar mencintai Lo!" Sekali lagi Devian melembutkan suaranya, berusaha mengalah pada wanitanya.


" Kalau benar Lo gak ada niatan balas dendam, pergilah! Hubungan kita yang lalu telah usai." ucap Karin dengan perlahan namun penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.


Rahang Devian mengeras, jakunnya bergerak naik-turun pertanda dia menelan ludahnya sendiri dengan paksa." Karin....,"


" Gue serius! Gue gak mau terjebak kedua kalinya dengan orang yang sama." pinta Karin dengan merendahkan suaranya, tak lagi penuh emosi seperti tadi.


Devian terdiam membisu mendengar apa yang telah wanitanya ucapkan. Hatinya terasa ngilu luar biasa, " Jangan membuat keputusan ketika Lo kecewa, Karin. Ayo kita bicarakan baik." ucap Devian berusaha membujuk Karin. Ia juga menenangkan dirinya sendiri agar tidak terpancing emosi.


Karin menarik nafas dalam seraya menatap sendu mata suaminya yang terlihat sangat kelelahan itu." gue udah memikirkan secara matang tentang hal ini. Untuk apa kembali dengan seseorang yang tidak menginginkan gue. Untuk apa bertahan dengan seseorang yang diam-diam menyiapkan surat cerai disaat gue sedang berjuang mempertahankan hubungan kita! Gue menyerah Devian! Mari sudahi semuanya sekarang juga, agar kita tak saling menyakiti lebih jauh lagi." ucap Karin.


" Gue gak mau kita berpisah! Gue udah bilang gue mencintai Lo Karin!" jawab Devian bersikeras.


" Gue capek Devian! Gue capek dikecewakan dengan orang yang sama berulang kali!"


" Gue gak akan mengecewakan Lo lagi. Gue akan pertahankan hubungan ini! Gue gak mau kita berpisah. Tidak akan pernah gue lepaskan ikatan kita." ujar Devian seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.


" Maka gue lah yang melepaskan ikatan itu." sahut Karin dengan menatap suaminya dan kemudian memutar tubuhnya, ingin pergi jauh dari hadapan Devian.


" Ku mohon jangan tinggalkan aku," ucap Devian lirih. Tanpa ia sadari air bening telah jatuh dari pelupuk matanya.


Karin berusaha sekuat tenaga tidak berbalik kebelakang. Dia tidak ingin hatinya goyah. Bohong jika Karin tidak merasakan sakit hati saat mengucapkan kata perpisahan pada Lelaki yang masih dicintainya itu. Satu bulan bukan waktu yang cukup untuk dia bisa menghilangkan perasaan ini.


Meski masih mencintai Karin tidak ingin kembali. Dia takut untuk kembali. Devian bahkan tidak mengucapkan kata maaf pada apa yang telah terjadi, atau setidaknya katakan maaf telah membuat Karin menunggu di restoran. Devian hanya mengucapkan kata cinta yang Karin tidak tau itu benar apa tidak.


Devian menatap kepergian Karin, untuk sementara Devian akan memberikan waktu buat Karin bisa menenangkan emosinya. Bukan tanpa sebab Devian tidak takut Karin menghilang lagi, Karena ketika di mall Devian sempat merebut ponsel Karin mengaktifkan mode pelacak yang dia buat.


Cukup lama Devian berdiri di taman. Devian pun memutuskan kembali ke mobilnya, memasuki mobil dan menutup pintu mobil sekeras mungkin menyalurkan kemarahannya.


Bukan hanya marah tapi lebih ke merasa kecewa dan kehilangan. Dadanya terasa begitu sesak seolah terhimpit batu yang besar. Devian menarik nafasnya berulang kali mencoba untuk menenangkan dirinya.


Menyalakan mesin mobil sportnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Tatapan matanya kosong, hatinya terasa hampa. Meski begitu tidak akan dia biarkan Karin meninggalkan-nya sendirian di dunia ini. Bagaimanapun caranya Karin harus tetap berada disisinya!


 Karena Karin miliknya.


...----------------...


Bruk!


Sesampainya di kediaman Mateo. Karin langsung melemparkan tasnya tepat di wajah Mateo yang sedang tertidur.


" Sial! Siapa yang--,"


" Apa! Dengan seenaknya Lo tidur disaat gue membutuhkan bantuan!"


Mateo yang masih linglung mencoba mencerna perkataan Karin, sayang otaknya masih belum bekerja." Emang Lo kenapa?"


" Gue jumpa Devian!"


" Berarti itu takdir Lo! Lagian mau seberapa jauh Lo sembunyi pasti ketemu juga sama dia."


" Yakin? Yang tiap malam nangis sambil melihat foto itu siapa, ya?"


" Lo ngintip gue tidur ya!?" sekali lagi wajah Mateo terkena pukulan mematikan dari Karin.


" Suara tangis Lo yang bikin gue ngintip bodoh! suara tangis lo buat gue mikir rumah ini ada makhluk halusnya!" Karin berdecak sebal.


" Udahlah gue mau lanjut tidur. Malas gue lihat permasalahan keluarga gila Kalian." Karin tau sifat Mateo yang tidak suka ikut campur masalah temannya, karena dia bilang masalahnya saja sudah banyak jadi dia tidak mau menambah masalah lagi. Kenyataannya masalah dia itu hasil dari perkejaan hackernya, yang mengakibatkan dia selalu diincar.


" Memang dasar teman bodoh. Gue doain Lo jomblo!" umpat Karin pelan.


" Gue memang jomblo abadi,kok! Gak perlu Lo doain." balas Mateo santai.


Kesal melihat wajah Mateo Karin pun beranjak dari sana, lebih baik dia berendam air hangat menenangkan hati dan pikiran.


......................


Sejak tadi Devian berkendara tak tentu arah. Niatnya ingin mendapatkan pikiran yang jernih, tapi pikirannya malah kejebak dengan perkataan Karin. Akhirnya dia melacak keberadaan Karin. Lebih baik berada di tempat orang yang selalu berada di pikirannya.


Devian Berhenti tepat di tempat yang cukup menyeramkan. Satu rumah yang dikelilingi beberapa pepohonan.


" Karin tinggal disini?" Devian melangkah pelan sambil melihat sekeliling. Hanya ini satu-satunya rumah, bahkan dari depannya seperti tidak layak ditinggalkan.


Belum sempat Devian mengetuk pintu orang yang ingin ditemuinya keluar.


" Devian?" Karin refleks menutup pintu yang baru dibuka setengah, sayang sekali Devian menahannya.


" Karin Lo tinggal disini? Ayo ikut gue, ini udah malam, gak baik Lo tinggal di tempat seperti ini!"


" Mateo!" bukannya mendengarkan ucapan Devian, Karin malah berteriak memanggil Mateo.


" Apa!" Teriak Mateo tak kalah kerasnya.


" Karin, Lo tinggal bersama cowok?" seketika Devian mendorong kuat pintu dan menarik Karin ke pelukannya.


" Kenapa--," Mateo menghentikan ucapannya melihat suami Karin berada di rumahnya.


" Lo?" ucap mereka bersamaan. Ya, Devian kenal sekilas Mateo, lelaki yang Karin minta dilindungi dari kejahatan ibu tiri Devian.


Tidak Devian sangka Mateo-lah yang membantu Karin.


" CK! Lo lebih milih tinggal di rumah jelek ini bersama lelaki jelek?" hina Devian.


" Ya! Rumah jelek Lo bilang! Ayo ikut gue, Lo harus lihat kedalam rumahnya sebelum menghina!" Mateo yang tak terima tempat tinggalnya dihina , segera menyeret Devian dengan paksa yang menyebabkan pelukan Devian tadi terlepas.


Sedangkan Karin yang melihat itu spontan mengatakan," Dasar bodoh!" bukannya membantu mengusir Devian, malah teman bodohnya memaksa masuk orang yang pengen dia usir.


Kembali ke Devian, dia cukup kagum melihat isi dalam rumah ini. Padahal luarnya terlihat jelek, bisa-bisanya isi dalamnya seperti apartemen mahal.


" Lihat! Don't judge book by its cover!" Dengan kebodohan hakiki Mateo dengan bangga menunjukkan tempat persembunyiannya.


Karin yang baru saja masuk menghela nafas kasar, sekarang bagaimana mengusir Devian? Karin bisa tebak Devian akan memaksa tinggal disini dan Mateo yang nanti sadar dengan kelakuannya bakalan teriak histeris karena pengganggu ketenangannya bertambah satu.