
Sudah Karin tebak, ketika Mateo sadar kelakuannya dia akan teriak histeris. Sayangnya Devian si tidak tau diri bukannya pergi malah berbaring di sofa. Kelakuan Devian mengakibatkan perkelahian antara mereka, sampai Karin berteriak." Stop!"
" Devian pergilah!"
" Lo harus ikut!"
" Tempat gue disini!"
" Berarti tempat gue disini juga! Suami harus selalu berada di dekat istri!"
" Darimana---," ucapan Karin terpaksa didahului Mateo.
" Sejak kapan tempat kalian disini! Pergi pasangan pengganggu!"
" Diam!" pasangan suami istri itu serentak membentak Mateo.
" Devian selagi kesabaran gue masih ada, tolong pergilah." usir Karin.
Bukannya mendengarkan Karin, Devian malah mendekati Mateo mencoba bernegosiasi. Cukup alot negosiasi mereka, Sampai pada akhirnya Devian menyogok Mateo sejumlah uang dan kunci mobil sportnya.
Karin yang melihat Mateo menerima tanpa penolakan dulu, hanya bisa mengelus dadanya." Memang uang lebih dari segalanya dibanding pertemanan." Mana Devian dengan santainya memberi salah satu koleksi mobil sportnya.
Muak dengan persengkokolan mereka, Karin memutuskan memasak agar bisa menjauhi dua lelaki gila.
" Karin, mau kemana?" tanya Mateo.
" Masak!"
" Buatkan kami juga!" teriak dua lelaki tidak tau diuntung bersamaan.
Karin tidak menanggapi permintaan mereka, sungguh rasanya sangat kesal Mateo malah membiarkan Devian tinggal disini.
Bagaimana cara mengusirnya jika si pemilik mengizinkan Devian tinggal?
Malam semakin larut namun Karin harus bangun karena perutnya masih terasa lapar. Ya, bayangkan saja kedua lelaki itu menghabiskan masakannya dan hanya menyisakan sedikit untuk dirinya.
Karena kejadian itu, Karin merajuk dan langsung masuk kamar tak lupa mengunci pintu. Dan sekarang tak kuat menahan rasa lapar, perlahan Karin membuka pintu memastikan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
" Huh! Aman!" Karin hendak melangkah menuju dapur tetapi terhenti kala melihat Devian tidur meringkuk kedinginan di atas sofa.
Karin sebenarnya tidak tega." Huh! Kasihan juga gelandangan satu ini." katanya. Kamar di rumah ini hanya 2 dan keduanya sudah diisi, Karin bisa tebak pasti Mateo tidak mau sekamar dengan Devian.
Saat Karin hendak pergi, tangannya dicekal oleh Devian.
" Lo gak mau meluk atau cium gue gitu? Gue kedinginan." ucap Devian.
Karin menatap Devian dingin, menarik tangannya cepat." Jangan sentuh gue gelandangan!" tidak salah bukan Karin mengatakan itu? Devian sekarang menumpang hidup ditambah uang dan mobilnya sudah diberikan pada Mateo. Di negara ini Devian sedang miskin, walaupun saat Devian kembali ke negara asalnya dia kembali kaya. Tetap saja saat ini Devian miskin.
" Baiklah istrinya gelandangan." Karin membelalakkan matanya mendengar balasan Devian.
Hendak membalas namun Devian lebih dulu berkata." Aku mencintaimu Karin. Kembalilah bersama ku. Aku akan membuat dirimu menjadi wanita paling bahagia." Devian berucap lembut, bahkan dia mengganti kata 'gue' dengan 'Aku'.
" Gue udah gak butuh kebahagiaan seperti itu. Gue merasa kehidupan yang gue jalani selama 1 bulan ini lebih baik dibanding kehidupan semu yang Lo janjikan!" ucap ketus Karin.
" Aku tau ucapan tanpa bukti tidak berarti. Berikan aku waktu beberapa Minggu untuk buat kamu kembali padaku." pinta Devian.
" Penolakan itu ditandai sebagai persetujuan!" telak Devian tanpa peduli protes Karin." Jadi sayang, kenapa kamu bangun tengah malam?"
" Gue lapar!" Karin meninggalkan Devian kembali pada tujuan awalnya, tidak peduli Devian mengekorinya. Dia juga malas berdebat dengan Devian untuk saat ini.
" Jangan pakai gue atau Lo, sayang! Gunakan aku atau suamiku juga boleh." Goda Devian.
Karin tidak tau Devian meledek atau menasehati dirinya." Terserah gue!"
Cup
" Panggil 'gue' sekali lagi bakalan di cium."
Bukannya tersipu Karin malah bertambah kesal. Tingkah Devian yang seperti ini membuat dirinya waspada. Entah permainan apa yang dimainkan Devian sekarang!
Selama Karin membuat sesuatu di dapur, Devian dengan setia menjadi anak baik yang hanya melihat aktivitas Karin. Sayangnya itu tidak bertahan lama." Buat apa?" sembari mendekati Karin dengan tangan nakalnya yang memegang pinggang Karin.
" Cookies coklat dengan lelehan coklat di dalamnya." jawab Karin sembari menjauhkan tangan Devian.
mata Devian berbinar melihatnya," boleh aku mencobanya nanti? Wanginya sangat menggoda!" tanya Devian antusias meski diselingi dengan godaan mautnya, yaitu mencium area pundak Karin.
"Boleh asal kamu duduk diam disana!" Karin menunjuk ke arah meja makan. Dia bahkan mengubah panggilan supaya tidak dicium lagi.
" Baik." Dengan patuh Devian duduk.
" CK! Melihat wajah tengilnya, gue malah ingin meracuninya." gumam Karin lirih. Maklumlah dia sedang kesal dan juga mode waspada, Devian yang tingkahnya berubah membuat dia tidak terbiasa. Wajahnya itu seperti merencanakan sesuatu.
Tidak butuh waktu lama kue yang dibuatnya sudah siap disantap. Karin mendekati Devian lalu menyodorkan 3 keping cookies dan selebihnya untuk dia.
Disini dia yang kelaparan! Enak sekali Devian mendapatkan hak lebih banyak.
Tanpa banyak bertanya, Devian meraih satu keping cookies dan memasukkannya kedalam mulut. Ia menggigitnya dengan tak sabaran hingga lelehan coklat menetes dari bibirnya yang sedikit terbuka.
" Sudah dibilang cookies ini berisi lelehan coklat, kamu harus berhati-hati memakannya." omel Karin tanpa sadar seraya membersihkan lelehan coklat yang berada di bibir Devian dengan telunjuknya.
Seketika Devian menghentikan kunyahan Cookies-nya, dirinya diam terpaku karena mendapatkan sentuhan di bibir oleh jemari Karin. Setelah sekian lama berseteru, akhirnya Karin memberikan perhatian yang dirindukannya meski hanya sekedar membersihkan sisa makanan. Mata Devian meredup sayu penuh damba pada Karin.
" Ke--kenapa?" tanya Karin. Dadanya berdebar lebih kencang karena tatapan suaminya.
Hasrat kelelakian Devian langsung meroket, tiba-tiba dia ingin menjadikan tubuh Karin dalam kuasanya saat ini juga. Tapi dia ingat mereka masih berseteru, dia tak bisa menyentuh Karin sebelum semua kesalahpahaman diantara mereka terselesaikan. Dia juga harus meyakinkan Karin, kalau dia tulus mencintai.
Devian tersenyum, ia menarik telunjuk Karin lalu menjilati sisa lelehan coklat disana. Devian melakukannya dengan begitu seduktif. membelai jari telunjuk Karin dengan lidahnya yang basah hingga membuat tubuh Karin meremang.
Susah payah Karin menelan ludahnya dengan paksa. " A--apa yang kau lakukan!?" tanya Karin berusaha menetralkan detak jantungnya.
Devian menghentikan pergerakan lidahnya, ia menatap Karin." Aku hanya membersihkan sisa lelehan coklat di jarimu." jawab Devian santai.
Takut hatinya dengan cepat goyah, Karin berkata ketus." Nikmati saja cookies-mu, jangan menggangguku!" Kembali ke mode cuek Karin berusaha melupakan kejadian tadi dengan mengunyah cookies secara cepat.
Devian hanya tersenyum tipis melihat Karin salah tingkah. Satu hal yang baru Devian sadari, dia selalu merasa bahagia jika Karin berada disisinya.
Bahkan Devian yang selalu hidup mewah tidak terganggu dengan tempat sederhana tak terlalu luas dibandingkan mansion atau penthouse yang dimilikinya. Tempat tak terlalu luas ini malah terasa nyaman dibandingkan tempat mewah nan mahalnya karena semua itu tertutupi oleh kehadiran Karin didekatnya.