IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Kehamilan



Karin menggeliat kala merasa ingin buang air kecil. Dengan setengah nyawa yang masih terkumpul, Karin mulai meraba tempat tidurnya. Dan dia mendapati lengan kekar Devian bertengger manis di perut ratanya.


Melihat suami tersayangnya, keinginan Karin buang air kecil seketika lenyap. Karin diam menatap suaminya. " Maaf..," gumam Karin pelan.


Karin tidak tau Devian belum tidur, hanya memejamkan mata mencoba mengistirahatkan pikirannya.


Perlahan manik mata Devian terbuka, ikut membalas tatapan istrinya. Puas menatap wajah wanitanya, Devian hendak beranjak dari tempat tidur.


" Jangan pergi!" Kedua tangan manis dan lembut itu memeluk tubuh Devian.


Diam-diam Devian mengulum senyum manis, dibalasnya pelukan Karin seraya mencium puncak kepala wanitanya. " Maaf aku terlalu emosi. Seharusnya aku tidak menyepelekan rasa takutmu."


Hampir setengah harian dia mengelilingi kota, Devian sadar bahwasanya dia egois memaksakan keinginannya. Jika benar dia menyayangi Karin, seharusnya dia juga menghargai keputusan wanitanya, sekalipun Karin memilih untuk tidak memiliki anak.


Mendengar permintaan maaf Devian, Karin jadi merasa bersalah. Dia sadar dialah yang bersalah disini. Tidak seharusnya ketakutan itu menghantui dirinya. Karena dialah suami tersayangnya sedikit mengubur keinginan terbesar itu.


" Aku juga minta maaf. Maaf telah membohongimu! Maaf juga tidak memberikan alasan yang tepat untukmu!" Pelukan keduanya semakin erat, saling memberikan kehangatan buat orang tersayang.


Akhirnya kedua pasangan itu saling memaafkan dengan wajah yang semakin lama semakin dekat. Pada dini hari itu, mereka berdamai dengan saling bertukar peluh dan juga berbeda pemikiran. Karin yang karena perasaan bersalahnya mencoba untuk tidak lagi meminum pil, juga berusaha mengenyahkan rasa takut itu. Sedangkan Devian bersama perasaan cinta yang besar mulai mengubur keinginan terbesarnya demi kebahagiaan dan kenyamanan istrinya.


...----------------...


3 BULAN KEMUDIAN


Karin memegang testpack bergaris dua juga hasil pemeriksaan dokter tadi. Cukup lama dia merenung di taman rumah sakit, memegang hasil pemeriksaan kesehatannya.


Karin memang sudah menebak dia akan hamil karena semenjak permintaan maaf itu dia memutuskan untuk tidak menggunakan pil kontrasepsi. Sedangkan Devian taunya Karin masih menunda kehamilan. Dan sekarang, Karin bingung harus jujur tentang kehamilan dan penyakitnya atau satunya harus disembunyikan.


Cukup lama merenung sambil mengelus perut ratanya, Karin memutuskan hanya akan memberikan kabar bahagia untuk suami pengertiannya itu. Suami yang rela mengubur keinginan terbesarnya demi kenyamanan Karin. Biarlah rasa sakit ini hanya dia yang merasakan.


Sepulang dari rumah sakit, Karin menyiapkan 2 box kecil kejutan untuk Devian. Tinggal menunggu suaminya pulang kerja dia akan memberikan kejutan ini.


" My sunshine!" Devian langsung memeluk erat Karin yang menunggu kedatangannya.


" Apa suamiku ini lelah?"


" Tidak! Kenapa? Kamu ingin kita saling menghangatkan?" balas Devian nakal.


" Bukan itu! Ada kejutan yang ingin ku berikan."


" Huh! Jangan memberikanku kejutan sayang! Gunakanlah uang mu untuk dirimu sendiri. Aku tidak mau istri ku ini kekurangan."


" Shutt! Aku belum menunjukkan, tapi kamu sudah mengomel!" cemberut Karin.


" My sunshine, aku hanya tidak ingin menyusahkan mu." mengelus bibir istrinya yang cemberut. " Huh! Baiklah! Apa yang kamu berikan, sayang? Aku ingin melihatnya."


" Benarkah?" Devian berdehem seraya menciumi seluruh wajah istrinya.


Karin menuntun Devian ke sofa ruang tamu. Memberikan box pertama berisi jam mahal.


" Bagus,kan? Aku tau kamu belum punya merek yang ini." jelas Karin dengan wajah berseri.


" Iya. Tapi aku tetap pada pendirianku! Aku tidak mau istriku memberikan barang mahal padaku." ulangnya menegaskan.


Karin kembali memanyunkan bibir, mendadak kesal oleh sikap Devian." Baiklah! Aku tidak akan memperdulikan mu lagi!" Ia memberikan box kedua ke tangan Devian, setelahnya berlari menangis memasuki kamar.


Devian memijat pelipisnya. Dia tau dia terkesan tidak menghargai, tapi dia tidak mau Karin menghabiskan uang hanya untuk dirinya.


Dipandangnya box kedua, entah hadiah apa lagi yang diberikan. Demi menghargai pemberian sang istri, mau tak mau Devian harus membuka box kedua itu.


Mata coklat tajamnya melebar dan terpaku melihat isi box kedua. Bukan lagi jam mahal, Melainkan dua buah testpack dan foto USG janin.


Deg! Devian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ditambah detak jantungnya kian cepat.


Karin hamil?


Devian segera membawa box itu menuju kamar. Isakan kecil Karin bisa dia dengar di balik pintu kamar yang sedikit terbuka.


Devian merutuki dirinya sendiri terutama mulutnya yang asal ngomong. Perlahan Devian membuka pintu kamarnya, duduk di samping Karin lalu menarik istrinya ke pelukan.


" Maafkan aku! Maafkan aku, my sunshine..."


Mendengar tangisan Karin semakin menjadi, Devian membawa Karin ke pangkuannya." My sunshine, apa kamu benar-benar hamil?" tanyanya serak.


" A--pa ini benar-benar milik anak kita?" Karin mengangguk disertai air mata membuat Devian ikut mengeluarkan air matanya.


" Bolehkah aku mendengar ceritamu?" Yang Devian tau Karin belum siap memiliki anak, dan sekarang sebuah kejutan baginya Karin menunjukkan foto USG janin.


" Se---benarnya waktu permintaan maaf itu, aku sadar bahwa diriku terlalu egois. Aku terlalu mengedepankan rasa takut tanpa memikirkan keinginan suamiku.Jadi, aku memutuskan untuk tidak lagi meminum pil kontrasepsi." Devian memperhatikan dengan saksama raut lucu Karin saat menjelaskan, ditambah mata dan pipi istrinya masih terdapat air mata.


Devian mencium keningnya," Terimakasih sayang! Aku akan merawat dan menjaga kalian sepenuh hatiku!" bibirnya tersenyum tipis tatkala mencium perut Karin." Di masa depan kita akan menjadi keluarga bahagia. Teruslah bersamaku, my sunshine."


Karin terkekeh melihat betapa antusiasnya Devian." Aku tidak bisa berjanji tapi anak kita bisa! Mereka akan menemani papa tampannya ini." ucap Karin yang dibalas tawa oleh Devian, berfikir bahwa istrinya sedang bercanda.


" Sayang, terimakasih telah menjadi pendamping hidupku. Huh! Aku benar-benar bahagia! Aku akan memberi gaji tambahan untuk karyawan ku dan juga karyawan butik mu!"


Melihat betapa cerahnya wajah Devian, meyakinkan Karin bahwa keputusannya sudah benar. Dia tau penyakitnya akan terlihat jika kandungan sudah memasuki usia 20 minggu bahkan di USG saja akan terlihat.


Entah bagaimana reaksi Devian nanti, yang jelas Karin tidak mau egois lagi. Dia yakin semua kesedihan itu akan berlalu. Seperti orangtuanya yang dulu pernah mengalami hal itu pada saat mengandungnya, maka dia juga akan sekuat dan seyakin orangtuanya dalam menghadapi penyakit ini.


Karin mencintai Devian begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai sampai tidak lagi memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Mereka sibuk saling memikirkan kebahagiaan orang yang dicintainya.


Bagi Devian, Karin adalah sunshine-nya.


Dan


Bagi Karin, Devian adalah kebahagiannya.