IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
What Can I Do?



Danau yang sudah indah diubah Devian menjadi lebih indah. Bunga mawar putih, lilin dan lampu kerlap-kerlip menghiasi danau. Tidak lupa meja bundar dilengkapi 2 kursi yang dikelilingi kain putih sebagai background tambahan.


Devian juga menambahkan kesan dinner dengan menghidupkan musik romantis. Sekarang tinggal menunggu wanitanya datang di jam yang sudah dia tentukan.


Seseorang yang ditunggu pun datang. Karin tampak cantik menggunakan dress putih pemberian-nya meski ada unsur pemaksaan.


" Welcome my sunshine." Devian mempersilahkan Karin duduk sembari memasang mahkota bunga sederhana yang tadi dibuatnya.


" You look so beautiful." sejenak Karin tersipu dengan mahkota sederhana namun berhasil mendebarkan jantungnya.


" Thank u." untuk saat ini Karin mengikuti saja meski di benaknya bertanya apa tujuan Devian membuat dinner romantis sedangkan hubungan mereka sudah renggang.


Devian sesekali melirik Karin, memastikan perempuannya menikmati makanan dan suasana ini.


" Rencana apa lagi yang mau kau buat, Dev!?" dengan elegan Karin meletakkan peralatan makannya.


" Aku tau kau pasti mencurigai ku."


" Sikapmu sangat berbeda Dev! Aku tidak lupa bahwa sehari sebelum ulang tahunmu kau masih tidak mengharapkan ku. Kenapa sekarang kau seolah-olah menginginkan ku? Jika benar ego mu terluka karena aku terlebih dahulu meninggalkanmu, kamu bisa membalas dengan cara menghina atau memukulku. Seperti yang kau lakukan dulu." Karin memalingkan wajahnya menatap danau yang tenang, sangat kontras dengan suasana hatinya.


" I'm sorry! Semua itu kesalahan ku. Beri tau aku apa yang harus kulakukan untuk mengembalikan semuanya?" Devian ingin mengembalikan keceriaan Karin, perhatian dan juga perasaan tulus Karin untuknya seperti dulu. " Karin. What can I do to get it right?"


" It's too late, Dev! Hubungan kita tidak bisa kembali seperti dulu."


" Hubungan kita memang tidak akan kembali seperti dulu. Kita akan membuat lembaran baru, Karin! Aku hanya ingin mengembalikan kepercayaan dan perasaan cinta mu yang dulu, bukan hubungannya. Kumohon beri aku kesempatan." Devian menggenggam kedua tangan Karin yang berada di atas meja.


" Aku tidak ingin kembali, lebih baik kita berpisah." jujur Karin takut untuk kembali.


" Sudah kukatakan aku tak mau berpisah Karin! Bagian mana yang tak kamu mengerti dari ucapanku!?" sentak Devian mulai gusar. Ia benci mendengar perpisahan.


" Percayalah denganku. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu." ucap Devian memohon.


" 2 Minggu! Jika dalam 2 Minggu kamu tidak bisa meyakinkan aku. Maka kita Jalani hidup masing-masing."


" Baiklah, jika dalam waktu yang dijanjikan aku berhasil meyakinkanmu. Kamu harus mengikatkan dirimu padaku selamanya." ucap Devian seraya menatap dalam mata Karin.


Karin menelan saliva-nya ketika mendengar perkataan Devian.


Hidup bersama dengan Devian? Selamanya? pertanyaan yang tiba-tiba muncul, Karin menatap ragu pada suaminya.


" Bagaimana? Jika aku berhasil mengembalikan kepercayaanmu, kamu harus yakin hidup selamanya bersamaku."


" Ba...baiklah." pada akhirnya Karin menyetujui syarat yang Devian ajukan.


Devian tersenyum mendengar jawaban Karin.


" Tapi aku mau tinggal disini selama kamu berjuang!" pinta Karin.


" Tidak bisa Karin, pekerjaanku akan terbengkalai jika aku ikut menetap selama 2 Minggu. Bagaimana kalau 1 Minggu disini setelahnya kamu ikut denganku?" tawaran Devian cukup menggiurkan bagi Karin. Dia rindu aktivitasnya yang dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karin tak henti memaki dirinya sendiri yang mudah terbuai akhir-akhir ini dengan setiap perlakuan manis Devian. Meskipun terkadang nurani Karin berseberangan dengan logika-nya. Benaknya sibuk mengingatkan agar dia tidak boleh terbuai, tetapi hatinya berkata lain.


" Dasar tidak tau malu! Sudah kubilang untuk jangan mudah luluh." Karin menatap pantulan wajahnya di cermin. " Wanita yang plin-plan!"makinya lagi sebelum keluar dari kamarnya.


Tepat Karin keluar kamar Devian sudah berhadapan dengannya menatap dirinya bersama pandangan yang tidak bisa diartikan.


Selama seminggu di rumah Mateo, Devian sadar usahanya memperjuangkan cinta tak semudah yang dibayangkan. Ibarat tunas yang sudah hampir layu dan ingin mengembalikan tunas itu menjadi tunas yang bisa tumbuh, maka harus membutuhkan waktu untuk menyirami dengan air, begitu juga dengan perasaan cinta Karin. Devian benar-benar memberikan segalanya dengan segenap hati yang tulus berharap perasaan cinta Karin kembali.


Devian tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya, karena sudah menjadi konsekuensi yang harus dia tanggung begitu memutuskan memperjuangkan Karin.


" Berpamitan-lah pada teman menyedihkan mu. Dia sepertinya merasa kesepian." Karin menghela nafas, perseteruan antara Devian dan Mateo sangat awet. Tiada hari tanpa berkelahi, padahal sudah seminggu Devian menumpang tetap tidak ada dari mereka yang mau mengalah.


" Karin Lo yakin kembali sama dia? Dia bahkan belum membayar hutangnya." Devian menatap sinis Mateo.


Haruskah dia bilang kepada Karin?


Walaupun selama seminggu ini Devian selalu meminjam uang pada Mateo biaya membahagiakan Karin sebagai bukti perjuangan cintanya, tidak seharusnya Mateo mengungkitnya!


" CK! Sekretaris-ku sebentar lagi datang! Dia akan melemparkan uang tak seberapa itu padamu!" Mateo mendelik melihat kesombongan Devian.


" Karin. Lihat-lah si gelandangan tidak tau diuntung! Bukannya berterima kasih padaku dia malah menyombongkan diri. Apa kau yakin kembali pada lelaki sombong ini?" sekarang Devian yang melotot tak terima.


" Diamlah! Mateo jangan pedulikan ucapannya. Lebih baik pedulikan aku! Apa kau tidak sedih ditinggal oleh teman cantik dan baik hati ini?" ujar Karin dengan kesedihan yang dibuat-buat.


" Ya! Kau bahkan tidak sesedih itu meninggalkan ku! Hentikan tangisan alay-mu ini!" Mateo mengusap kasar wajah Karin, mengakibatkan dia mendapatkan teguran dari Devian.


" Jangan sentuh istriku!" Devian merusak pertemuan terakhir antara teman, dia malah berada di tengah-tengah mereka.


" Dasar pengganggu!" sindir Mateo.


Devian menutup telinganya tidak mendengarkan sindiran Mateo. Dia bahkan tetap berdiri di tengah-tengah membiarkan mereka mengucapkan kata-kata perpisahan. Walaupun kata-kata perpisahannya tidak mengandung unsur kesedihan. Devian akui pertemanan mereka unik, kelakuan mereka lebih seperti saudara laki-laki yang suka menjahili adiknya, lalu adiknya ikut membalas kejahilan saudaranya.


TOK! TOK!


Devian segera berlari membuka pintu, yakin bahwa sekretaris Juna lah yang datang menjemput mereka.


" Sini kopernya!" sekretaris Juna cukup shock, bukannya dipersilahkan masuk malah koper yang dia bawa diambil dan dibawa masuk lebih dulu.


" Ini! Sekarang utang gue lunas." Devian membuka koper berisi uang itu di depan Mateo.


Karin menatap jengah Mateo. Pantas dia tidak merasa sedih meninggalkan Mateo! Lihatlah temannya ini semakin kaya. Mobil sport dan sekoper uang tunai diberikan oleh Devian atas saran dan dukungannya untuk memberitahukan bagaimana membuat dirinya bisa mencintai Devian lagi!


Mereka bersekongkol! Karin curiga perseteruan mereka setiap hari adalah konspirasi.


Tidak lama setelah pembayaran utang dan Omelan Karin pada Mateo. Mereka benar-benar pergi kembali ke negara asal mereka meninggalkan Mateo bersama hasil jeri payah yang lelaki itu dapatkan.