
Benak Karin menolak keras usaha Devian untuk kembali padanya, tetapi isi hati terdalamnya mencurangi Karin. Kata hatinya mengatakan untuk mengakhiri kebekuan panjang di antara mereka selama ini, dan memulai lembaran baru.
Sungguh Karin sangat dilema.
" Sudah siap?" tanya Devian sambil memeluk Karin dari belakang, sesekali dia mencium pundak Karin.
Mereka memang kembali ke negara asal sepulangnya dari negara dimana Mateo berada, namun hanya sehari mereka di negara asal setelahnya pasangan itu kembali ke USA. Dan sejauh ini perlakuan Devian tetap tidak berubah. Dia masih romantis dan perhatian.
Rencananya Karin akan menemani Devian ke perusahaan DV. Meski sebenarnya Karin menolak karena teringat lukisan Angel di ruangan Devian, namun Devian memaksanya.
Devian berkata ada banyak perubahan di perusahaan DV yang sekarang diubah menjadi perusahaan utama sedangkan perusahaan keluarga Devian dijadikan cabangnya. Mansion keluarga pun hanya sesekali mereka kunjungi mengingat mereka sudah memiliki rumah pribadi di USA.
" Ayo." Devian merangkul Karin setelah Karin menjawab pertanyaannya dengan anggukan.
Selama di perjalanan tangan Devian tidak pernah terlepas menggenggam Karin. Sedangkan Karin mengalihkan debaran jantungnya dengan menatap jalanan, sampai matanya terpaku menatap butik nan indah dan mewah di samping perusahaan DV.
" Kau menyukainya?"
" Hmm! Butik itu bagus, pemiliknya pasti cantik." Devian tersenyum tipis mendengar itu.
" Ya, pemiliknya cantik." ucapan Devian membuat senyuman Karin luntur. Karin sedikit sedih Devian memuji pemilik butik.
" Ayo turun." saking kecewanya Karin sampai tidak sadar kalau Devian memarkirkan mobilnya di tempat butik.
" Dev, kenapa kita disini?"
" Untuk mengetahui siapa pemilik butiknya." Karin berdecak sebal, tidak taukah Devian suasana hatinya langsung buruk.
" Aku tidak mau." penolakan Karin dianggap angin lalu oleh Devian. Devian mengangkat Karin yang tidak mau bergerak.
Sesampainya mereka di butik para pelayan disana segera menyambut mereka.
" Selamat pagi tuan." Devian tidak menjawab, dia terus melanjutkan langkahnya ke lantai 2.
" Devian turunkan aku!"
" Sebentar my sunshine, kita belum sampai." Karin melotot tatkala Devian menendang pintu yang Karin yakini ruangan pemilik butik tersebut.
" Tuan." hormat sekretaris Juna.
" Sekretaris Juna?" Seketika Karin linglung." Bukankah Devian bilang pemiliknya cantik?" gumam Karin yang masih bisa di dengar Devian.
" Pemilik butik ini, kamu my sunshine." Devian mencium pipi Karin sembari tersenyum melihat kebingungan Karin.
" A--apa?" Devian ingin sekali menerkam istrinya ini. Padahal tidak perlu banyak yang dipikirkan, cukup terima saja pemberiannya.
" Ini milik kamu, Karin! Sekarang tanda tangani ini, agar kepemilikannya sah." Devian menyodorkan kertas kepemilikan ke arah Karin.
" Untuk siapa tadi?" ulang Karin.
" Kamu my sunshine. Aku tau kamu diam-diam tetap merancang ide, berharap suatu saat nanti ide yang kamu rancang bisa ditampilkan, bukan? Aku hanya membantu sedikit keinginan kamu, selebihnya kamu yang akan mewujudkan itu." jelas Devian agar Karin tidak lagi bingung.
Ternyata Devian diam-diam memperhatikannya!
" Jangan menangis my sunshine!" Devian mengurai pelan pelukan mereka seraya menghapus air mata Karin dengan cara menciumnya. " Tanda tangani sekarang, maka butik ini resmi menjadi milik kamu." Devian meletakkan pena di tangan Karin, berusaha meyakinkan Karin untuk menerima pemberiannya.
Sedikit paksaan dari Devian, Karin pun menuruti perintahnya sebagai bentuk menghargai. Sebenarnya Karin terharu dengan pemberian dan perhatian Devian selama ini, hanya saja Karin ragu untuk menerima sebuah butik yang bagi Karin sangat mahal.
" Jangan merasa terbebani sayang." ujar Devian yang seakan tau perasaan Karin. Sekretaris Juna yang melihat hubungan tuan dan nyonya-nya semakin berharap mereka segera dikaruniai anak.
Karin pikir keterkejutannya sudah berakhir, tetapi saat dia memasuki perusahaan DV tepatnya di ruangan pribadi Devian ada banyak sekali lukisan dirinya. Bahkan tidak satupun Karin menemukan lukisan Angel!
" Dev?"
" Maaf. Dulu aku tidak tau lukisan Angel sangat melukai perasaan mu! My sunshine, mungkin lukisan ini terlihat biasa. Namun, aku melukisnya dengan perasaan cinta dan rindu yang menyatu."
Bolehkah Karin menerima Devian kembali?
Bolehkah Karin menuruti kata hatinya?
Haruskah Karin menurunkan egonya? Dan mulai membuka lembaran baru?
Sembari pertanyaan di benaknya muncul, Karin terus menatap lukisan-lukisan dirinya di ruangan Devian. Satu lukisan yang menarik perhatian Karin, yaitu lukisan dirinya sedang tersenyum memegang bunga mawar di tempat kenangan terindah Devian bersama masa kecilnya.
Karin mengelus lukisan tersebut.
" Tempat ini aku ingat sebagai harapan indah kita. Kita sama-sama mengharapkan sesuatu yang indah menanti di masa depan, seraya menanam bunga mawar kecil yang kita harap tumbuh semakin besar." Karin menoleh ke samping, melihat Devian yang sedang menatap lukisan itu sambil menjelaskan tempat berharganya ini.
Detik berikutnya Devian ikut menatap Karin. Dia menarik Karin ke dalam pelukan lalu menundukkan badannya ingin menyandarkan kepalanya di pundak Karin.
" Karin, bisakah kita memulai lembaran baru? Aku tau perasaan kecewa itu tidak bisa dilupakan. Aku juga tidak sekuat dirimu menahan perasaan ini, setiap malam aku dihantui perasaan takut. Aku takut kamu tetap menolak ku setelah 2 Minggu perjuangan ini. Meski perjuangan ini sebentar aku merasa sangat gila. Aku gila memikirkan hasil akhirnya." Devian kembali menegakkan tubuhnya beralih menggenggam tangan Karin membawanya untuk dikecup.
Bibir ranum itu terkatup rapat. Karin bingung harus mengatakan apa. Suasana yang begitu hening membuatnya bisa mendengar jelas degup jantung serta helaan napas Devian. Pikiran Karin kalut, dia tak menyangka Devian benar-benar serius memperbaiki hubungan mereka.
" Katakanlah sesuatu, jangan hanya diam my sunshine. Beri tau aku, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau membuka lembaran baru bersama ku."
" Aku... Aku..." Karin terbata. Lidahnya mendadak kelu, ditambah tatapan Devian menghunus serasa menembus jantungnya. Tatapan yang selalu Karin dambakan.
Kedua mata Karin membeliak saat tanpa permisi Devian membenamkan satu ciuman di bibirnya. Ciuman yang terasa mendalam, sama sekali tidak ada gairah yang tersirat selain hanya kelembutan dan cinta yang tersalur.
Devian sadar Karin masih ragu padanya. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan Karin. Saat rangkaian kata, tindakan dan bahasa mata masih tak tersampaikan. Satu-satunya cara yang terpikirkan oleh Devian adalah memberikan sentuhan yang bisa menyalurkan perasaan cintanya agar sampai di hati terdalam Karin, dan menghilangkan keraguan wanitanya.
Merasa cukup penyampaian cintanya, Devian melepaskan ciuman mereka. Dengan ibu jarinya, Devian mengusap jejak basah yang melekat di bibir ranum Karin. Sedangkan Karin menunduk merasa malu ketahuan menikmati ciuman Devian.
Setelah berhasil mengatur nafasnya, Karin bertanya." Sebutkan satu alasan yang membuatku harus memulai lembaran baru bersamamu." Karin memberanikan diri menatap mata Devian.
" Kamu tidak melihat pancaran cintaku padamu? Aku tau kebodohan ku di masa lalu, tapi ku mohon hiduplah bersamaku. Aku mencintaimu. Aku merasa kesepian jika kamu meninggalkanku." Devian tidak bohong. Sewaktu Karin pergi dia selalu merindukan perhatian tulus Karin. Rasa aman dan nyaman setiap berada di dekat Karin, tidak pernah dia dapatkan pada wanita lain. Hanya pada Karin, Devian bisa menunjukkan sisi lemahnya.
Cukup lama Karin diam, menimbang keputusannya. Dan pada akhirnya Karin memberikan Devian kesempatan kedua. Karin tau kehidupan rumah tangga tidak akan pernah luput dari kesalahpahaman, namun dia yakin dengan mereka yang saling mencintai pasti bisa melalui hal itu bersama.
Devian langsung merengkuh tubuh Karin, menghujani puncak kepala Karin dengan kecupan seiiring ucapan terimakasih yang tanpa henti terus dia gumam-kan tatkala Karin menyetujui ajakannya.