IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Preeklamsia



Malam semakin larut, angin bertiup kencang menandakan akan ada hujan sebentar lagi. Cuaca di luar sangat dingin, tapi di tengah dinginnya ada kehangatan diantara sepasang suami istri.


Devian tampak tertidur lelap disertai senyum tipis. Karin yang terbangun karena ngidamnya tidak tega mengganggu suaminya. Sudah memasuki 3 bulan kehamilan dan bulan ke 4 penyakit itu pasti akan terlihat.


" I love u my husband." Setelah mengecup pelan dahi Devian, Karin bergerak perlahan keluar dari kamar.


Kegiatan yang akan dia lakukan adalah membuat roti bakar. Disaat Karin sibuk memanggang, Devian juga terusik dari tidur ketika merasakan sisi tempat tidur Karin terasa dingin.


" My sunshine?" Devian mengucek matanya.


" Sayang." suara bising dari arah dapur menuntun Devian.


Aroma enak dari dapur meyakinkan Devian bahwasanya istri tercinta sedang berada di sana. Devian pun menghampiri asal aroma tersebut hingga menemukan seseorang yang dicari sedang membelakangi dirinya.


" Sedang apa?"


" Berdandan!" jawab Karin kesal. Ayolah dia sedang lapar, jangan bertanya sesuatu yang jelas bisa dilihat.


" Tanpa berdandan my sunshine ku tetap cantik." Karin berdehem pelan menghargai rayuan maut Devian.


" Sayang! Kenapa tidak menyuruh-ku, sih!?" Devian mengekori Karin yang tampak tidak sabar melahap roti bakar.


" Aku sedang malas." jawab Karin asal." Jangan bicara! Aku ingin menikmati ini!"


Akhirnya Devian hanya menatap Karin menikmati roti bakar. Tidak mau mengganggu mood istrinya yang terkadang sensitif.


" Uhh! Kenyang-nya!" Devian ikut tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya.


" Aku tau diriku ini sangat cantik! Jadi, jangan menatap seperti itu, tuan." lihat! Mood Karin kembali baik setelah makan. Dia bahkan menggoda suami yang tadi dirinya acuhkan.


" Lihat-lah baby! Mommy kamu ternyata genit!" Tau mood Karin sedang baik, Devian memanfaatkan kesempatan dengan baik. Dia bergantian mencium perut dan bibir Karin.


"Dev---, Sshh!" Karin meringis pelan, merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut atasnya.


Melihat itu, Devian panik. " Kenapa sayang? Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Devian hendak mengangkat Karin.


" Aku baik-baik saja." meski mengatakan baik-baik saja, tapi tindakan Karin berlainan. Tangannya mencengkram kuat lengan Devian, mencoba meredakan sakitnya.


" My sunshine, katakan apa yang terjadi?" Tidakkah Karin mengerti Devian begitu panik. Dia bahkan bingung harus menuruti perkataan istrinya atau keputusannya.


" Aku akan membawamu ke rumah sakit!" putus Devian tegas.


" Tidak perlu."


" Apanya yang tidak perlu, Karin! Kau kesakitan seperti itu! Berhentilah berpura-pura kamu baik-baik saja. Aku mengkhawatirkan kalian!" Devian hendak menggendong Karin, namun penolakan berupa dorongan yang di dapat Devian.


" Apa yang kamu mau? Setidaknya jika kamu baik-baik saja, biarkan aku membawa kamu untuk memeriksa anak-ku! Atau kamu memang berniat ingin membunuh anakmu sendiri, dengan cara seperti ini!" Sungguh Devian tidak bisa mengendalikan ucapannya. Dia marah, panik, dan kalut melihat wanitanya kesakitan tapi bertingkah baik-baik saja.


Karin sedih mendengar ucapan Devian.


 Dia tidak sampai berpikir untuk membunuh anak yang diharapkan!


Dia hanya tidak ingin penyakit ini diketahui!


" Kita ke rumah sakit sekarang! Jangan membantah-ku my sunshine!" Terpaksa Karin pasrah mengikuti kemauan Devian yang sangat keras kepala.


Karin tau kebohongan itu cepat atau lambat pasti terbongkar. Devian akan mengetahui penyakitnya. Dan mungkin inilah waktunya!


Di perjalanan rumah sakit, rasa sakit itu semakin bertambah. Tangan dingin Karin semakin menggenggam tangan hangat Devian.


Devian tidak tega melihat istrinya kesakitan, dia terus mengusap perut istrinya mencoba bernegosiasi dengan anaknya untuk mengurangi rasa sakit wanitanya.


Sesampainya di halaman rumah sakit, Karin yang tidak kuat rasa sakit pada akhirnya jatuh pingsan." My sunshine!" Devian berusaha menahan kegilaannya. Cukup kepergian kedua orang tuanya yang membuat dia merasakan perasaan takut ini.


Jangan lagi wanitanya! Sunshine-nya!


" Bagaimana kondisi wanitaku?" sekian kali Devian bertanya setiap salah satu perawat keluar dari ruangan dimana istrinya sedang ditangani.


" Hey! Cepat katakan, bagaimana keadaan istriku!" bentak Devian.


Devian sangat mencintai Karin! Dia selalu berusaha memberikan kenyamanan dan rasa aman agar Karin tetap berada di sisinya. Dan kejadian tak terduga ini, sungguh membuat Devian menggila!


Bagaimana keadaan anaknya?


Kenapa wanitanya bisa kesakitan seperti itu?


Apakah wanitanya dan anaknya akan baik-baik saja?


Pertanyaan yang terus terngiang di kepalanya.


" Tuan Devian." panggil dokter yang menangani wanitanya.


" Bagaimana keadaan istri dan anak kami, dok?" Tanya Devian lirih sambil menatap pintu ruangan istrinya.


" Nyonya Karin sudah membaik meski belum siuman. Tekanan darahnya cukup tinggi, yang merupakan gejala awal preeklamsia. Selain itu, pembengkakan pada bagian kaki juga menjadi penguat diagnosa bahwa nyonya Karin menderita preeklamsia." jelas dokter yang menangani Karin.


Mendengar penjelasan dokter kandungan di hadapannya. Devian terdiam!


" Sa--ya bahkan tidak sadar kaki-nya membengkak." lirih Devian merasa gagal menjadi suami dan calon ayah yang siaga.


" Maaf tuan! Saya rasa nyonya Karin, sudah sadar sejak awal jika dirinya terkena preeklamsia. Karena, di pemeriksaan terdapat beberapa komposisi obat yang berguna untuk menurunkan tekanan darahnya."


Deg!


Devian tertegun mendengarnya.


wanitanya sudah mengetahui penyakit itu sebelumnya. Tapi, Karin tidak memberitahukan apapun kepadanya! Devian merasa tertampar. Dia merasa tidak mengenal sunshine-nya.


Kenapa Karin menyembunyikan itu?


Seberapa banyak rahasia yang dimiliki wanitanya?


Tidak cukupkah pembuktian cinta-nya? setidak yakin itu, Karin dengannya? Atau karin takut jika memberitahukan kebenaran ini, Devian akan meninggalkannya?


Devian tidak fokus lagi mendengar penjelasan dokter. Untuk saat ini, dia sedang mengatasi rasa takut berlebihan mendengar kondisi Karin.


......................


Tubuh yang kaku itu, cuma bisa berdiri di depan sang istri yang terbaring tak berdaya di hadapannya.


Baru semalam istrinya bersikap manja dan berbagi canda tawa, sekarang wanitanya sedang tergeletak dengan tubuh dipenuhi alat medis. Mata wanitanya yang indah juga tatapan teduh Karin tertutup rapat.


" kenapa kamu menyembunyikan ini? kumohon berbagi-lah keluh kesah mu kepadaku! Jangan menyimpan dan bersikap seolah kamu baik-baik saja." Devian duduk menggenggam tangan hangat wanitanya, dan menumpahkan segala kesedihan, rasa takut, dan kecewanya.


Devian sangat takut kehilangan sunshine-nya!


" Bisakah kamu berjanji, jangan tinggalkan aku? kumohon jangan tinggalkan aku, sunshine." tangis Devian akhirnya pecah.


Di tengah air mata yang menetes, sebuah tangan mengusap air matanya pelan. Perlahan Devian menatap mata indah wanitanya terbuka.


" Jangan menangis! Bukankah suamiku ini sangat tangguh?" Karin tersenyum pelan. " Kami akan baik-baik saja."


Devian menatap dalam retina wanitanya. Wanita yang dulu bertingkah menyebalkan, wanita yang dulu bertingkah semaunya.


Entah kenapa Devian lebih ingin Karin bersikap seperti itu! Dibandingkan dengan sikap Sekarang, yang selalu mengutamakan kebahagiaan dirinya.


Pada Akhirnya menyalahkan diri mereka masing-masing adalah solusi saat ini. Devian menyalahkan keinginannya untuk memiliki anak, sedangkan Karin menyalahkan dirinya yang merasa tak sempurna.