IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
I Love You



Sebulan Devian tidak menemukan jejak Karin, meski begitu usahanya menunjukkan perasaan begitu serius. Mulai dari pembangunan butik tidak jauh dari perusahaan DV, ruangan kantor dipenuhi lukisan Karin yang dilukisnya ketika merasa rindu, bahkan Devian mendatangi mansion keluarga Karin untuk pertama kalinya. Walaupun mendapatkan banyak pertanyaan mengenai Karin.


" Huh!" Devian menghela nafas berat. Dia sebenarnya sangat capek tetapi pertemuan klien di negara Y tidak bisa diwakilkan oleh sekretaris Juna.


Pertemuan dilaksanakan di restoran dalam mall, mengingat sekarang weekend dan klien yang akan diajak bekerjasama sedang menikmati waktunya bersama keluarga, mau tak mau Devian mengikuti permintaan klien dikarenakan dirinya yang selalu mengundurkan jadwal pertemuan mereka.


Bruk!


" Sorry." ucap mereka bersamaan.


Deg!


" Karin?"


" Devian?"


Karin berdecak sebal, bagaimana bisa Devian berada disini? Dan pertemuan mereka sangat tidak keren sekali! Karin yang sibuk menikmati makanan, dan Devian sibuk menatap ponselnya yang mengakibatkan mereka bertabrakan.


WHAT THE HELL!


Karin bersiap lari, dia belum siap bertemu Devian. Sungguh dia malu! Padahal keinginannya pertemuan antara dia dan Devian harus keren dengan dia sebagai perempuan yang anggun.


" Tunggu!" Devian menahan Karin erat.


" Lepas Dev!" Sekarang Karin menyesal pergi tanpa berpamitan pada Mateo.


" Ikut aku!" Devian menyeret Karin secara paksa menemui klien. Dia harus menyelesaikan kerjasama ini barulah hubungannya dengan Karin.


" Lepas Dev! Jangan sampai gue teriak disini!"


" Teriak aja." Devian menantang Karin.


" Tolong! Ada penculik!"


" Gak ada penculik yang setampan ini sayang."


Deg!


Karin menormalkan jantungnya ketika Devian memanggil kata sayang.


" Help me!"


" Jangan pedulikan! She is my wife."


Setelah kejadian tak terduga, disinilah Karin berada dengan wajah cemberut. Bertemu klien Devian bersama keluarga mereka.


Selagi Devian membahas kerjasama, Karin diam-diam menghubungi Mateo.


" Senang bekerjasama dengan anda." Ya, rapat yang tidak butuh waktu lama pun selesai, Karin terus menatap sekeliling berharap Mateo segera tiba.


Sungguh dia belum siap bertemu Devian saat ini!


'Dimana dia!' kesal Karin ketika klien Devian sudah pergi, Mateo masih juga tidak datang.


" Ayo kita pulang." Devian menarik tangan Karin.


" Tidak mau!"


" Ayo Karin."


" Stop Dev! Lo gak berhak mengatur gue! Kita udah berakhir!"


" We're not over! Ayo bicara di taman." mau tak mau Karin pasrah, semoga saja Mateo melacak keberadaan dia nanti.


Wanita yang dia rindukan, wanita yang berhasil menyiksanya sedemikian rupa sampai membuat hidup dan hatinya berantakan.


Sebulan waktu yang lama Bagi Devian mencari Karin, dan siapa sangka dia bertemu Karin di negara ini saat melakukan perjalanan bisnis.


Sepersekian detik Devian mematung. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna, tersenyum lebar. Sedangkan hatinya berdebar kencang, sangat kencang! Meski perasaannya terlambat setidaknya dia menyadari sebelum Karin dimiliki orang lain.


" Karin." Ucap lirih Devian, " A--apa aku sudah mengatakan I Miss you?." seketika Karin menatap Devian, senyum yang lebar dan matanya yang berkaca-kaca itulah yang Karin bisa deskripsikan tentang Devian.


" You miss me?" Entah kenapa Karin tidak bahagia mendengarnya. Penghinaan dan kekecewaan Karin terlalu besar pada Devian.


" Kenapa?" alih-alih senang Karin malah tersenyum pedih.


Karin marah! Sangat marah! Oke bagi sebagian orang ini sepele, tetapi tidak untuk dia!


Devian tidak tau seberapa besar harapan Karin pada malam itu! Seberapa sabar Karin menunggu Devian datang ke restoran! Seberapa kuatnya Karin menekan tangisannya ketika pihak restoran terus saja menanyakan kapan makanan harus disajikan.


Dan betapa kecewa-nya Karin ketika restoran yang dia sewa sudah harus tutup, tetapi dengan bodohnya dia tetap menunggu di depan restoran.


Apa yang dia dapatkan?


Hanya panggilan tidak dia jawab dari sekretaris Juna, yang Karin bisa tebak itu pasti informasi papa Teo. Kenapa? Karena panggilan itu terjadi sekitar jam 4 pagi! Karin tau itu inisiatif sekretaris Juna.


Devian tidak pernah menganggap-nya!


Devian tidak memberi kabar jika dia menolak Karin. Devian membuat Karin seperti wanita bodoh yang menunggu sampai pagi di depan restoran! Bahkan tentang papa Teo, baru diberi tau ketika dia mendatangi mansion.


Jangankan mengungkapkan penolakan, Devian juga tidak berusaha menghubungi-nya mengenai informasi papa Teo. Saat itu, Karin sadar. Perkataan Devian tentang dia yang bukan bagian dari keluarga papa Teo, memang benar.


" Lo Bahkan gak bisa jawab! Pergilah!" Karin memberikan jarak sejauh mungkin.


" Because I Love you!" Jawab Devian setelah cukup lama terdiam.


Mendengar ucapan Devian Karin tertawa terbahak-bahak. Pernyataan cinta yang dulu dia nantikan, yang dulu sangat di harapkan, kini terasa hambar untuknya. Hatinya menolak keras pernyataan itu, menganggap candaan yang Devian lontarkan.


" Omong kosong." umpatnya, kesal.


" I love you my sunshine. Aku merindukan mu lebih dari yang kamu bayangkan." ulang Devian.


kata-kata Devian sungguh tidak mempan untuknya. Karin tidak terpengaruh sedikitpun, malah kebencian tumbuh di benaknya.


" Lo mau balas dendam karena gue pergi gitu aja? Pukul gue! Siksa gue! Jangan beri gue perasaan palsu Lo, Dev! Gue capek jadi perempuan bodoh, yang berharap orang yang dicintai bisa melupakan gadis kesayangannya." Devian menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak perkataan Karin.


" I really love you..." ucap Devian dengan suara yang rendah dan senyuman setulus mungkin. Dia bingung bagaimana meyakinkan Karin bahwa perasaan dia tulus.


Karin tersenyum sinis, meski di hatinya masih tersisa cinta yang membara, nyatanya pernyataan cinta Devian tidak bisa menggetarkan hatinya.


Devian tau Karin tidak percaya dengan pernyataan cintanya, maka dari itu dia terus mengucapkan I love you pada Karin. Mau memberi penjelasan pun percuma! Karena Devian sadar tidak ada penjelasan setiap kesalahan yang dia lakukan.


" Gue muak dengarnya. Pergilah!" Karin mendorong Devian, sayangnya Devian malah menarik Karin ke dalam pelukannya.


" I love u, Karin." ucapnya tanpa bosan.


" Lepaskan!" Karin memberontak sekuat tenaga. " Lepaskan brengsek!" teriak dia kesetanan. Tangan dan kakinya mencoba menendang Devian, namun tidak berpengaruh sedikitpun pada lelaki itu.


" Hey, tenanglah. Bagaimana gue bisa meyakinkan Lo, kalau perasaan gue nyata Karin."


" Lo hanya mengungkapkan omong kosong! Lo berharap gue percaya setelah semua sikap dan sifat yang Lo tunjukkan? Gue tau, ego Lo terluka karena gue pergi gitu aja. Lo gak mencintai gue Devian! Lo cuma mau balas dendam. Lo cuma mau nunjukin kalau diri Lo yang pantas meninggalkan gue! Hentikan semua ini Devian! Gue gak mau terluka lagi! Gue gak akan mau terjebak untuk kedua kalinya sama Lo!"


Semua penolakan Karin, Devian telan mentah-mentah. Dengan hati berdenyut nyeri dan rasa sakit tak terhingga Devian mencoba menahan emosinya. Dia marah pada dirinya sendiri yang selalu menganggap Karin tidak layak untuknya. Dia selalu berpikir satu-satunya perempuan yang layak adalah gadis masa kecilnya. Padahal kenyataannya dirinya-lah yang tidak layak bersama siapapun.