
Pagi masih gelap saat Devian kembali membuka matanya. Devian merentangkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa penat. Dia juga senyum-senyum sendiri ketika mengingat kejadian beberapa jam lalu. Betapa manisnya Karin mengomeli dirinya ketika makan cookies, tapi sangat galak disaat Devian ingin menumpang tidur di kamarnya.
Sebenarnya sofa yang Devian tiduri terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya yang tumbuh tinggi dan tegap. Tapi demi bisa mengembalikan kepercayaan Karin, dia rela melakukannya.
" Huh! Ini masih jam 5 pagi, apa yang harus kulakukan?" gumam Devian sembari melihat sekelilingnya.
...----------------...
Karin dan Mateo terbangun karena mencium aroma daging yang dipanggang dari dapur. Meski masih mengantuk, rasa penasaran mereka sangat kuat. Dengan langkah malas mereka membuka pintu kamar masing-masing.
" Apa yang suami Lo lakukan?" tanya Mateo.
" Entahlah!"
Mereka berjalan menuju dapur yang tak jauh dari kamar. Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Devian berdiri hanya mengenakan celana boxer dan rambut berantakan sedang memasak di dapur.
" Apa yang sedang kau lakukan, Dev!?" tanya Karin terkejut. Matanya membola melihat tampilan sang suami yang hampir telanjang itu. Otot tubuh belakang Devian terlihat liat karena sedikit basah oleh keringat.
" Apa aku membangunkan-mu?" Karin tidak menjawab pertanyaan Devian, dia malah spontan menutup mata Mateo yang masih mengagumi bentuk tubuh Devian.
" Tutup mata Lo! Jangan sampai Lo menyukai sesama jenis, bodoh!"
" Iwh! Geli gue bayangin-nya! Gue cuma shock doang, heran kenapa tubuh gue gak sebagus itu!"
" Alasan! Devian pakai baju Lo!" perintah Karin yang langsung dituruti Devian. Dia berlari ke sofa lalu memasang kemeja putihnya dengan cepat menyebabkan kancing bajunya banyak yang tak terpasang.
" Dia seperti gelandangan." bisik Mateo pada Karin.
Devian bahkan tetap memakai boxer. Ya, salah Karin juga yang hanya menyuruh ' pakai baju'!
" Ayo sayang sarapan dulu," Devian menggeser kursi untuk Karin duduki, dan sedikit mendorong Mateo yang menghalangi kegiatannya.
Karin melihat hasil masakan Devian, dimana lelaki gelandangan itu menyiapkan roti daging asap dan juga irisan tomat segar.
Tanpa banyak kata Karin langsung menikmati makanan yang tersaji.
" Ternyata tidak buruk masakan gelandangan ini!" bukan Karin yang mengatakan tetapi Mateo. Dia sedang balas dendam karena Devian tadi mendorongnya.
" Dasar tidak tau terimakasih!" ayolah Devian sekarang sedang cosplay menjadi suami idaman. Dia menahan dirinya untuk tidak bersikap kekanakan.
Karin pikir sarapan kali ini tidak akan ada keributan.Tapi kenyataannya malah sebaliknya!
Apakah ini salah dia? Dia sudah kenyang dan berniat memberikan setengah roti dagingnya pada Mateo, mengingat Mateo penampung segalanya. Lagian seingat Karin Devian tidak suka makanan yang dibagi, karena menurutnya itu makanan sisa.
Tapi yang terjadi sekarang.
" Berikan padaku!" pinta Devian dengan suara dingin.
" Tidak! ini milikku!" jawab Mateo tak kalah dinginnya.
" Sekali lagi aku tanya, kau mau memberikan padaku atau tidak!?"
" Tidak!" jawab Mateo bersikukuh sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba saja Devian memukul kuat pundak Mateo, mengakibatkan roti daging itu terjatuh mengenaskan. Kesal atas pukulan Devian, Mateo pun membalas pukulan dari Devian tak kalah kuat.
" Berhenti!" teriak Karin " Apa kalian sedang mengikuti lomba tinju!" hardik marah Karin.
Mendengar suara Karin yang sangat marah. Devian langsung menurunkan tinjunya dan melepaskan kerah baju Mateo.
" Kenapa kamu merebut makanan Mateo?" Karin menatap marah Devian.
" Bukankah kau mendengar secara langsung bahwa akulah yang menawarkan pada Mateo!?"
" Kenapa tidak memberikan padaku saja? Kenapa harus dia!?" Sungguh Devian kesal. Dia susah payah berinisiatif membuat makanan itu untuk menarik simpati Karin. Tapi kenapa makanan yang dibuatnya dengan penuh perasaan diberi ke Mateo.
" Kau lupa atau pura-pura lupa? Bukankah kau tidak menyukai makanan bekas!?" Karin ingat sekali kenangan menyakitkan itu. Sewaktu mereka makan di sebuah restoran, Karin mencoba menarik perhatian Devian dengan cara mencicipi pesanan Devian.
Namun yang terjadi, Devian kembali memesan makanan yang baru dan mengatakan dia tidak suka ada orang yang mencicipi makanannya. Dia menganggap itu seperti makanan sisa.
Devian terdiam. Dia baru ingat dia pernah mengatakan itu agar Karin tidak mencintainya.
Tidak menjawab pertanyaan Karin, Devian beranjak dari meja makan, dia menggunakan celananya lalu pergi entah kemana. Sedangkan Karin memandangi Devian yang pergi meninggalkan rumah.
" Kau tidak ingin mengejarnya?" Karin hanya menatap horor Mateo, sejak kapan teman pengkhianat-nya ini mengubah panggilan.
...----------------...
Devian cukup menyesal pergi dalam keadaan emosi. Saking gabutnya dia hanya melempar batu kerikil ke dalam danau yang baru ditemui di sekitar rumah Mateo.
Dia marah pada dirinya dulu yang tanpa pikir panjang selalu mengucapkan kata-kata menyakitkan pada Karin. Tapi, dia sedih Karin terkesan tidak menghargai sarapan yang dia buat.
' Apa ini yang dirasakan Karin, setiap dia menolak kegiatan bersama dengan Karin?'
' Padahal Karin sudah menyiapkan dengan setulus hati' pikir Devian tersenyum sedih.
Bruk!
" Sial! Sakit sekali!" Devian menoleh ke asal suara, terlihat Mateo terjungkal.
" CK! Dasar manusia tidak berperasaan! Bukannya dibantu malah diam aja!" Mateo menjitak kepala Devian kesal sembari ikut duduk di sebelah Devian. Sedangkan yang dijitak hanya pasrah, membalas pun sedang tidak bertenaga.
" Maaf! Ucapkan satu kata itu agar kau bisa meluluhkan hati Karin meski hanya sedikit" beri tau Mateo.
" Kenapa? Apa perasaan bersalah dan cinta ini tidak cukup membuktikan?"
" Hei bodoh! Kau tidak tau selain tindakan wanita juga butuh kepastian dari ucapan yang tulus?"
" Apa Karin menerima permintaan maaf ku?"
" Entahlah! Tapi satu hal yang harus kau ketahui, sewaktu hari ulang tahunmu Karin tidak tau kau akan menerima atau menolak. Tapi dia tetap melakukan hal itu, bahkan dia menunggu di restoran Sampai dini hari berharap kau akan datang menjemputnya." Mateo tidak ada di tempat kejadian, namun dari cerita Karin dia tau betapa kecewa dan sedihnya perempuan itu.
" Jadi, kenapa kau memperdulikan hasil akhirnya? Padahal Karin terus memperjuangkan cintanya tanpa memikirkan hasil akhir yang menyakitkan baginya!"
Devian terdiam. Mateo benar, kenapa dia takut dengan penolakan Karin nanti? Seharusnya dia terus berjuang mempertahankan cintanya seperti yang Karin lakukan dulu.
" Dia wanita yang kuat! Dia bahkan menungguku sampai dini hari bersama harapan semu yang dipertahankannya." Devian menatap Danau.
" Danau ini indah! Aku ingin mengadakan dinner disini! Bagaimana menurutmu?" Mateo hanya mengangguk tapi perkataan selanjutnya dari Devian membuat dia ingin sekali mendorong lelaki gelandangan ini ke danau.
" Kalau begitu minta duit, dong!"
" Lo pikir gue bank penyimpanan uang, huh!?" Mateo bahkan mengganti panggilan saking kesalnya.
" CK! Catat aja berapa uang yang terpakai, nanti dibayar sama sekretaris Juna!" Devian masih tetap menengadahkan tangan agar Mateo ikhlas memberikan uang.
" Ini! Ganti dua kali lipat!" Devian dengan cepat menyimpan uang pemberian Mateo, bukannya berterima kasih dia langsung berdiri tak lupa membalas jitakan Mateo tadi dengan sebuah tendangan kuat di punggung yang menyebabkan Mateo terdorong ke danau.
Bukannya merasa bersalah Devian malah tertawa puas mendengar segala umpatan Mateo. Sebelum menjauh dia mengucapkan terimakasih lalu pergi tanpa berniat membantu Mateo.