IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
I STATEMENT



Kini mereka berada di ruang bawah tanah. Menyeret lelaki yang bekerjasama dengan ibu tiri Devian.


Kemarahan belum juga reda dalam diri Axel. Dia bodoh melindungi pelaku kejahatan! Pantas anak buahnya tidak bisa mencari kebenaran tentang kematian kedua orang tuanya. Karena pelakunya lebih dulu tau apa yang akan dia lakukan dan segera menggagalkannya.


Untung dia mendengarkan Karin untuk tidak bekerjasama dengan ibu tiri Devian. Jadi, semua masalah terbongkar dengan mudahnya. Kalau dia tetap kekeh dengan pendiriannya, mungkin permasalahan ini berhenti di tengah jalan. Seperti kejadian Devian dengan temannya di masa lalu.


Ah sial sekali dirinya, secara tidak langsung dia membunuh teman Devian yang dulunya mencoba meretas tentang dirinya yang menjadi pelindung ibu tiri Devian.


CK! Hanya karena memori kecilnya mengingat ibu tiri Devian ialah teman ibunya, dengan bodoh dia meminta keterangan padahal wanita jahat inilah pelaku sebenarnya!


Bugh!


Tidak pandang bulu, Axel memukul ibu tiri Devian.


" Kau!" Teriak adik tiri Devian melihat ibunya di pukul.


" Apa brengsek!" Axel menendang adik tiri Devian.


" Dasar pasangan gila! Nikmatilah hukuman kalian!"


Satu Informasi tentang lelaki yang bekerjasama dengan ibu tiri Devian! lelaki itu ayah kandung dari adik tiri Devian. Salah satu preman yang dulu memperkosa ibu tiri Devian, juga memilki dendam pada keluarga Axel. Mereka menjadi pasangan gila yang melahirkan seorang anak laki-laki, yaitu adik tiri Devian.


Tentang opini publik yang direncanakan Karin, sudah dibereskan oleh Devian, dengan menggunakan anak buah Axel berpura-pura menjadi polisi di negara tempat perusahaan DV berada.


Sengaja mereka melakukan hal itu, agar lebih leluasa menyiksa ketiganya! Terlebih Axel yang belum puas menyiksa mereka. Axel akan membalas kematian ketiganya, memberikan racun sedikit demi sedikit. Ketiganya harus mengalami kematian seperti kedua orang tuanya!


Karin mendekati ibu tiri Devian yang tangannya di borgol.


" Aduh, gue lupa belum membalas tamparan wanita jelek ini!"


Plak!


Plak!


" Terakhir buat Lo yang menjebak gue!"


Bugh!


" Ka--kau! Karena kau kehidupan-ku hancur! Aku bersumpah kau tidak akan pernah berhasil dalam kisah percintaan!"


Srett!


Belum sempat Karin membalas, ibu tiri Devian menancapkan pisau ke perutnya. Entah darimana wanita jahanam mendapatkan pisau itu.


" Karin!" teriak Axel dan Devian bersamaan.


Ugh!


Sebelum Karin dibawa Axel, ibu tiri Devian mendapatkan balasan dari Devian. Devian menusuk bahu wanita jahanam.


" Nikmatilah hari-hari dengan penyiksaan tiada henti!" Setelahnya Devian dan sekretaris Juna menutup pintu ruang bawah tanah yang dijaga oleh bodyguardnya ditambah anak buah Axel.


...----------------...


RS MELATI


Devian menatap tajam Axel yang sedari tadi memperhatikan Karin. Meski dirinya tidak mencintai Karin, tetapi status Karin masih istrinya!


Lihatlah mereka! Seperti menganggap dirinya tidak ada! Apalagi sekretaris Juna memihak Karin.


Dia mengerti Sekretaris Juna juga sedih tentang kebenaran kematian ibunya. Tapi, kenapa harus ikut-ikutan memperhatikan Karin? Lagian luka yang terkena pisau juga tidak dalam!


" Ehem! Pulanglah kalian! Dia harus tidur!" usir Devian.


" CK!Juna pergilah ke ruang rawat papa Teo!" kesal Devian karena tidak ada yang beranjak dari tempatnya.


" Saya ingin disini tuan! Saya berterimakasih kepada nona Karin."


" Huaa! Sekretaris Juna memang paling baik! Tapi ini berkat bantuan Axel juga. Kalau Axel masih di pihak pelaku pasti cuma jalan buntu yang Karin dapatkan!" Axel tersenyum tipis membalas pujian Karin.


Sebenarnya di lubuk hati Devian, dia mengucapkan terimakasih kepada Karin. Wanita yang di kenal sebagai sahabat Angel, sungguh berani menyelesaikan permasalahan keluarganya.


Tetapi gengsinya tinggi berbuat baik dengan Karin! Jadilah dia bersikap acuh pada Karin.


Keesokan harinya, Karin menatap langit-langit kamar sambil tersenyum. Bersyukur tidak ada orang saat ini. Devian pergi membeli sarapan, sekretaris Juna yang diperintahkan menjaga papa Teo dan Axel harus kembali ke negara X membawa ketiga pelaku kejahatan untuk disiksa-nya.


Karin senang Devian tidak akan hidup dalam tekanan lagi. Sekarang saatnya fokus menunjukkan cintanya.


Tentang perceraian yang dibahas Devian, Karin tidak peduli itu! Anggaplah dirinya wanita bodoh. Tetapi, Karin tipe wanita yang terus memperjuangkan cinta sampai dia merasa lelah. Tujuannya, agar Karin tidak merasa menyesal kalau akhirnya dia memilih menyerah.


Kriett...!


Tanpa menoleh Karin bisa menebak, Devian yang memasuki ruang rawatnya.


" Ini sarapan Lo!"


" Pengertian banget suami gue! Dev, suapin dong! Gue sakit."


" Tangan Lo gak sakit, bodoh! Makan sendiri gue juga mau sarapan!" Karin berdecak sebal melihat sifat acuh Devian yang tidak bisa hilang.


" CK! Lo romantis dikit sama istri, kek!"


Kesal Devian tidak menanggapinya, Karin menyuap bubur ayamnya sebesar mungkin.


" Setelah Lo sembuh, gue akan lanjutin surat perceraiannya!"


" Gue gak mau cerai!" Karin meletakkan bubur ayamnya, mendadak hilang selera makan ketika Devian mulai membahas kelanjutan pernikahan mereka.


" Gue akan tetap memberikan surat cerai!"


" Devian! Apa Lo gak ada rasa sedikitpun sama gue? Huh! I know, Lo masih sayang sama Angel. Setidaknya biarkan gue berjuang mendapatkan hati,Lo!"


" Percuma Karin! Gue tetap gak mau membuka hati untuk siapapun!"


" Kasih gue waktu sebulan untuk berjuang! Gue mencintai Lo, Dev!"


" Gak!"


" Dua Minggu? Tepat di hari ulang tahun Lo gue bakalan pergi kalau perasaan Lo masih sama!"


" Oke!" Setelahnya, keheningan terjadi beberapa saat. Devian yang sibuk memikirkan keinginan Karin, begitu juga Karin yang sibuk menata kegiatan yang bisa dia lakukan bersama Devian.


" Dev! Gue boleh jenguk papa Teo?"


" Hmm! Habisin makanan Lo!" Karin mengangguk senang.


Selesai menghabiskan makanan, Devian memindahkan Karin ke kursi roda katanya perintah dokter mengingat luka Karin masih basah.


Sebelum ke ruang rawat papa Teo, Karin meminta Devian ke taman rumah sakit. Karin mau menghirup udara segar.


" Dev! Gue lihat sejak pengungkapan bukti, Lo gak menunjukkan rasa sedih. Are u okay?"


" Hmm! Kalau dibilang baik-baik saja bukankah terlihat munafik? Udah lama gue gak menunjukkan perasaan sedih ataupun bahagia. Gue udah terbiasa menggunakan poker face! Lo tau, terakhir gue merasa bahagia sepertinya waktu gue ketemu Angel."


" Tapi Lo harus patah hati mengetahui Angel telah menikah, right?" Devian mengangguk meskipun Karin tidak melihat kebelakang karena Devian sedang mendorong kursi rodanya.


" Ayo berbicara menggunakan 'I STATEMENT'! Ini mengekspresikan kalimat dari sudut pandang 'gue' yang lebih ke pendapat. Dimana kita mengekspresikan perasaan tanpa bermaksud judge." Selama Karin menjelaskan, Devian hanya diam saja.


Tanda dirinya setuju saja!


I STATEMENT PUN DIMULAI!


" Gue kesal sama Lo yang takut membuka hati lagi. Karena gue merasa menjadi perempuan yang paling menyedihkan, mencintai laki-laki yang masih kejebak dengan masa kecilnya." Giliran Devian yang mengungkapkan I Statement nya.


" Gue merasa terganggu dengan cinta Lo, Karena gue yakin tetap tidak bisa membuka hati untuk siapapun itu." Karin tersenyum kecil mendengarkan perasaan Devian.


" Dasar keras kepala!" ucap mereka bersamaan, mendengar itu mereka tertawa sejenak melupakan kesedihan dan kehidupan kedepannya.