
Karin tetap menikmati Starbucks walaupun ibu tiri Devian telah pergi membawa sumpah serapahnya.
Karin benar-benar jijik dikarenakan ibu tiri Devian tak ada rasa bersalah sedikitpun, telah membunuh ibu kandung Devian.
Karin berjanji akan membongkar semua kejahatan busuk ibu tiri Devian dan menghancurkan orang yang membantunya.
Sekalipun dirinya mati!
Setidaknya ini cara mengungkapkan perasaan cintanya kepada Devian.
Mengembalikan kehidupan Devian yang seharusnya penuh kehangatan.
Puas menikmati kesendirian, Karin pun meninggalkan MALL G.
...****...
" Hello suamiku! Karin cantik datang!" teriak Karin memasuki rumah.
" Berisik Lo! Gue kira Lo udah gak bernyawa saat bertemu wanita jahanam!"
" Nanti gue mati, Lo rindu lagi! Jadinya gue nego, matinya ditunda dulu." balas Karin meski sedikit kecewa dengan ucapan Devian.
Pikirnya Devian bakalan khawatir.
" CK! Geser Lo!"
" Apaan sih! Seluas ini rumah, masa gue di suruh geser! Eh? Mau kemana Lo?" tanya Karin baru sadar Devian memegang kunci mobil.
" Mencari tau pimpinan sindikat black!"
" Gak boleh! Lo belum istirahat Devian! Paling gak Lo istirahat sebentar aja. Bisa-bisa Lo sakit, karena kecapekan."
" Gue udah biasa! Sebelum ada Lo gue selalu keluar tanpa istirahat. Gak ada tuh gue sakit!" Devian tetap melanjutkan tujuannya.
" Oke! Awas aja Lo sakit! Gue bakalan mendandani wajah Lo, terus gue foto lalu sebarkan ke kantor! biar pengagum Lo ilfeel!"
" Kalau gue gak sakit, gue bakalan nyuruh Lo membersihkan kantin kantor!"
" Siapa takut?" tantang Karin.
" Sempat Lo nangis, gue gak segan-segan jadiin Lo budak gue!"
Sepertinya pasangan muda ini tidak bisa menghilangkan kebiasaan berdebat mereka.
Untung saja berlangsung hanya sebentar, dan setelahnya kembali dengan percakapan normal.
" Y! Lo beneran mau pergi?"
" Hmm! Kenapa? Khawatir Lo?"
" Kalau iya kenapa?"
" Bagus dong! Langkah gue jadiin Lo budak semakin dekat!"
" Senang banged Lo, gue jadi budak Lo! Lebih bagus gue dijadikan ratu! Ratu yang telah membuat rajanya merasakan jatuh cinta kembali!"
" Mimpi Lo! Itu makanya jangan kebanyakan baca novel! Kehaluan Lo jadi tingkat tinggi!"
Devian membuka pintu mobil kesayangannya, BUGATTI CHIRON.
" Gue pergi! Jangan rindu!"
ucap Devian sambil mengacak-acak rambut Karin.
" Ish! Sana pergi yang jauh, dasar suami kejam!" Karin menghempaskan tangan Devian dari rambutnya, sedangkan Devian hanya terkekeh pelan.
Puas mengerjai Karin, Devian kembali ke wajah seriusnya. memasuki mobil dan mengendarai dengan kecepatan tinggi.
" Suami gue punya berapa nyawa sih?" gumam Karin melihat mobil Devian melesat kencang keluar dari halaman rumah.
...****...
Pukul menunjukkan 02.00 A.M.
Namun tak ada tanda-tanda Devian akan pulang.
Karin muak menunggu Devian yang sama sekali tak menghargai dirinya. Dengan santai sehabis menggunakan skincare, Karin merebahkan diri bersiap ke alam mimpi.
Tak butuh waktu lama untuknya mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Tepat pukul 05.00 A.M.
suara pintu yang ditutup dengan keras juga langkah kaki manusia mengusik tidur nyenyak Karin.
Perlahan Karin membuka matanya, menoleh ke arah samping.
Melihat Devian dengan tampang acak-acakan tertidur begitu saja di sebelahnya.
" CK! Gini aja tetap ganteng dia! Makan apa sih orang tua Lo, waktu hamil?" Karin menusuk-nusuk pipi Devian, tak terima wajah Devian ganteng.
Pantas perempuan terpikat oleh ketampanannya.
" Tidur aja gak beres Lo! Untung ganteng!" omel Karin sambil melepaskan jaket yang dikenakan Devian, lalu menanggalkan sepatu yang masih melekat di kakinya.
Sesudah itu, Karin kembali menidurkan dirinya. Sejenak melupakan masalah rumit keluarga Devian.
Pagi harinya, Karin bangun dengan wajah yang cerah. Secerah matahari yang menyinari kamar mereka.
Sesekali Karin bersenandung ria menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Hanya perlu beberapa menit Karin selesai dengan aktivitasnya.
" Devian bangun! Woi! Suamiku tersayang, tolonglah bangun sebelum malaikat maut menjemput mu!" Karin terus mengguncangkan tubuh Devian.
Devian tipikal manusia yang susah dibangunkan!
" Eh, Jangan- jangan ---" Karin segera memeriksa denyut nadi Devian, takutnya Devian benar dijemput malaikat maut.
" Huh! Ternyata gak! Bisa jadi janda kaya gue, kalau Lo mati!"
Perkataan Karin sangat berbeda dengan hatinya.
Padahal hatinya sudah cemas ditambah perasaan sedih jika benar terjadi.
" Devian ayo bangun!" Karin meletakkan punggung tangannya ke dahi Devian.
" What? Panas? Perasaan pas gue pegang pipi nya gak panas."
Meski Karin mengomel dia tetap berlari mengambil kompres juga air hangat.
perlahan meletakkan kompres yang telah direndam air hangat ke dahi Devian. Setelahnya mematikan AC agar Devian berkeringat.
Karin terus membolak-balik kan kompres, lalu memastikan apakah suhu panas Devian menurun.
Setelahnya Karin mencoba membangunkan Devian, Menyuruh Devian memakan bubur sedikit agar bisa meminum obat penurun panas.
" Katanya gak bakalan sakit! Devian bangun dulu bentar, nih makan bubur buatan bibi."
Mendengar suara berisik Karin, Devian membuka kelopak mata yang terasa berat.
" Berisik Lo!"
" CK! Masih bisa marah Lo! Ayo makan bubur sedikit habis tu Lo minum obat!" Karin membantu menyuapi Devian setelah menyandarkan Devian di kepala ranjang.
" Udah!" Hanya 5 suapan yang sanggup dimakan oleh Devian, Karin tak mempermasalahkannya, setidaknya Devian bisa minum obat.
" Mau dipanggilkan dokter, gak?" tanya Karin.
" Gak perlu, istirahat sebentar lagi gue juga bakalan sembuh!" Karin memutarkan bola matanya malas, saat sakit saja Devian masih menjengkelkan.
" Ayo minum obat!"
" Dah, sekarang Lo boleh tidur!" Devian memejamkan matanya, rasa pusing yang amat mendera membuat dirinya kembali ke alam mimpi.
" Huh! Apa gue foto aja ya dia begini? Biar jera! Mungkin besok-besoknya dia mulai memperhatikan kesehatan."
Karin mengambil foto Devian.
Terbaring lemah tak berdaya, dan sebuah kompres terletak di dahinya.
" Aish! Gini aja tetap ganteng! Bukannya ilfeel malah tambah suka perempuan! Gue simpan aja deh, buat ngerjain Devian boleh juga nih!"
Karin tertawa sendiri memikirkan kejahilan dirinya. Sebenarnya ingin mendandani barulah difoto, tapi tampang polos Devian ketika tidur membuat Karin tak tega.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN
Hari yang mulai petang, mengharuskan Karin membangunkan Devian.
Setidaknya Karin akan membantu Devian mengganti baju meski tidak sepenuhnya.
" Devian." ucap Karin lembut.
" Devian."
Devian sedikit menggeliat, namun tidak membuka matanya.
Karin menghela nafas pelan, sambil mengganti kompres di kening Devian.
" Woi Devian bangun!" Karin menepuk-nepuk pipi Devian, geram Devian tak kunjung bangun.
Tapi hal yang tak diduga terjadi, Devian yang masih berada di alam mimpi malah menarik Karin ke pelukannya.
Mencium lembut Karin.
sekian detik Karin terpaku oleh perlakuan Devian, namun beberapa detik kemudian Karin merasa seperti dijatuhkan ke dasar jurang.
Betapa sakitnya hati Karin, orang yang dicintainya menyebut nama sahabatnya.
Bahkan ketika Devian masih belum sadar.
Jika Devian menyebut wanita lain, Karin pasti bodo amat. Sayangnya kenapa harus sahabatnya?
Karin tidak bisa membenci Angel!
Angel sangat berharga baginya.
...'Biarkan sekali saja aku memeluk-mu, Aku mencintai-mu Angel.'...
Kata-kata itu terus terngiang, tak kuat menahan air matanya, Karin segera melepaskan pelukan Devian lalu bangkit berlari ke kamar mandi.
Tempat dimana Karin bisa menangis sekencang-kencangnya.
Karin mengunci pintu kamar mandi, lalu menyalakan keran air.
Sakit!
Bahkan di mimpi pun, Devian hanya mengingat Angel.
" AKU INGIN DEVIAN MEMANGGIL NAMA KU, DISAAT DIA KHAWATIR PADAKU ATAU SEDANG BERKATA LEMBUT. ENTAH KAPAN ITU TERJADI. TAPI KU HARAP DEVIAN MELAKUKANNYA WALAUPUN DEVIAN TAK SADAR MELAKUKAN HAL ITU ."
Ucap Karin dalam hati sambil memejamkan matanya, mencoba menghentikan tangisan yang tak dikehendaki-nya.