
Selama balapan berlangsung, para VVIP tidak berhenti mengumpat melihat pembalap dukungannya hampir saja kalah.
" Gak ada yang aneh disini." Karin melihat sekelilingnya, merasa resah terdapat penjaga di beberapa tempat, " Bahkan tidak ada tanda-tanda bos besar mereka disini." Karin berusaha mengingat dengan jelas postur tubuh dan wangi lelaki yang dilihatnya waktu di lorong.
" Lo yakin?" bisik Devian.
" Yakin! Atau dia datangnya setelah balapan selesai?"
" Mungkin."
Mereka kembali fokus melihat balapan yang berlangsung melalui layar besar.
" Ahh sial!" Berbagai umpatan kembali terdengar namun bercampur tawa mengejek dari pihak sebelah. Ya, balapan telah selesai dan taruhan balapan dimenangkan oleh para VVIP yang duduk di sudut kanan.Tempat Karin dan Devian berada sekarang.
Kini, para VVIP yang berada di sudut kiri diarahkan keluar oleh penjaga.
" Mereka yang kalah taruhan dibawa kemana?"
" Mereka akan membayar denda setelahnya membuat perjanjian tidak akan menuntut lalu diizinkan pulang." jelas Devian.
" Bagaimana Lo bisa tau?"
" Karena itu salah satu peraturan yang mereka sebutkan sewaktu mendapatkan pin."
" Terus kita yang masih disini? " Devian mengangkat bahunya pertanda dia juga tidak tau.
" SELAMAT PEMENANG TARUHAN BALAPAN! SEPERTI BIASA KAMI AKAN MENGADAKAN PESTA KECIL-KECILAN UNTUK MERAYAKAN KEMENANGAN INI!"
" Silahkan nikmati hidangan yang baru disajikan." pembawa acara kembali memegang situasi, " Dan beri sambutan kehormatan untuk bos besar kami!"
Pintu ruangan terbuka lebar, seorang laki-laki berwibawa masuk dengan langkah tegapnya.
" Devian itu orangnya!"
" Diam dan kita lihat apa yang akan dilakukan-nya!"
" SELAMAT MENIKMATI KESENANGAN INI PARA VVIP. KARENA KALIAN MEMENANGKAN TARUHAN BALAPAN, SAYA MENYEDIAKAN SATU KEJUTAN UNTUK PARA VVIP"
Setelah lelaki yang dipanggil bos besar memberikan kode, para wanita malam dan lelaki diseret masuk.
" Sial! Mereka juga memperbudak manusia? Aku ingin keluar!"
" Tahan emosi Lo! Jangan sampai Lo menghancurkan rencana kita!" Karin berdecak sebal apalagi melihat laki-laki polos mendekati dirinya.
" Apa Lo! Jangan dekati gue!" ucapan Karin sama dengan Devian yang juga di dekati seorang wanita malam. Karin lebih memilih mengambil makanan yang disajikan dibanding melakukan hal aneh seperti para VVIP.
" Devian, kue muffin ini rasanya aneh."
" Sial!" Devian membuang kue muffin dari tangan Karin. Lalu, menendang meja berisi makanan yang baru disajikan itu.
" CK! Tadi nyuruh gue nahan emosi! Eh dia sendiri yang emosian!" Karin segera menekan earphone di telinganya sebagai penghubung dirinya dan sekretaris Juna.
" Sekretaris Juna cepat temukan ruangan monitor di lorong itu! Setelahnya, arahkan kami keluar dari ruangan terkutuk ini !"
" BRENGSEK LO! APA MAKSUD LO MENCAMPURKAN MAKANAN DENGAN NARKOBA, HUH!?"
PROK! PROK!
" Wah, masih ada manusia polos, ya? Sayang sekali tempatnya salah. Cepat bawa lelaki ini ke ruangan eksekusi!" perintah bos besar.
" Wait! Hei, para VVIP kenapa kalian diam saja?"
" Nona berhenti melakukan hal bodoh! Para VVIP sudah mengetahui itu narkoba. Jadi, jangan merusak party ini." Karin mengumpat kasar, apa isi pikiran Devian sampai melakukan hal bodoh.
" Tunggu! Jangan bawa dia! Lelaki itu partner ku! Biarkan aku yang mengurusnya." Karin mencoba mengulur waktu.
" Hahaha! Nona sangat manis, ya? Lebih baik nona diam dan nikmati party ini! Sedangkan kalian cepat bawa lelaki itu keruangan eksekusi!" Devian membenturkan kepalanya pada salah satu pengawal yang menahannya , sekaligus mengambil pistol pengawal dan mengarahkan tepat pada bos besar mereka.
Karin melihat situasi mencekam juga melumpuhkan pengawal di dekatnya, lalu mengambil senjata api dan pisau yang tergeletak di lantai.
" BAWA PARA VVIP KE RUANGAN LAIN!"
Karin juga ingin keluar, tetapi dia dan Devian dikepung pengawal yang dirasanya semakin banyak. Sedangkan, Pintu tersembunyi kembali tertutup dimana pintu itu dijadikan para VVIP dan budak pindah ruangan untuk bersenang-senang.
" Diam Lo! Gara-gara Lo, kita dalam masalah." Di tengah-tengah perkelahian mereka, Karin kesal saat melihat bos besar mereka tertawa dengan santainya.
Srett!
" AW! Sakit bodoh!" Karin mengamuk tidak jelas karena lengannya tergores pisau. Akibat kejadian itu mereka terkepung.
" Well! Kalian cukup menyenangkan! Sayang sekali waktu-ku tidak banyak, jadi cepat siksa pasangan aneh itu!"
" Tunggu! Apa tidak bisa bernegosiasi?" tanya Karin.
" Mana bisa bodoh!" jawab Devian.
" Ya! Lo diam! Hei, bos besar! Lo bunuh aja cowok stupid ini! Gue ikhlas seratus persen." terjadilah perkelahian suami istri di situasi genting ini.
Dorr!
Bunyi tembakan dari pistol menghentikan perdebatan mereka.
" Berhenti bercanda!" bos besar berdiri dan mendekati Karin, " Kamu sungguh berani mengacaukan bisnis-ku, nona!" Karin berteriak kesakitan ketika bagian lengan yang terluka di genggam kuat oleh bos besar.
" Lepaskan tangan Lo, brengsek!" Devian ingin mendekati Karin, tapi dia tidak bisa lepas dari pengawal yang menahannya.
" Gue bahkan bisa bunuh Lo sekarang!" Karin menekan kuat pergelangan tangan yang masih berada di lengannya, menancapkan kuku tajamnya. Sampai Karin tersadar di pergelangan tangan bos besar terdapat gelang dirinya. Gelang yang beberapa hari ini dicarinya.
" Axel?" ucapan lirih Karin masih bisa didengar oleh bos besar.
Uhkk!
" Siapa Lo? Dari mana Lo tau nama itu?"
" Jangan sakiti istri gue, bajingan!" mata Devian memerah melihat lelaki itu mencekik Karin. Kenangan temannya yang meninggal karena berusaha mengungkapkan kebenaran kembali terngiang di kepalanya.
" A---axel, Gue Ka---karin," sekuat tenaga Karin berusaha berbicara, sampai Axel segera melepaskan genggaman-nya. Tidak buang-buang waktu, Karin segera melepaskan topengnya.
" Gue mohon lepaskan kami!"
" Gue bukan Axel!"
" Lo Axel! Gelang yang Lo pakai punya gue! Gue Ingat, gelang itu hilang setelah kita bertemu!"
" Kalian keluar!" usir Axel pada pengawal, menyisakan Karin, Devian, Dan dirinya. Setelah itu, Axel melepaskan topengnya. Topeng yang dia gunakan selama menjadi bos besar.
Devian ikut melepaskan topengnya, ingin menghajar Axel tetapi suara di earphone miliknya menghentikan keinginan terpendam itu.
" Tuan! Earphone nona Karin tidak terhubung. Saya menemukan ruangan para VVIP , tetapi tidak ada tuan dan nona di ruangan itu."
" Keluar-lah dari sana Juna! Ruangan para VVIP itu sudah berbeda! Ruangan ini sepertinya hanya bisa diakses oleh mereka saja. Pulanglah, kami aman disini." Devian sadar perkelahian tidak akan bisa mengeluarkan dirinya dan Karin dari tempat terkutuk ini.
" Apa yang kalian lakukan disini?"
" Hanya bersenang-senang!" jawab Devian setelah mematikan earphone-nya.
" Dengan mengacaukan bisnis gue ?" Karin hendak bertanya hubungan Axel dengan ibu tiri Devian. Tetapi, Devian memberikan kode untuk diam saja.
" Gue hanya refleks menendang meja itu! Lepaskan kami dan Gue akan mengganti rugi semua ini!"
" Hanya mengganti rugi? Itu tidak menjamin bisnis gelap ini berpotensi terungkap oleh pihak luar!"
" Gue juga memiliki bisnis gelap. Dan Lo juga tau sebelum mendapatkan pin para VVIP harus mengatakan sebuah rahasia gelap yang mereka miliki, bukan? Apa itu tidak cukup meyakinkan, bahwa kejadian itu refleks? Lagian, gue hanya melindungi istri polos, dari narkoba!" Devian berbisik agar Karin tidak mengetahui percakapan mereka berdua.
" Jadi, Lo bisa keluarkan kami dari tempat haram ini?" Devian menepuk-nepuk bahu Axel sambil tersenyum manis. Tetapi, bagi Axel itu bentuk hinaan yang diberikan Devian.
Sebenarnya Axel ingin membunuh Lelaki tengil di depannya ini. sayangnya, perempuan yang disukainya juga berada disini. Walaupun identitas buruknya sudah diketahui, Axel tidak ingin dia tampak lebih buruk saat ini.
Dengan wajah datar, dia membawa mereka keluar. Sesampainya Di luar, Axel mendekati Karin.
" Maaf telah melukaimu."
"Hmm! Terimakasih sudah melepaskan kami." Axel ingin sekali berkata semua peraturan yang dilanggar ini demi perempuan dihadapannya. Namun, Karin sudah berlalu pergi ditarik oleh Devian.
Entah apa tujuan sebenarnya, kali ini Axel melupakan saja kejadian itu.