
Seharian ini Karin sangat menikmati harinya di halaman belakang. Membaca buku, menanam bunga dan sekarang Karin sedang mengambil buah manggis yang berbuah lebat. Karin ingin bersenang-senang dahulu sebelum menyelesaikan masalah. Maka dari itu, dia melakukan aktivitas menyenangkan.
Di ambilnya buah manggis yang masih bisa digapainya.Dengan santai mengupas, lalu langsung memakan sambil mengelilingi pohon manggis, mencari buah yang letaknya tidak terlalu tinggi.
" CK! lagi apa Lo!?" Karin tersedak buah manggis, ketika Devian menepuk pundaknya yang membuat dirinya kaget.
Segera Devian menepuk-nepuk tengkuk Karin sampai Karin mengeluarkan biji manggis yang hampir tertelan. Kedua mata Karin mengeluarkan air mata setelah mengusapnya, Karin langsung memukul Devian sekuat tenaga.
" Sakit bodoh! sangat ringan sekali tangan Lo memukul gue!" protes Devian mengusap pahanya.
" Siapa suruh Lo mengagetkan gue!"
" Lo-nya aja yang berlebihan!" Karin hendak menyanggah, tetapi tidak jadi. Dia lebih memilih pergi menuju pohon jambu yang sedang berbuah lebat.
" Devian! Buah jambu-nya sudah banyak yang matang. lo petik, dong!" seru Karin.
Mata Devian spontan melihat buah jambu yang memang tampak sudah matang. Ia pun lantas beranjak dan memanjat.
" Hati-hati, Dev! lihat pijakan, banyak sarang semut. Nanti Lo kena gigit!" Devian hanya mengangguk saja dan mengambil satu persatu buah yang terlihat matang.
" Karin, tangkap ini!" seru Devian bersiap melemparkan buah jambu.
" Cepat lempar! Aku akan menangkapnya!" Karin bersiap-siap dengan memasang posisi kuda-kuda.
Devian tersenyum jahil, ia melemparkan buah jambu ke arah lain bukan ke arah Karin berdiri.
" Akhh!" Karin mendapatkan buahnya meski dia terjatuh, " Devian, gue berhasil dapat jambu-nya!" sorak senang Karin menunjukkan buah jambu kristal di tangannya.
Devian pun hanya tersenyum tipis melihat usaha Karin. Dia pun, tak melakukan lagi dan melemparkannya dengan tepat. Dirasa sudah cukup, Devian pun turun.
" Baju Lo kotor! Kenapa Lo berusaha sekali menangkap buah jambu itu!"
" Kalau gak gue ambil , jambu-nya bakalan pecah dan kotor itu tidak enak lagi!"
" Yaudah ayo masuk, bersihkan badan Lo." Devian membantu Karin membawa buah jambu. Meletakkan di dapur, yang nantinya akan dicuci oleh bibi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama beberapa hari ini mereka sibuk sendiri, Devian yang selalu pergi lebih pagi ataupun Karin yang selalu berada di depan laptopnya.
Karin cukup diuntungkan karena akhir-akhir ini Devian menjauh. Hal itu mempermudah dirinya menyelidiki masa lalu ibu kandung Devian. Dengan modal kemampuan yang. pernah diajarkan Mateo, Karin berusaha sekuat tenaga.
Setelah beberapa hari berada di laptop membuka semua sosial media ataupun hal yang berhubungan dengan identitas diri seseorang, Karin menemukan suatu fakta. Ibu Juna bersahabat dengan ibu kandung Devian. Dilihat dari foto lama yang Karin temukan, Ibu dari sekretaris Juna seorang pembantu yang ada di rumah ibu kandung Devian.
" Huh! gue butuh seseorang dari masa lalu yang sama dengan orang tua Devian." Karin termenung memikirkan siapa yang bisa dimintai keterangan tentang masa lalu. Jika hanya mengandalkan laptop hanya bisa mengetahui siapa yang pernah berhubungan dengan masa lalu. Dan itupun sebenarnya illegal.
Cara terakhir Karin harus kembali ke negara dia dan Devian berasal untuk menemui papa Teo. Segera Karin bangkit dan membereskan pakaian-nya. Karin yakin pasti Devian akan melarang nya pergi, jadi Karin menulis di kertas bahwa dia akan kembali ke negara asal menemui orang tuanya. Tidak lupa, di perjalanan menuju bandara Karin memesan tiket pesawat, berharap masih ada yang tersedia.
...----------------...
" Selama wanita jahanam melakukan kejahatan, dia tidak ikut mengurus dan hanya menyuruh bawahannya?" ulang Devian.
" Ya tuan! Saya berpikir lelaki itu juga terikat paksa oleh ibu tiri anda." Devian menghela nafas berat.
" Ibunya dibunuh, bukan? Cari tau siapa pembunuhnya! Kirim seseorang ke lokasi sekitaran pembunuhan yang dilakukan. Berusahalah menemukan hal sekecil apapun yang dirasa mencurigakan!" Devian tidak peduli jika CCTV tidak ditemukan. Dia harus segera menyelesaikan permasalahan di hidupnya.
Sesudah mengurus berkas kerja dan beberapa klien, Devian memutuskan pulang. Sesampainya di rumah, Devian segera mandi agar tubuh dan otak nya kembali segar.
" Huh!" Devian berbaring lega di kasur, masih belum sadar keberadaan istrinya Karin.
Menatap langit-langit kamar, memikirkan beberapa hari terlalu sibuk sampai dia tak menjahili Karin.
" Kemana dia?" Devian bangkit dari tempat tidur, hendak keluar. Tetapi, matanya tidak sengaja melihat sebuah kertas.
" Dia pergi menemui orang tuanya?"
" Kupikir untuk saat ini lebih bagus dia kembali, agar aku bebas menyelesaikan masalah tanpa kehadirannya." Ya, Devian tidak mengejar atau melarang Karin pergi. Devian berpikir Karin aman karena tidak ikut membantu membongkar rahasia masa lalu.
...----------------...
" Jadi mereka berdua sedang membongkar kejahatan-ku?" tidak mengetahui apa yang akan terjadi kedua pasangan itu berusaha membongkar rahasia tanpa tau sedang diawasi oleh ibu tiri Devian.
" CK! Wanita pengkhianat itu kembali ke negara asal, bukan? Bagaimana kalau kita ciptakan pertunjukan yang seru?" tersenyum psikopat sambil menghisap rokok, " Akan aku hancurkan pernikahan yang susah payah wanita itu pertahankan!"
...Katakanlah ibu tiri Devian gila! ...
" Keluar-lah! Terus berada di rumah si tua itu! tetaplah menjadi anak baik yang mereka kenal! Hahaha!" tanpa banyak kata, laki-laki muda tersebut meninggalkan ruangan gelap tempat ibu tiri Devian menunjukkan watak aslinya.
Sedangkan Karin yang baru saja tiba di negara asal, memberikan kabar pada Axel meminta perlindungan. Meski, tidak terlalu paham jalan pikiran ibu tiri Devian. Karin yang pernah dekat sewaktu ingin menikahi Devian, sedikit hafal kelicikan ibu tiri Devian.
Tidak menutup kemungkinan cuaca yang tenang seketika berubah menjadi badai yang dapat menghancurkan segalanya.
Sedang menunggu taksi, tiba-tiba seorang anak kecil mendekati Karin.
" Hmm? Kenapa?" Karin berjongkok menyamakan tinggi badan anak kecil.
" Kakak tidak akan baik-baik saja!" Karin mengerutkan keningnya, tidak paham maksud dari si kecil, " Cukup percaya pada diri dan insting kakak."
" Eh tunggu!" Karin sempat termenung memikirkan ucapan anak kecil tersebut, sampai dia tidak sadar si kecil sudah pergi berlari ke arah kerumunan.
" Meski tau nyawa ku bisa saja tidak selamat. Tapi, aku tetap tidak akan berhenti! Biarlah mengorbankan satu nyawa demi kehidupan yang damai nantinya." Karin meyakinkan dirinya. Berharap setelah badai akan datang pelangi.
Lihatlah, Karin dulunya hanya seorang anak rumahan yang lebih senang berada di zona nyaman, telah berubah menjadi seorang wanita tangguh karena melihat orang yang dicintai selalu berada dalam tekanan. Tidak tau apa yang nantinya dihadapi, keinginan Karin tetap satu! Devian sadar dirinya pantas menjadi pendamping hidup lelaki itu.