IT'S MY DEVIAN

IT'S MY DEVIAN
Pantai Dan Kamu



Devian melihat istrinya yang sedang tertidur. Setelah melakukan entah berapa kali percintaan yang hebat Karin langsung tertidur pulas.


Devian mengusap lembut pipi istrinya lalu ia mengecup sejenak dahi sang istri. " I love You, my sunshine."


Devian tersenyum lalu ia turun dari ranjang. pria itu memutuskan untuk membersihkan diri.


Cahaya matahari mulai menelusup di balik celah gorden, wanita cantik kesayangan Devian itu mulai terusik. Mencoba membalikkan tubuhnya mencari kenyamanan. kedua matanya masih setia tertutup, berharap bisa tidur sejenak.


1 jam kemudian


Karin mulai membuka matanya, merasa sudah cukup tidur sejenak-nya. Pertama kali membuka mata dia dihadiahi satu ciuman di dahi oleh Devian. Wangi tubuh Devian yang baru siap mandi membuat Karin ingin berlama-lama di pelukan suami tampannya itu.


" Mandilah setelah itu kita sarapan."


" Badanku sakit semua!" tanpa perlu menawarkan diri, Devian langsung saja mengangkat Karin membantu membersihkan tubuh istrinya yang kelelahan karena perbuatannya.


................


Setelah membersihkan diri dan juga sarapan. Devian membawa Karin ke Lido di lugano, salah satu pantai yang berada di Swiss. Devian sedikit demi sedikit mulai memahami Karin, belakangan ini Devian selalu memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin tidak Karin sadari.


Pantai inilah salah satunya.


Devian tersenyum tipis menatap Karin yang sangat bahagia hanya karena melihat deburan ombak.


" Kamu menyukainya?" tanya Devian sambil menggenggam tangan istrinya.


Karin mengangguk-anggukkan kepalanya


 " Hmm! Sudah lama aku tidak bermain di pantai. Terimakasih, Dev!"


" Tidak perlu mengucapkan terimakasih. Aku lebih suka dibalas dengan---," Devian menggantung ucapannya, dia tersenyum usil menatap Karin dengan tatapan yang sulit ditebak.


Karin ikut menatap tubuhnya mengikuti pandangan Devian, seketika itulah dia langsung mencubit hidung mancung suaminya yang sangat mesum itu.


Devian tertawa ketika Karin sangat lama menyadari maksudnya. " Ayo kita buat kastil pasir!" Devian menarik tangan Karin.


Karin menatap punggung lebar suaminya. Ia sedang mengatur dadanya yang berdebar hebat. Tawa dan perhatian manis Devian adalah dua hal yang dulu sulit diimpikannya. Tapi sekarang Devian menunjukkan kedua hal itu di hadapannya.


" Kenapa kastil pasir buatanmu sangat jelek!" Karin merebut sekop Devian lalu menghancurkan kastil pasir buatan Devian.


Devian pasrah kastil buatannya dihancurkan Karin tanpa beban sedikitpun. Dia hanya mengamati sekaligus merekam diam-diam Karin yang sedang fokus membuat kastil pasir.


Butuh 30 menit Karin menyelesaikan kastil pasirnya." Huh! ini sungguh cantik!" senyum bangga Karin.


" CK! kastil ini lebih terlihat seperti gubuk!" Devian mengelilingi kastil pasir buatan Karin. Meski dia akui kastil ini sangat cantik, namun dia ingin membalas penghinaan Karin terhadap hasil karyanya tadi.


" Apa!? Punya kamu yang seperti gubuk!" Karin memberikan pukulan sekop kepada Devian.


" Aduh, sayang sakit!" Devian berlari menjauhi Karin.


" Ya! Dasar lelaki pengecut!" Devian tertawa puas melihat Karin dibelakang mengejarnya diikuti ekspresi kesal.


" Hahaha! Rasakan itu! Karma durhaka pada istri." Karin mendekati Devian ingin menertawakan lebih dekat dan keras dihadapan orangnya.


" Karma, ya? Rasakan ini! Karmanya tertular." Devian memercikkan air ke arah Karin yang juga dibalas Karin. Jadilah sepasang suami istri itu bermain air sambil tertawa bahagia. Tanpa memikirkan kedepannya akan seperti apa.


Keesokan harinya, entah kemana Devian membawa Karin yang bahkan lama perjalanannya sudah hampir 1 jam. Devian sama sekali tidak mau memberitahu Karin, setiap ditanya hanya dibalas dengan senyuman. Karin bahkan ingin mencakar wajah sok manis itu.


" Kita kemana, Dev?" tanya Karin sekali lagi tatkala Dia melihat perbukitan di sepanjang jalan." Jangan membalas dengan senyuman, jika tidak ingin wajahmu ku cakar!" galak Karin.


" Kamu akan tau nanti."


Devian membawa Karin ke sebuah bukit dengan mobil gunungnya. Amarah Karin mereda ketika Devian membawanya turun dan melihat pemandangan sekitar.


" Wow! Ini benar-benar indah!" Karin berkata dengan takjub sambil merentangkan kedua tangannya.


Dari bukit ini mereka bisa melihat pemandangan dibawah adalah lautan luas mengelilingi pulau ini. Devian tersenyum puas melihat istrinya kegirangan, sambil sesekali memandangi Karin Devian menuruni barang-barang dari mobil.


Membiarkan Karin menikmati suasana perbukitan, Devian dengan cekatan membuat tenda. Satu set tenda canggih seperti rumah mini, dilengkapi keperluan untuk kemping. Di dalam tenda satu ruangan bisa diubah menjadi kamar tidur yang nyaman, ruang tamu dan ruang makan.


Di luar tenda terdapat teras dengan dua kursi dan satu meja tak jauh dari lampu gantung. Devian juga menambah 3 tiang di sekeliling tenda dengan lampu gantung yang sudah terpasang.


Karin mendekati Devian lalu berkata, " Sayang tenda ini sungguh bagus."


" Demi kenyamanan ratuku aku memilih tenda ini." ucap Devian sangat hiperbola. " Kita akan menghabiskan waktu disini selama 2 hari." jelas Devian tanpa menunggu Karin bertanya.


Karin mengangguk dia ikut membantu Devian. Dan saat mereka selesai hari sudah hampir petang.


" Kemarilah!" pinta Devian.


Karin menghampiri Devian yang langsung dibawa ke pangkuan Devian. " Lihatlah sayang, sunset disini sangat cantik, bukan? This sunset beautiful like you." Karin tersenyum manis dia mencium kedua pipi lelaki yang sangat dicintainya. Dia berjanji setelah pulang dari honeymoon ini, akan mengatakan yang sebenarnya alasan dia menunda kehamilan. Berharap Devian sabar menunggu dan selalu membimbing dirinya.


Devian mencium puncak kepalanya. Devian membawa wajah Karin menghadapnya, membungkuk mencium bibir manis istrinya. Mereka berciuman dengan sangat romantis, menyampaikan cinta kasih satu sama lainnya. Setelah mereka saling melepaskan, mereka serentak menyaksikan sunset sampai benar-benar berganti menjadi malam yang penuh dengan bintang.


" Besok kita akan menyaksikan matahari terbit disini. Bukankah sunrise tidak kalah indah?" Karin mengangguk menyetujui ucapan Devian.


Malam harinya, Karin membantu Devian menyiapkan makan malam barbeque. Mereka menikmati makan malam dengan api unggun di depannya. Bagi keduanya ini adalah honeymoon terindah yang pastinya akan sulit dilupakan bagi kedua insan dimabuk cinta itu.


Devian benar-benar merealisasikan ucapannya, Dia mengajak Karin menyaksikan sunrise ditemani segelas coklat panas. Devian juga menyiapkan sarapan sederhana untuk istrinya.


Banyak hal yang mereka lakukan bersama, sampai 2 hari itu tidak terasa.Sudah waktunya mereka menyelesaikan honeymoon.


" Tempat ini sangat menakjubkan! Rasanya aku tidak ingin pulang." Devian ikut tidur terlentang di atas rerumputan.


" Jika kamu menyukainya, kita akan selalu berlibur di bukit ini." Devian merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya, perlahan Devian mencium dahi, mata dan terakhir bibir manis Karin.


" Karin aku mencintaimu." ucap Devian dengan suara serak, mata terlihat sayu dan dadanya naik turun tidak beraturan menahan gejolak hasrat dan cintanya.


Karin membalas perasaan cinta Devian dengan mencium bibirnya, dan mereka melakukan hal itu di alam terbuka, menikmati beberapa jam lagi sebelum meninggalkan tempat yang selama 2 hari ini menciptakan kenangan terindah bagi sepasang suami istri itu.