
Terhitung sudah sebulan setelah honeymoon mereka, dan hubungan pasangan suami istri berjalan dengan baik. Walaupun Karin akhir-akhir ini sedikit lebih sensitif, apalagi kalau karyawan ataupun sekretaris Juna mengatakan dengan spontan ' nona Karin terlihat lebih bercahaya, apakah karena kehamilan?'
Kehamilan! Kata yang sampai sekarang sangat tidak ingin didengar oleh Karin, bahkan Karin belum juga mengatakan alasan sebenarnya pada Devian.
Kalau boleh jujur Karin sedih melihat harapan Devian sangat besar dalam memiliki anak. Maka dari itu, Karin meyakinkan dirinya untuk berkata jujur sekarang. Karin tidak mau harapan semu Devian terus berlanjut.
" Dev, aku ingin berkata sesuatu."
" Duduklah sayang!" Devian mengelus rambutnya Karin lembut, menunggu istrinya berbicara.
" A--aku," belum sempat Karin berbicara, fokusnya terpaksa terganggu karena melihat sebuah testpack di dekat Devian.
" Testpack siapa itu?" tanya spontan Karin.
Devian tersenyum tipis. "Sekretaris Juna memberikannya padaku, saat aku sangat senang melihat orang tua yang sedang mengantar anaknya TK. Aku tadinya akan menyimpan ini, takut kamu merasa aku memaksakan istriku ini cepat hamil." Devian mengambil testpack itu." Hmm, sayang apakah kamu ingin mencobanya? Aku melihat di buku kehamilan, katanya wanita hamil sedikit sensitif. Kamu juga akhir-akhir ini begitu. Bolehkah aku berharap?"
Karin terdiam selama beberapa saat.
" Aku tidak mungkin hamil, Dev." ucap lirih Karin.
" Aku tau kamu takut dengan hasilnya. Tapi, tenang saja aku hanya ingin kamu memeriksanya. Takutnya, jika benar ada anak kita disini terus kita tidak tau, bukankah resiko kegugurannya sangat tinggi? Aku tidak ingin melihat kamu sakit."
" Percuma Dev! Aku tidak hamil."
" Kenapa? Oh, apakah kamu tidak ingin testpack pemberian sekretaris Juna? Kamu mau aku membelikan testpack yang baru, sayang?"
Karin menggelengkan kepalanya." Aku tidak mungkin hamil, Dev! Kamu membelikan seberapa banyak testpack pun aku tidak akan mungkin hamil!" Karin menatap Devian, mencoba mengumpulkan niatnya untuk berkata jujur." A--aku sebenarnya rutin minum pil kontrasepsi. Aku tidak mungkin hamil, Dev." lirih Karin.
Dunia Devian serasa runtuh mendengar itu. Dia menginginkan anak dari wanita yang dicintainya. Tapi, wanita yang sangat dicintainya malah meminum pil kontrasepsi. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan keinginannya.
Apa Karin tidak menganggap-nya sebagai suami?
Bukankah dia tampak bodoh mengharapkan anak di setiap percintaan mereka? Padahal kenyataannya anak itu tidak pernah ada.
Devian kecewa tentunya. Sangat kecewa! Namun dia memilih untuk diam.
Dia bangkit dari duduknya, berniat keluar dari kamar tersebut. Sebelum dirinya sempat keluar, Karin terlebih dahulu menahan tangan Devian. Karin bisa merasakan kekecewaan dalam diri Devian.
" Aku minta maaf, Dev." ujar lirih Karin.
Devian mengulas sebuah senyum paksa." Tidak apa. Mungkin kamu masih belum siap punya anak. Ini salahku, seharusnya aku menanyakan terlebih dahulu kesiapan kamu."
Karin semakin merasa bersalah." Aku ingin punya anak Devian.Tapi--," Karin bingung cara menjelaskannya.
" Dev! Aku--,"
" Karin! Aku memang ingin kamu hamil. Aku selalu ingin merasakan bagaimana menuruti wanita yang sedang mengidam. Aku ingin menjadi suami siaga saat istrinya mengandung. Aku ingin memiliki bayi kecil yang sangat imut. Aku ingin menjadi seorang ayah yang baik! Tapi itu semua hanyalah keinginan-ku! Aku tidak bisa memaksa kamu, jika kamu sendiri yang belum siap. Aku bisa apa!?" Devian segera meninggalkan Karin takut emosinya dan rasa kecewanya semakin bertambah.
...****************...
Setelah kejadian itu, sikap Devian semakin cuek terhadap Karin. Tidak ada ucapan manis, perhatian yang tulus, dan tatapan penuh cinta. Karin paham Devian masih berusaha mengontrol emosinya. Tapi, Karin tidak terbiasa diabaikan.
Karena tidak tahan dengan situasi itu, Karin berusaha mendekati Devian.
" Suamiku, apa kamu masih marah?"
" Masih! Bahas-nya nanti saja, ketika marah ku sudah reda." Jawaban Devian membuat Karin merasa sedih.
" Maaf." ucap lirih Karin sambil memeluk Devian.
Devian hanya mengusap sebentar puncak kepala Karin, lalu melepaskan pelukan tersebut.
" Devian tunggu! Aku sebenarnya juga ingin memiliki anak, tapi aku takut." Karin tidak bisa berkata jujur, karena dokter itu berkata bisa terjadi atau tidak. Karena itulah, Karin hanya memberikan alasan takut ataupun belum siap pada Devian.
" Apa yang kamu takutkan? Tidakkah kamu percaya bahwa aku akan selalu menjaga dan merawat-mu? Aku mencintaimu Karin! Aku ingin memiliki anak dari wanita yang ku cintai. Jika kamu takut, aku akan selalu menemani mu. Atau kalau kamu belum siap aku akan selalu menunggu kesiapan-mu! Tapi kamu lebih memilih berbohong! Berikan aku alasan yang jelas agar aku bisa mengerti keadaanmu!"
" Aku tidak bisa menjelaskannya, Dev! Tidak bisakah kau mengerti tanpa tau alasannya? Aku hanya takut!"
Entah mengapa Devian muak mendengar kata takut dari istrinya. Telinganya seperti terbakar mendengar Karin selalu mengatakan itu. Dia yang mencoba menahan emosi pun semakin emosi mendengar alasan klise itu.
" Takut? Kau yakin hanya takut? Bahkan wanita di luaran sana juga merasakan takut, Karin! Tapi mereka tidak sampai menipu suaminya dengan alasan takut! Padahal aku berjanji menjaga dan merawat-mu jika kamu hamil, jadi apa yang kau takutkan?" Devian sedang diliputi amarah. Sekuat tenaga dia menahan emosi dan perasaan kecewa hanya karena alasan takut istrinya. Padahal dia selalu mengusahakan yang terbaik buat Karin! Apalagi yang ditakutinya?
Di satu sisi, Karin memiliki ketakutan yang tak bisa dijelaskan. sedangkan di sisi lain, Devian merasa Karin terlalu egois dan kekanakan.
Tidak mau emosinya semakin menyakiti Karin Devian pun meninggalkan Karin sendiri di rumah.
Karin yang melihat kepergian suaminya hanya bisa menangis histeris. Dia tidak bisa menjelaskan penyakitnya, karena dokter juga tidak bisa memastikan apakah penyakit dari ibunya ini akan terjadi padanya saat hamil.
Karin tidak mau mengecewakan Devian, karena tau Devian sangat menginginkan anak. Hanya alasan takut yang bisa Karin katakan, berharap Devian mengerti.
Karin tau Devian sangat mencintai dirinya. Dan karena alasan itu, Karin tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Jika Devian tau, Karin pastikan Devian akan mengubur dalam-dalam keinginan terbesarnya.
Karin butuh waktu untuk memutuskan kehamilan itu. Dia ingin menceritakan masa lalu yang selalu ditutupi oleh keluarganya ini. Masa lalu yang membuat dirinya merasakan takut untuk memiliki anak. Ada dua alasan ketakutan Karin mengatakan yang sejujurnya. Pertama, Takut Devian merasa sedih dan menyalahkan dirinya atau kedua takut Devian menutupi keinginan terbesarnya itu demi dirinya. Karena itulah, sebaiknya mereka menenangkan diri masing-masing.
Tidak ada yang bisa disalahkan, mereka memiliki persepsi dan pemikiran berbeda. Mereka butuh waktu menyamakan persepsi atau mungkin terpaksa memilih salah satu persepsi.