
Setelah Berbincang menggunakan I STATEMENT dan menjenguk papa Teo. Karin diantar kembali ke ruang rawatnya. Sedari Devian pergi mengurus perusahaan keluarga, Karin masih setia melamun.
Karin sibuk memikirkan bagaimana menghabiskan waktu bersama Devian, selama 2 Minggu hari ulang tahun Devian. Kalau harus menunggu dirinya sembuh waktu yang tersisa tinggal sedikit. Sedangkan 2 Minggu saja Karin tak sepenuhnya yakin Devian mau membuka hati, apalagi hanya beberapa hari.
" Kegiatan apa yang bisa dilakukan di rumah sakit ? "
Karin menghela nafas berat! Dipikirkan pun, Devian belum tentu juga merawat dirinya selama dia sakit. Lihat saja sekarang! Devian lebih memilih pekerjaan penting dibanding dirinya.
" Sangat sulit mencintai lelaki yang masih mengenang masa lalu ! "
Sayangnya Karin tidak bisa menghilangkan perasaan cintanya!
Kriet..!
Karin kira yang datang Devian, ternyata seorang pelayan yang dikirim Devian untuk menjaganya jika Devian pergi.
Terkadang Karin berandai-andai.
Andai Devian sekarang mencintainya, apa Devian akan meninggalkan pekerjaan demi merawat dirinya yang sakit?
Andai Devian mencintainya, seberapa khawatir Devian melihat dirinya sakit?
Khayalan Karin terpaksa dihentikan, tatkala pelayan Devian mengingatkan waktunya minum obat dan istirahat.
Pagi pun berganti menjadi sore. Karin menatap senja melalui kaca besar di samping kiri tempat tidurnya. Menunggu Devian tiba dan mewujudkan kegiatan bersama hari ini.
Setelah istirahat beberapa jam, Karin memiliki ide. Karin menyuruh pelayan menyiapkan semuanya. Sekarang tinggal menunggu Devian datang dan merealisasikan rencananya.
Terlalu larut melihat senja, Karin tak sadar orang yang ditunggu berdiri di sisi kanan tempat tidurnya, menatap perempuan yang bersikeras mencintainya sedang menikmati senja.
" Tuan?" suara pelayan Devian mengalihkan perhatian Karin.
" Kapan Lo disini, Dev?" tanya Karin.
" Barusan! Habis kemana pelayan,Lo?"
" Gue minta tolong belikan makanan! Diletak disana aja ya, kamu boleh pulang sekarang." ucap Karin sopan pada pelayannya.
" Lo bersihkan diri sana, setelah itu kita makan!" Karin menggelengkan kepalanya melihat Devian menjawab iya tapi malah duduk di kursi samping tempat tidur.
" Lo capek?"
" Gak!"
" Terus kenapa wajah Lo gitu!"
" Gue bosan jagain Lo!" Karin berdecak sebal mendengar jawaban kurang ajar Devian.
Melampiaskan kekesalan Karin mengambil bantal lalu menimpuk kepala Devian.
" Izinkan gue membunuh Lo!"
" Dasar istri durhaka!" Devian menahan kedua tangan Karin agar berhenti menimpuk kepala Devian.
" Gue cium, baru tau rasa lo!"
" Cium aja!" Karin memonyongkan bibirnya, tapi Devian langsung menutup bibir Karin dengan tangannya.
Setelah berhasil melepaskan tangan Devian Karin berucap, " Huaa! Tangan Lo bau!" Devian terkekeh melihat ekspresi Karin.
Takut Karin membalas, Devian segera pergi membersihkan dirinya. Untung sekretaris Juna sudah meletakkan beberapa helai baju selama dia menjaga Karin.
Kini mereka sedang menyantap makanan yang tadi di bawa pelayan.
" Hmm! wangi banged suami,gue!" Tak henti-hentinya Karin menggoda Devian yang sok kalem.
" Devian kita melukis, yok?"
" Gue gak pandai melukis!"
" Bohong Lo! Di perusahaan DV ada lukisan Angel, kata sekretaris Juna Lo yang buat!" Bohong kalau Karin tidak bersedih hati, setiap mengunjungi perusahaan DV hal pertama yang dirinya lihat adalah lukisan Angel di ruangan kerja Devian.
" Sekarang gue udah lupa cara melukis!"
" Bohong Lo! Tunggu gue siapin!" Karin berjalan perlahan mengambil alat lukis yang tadi dipersiapkan pelayan Devian,
Karin menyusun alat lukis lengkap dengan tempat duduknya dekat dari sofa.
" Ayo lukis sesuatu yang selalu tersimpan di ingatan!" Devian pasrah ditarik Karin, mereka duduk berhadapan hanya terhalang kanvas lukis berukuran sedang.
" Kita mulai ya! Yang kalah harus joget di depan halaman rumah sakit!"
" Kalau gitu, gue buat Lo kalah!" Karin tersenyum tipis, padahal tantangan yang diberikan hanyalah formalitas supaya Devian bersungguh-sungguh mengerjakan lukisannya.
Mereka pun fokus mengerjakan lukisan, mengingat kenangan manis apa yang tidak akan pernah di lupakan.
Hampir mendekati finishing, Karin mulai membuka pembicaraan. " Devian! Momen apa yang paling memalukan di hidup Lo?"
" Paling memalukan? Sepertinya tidak ada!" Karin akui kepercayaan diri Devian sangat tinggi.
" CK! Lo tau gak? Momen paling memalukan di gue, terjadi sewaktu kecil. Ini ngakak banged!" Devian menatap Karin yang tertawa mengingat masa kecilnya.
" Jadi, Sehabis pulang sekolah ada mobil berhenti tepat di hadapan gue. Nah, mobil ini persis dengan mobil mommy. Tanpa pikir panjang gue buka pintu mobil langsung duduk di belakang. Terus gue bilang jalan pak!" Karin berhenti sebentar meredakan ketawanya. " lucunya pak sopir juga gak sadar kalau dia salah bawa orang. Pas dia mau menjalankan mobil, anak seumuran gue teriak sambil memukul kaca mobil. Saat pak sopir lihat kebelakang, dia shock ternyata dia salah bawa orang! Gue dengan perasaan malu, langsung bilang maaf terus keluar dan berlari sejauh-jauhnya!"
Devian tertawa melihat kebodohan Karin.
" Jangan bilang siapa-siapa ya! Cukup Lo aja yang tau!" Ancam Karin.
" Sayangnya udah gue rekam."
" Devian!" Sekali lagi Devian tertawa puas sehabis membohongi Karin.
" Sekarang giliran Lo! Momen apa yang paling memalukan?"
" Hmm, mungkin pas gue dihukum karena ngerjain guru olahraga?"
" Emang guru olahraga-nya kenapa?"
" Waktu SMA ada latihan senam. Terus gue berdiri di belakang guru olahraga, disuruh ikutin gerakannya. Karena gue kesal bapak-nya pecicilan, gue iseng menanggalkan celana training si bapak! Ternyata pas di tanggalkan bapaknya gak pakai dalaman. Jadi, terpampang deh itunya."
" Ibu gurunya lihat?" Devian mengangguk tanpa rasa bersalah.
" Ya! Gue dikasih hukuman pake daster mengelilingi lapangan sekolah sambil melambaikan tangan."
" Ish! Bodoh! Bapaknya lebih malu dibanding Lo, Dev!"
" Gue-lah! Lo gak merasakan dilihat para perempuan!"
Karin memutar bola matanya, tidak taukah Devian alasan para perempuan menatap dirinya? Tentu saja karena dia tetap tampan meski memakai daster!
Huh! Karin bahkan lebih kasian dengan guru olahraga-nya.
" Oh! Gue finish!" teriak Karin.
" Gue juga!" sahut Devian tak mau kalah.
" Lihat lukisan, Lo!" Karin membawa lukisan miliknya dan mendekati Devian.
" Eh? Lukisan kita sama?" Karin meneliti kembali, memang tempat yang mereka lukis sama. Tempat dimana mereka menciptakan kenangan indah, bagi Karin.
Karin ingat disana mereka menanam bunga mawar juga Devian membalas ciumannya. Itu tidak akan terlupakan olehnya!
" Kenapa Lo melukis tempat ini?" tanya Karin.
Devian tersenyum menatap lukisannya sambil berkata, " Di tempat ini, gue terpana melihat senyuman Angel. Dia gadis kecil yang memiliki senyum indah."
Karin hampir lupa jika tempat itu, terdapat kenangan masa kecil Devian dan Angel.
Bolehkah Karin mengklaim tempat kenangan mereka menjadi kenangan yang paling manis miliknya bersama Devian?
" Eh ada yang beda di lukisan kita! Disini Lo gambar mawar!" tunjuk Devian ke arah canvas sebelah kiri paling bawah.
" Hmm! Kita pernah menanam bunga mawar yang masih kecil, Dev!"
" Benarkah? Gue lupa!" Karin menutupi rasa kecewa-nya dengan senyum tipis. Semudah itukah Devian melupakan kenangan bersamanya?
Setidak penting itukah kenangan bersama dirinya? Disaat dia sangat mengingat kenangan itu, Devian malah melupakan tanpa rasa bersalah sedikitpun!