It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
PERHATIAN



Setelah menerima kotak P3K dari Sekretarisnya, dengan segera Gavin mengobati luka Zhie hati hati.


"Tahanlah ini akan sedikit sakit," kata Gavin lalu membersihkan luka itu dengan kapas yang sudah dibaluri alkohol. Bersamaan dengan tangan Zhie yang mencengkram kuat bahu Gavin. Matanya terpejam menahan perih yang semakin menyeruak.


"Sudah selesai, bukalah matamu." perintah Gavin yang sudah selesai mengobati luka Zhie.


"Bagaimana kau bisa terluka seperti itu? Apa kau menginjak pecahan kaca?" lanjutnya.


"Hm aku tak sengaja menginjak pecahan kaca tadi malam," jawab Zhie dengan malas.


"Sebaiknya kau jangan memakai flatshoes yang seperti itu, sebaiknya pakailah flatshoes yang lebih terbuka." kata Gavin perhatian. "Marc kita mampir toko sepatu depan dan belikan flatshoes yang baru untuknya." titah Gavin kepada Sekretaris Marc.


Sekretaris Marc mengangguk pasti, "Baik tuan."


Gavin kembali masuk ke dalam mobil setelah membelikan flatshoes baru untuk Zhie.


"Ini pakailah," kata Gavin sambil memberikan sepatu berwarna cokelat susu itu ke arah Zhie.


"Apa ini pilihanmu?" tanya Zhie heran.


"Apa kau tak suka? Jika kau tak suka aku akan membelikan yang baru lagi." jawaban Gavin sontak membuat Zhie terbelalak.


"Tidak tidak, ini bagus Om aku menyukainya." jawab Zhie segera.


***


Sesampainya di butik Zhie berusaha untuk turun dan berjalan dengan sangat hati hati. Gavin yang melihat Zhie berjalan pelan membuatnya cukup geram. Dengan sigap tangannya meraih pinggang Zhie dan lagi lagi ia menggendongnya masuk butik.


"Apa yang kau lakukan Om! Cepat turunkan aku! Ini sangat memalukan lihatlah banyak orang yang melihat!" celoteh Zhie dalam dekapan Gavin.


Gavin sama sekali tak mempedulikan ocehan Zhie. Tubuh tegap besarnya tetap merengkuh tubuh kecil Zhie dengan erat. Sementara Zhie terus terusan mengoceh sambil sesekali memukul pelan dada bidang Gavin. Akhirnya Zhie pasrah karena pria itu sama sekali tidak mendengarkannya seolah olah telinganya dibuat tuli.


Banyak sekali orang yang memandangi pemandangan itu dengan hati yang berbunga dan ada pula yang sakit hati karena sudah lama mendambakan Gavin karena ketampanannya.


"Heii lihatlah itu! Perempuan itu sangat beruntung karena bisa mendapatkan Ceo Gavin!"


"Benar Ceo Gavin itu sangat tampan tak mungkin ia memilih sembarang wanita untuk dinikahinya," Samar samar Zhie mendengar suara orang orang yang memandanginya dalam gendongan Gavin.


Setelah sampai didalam Gavin menurunkan Zhie dengan sangat hati hati bersamaan dengan seorang wanita yang mungkin berumur kisar 30 tahun.


"Wah wah wah kau bahkan sudah beradegan romantis sebelum menikah hebat sekali kau dalam menggoda wanita!" kata wanita itu bertepuk tangan dan tertawa.


Zhie hanya bisa diam, ia tak mungkin bisa menyangga ucapan wanita itu dengan berkata kalau dirinya hanya wanita yang dijual daddy nya.


"Zhie kenalkan ini Abel, dia temanku sekaligus desainer terkenal yang mempunyai butik ini." jelas Gavin kepada Zhie. Sekali lagi Zhie dibuat ternganga ternyata wanita di hadapannya tak hanya cantik namun juga berbakat.


"Haii aku Abel," kata wanita itu memperkenalkan dirinya sambil menjulurkan tangan untuk berjabat.


"Zhie," jawab Zhie tersenyum.


"Kau sangat beruntung bisa mendapatkan Gavin, selama ini yang aku tahu dia tak pernah terpikat dengan wanita manapun tetapi kau telah berhasil mendapatkannya," basa basi wanita itu.


Zhie hanya bisa tersenyum menanggapi wanita itu. Sesekali matanya memandangi Gavin.


"Yasudah kalau begitu kita langsung mengukur saja, emm Zhie kau ikut denganku,"


Setelah mengukur Zhie duduk di sofa sementara Abel sedang mengambil beberapa sketsa gaun dan menunjukkannya kepada Zhie.


"Zhie ini beberapa contoh gaun yang terbaru, kau bisa memilihnya," kata Abel menyerahkan beberapa lembar kertas sketsa gaun.


Zhie meraihnya dan membuka lembaran demi lembaran. Ia sangat bingung karena sejujurnya dirinya tak pernah memakai gaun, dirinya hanya suka memakai baju ala remaja seperti hoodie yang dipadukan dengan celana jeans.


"Emm tante aku tak biasa memakai gaun jadi aku tak tahu harus pilih yang mana," kata Zhie ragu.


(Apa aku tak salah dengar? Dia memanggilku tante? Heii apa apaan ini?!) kata Abel dalam hati.


"Zhie kau memanggilku tante?" tanya Abel tak percaya.


"A..aku..aku tak tahu harus memanggilmu apa, aku bahkan masih 19 tahun." jawab Zhie pelan.


"Apa aku mengejekku bel?" tiba tiba muncul seorang pria dengan suara beratnya.


"Ohh Vin! Apa kau benar benar pedofil?" kata Abel semakin terbahak.


"Heii memangnya kenapa? bukankah cinta tak memandang umur?" kata Gavin yang membuat Zhie ternganga tak percaya.


(Om kumohon jujurlah! Kau menikah denganku juga karena bisnis bukan karena mencintaiku! Bukankah suatu saat kita juga akan berpisah?) gumam Zhie dalam hati.


"Ahh baiklah, oiya Vin kau pilihkan saja gaun pengantinnya, sepertinya Zhie masih belum paham dengan gaun gaun." kata Abel mengalihkan topik.


"Yang benar saja kau tak bisa memilih gaun Zhie? Kau ini sudah dewasa masa iya belum paham juga dengan gaun gaun,"


"Om aku sungguh tak mengerti tentang gaun, aku ini biasa memakai pakaian ala remaja bukan gaun gaun." kata Zhie dengan polosnya.


"Buahahaha! Lihatlah Vin! Bahkan Zhie memanggilmu Om!" kata Abel terpingkal pingkal.


Wajah tampan Gavin kini tertekuk masam. Sementara Abel masih tertawa terpingkal pingkal. Zhie hanya memandangi Abel dengan tatapan bingung sebab ia tak tahu bagian mana yang lucu.


***


Setelah selesai dengan urusan gaun, akhirnya Gavin memutuskan untuk segera pulang.


"Zhie apakah kau sudah makan?" tanya Gavin.


"Sudah." jawab Zhie singkat.


"Marc kosongkan jadwalku hari ini! Aku ingin menghabiskan waktu bersama calon istriku." perintah Gavin.


"Baik tuan,"


(Apa aku tak salah dengar?!) Zhie terbelalak dengan omongan Gavin.


"Aku tidak mau! " jawab Zhie tegas.


"Aku tak butuh jawabanmu Zhie. Marc kita mampir ke Restoran XXX."


"Aku masih banyak urusan Om! Aku harus segera pulang!" jawab Zhie


"Diamlah Zhie, aku hanya ingin mengajakmu makan bukan menculikmu lalu memperk*sa mu!" kata Gavin dengan senyum menyeringainya.


Wajah Zhie merah padam menahan malu. Gavin terlalu blak blakan dengan omongannya padahal didepan Sekretarisnya sedang menyetir. Akhirnya Zhie memilih diam dan menurut.


***


Di Restoran XXX.


15 menit sudah berlalu namun yang dilakukan Zhie hanyalah diam memandang ke luar jendela menatap orang orang yang sedang berlari kecil mencari tempat untuk meneduh karena diluar sedang gerimis. Akhirnya Gavin memutuskan untuk membuka mulut dan mengajak Zhie berbicara.


"Zhie makanlah, aku mengajakmu untuk makan bukan untuk diam seperti patung bernyawa."


Zhie yang dari tadi hanya diam kini menatap Gavin dengan malas. Ia tak nafsu makan tapi perutnya tak bisa bohong, sedari tadi perutnya memang melilit kelaparan. Tapi ia ingin sok jual mahal sedikit di hadapan Gavin.


"Aku tak lapar." kata Zhie dingin. Namun perutnya mengkhianati, tiba tiba saja perutnya berbunyi dengan keras. Zhie memegangi perutnya berharap Gavin tak mendengar teriakan perutnya.


"Lihatlah perutmu saja tak bisa berbohong," kata Gavin tersenyum miring.


"A..Aku sedang diet," Zhie berusaha mencari alasan agar dirinya tak jatuh malu di depan Om itu.


"Jangan banyak alasan cepat makan! Aku tak ingin saat pernikahan kau terlihat kurus! Lihatlah bahkan seperti tidak ada bagian yang terlihat menonjol dibagian tubuhmu!" jawab Gavin telak.


"Om! Kau mesum sekali! " seketika tangan Zhie menyilang di dadanya. Bulu kuduknya merinding mendengar kalimat Gavin.


Dengan cepat Zhie meraih sendok lalu menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia makan dengan sangat lahap seolah olah tak menghiraukan kehadiran Gavin di depannya. Gavin hanya tersenyum melihat tingkah konyol Zhie.


Haii Guys Terimakasih sudah mampir 😍😍


Jangan lupa di like ya😘😘