
WARNING 18+
Plisss bocil jangan baca😭
"Om apa kau merasa pusing? Perut mual? Kau sedang mabuk berat sekarang lebih baik tidur saja."
Tubuhnya tergerak membantu Gavin agar kembali ke posisinya. Namun tanpa ia duga Gavin menariknya. Membenamkan wajah Zhie di dada bidangnya.
"O...om le...lepaskan aku."
Zhie mencoba meronta. Namun lengan kekar Gavin menahannya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zhie. Menghirupnya dalam dalam seperti stok udara baginya. Zhie melenguh merasakan napas berat Gavin yang menerpa lehernya. Terasa menggelikan namun membuat candu.
Kini tatapan mereka bertemu. Dada Zhie berdegup kencang. Napasnya memburu. Seketika merasakan benda kenyal melekat tepat di bibirnya. Menelusuri setiap jengkal bagiannya seperti sedang mengabsen.
Akal sehatnya kembali normal ketika tangan Gavin meraih kancing piyamanya. Menggenggam tangan itu supaya menghentikan aktifitasnya.
"Le...lepaskan aku! Mau apa kau!"
Zhie meronta sejadi-jadinya. Wajahnya merah padam saat Gavin mengangkat tubuhnya dan membanting pelabuhan di tempat tidur.
"Kau tidak akan pernah meninggalkanku! Tidak akan pernah! Kau hanya milikku!"
Cercau Gavin sedikit tidak jelas karena pengaruh alkohol. Tangannya menarik paksa piyama itu. Beberapa kancing terpental karena tarikan paksa. Tak segan segan, Gavin pun merobek piyama Gavin sehingga menampakkan bagian atas tubuhnya yang masih tertutup sebagian.
Bahunya yang polos menjadi sasaran utama Gavin sekarang. Menghisap bahkan sesekali menggigit kecil. Zhie mengerang tertahan saat Gavin terus melanjutkan kebrutalannya.
"Lepaskan aku b*doh!! Aku tidak sudi jika harus melayanimu!"
Hinaan dan makian yang terlontar dari mulut Zhie tak membuat Gavin menghentikan aksinya. Justru ia merasa semakin brutal setiap kali mendegar suara Zhie yang meronta ronta.
"Apa perlu ku ingatkan lagi?! Kau istriku maka aku berhak untuk mendapatkannya!"
"Jangan harap! Didalam perjanjian itu bahkan sudah tertulis bahwa kau tidak akan menyentuhku! Kau bisa aku laporkan atas kasus ini!!"
Gavin tampak tidak memperdulikan ocehan Zhie. Tangannya tetap bergerilya mencari sensasi baru. Zhie semakin menyerah saat Gavin mulai menyentuh bagian bagian sensitif. Semua terasa kasar dan menyakitkan.
"Nikmati saja malam pertama kita ini."
Kata Gavin seraya menyatukan dirinya dengan Zhie. Gerakannya yang kasar hanya menciptakan luka yang mendalam di hati Zhie.
"Arghhhh!! Sa...sakitt!"
Pekik Zhie di tengah isak tangisnya.
Gavin sama sekali tidak memperdulikan jeritan Zhie yang kesakitan. Pengaruh alkohol sudah membawanya ke alam tak sadar ia melakukan hal apa dan ke siapa. Yang ia butuhkan saat ini hanya pelepasan.
Isak tangis Zhie sudah memudar. Wajahnya hanya menampakkan tatapan kosong tanpa ekspresi. Sementara pria diatasnya semakin brutal menyerangnya.
30 menit sudah berlalu. Gavin semakin memacu tubuhnya. Semakin cepat dan semakin cepat hingga mencapai titik pelepasan. Memberikan setiap tetes benih itu ke milik Zhie.
Tubuhnya terkulai lemas setelah permainan panas tadi. Menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Zhie. Memeluk wanita itu dari belakang dan membenamkan kepalanya di leher Zhie.
Setelah hampir 2 jam Zhie terbaring usai serangan Gavin. Ia memutuskan untuk berdiri meski merasakan sakit dan perih di ujung pangkal paha nya. Berjalan dengan susah payah menuju kamar mandi.
Menatap tubuhnya dicermin besar dalam kamar mandi. Banyak bekas tanda kepemilikan Gavin yang tercetak disana. Zhie merasa jijik melihat tubuhnya. Ia merasa kotor meskipun pelaku itu suaminya sendiri. Mengingat mereka membangun rumah tangga atas dasar bisnis bukan cinta.
Zhie mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Menggosok kasar kulitnya. Berusaha menghilangkan bekas tanda kepemilikan yang berserakan ditubuhnya. Bahkan sedikit mencakar cakar tubuhnya yang ia rasa akan sedikit menghilangkan trauma namun sia-sia.
Pikirannya terus melayang mengingat detail bagaimana pria itu merenggut kesuciannya tanpa rasa bersalah. Memaksanya dan melakukan semuanya dengan kasar tanpa ada rasa belas kasihan. Kepalanya terasa ingin meledek ketika terlintas wajah pria itu.
Semua gelap total. Tidak lagi mendengar gemercik air yang keluar dari shower. Tubuhnya yang terbalut piyama basah kuyup kini jatuh terlungkup di bawah shower yang masih mengalir.
****
Pagi menjemput dengan cepatnya. Matahari mulai naik. Memberikan sinar indahnya dipagi hari. Menerangi bumi dan memasuki rumah melalui celah celah kecil namun cukup terang.
Seseorang menggeliat pelan. Menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal semua. Mengusap wajahnya dengan kasar. Sedang berusaha mengumpat serpihan nyawa yang masih berada di alam mimpi.
Pria itu menoleh ke sebelah kanannya. Tempatnya kosong namun sangat kusut seperti habis dipakai untuk perang. Menyadari tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain dibawah selimut.
Matanya menyipit dan keningnya berkerut. Berusaha mengingat kejadian kejadian yang semalam ia lakukan tanpa ia sadari. Matanya terbelalak saat melihat darah berceceran di seprai.
"Oh ****!"
Desis pria itu. Tubuhnya meloncat meraih pakaiannya yang berceceran dilantai. Dan memakainya. Lalu memeriksa setiap bagian isi kamarnya. Mencari cari seseorang yang ia khawatirkan saat ini.
Matanya tertuju pada pintu kamar mandi. Terdengar gemericik air dari dalam.
"Zhie!? Kau baik baik saja? Apa kau didalam? Cepat buka pintunya!"
Karena merasa tak mendengar jawaban segera ia mendorong pintu itu. Mendobraknya kuat kuat. Tubuhnya terasa kaku dan lidahnya terasa kelu seketika. Melihat sosok wanita dengan tubuh yang sudah pucat dan bibir membiru dibawah air yang mengalir yang ia yakini air itu terus menyirami tubuhnya dari malam.
Dengan hati hati Gavin mengangkat tubuh wanita yang sudah kaku itu. Terdapat beberapa cakaran di lengan dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Setelah meletakkan Zhie dengan pelan di tempat tidur. Dengan cepat tangannya menyambar ponselnya dan menelpon seseorang.
"Cepat datang ke rumahku sekarang juga!"
Kata Gavin tanpa basa basi. Seseorang yang di telfonnya justru merasa bingung dengan sikap Gavin.
"Apa kau tuli?! Datang ke rumahku dalam waktu 5 menit jika tidak habis kau!"
Ancam Gavin lalu menutup telfon itu. Pandangannya kembali ke tubuh yang terbujur kaku didepannya. Membelai pipi gadis itu dengan sangat lembut.
"Maafkan aku."
Berulang kali Gavin mengucapkan kata maaf itu. Meskipun ia tahu tindakannya ini sia-sia karena gadis itu masih dalam keadaan pingsan.
"Bagaimana keadaannya?"
Tanya Gavin khawatir. Sorot matanya menggambarkan penyesalan yang mendalam.
"Sepertinya Nona Zhie pingsan karena mengalami benturan di kepalanya. Tapi Tuan tidak perlu khawatir karena tidak ada luka yang parah. Saya hanya akan memberikan resep obat pereda nyeri dan salep untuk luka di sekujur tubuhnya."
Kata Dokter itu menjelaskan. Sebenarnya dirinya merasa bingung mengapa gadis itu bisa sampai terluka seperti ini. Merasa seperti gadis itu sengaja melukai dirinya sendiri. Namun dirinya hanya bungkam. Takut untuk menanyakan hal yang termasuk pribadi ini.
"Marc antarkan dia kedepan dan tebus obat ini di apotik!"
Sebelum dokter pribadinya datang Gavin memang menyuruh Sekretarisnya untuk segera datang.
"Baik Tuan."
Gavin kembali menatap wajah gadis didepannya itu dengan penuh penyesalan. Hatinya menjerit sakit melihat kondisi gadis itu.
"Maafkan aku. Kau pasti kesakitan dan ketakutan kemarin malam. Maafkan aku."
Bersambung...