
Gavin menatap Sekretaris Marc lalu beralih menatap Zhie.
"Marc, bawa Zhie pergi dari sini. Aku takut kalau pria brengs*k didepanku ini menyakitinya lagi! " titah Gavin.
"Heii kawan kau tak perlu takut! Dia ini kekasihku bagaimana mungkin aku bisa menyakitinya, " jawab Daniel tersenyum licik.
Zhie menatap dua pria yang sedang berdebat itu dengan tatapan waspada. Ia takut kalau nantinya memang benar benar akan terjadi baku hantam karena jujur saja sebenarnya Zhie sangat takut melihat hal seperti itu secara langsung.
"Nona mari ikut saya, " ajak Marc kepada Zhie untuk menjauh dari tempat itu.
"Tidak. Kumohon biarkan aku tetap disini. Aku mohon. " jawab Zhie dengan wajah memelas.
Gavin menatap lekat manik mata Daniel yang tersirat banyak sekali kelicikan disana.
"Zhie pergilah. Jangan memperumit keadaan. " kata Gavin dingin tanpa menatap wajah Zhie.
Akhirnya Zhie mengalah dan mengikuti Sekretaris Marc menuju mobil. Namun pikirannya tetap tidak tenang. Ia khawatir akan terjadi perkelahian antara dua pria itu.
Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan.
Zhie kembali mencoba membujuk Sekretaris Marc untuk tetap mengawasi dua pria yang sedang sama sama terlihat emosi itu.
"Sekretaris Marc! Tunggu! " pekik Zhie ketika Sekretaris Marc jalan lebih dulu didepannya.
"Ada apa nona? " tanya Sekretaris Marc lalu mendekat.
"Bisakah kita tetap mengawasi mereka?" tawar Zhie.
Marc menatap penuh kesabaran yang mungkin hampir habis untuk menghadapi kekeras kepalaan Zhie. Hingga akhirnya membuang napasnya dengan sedikit kasar.
"Nona saya mohon jangan ikut campur urusan Tuan Gavin, saya yakin tidak akan terjadi apa apa. "
Zhie memilih untuk diam dan masuk segera ke mobil dengan penuh kekesalan.
Sekretaris Marc benar benar menyebalkan! Sangat tidak asik!
Setelah beberapa lama akhirnya Gavin kembali ke dalam mobil dengan wajah masam dicampur emosi. Sangat terlihat dari tatapan matanya.
Namun wajah masamnya pudar ketika Gavin melihat wajah Zhie yang ditekuk kesal dan murung.
"Marc apa kau membuatnya marah? " tanya Gavin setelah menatap Zhie bingung.
"Tidak tuan. " jawab Sekretaris Marc cepat.
"Yaa!! Kau sangat menyebalkan Sekretaris Marc! " adu Zhie dengan setengah berteriak. Tatapannya kini beralih ke Gavin yang masih terlihat bingung.
"Apa yang membuatmu begitu marah Nona Zhie? " tanya Gavin lembut.
"Hei dia bahkan melarangku untuk melihat kalian dari jauh. Bukankah itu sudah cukup aman mengapa tidak boleh?! Aku kan hanya khawatir! " kata Zhie meluapkan segala kekesalannya.
"Hmm tapi maaf Nona Zhie, aku pun akan lebih mendukung Sekretaris Marc disini. "
Zhie melotot kesal. Ditambah lagi dengan wajah Sekretaris Marc yang tersenyum menang.
Baiklah Sekretaris Marc hari ini kau boleh menang! Tapi lain kali aku pasti akan lebih unggul didepanmu!
****
Alur Mundur.
Gavin menatap Daniel dengan geram.
"Apa mau mu sekarang?! " Gavin akhirnya membuka percakapan yang tadinya hanya diam saling menatap penuh kebencian.
"Santai saja kawan. Sebaiknya kita minum teh dulu dan selesaikan dengan kekeluargaan. " jawab Gavin sambil duduk. "Ahh aku sangat haus. " lanjutnya.
"Aku bukan keluargamu! " jawab Gavin ketus.
"Ya baiklah kau kawanku, " tebak Daniel.
"Dan kau juga bukan kawanku! "
"Woahh! Sepertinya kau sangat terburu buru. Baiklah langsung ke topiknya saja. " kata Daniel sembari mengelus dagunya yang ditumbuhi banyak rambut halus.
Gavin hanya diam menatap kelakuan Daniel yang tampak begitu santai namun membahayakan.
Gavin memicingkan alisnya lalu menatap heran Daniel.
"Apa kau becanda Tuan Daniel? Dulu aku memang pernah mengalah demi mu. Tapi tidak untuk sekarang. Zhie sekarang adalah milikku bukan milikmu lagi. " tegas Gavin.
Brakkk!!
Daniel menggebrak meja dengan tangan kanannya.
"Kau begitu keras kepala Gavin. " kata Daniel dengan senyum licik menghiasi wajahnya yang terlihat seperti pria arogan.
"Cih sudahlah aku tak punya banyak waktu untuk membicarakan hal tidak penting denganmu! " jawab Gavin sembari meninggalkan tempat itu.
Daniel kini pun ikut berdiri dan segera membuka kacamata hitam yang sedari tadi melekat diwajahnya.
"Aku harap kau tak lupa siapa aku! Dan aku rasa kau begitu mengenal sifatku, Tuan Adinata Gavin Caesar! " teriak Daniel kepada Gavin yang mulai keluar dan hampir tak tampak lagi punggungnya.
****
Alur Normal.
Zhie masih murung dengan keadaan perutnya yang kelaparan. Hingga akhirnya suasana hening di dalam mobil itu dipecahkan ketika ponsel Zhie berdering dengan nyaringnya.
Zhie menatap lekat lekat layar ponselnya.
Siapa ini? Nomornya tidak dikenali.
Zhie memutuskan untuk tetap mengangkat telfon itu.
"Hallo? " sapa Zhie.
"Ah hallo, Ini Frans dosen yang mengajar dikelas anda. Saya hanya ingin menanyakan mengapa anda selalu absen ketika jam saya? Ini bukan untuk yang pertama namun sudah berkali kali. Saya harap anda bisa masuk dengan rajin karena mata pelajaran saya juga penting bukan untuk kelulusan anda? Dan satu lagi, anda meninggalkan beberapa tugas di mata pelajaran saya dan belum mengumpulkan.Saya mohon secepatnya untuk mengumpulkan. "
Astaga Pak Frans! pekik Zhie terkejut dalam hati.
"Ah ba..baik Pak. Maaf, lain kali saya pasti akan lebih rajin dan secepatnya saya akan mengumpulkan tugas saya. Terimakasih pak."
Tut tut tut.
Sambungan terputus sementara Zhie masih kebingungan mengapa Pak Frans repot repot menghubunginya. Bukankah biasanya menitipkan hal seperti ini kepada teman sekelasku? pikir Zhie.
"Siapa? " tanya Gavin kini ikut angkat bicara.
"Pak Frans. " jawab Zhie singkat tanpa beralih menatap ponselnya.
"Pak Frans? " tanya Gavin bingung.
"Dosenku. Ia memintaku untuk rajin masuk jam nya dan segera mengumpulkan beberapa tugas karena aku sudah melewatkan beberapa tugas darinya. " jelas Zhie yang kini memijit kepalanya. Terasa sangat pening.
"Om bisakah kau tak lagi menjemputku diwaktu jam kuliahku belum berakhir? Tugasku kini begitu menumpuk sementara hari H pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Bisa bisa aku stress jika seperti ini terus menerus. " keluh Zhie
"Kau tak perlu khawatir Zhie. Aku bisa membantumu mengerjakan semua tugasmu, tapi nanti setelah kita menikah. Mari fokus saja dulu ke pernikahan kita yang hanya tinggal beberapa hari lagi."
Zhie mendengus kesal mendapat jawaban yang begitu entengnya terucap dari mulut Gavin. Seolah olah itu hal mudah yang akan ia langkahi dengan sekejap dan selesai dengan sekali pejam.
Ditengah kepeningan Zhie lagi lagi ponselnya berdering. Namun hanya notifikasi pesan masuk saja. Tangannya dengan lincah segera membuka pesan itu gesit setelah membaca siapa pengirim pesan itu.
Daniel.
Zhie ingatlah aku masih kekasihmu. Aku tahu kau akan segera menikah dengan Gavin tapi ingatlah aku bukan seseorang yang dengan begitu mudahnya memberikan milikku ke orang lain. Dan satu lagi, mengapa kau menikahi Gavin hanya demi kepentingan bisnis? Apa kau dianggap seperti wanita murahan oleh keluargamu?
Entah mengapa membaca pesan Daniel begitu menyakitkan. Membuat mata Zhie tak kuat lagi membendung air mata yang siap tumpah membasahi pipinya.
Air matanya mengalir sempurna di pipi mulus Zhie dan dengan segera di lapnya dengan kasar seolah olah berusaha menguatkan dirinya.
Zhie.
Aku bukan barang yang bisa dimiliki oleh orang. Aku juga manusia. Kau pikir jika aku bisa memilih kau pikir aku akan memilih jalan hidupku seperti ini? Tentu tidak. Ini begitu menyakitkan dan terlalu berat untuk ku hadapi sendirian. Jadi kumohon jangan memperberat bebanku. Dan sekali lagi ku ingatkan, AKU BUKAN WANITA MURAHAN SEPERTI J*L*NG YANG BERKELIARAN DI BAR.
Pesan terkirim. Air mata Zhie kembali tumpah dan semakin deras. Gavin menyadari keadaan Zhie sekarang dan segera menangkup dagu Zhie lalu mengarahkannya untuk saling bertukar tatap.
Wajah Zhie terlihat begitu lusuh dengan bekas air mata yang mulai menderas. Matanya terlihat sembab dan merah.