It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
PELUKAN PERTAMA



Gavin menatap manik mata Zhie dengan lekat. Tersirat banyak sekali tatapan kasihan disana. Menandakan ada banyak luka yang belum sembuh sempurna lalu tertimpa luka baru.


"Ada apa? " tanya Gavin masih menangkup dagu Zhie dan mencengkram lembut.


Zhie memalingkan wajahnya dengan tatapan kosong. Seolah tak punya banyak harapan. Namun dengan cepat Gavin meraih dagu Zhie lagi lalu memeluk erat tubuh mungil Zhie.


"Menangislah sepuasmu dipelukanku. Aku siap mendengarkan semua isi hatimu. " kata Gavin mengusap rambut Zhie.


Awalnya Zhie sempat menolak pelukan itu, namun ia urungkan. Ia juga sadar sudah lama ia tak merasakan pelukan sehangat dan setenang itu. Kini Zhie membalas pelukan itu dengan erat dan tangisnya kembali pecah sampai punggungnya terguncang.


iya aku munafik sekali. Tapi aku tak bisa melepaskan pelukan tenang ini. Sudah lama sekali aku tak merasakan ini jadi biarkan aku kali ini.


Gavin dengan telaten mengusap punggung dan rambut Zhie lembut. Membiarkan gadis itu menangis sepuasnya dalam dekapan hangat tubuhnya sampai bajunya terasa basah terkena air mata milik gadis dalam dekapannya itu. Ia merasa kasihan melihat keadaan Zhie, namun di sisi lain ia merasa senang karena Zhie tak menolak pelukannya.


Setelah merasa lebih tenang Gavin mencoba menanyakan keadaan Zhie.


"Kau baik baik saja bukan? Tenanglah aku akan selalu untukmu. "


Zhie terkejut dan segera melepaskan pelukan itu. Wajahnya memerah dan gugup. Sangat terlihat menggemaskan.


"Eh..ma..maaf. Aku pasti sudah kehilangan akal. " elak Zhie.


Gavin meringis menatap wajah Zhie yang semakin terlihat menggemaskan. Kenapa menggemaskan sekali sih! Membuatku ingin memakannya saja!


"Haha. Zhie sebaiknya kalau ada apa apa ceritakan saja kepadaku. Aku siap mendengarkan apapun itu. " tawar Gavin sembari mengusap pipi Zhie yang basah. Membuat wajah Zhie semakin memerah seketika, bahkan telinganya ikut memerah.


Heh apa dia malu? pikir Gavin.


"A..aku..aku baik baik saja. Hanya masalah kecil aku bisa menyelesaikannya. " jawab Zhie berusaha untuk tetap terlihat netral.


Gavin tersenyum gemas melihat tingkah Zhie. Rasanya ingin sekali melahap gadis mungil didepannya itu.


"Katakan! " kata Gavin tiba tiba.


"Apa? " tanya Zhie kebingungan.


Gavin berdecak kesal. Selain menggemaskan ternyata gadis didepannya ini bisa bertingkah sedikit b*doh.


"Tentu saja ceritakan apa yang terjadi! Jika kau berani berbohong habis kau! " ancam Gavin yang semakin membuat nyali Zhie menciut.


Akhirnya setelah membiarkan pikirannya mengalir membiarkan otaknya berputar memikirkan kalimat yang pas untuk ia ucapkan agar tidak menyesal nantinya.


"Huftt! " Zhie membuang napasnya kasar. "Baiklah. Daniel mengirimku pesan." lanjut Zhie.


"Kemarikan ponselmu. " titah Gavin sembari mengulurkan tangannya meminta ponsel Zhie.


Gavin menepuk dahinya. Semakin merutuki keb*dohan gadis didepannya itu.


"Tentu saja aku ingin melihat isi pesannya. "


Matilah aku! Bahkan aku belum mengganti nama kontak Daniel dan namanya masih seperti anak anak remaja alay yang berpacaran! Huh sungguh memalukan pasti nanti.


"Apa kau tuli? Cepat kemarikan ponselmu! " kata Gavin menaikkan suaranya satu oktaf.


"Aa...ini..ini tidak penting sama sekali Om! " elak Zhie terbata bata.


Gavin merasa geram dengan tingkah Zhie akhirnya ia memutuskan untuk merebut paksa ponsel milik Zhie. Lalu dengan lincah membuka kunci layar dan keningnya mengernyit mengalihkan pandangan ke arah Zhie.


Cepat katakan apa passwordnya.


Zhie mengerti arti tatapan Gavin lalu segera mengambil alih ponselnya yang berada di tangan Gavin namun ditepisnya tangan itu.


"Katakan saja." Zhie menatap Gavin tak percaya.


"Biar aku saja Om yang buka. " kata Zhie.


Gavin mengangkat ponsel itu ke udara seperti siap membantingnya. Dengan mata melotot Zhie menatap ponselnya yang diangkat ke udara oleh Gavin.


"Cepat katakan atau ponselmu tidak akan selamat! " ancam Gavin.


"Kyaa!! iya iya iya baiklah! Passwordnya tanggal lahirku." Zhie menatap wajah Gavin dengan licik.


Haha. kau tidak tahu kan Om?


Gavin tersenyum miring lalu mengetikkan jarinya di layar ponsel. Senyumnya semakin melebar saat dilihatnya ponsel itu terbuka. Lalu mengangkat ponsel itu dan mengarahkan tepat layarnya didepan wajah Zhie.


"Bagaimana bisa?! Apa kau mencari tahu tentangku?! Bahkan tentang Daniel pun kau sudah tahu?! "


"Tentu saja. Aku tahu latar belakangmu. Aku tahu semua tentangmu, " ujar Gavin.


"Untuk apa? "


Gavin memicingkan alisnya sebelah. "Untuk apa? Kau ini akan menjadi istriku, bagaimana mungkin aku tidak tahu latar belakangmu. "


"Heii Om ingatlah, kita menikah hanya karena bisnis bukan karena saling mencintai. " Kata Zhie lembut namun menusuk.


"Maka aku akan membuatmu jatuh cinta denganku. " Kata Gavin tersenyum licik.


Zhie menatap Gavin dengan ngeri. Bulu kuduknya merinding mendengar perkataan Gavin yang terasa seperti bom nuklir berjatuhan di atas kepala dan isi hatinya.