It Can'T Be Love

It Can'T Be Love
DANIEL PSIKOPAT



2 tahun yang lalu.


Gavin berjalan penuh emosi menuju hotel dimana kekasihnya pergi bersama seorang pria lain. Matanya memerah seketika setelah mendapat kabar bahwa kekasihnya bersama pria lain di sebuah hotel ternama di Kota XXX.


Gavin membuka pintu hotel itu dengan paksa. Hanya dengan sekali tendang saja pintu itu sudah terbuka lebar memaparkan pemandangan tak senonoh. Dimana ia memergoki kekasihnya menjalin hubungan badan dengan seorang pria yang tak lain sahabatnya, Daniel.


Matanya semakin memerah namun tak sanggup meluapkan air matanya. Dengan spontan tangannya menarik knop pintu itu dan menutupnya dengan kasar. Dua orang yang sudah basah teraliri peluh itu menghentikan aktivitasnya.


"Arghh!! Bagaimana bisa ia tahu! " kata Li Xiaoi. Spontan ia menyambar pakaiannya yang berceceran dilantai dengan cepat dan memakainya secara asal.


"Li Xiaoi! Mau kemana kau? " tanya Daniel enteng.


"Dasar pria bodoh! Baru saja kau melihat kekasihku memergoki kita dan kau bertanya aku mau kemana?! " jawab Li Xiaoi lalu berlari mengejar kekasihnya.


Sampai di lobby ia melihat Gavin hendak masuk ke dalam mobilnya. Ia segera berlari menyusul.


"Sayang dengarkan penjelasanku! Itu semua tidak seperti yang kau lihat! " elak Li Xiaoi.


Gavin hanya diam dan bungkam. Matanya merah membara seperti api. Wajahnya penuh emosi. Keringat juga membasahi wajah dinginnya.


Setelah kejadian itu Li Xiaoi menghilang. Entah kemana Gavin pun tidak tahu. Ia sudah mencoba melacaknya namun sia sia. Tidak ada yang tahu kemana Li Xiaoi pergi.


Perasaannya masih sama. Masih mencintai tapi juga membenci jika mengingat kejadian di hotel malam itu. Namun hatinya masih saja mencintai wanita biadab itu.


****


Di Kampus.


Zhie sudah berkali kali mencoba mengubungi Daniel. Namun tetap tak ada balasan. Namun tetap saja pikirannya tak ada henti hentinya memikirkan om itu. Ia merasa sangat bersalah setelah memaki om itu dengan mulutnya.


Zhie mengutuk mulutnya sendiri yang sepedas cabai dan setajam belati.


Ia kembali mengotak atik ponselnya lalu mencari kontak om itu. Jarinya siap menekan tombol panggil, namun ia urungkan. Ia bingung kenapa dengan dirinya hari ini. Biasanya om itu akan mengirimnya pesan saat jam makan siang tapi lain hari ini. Tidak ada satupun pesan masuk dari om itu.


Hati kecilnya mulai gelisah. Berulang kali ia memikirkan apa yang terjadi padanya hari ini.


Zhie apa urusanmu mengapa kau begitu memikirkannya! Kumohon pergilah kau om dari pikiranku enyahlah!


Zhie menelungkupkan wajahnya dalam dalam. Berusaha membuang bayangan wajah om itu. Tapi gagal.


Brakkkk.


"Arghhh! "


Tanpa sadar Zhie menggebrak meja. Tepat didepannya sudah berdiri dosennya.


Kyaa! Kenapa ada Pak Frans disini!


Zhie tertegun saat dilihatnya wajah tampan Pak Frans. Berdiri tepat didepan mejanya.


"Astaga pak maaf. Saya tidak tahu ada bapak disitu. " kata Zhie menyesal. Dalam hati ia mengutuk om itu membuatnya tidak bisa fokus hari ini.


"Tidak apa saya hanya meminta hasil pekerjaan tugasmu. Sudah selesai? "


Zhie kembali terkejut. Ia melupakan tugas dari Pak Frans. Ia kembali menyadari kebodohannya.


"Ma..maaf Pak, sa..saya lupa membawa. " kata Zhie menunduk. "Ah tapi bapak jangan khawatir saya sudah mengerjakannya. Hanya saja saya lupa membawanya pak. "


"Kalau begitu ambil sekarang juga. Saya tidak menerima tugas lagi selain hari ini. Mengerti? "


"Ta..tapi pak.. "


Pak Frans melihat jam tangan yang melingkar ditangannya. "Saya tidak punya waktu banyak. Cepat ambil tugas itu sekarang atau kamu saya nilai C."


Dengan Zhie berlari menuju parkiran mencari mobilnya. Lalu merogoh tas nya.


Deg.


Tubuhnya terpaku. Sungguh hari yang sangat sial hari ini. Zhie lupa tidak membawa kunci mobilnya. Ia menepuk dahinya dan berdecak kesal.


Otaknya berputar memikirkan jalan keluar. Zhie kembali berlari ke pinggiran jalan. Berusaha mencari taxi agar ia bisa pulang secepat mungkin.


Hampir 10 menit namun belum ada taxi yang lewat. Keringatnya mulai mengucur membasahi wajahnya. Tangannya mengibas berusaha meringankan terik panas yang menerpa ditubuhnya.


Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Saat kaca mobil terbuka Zhie terkejut karena ternyata itu kekasihnya, Daniel.


"Bebby? " kata Zhie dengan wajah berbinar.


"Masuk." balas Daniel tanpa menatap wajah Zhie.


"Bebby tolong antar aku kerumah. Aku harus mengambil tugas kuliah jika tidak aku pasti akan mendapat nilai C. Dan terimakasih sudah datang kau benar benar seperti penyelamat beb. " celoteh Zhie sembari memegang lengan kekar Daniel.


Namun wajah Daniel datar tanpa ekspresi. Zhie terheran-heran mengapa kekasihnya mengacuhkannya. Wajah Daniel terlihat menyeramkan saat ini. Sudaj dipastikan Daniel sedang marah.


"Bebby ini bukan jalan ke arah rumahku. Mengapa kita kesini? " tanya Zhie bingung.


Daniel hanya diam. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya terus fokus ke jalan. Zhie mulai merasa merinding. Ia takut Daniel akan melukainya.


"Bebby kita kan akan ke rumah menatap lewat jalan ini? Beb ayolah cepat putar balik kita salah arah. "


"Diam kalau kau masih ingin hidup! " balas Daniel berteriak.


Zhie terkejut. Ini pertama kalinya Daniel meneriaki nya. Napasnya tertahan beberapa detik. Berusaha mencerna perkataan Daniel.


Tidak lama mobil Daniel sudah sampai di sebuah apartemen. Daniel mematikan mesin mobil.


"Cepat turun! "


Zhie yang ketakutan hanya diam mematung dikursi mobil. Mulutnya tak sanggup mengeluarkan kalimat apapun. Ia takut.


"Apa telingamu tuli hah?! " bentak Daniel membuat Zhie berjingkit terkejut.


Daniel sudah turun dan membuka pintu mobil sebelahnya. Lalu menarik tangan Zhie dengan kasar. Zhie hanya bisa menangis dan meringis kesakitan saat cengkeraman tangan Daniel di pergelangan tangannya semakin kuat.


Daniel terus menarik tangan Zhie dengan kasar sampai memasuki sebuah apartemen milik Gavin. Zhie semakin ketakutan. Ia takut Daniel akan menyakitinya.


Daniel mendorong Zhie sampai terjerembah di sofa. Tangan bekas cengkeraman Daniel terlihat memerah. Sementara mata Daniel terus menatap Zhie dengan ganas. Tatapan mematikan.


Badannya terasa gemetar saat Daniel mulai mencengkeram dagunya. Lalu meneriakinya lagi.


"Jangan coba coba kabur atau aku tak segan segan melukaimu! "


Nyali Zhie semakin menciut. Saat dilihatnya Daniel menaiki tangga ia segera mengeluarkan ponselnya. Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin menghubungi om itu dengan segera.


Tangannya dengan gemetar. Keringat dingin mengalir di dahi dan alisnya.


"Hm ada apa. " sahut Gavin dingin saat panggilan sudah terhubung.


Bukannya menjawab Zhie justru menangis mendengar suara Gavin.


"Zhie?! Kau kenapa? Ada apa? Mengapa kau menangis? Apa ada yang melukaimu?! " tanya Gavin khawatir.


"O..om..to..tolong...Da..Daniel membawaku ke apartemen. Aku takut ia akan melukaiku. Tolong cepatlah datang aku sangat takut. " rengek Zhie.


"Dimana? Apartemen mana? " tanya Gavin dengan napas tak beraturan.


"Di.." belum sempat Zhie menjawab Daniel muncul. Dengan wajah merah padam Daniel merebut ponsel Zhie lalu membantingnya. Namun sambungan telepon dengan Gavin masih terhubung.


"Beraninya kau! " teriak Daniel. Tangannya terangkat lalu mendarat dengan mulus di pipi Zhie.


Plakk.


Gavin yang mendengar suara tamparan kini semakin marah. Emosinya sudah memuncak.


"Marc! "


"Ada apa Tuan, " Marc dengan cepat sudah muncul di ruangan Gavin.


"Cepat lacak keberadaan Zhie! "


"Baik tuan. "


Sambungan telepon masih terhubung. Kini Gavin mendengar teriakan Zhie. Teriakan ketakutan bercampur dengan teriakan kesakitan.


"Ah! Sakit Niel! Sakittt! " Zhie berteriak meronta saat Daniel mulai menjambak rambut panjang lurusnya.


"Inilah hukumanmu karena sudah berani berselingkuh dariku! " kata Daniel dengan senyum mengerikan.


"Niel sakitt! " pekik Zhie hampir putus asa.


15 menit sudah berlalu. Daniel masih memukul, menjambak dan meneriaki Zhie. Ia pasrah sembari menunggu Gavin datang menyelamatkannya. Tubuhnya lemah. Sangat lelah. Ia ingin tidur saat ini. Ya, hanya tidur.


Daniel yang melihat Zhie sudah pingsan kini tersenyum menyeringai. Namun ia belum puas. Daniel pergi menuju dapur dan mengambil pisau. Lalu disayatnya tangan mulus Zhie. Hanya beberapa sayatan rapi yang Daniel buat. Tapi pasti akan sangat perih saat terkena air.


Daniel tersenyum puas dan meninggalkan apartemen itu. Daniel juga mengunci apartemen itu agar Zhie tak dapat kabur.