
(apa aku tak salah dengar? Tuan Gavin memuji seseorang? hem sepertinya Tuan Gavin menyukai Nona Zhie) batin sekretaris Marc.
***
Dirumah Ziva.
(huftt..aku harus bagaimana ini. Mataku sangat terlihat sembab jika Ziva melihatnya pasti dia akan khawatir) guman Zhie pelan.
Zhie melangkahkan kakinya menuju pintu rumah Ziva dan dengan perasaan campur aduk ia mulai menekan bel.(semoga Ziva tak menyadari mataku yang sembab ini).
Cekrekkkk.
Pintu sudah terbuka dan dilihatnya Ziva yang segera berhambur memeluk Zhie.
"Akhirnya kau datang juga, aku kira kau tidak akan datang." kata Ziva sembari melepaskan pelukannya.Dengan mata terbelalak Ziva mendapati mata Zhie yang tampak sembab.
"Zhie? Kau tak apa kan?Mengapa matamu sembab? Apa yang terjadi?" deretan pertanyaan yang Ziva lontarkan kepada Zhie justru semakin membuat dada Zhie semakin sesak.Ia tak tahu harus dari mana ia menjelaskan kepada sahabatnya itu.
"Ah oiya ayo kita masuk dulu" lanjut Ziva memeluk lengan Zhie dan membawanya ke kamar Ziva.
***
Sementara diruang keluarga Albert.
Olivia yang sedang mengelap meja berusaha berhenti mengkhawatirkan putrinya setelah mengetahui perperjanjian Edouard dengan Ceo itu. Tiba tiba matanya menangkap Edouard dengan wajah lesu memasuki ruang keluarga.
"Sayang, bagaimana dengan Zhie? apakah dia baik baik saja?" tanya Olivia dengan khawatir.
"Tenanglah dia hanya butuh waktu untuk mencerna semua ini" jawab Edouard menatap sayu istrinya.
"Ya Tuhan aku mohon kuatkan putriku..." kata Olivia dengan segenang cairan bening di pelupuk matanya yang siap jatuh mengalir.Ia tahu pasti perasaan putrinya itu sangat hancur bagai tersambar petir disiang bolong. Ia harus menerima semua penderitaan ini yang bahkan usianya yang baru menginjak 19 tahun.
Olivia sadar putrinya mempunyai mimpi untuk masa depannya, tapi ia sendiri tak punya pilihan. Ia harus bisa membuat Zhie meluluskan kuliahnya, hanya dengan cara ini putrinya itu bisa menggapai cita-citanya dan membantu daddy nya agar tidak bangkrut.
Ia sendiri merasa seperti menjual putrinya, dan pasti juga putrinya menganggap orang tuanya telah menjual putrinya untuk menyelamatkan perusahaan Edouard, daddynya.
***
Dirumah Ziva.
Setelah hampir setengah jam Zhie menangis di pelukan sahabatnya itu ia mulai tertunduk lemas. Tak ada lagi suara isak tangis yang terdengar, hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Hingga akhirnya Zhie memulai percakapan.
"Va..Aku harus gimana..mereka telah menjualku kepada om om itu. Aku masih ingin menggapai mimpiku Va.." tanya Zhie lemas.
"Zhie, aku tahu mereka pasti punya alasan dibalik semua ini.Mereka tidak akan begitu mudahnya melakukan hal ini sebab mereka pasti hancur dengan semua ini.Akan lebih baik jika kau bertanya kepada mereka mengapa melakukan semua ini.Percayalah kepadaku.." jawab Ziva menggenggam tangan sahabatnya.
"Apa kau yakin Va?" tanya Zhie mulai menatap Ziva. Ada banyak makna tersirat dibalik tatapannya itu.
Ziva tersenyum menanggapi sahabatnya, "tentu, aku sangat yakin Zhie."
Setelah mempertimbangkan akhirnya Zhie memutuskan untuk pulang.Dengan perasaan kacau balau ia berusaha untuk terlihat baik baik saja.Ia berusaha untuk tidak terlihat hancur di depan mommy nya, ia takut mommy nya akan khawatir.
Sebelum pulang Zhie mengambil kartu nama Ceo Gavin yang sempat diberikan oleh daddy nya sebelum pertemuan hari ini.Ia menghubungi nomor itu.
From: Zhie
To: Ceo Gavin
"Saya Zhie. Saya ingin bertemu dengan Ceo Gavin di Cafe XXX. Saya tunggu 15 menit lagi."
Setelah pesan dikirim ia segera menuju Cafe XXX.Tak butuh waktu lama Zhie sudah duduk manis di Cafe itu dan memesan beberapa minuman.
Kring kring kring.
"Hallo ada apa beby?" tanya Zhie manja.
("Aku sangat merindukanmu beby bisakah kita bertemu minggu ini?" sahut pria di balik sana.)
"Emm aku usahakan beby, aku sedang sangat sibuk. Jadwalku juga sedang sangat padat" jawab Zhie dengan nada lesu yang menandakan dirinya sedang sangat lelah.
("Oh baiklah aku akan menunggu hari itu" sahut pria itu lagi.)
Selesai dengan telfon itu, Zhie meletakkan ponselnya dengan kasar di meja lalu menundukkan kepalanya dalam dalam sampai terantuk meja."Hufttt" Zhie membuang napasnya kasar.Ia melihat kearah jam tangannya yang melingkar kecil ditangan kirinya.(Sudah 20 menit mengapa dia tak kunjung datang? Apa dia sengaja mengabaikan pesanku?Ahh aku terlalu berharap bisa bertemunya setelah perkataan kasarku diruangan Ceo itu tadi siang) gumam Zhie lirih.
Hampir Zhie melangkahkan kakinya keluar Cafe tiba tiba seorang pria berbadan tinggi tegap muncul di balik pintu.(Ah itu dia akhirnya datang juga) batin Zhie.
"Maaf terlambat, jalanan hari ini sangat padat." tanpa menyapa pria itu langsung menjelaskan singkat.
"Ah iya tak apa." jawab Zhie tersenyum tipis.
Deg! (Apa apaan itu! Mengapa dia terlihat sangat manis dengan senyum tipisnya.) kata Gavin dalam hati.
"Jadi ada apa kau memintaku untuk datang kemari?Apa kau sudah menyetujui pernikahan itu? " tanya Ceo itu.
"Oh iya benar.Saya sudah menyetujui pernikahan itu." jawab Zhie datar, senyum tipis tadi sudah memudar.
Ceo itu menyeringai menampakkan deretan gigi putih rapihnya."Huh akhirnya.Lalu apa hanya ini yang ingin kau sampaikan?" tanya Ceo itu.
"Tidak.Sebenarnya ada hal lain yang ingin saya sampaikan kepada anda, tuan.Jadi saya ingin sebuah persyaratan." jawab Zhie.
Ceo itu memicingkan alisnya sebelah."Persyaratan?"
"Iya.Saya ingin sebuah persyaratan, saya akan menikah dengan anda tapi dengan beberapa syarat tuan." jawab Zhie mulai menjelaskan.
"Katakan apa saja itu." jawab Ceo Gavin singkat.
"Saya tidak ingin persyaratan itu hanya secara lisan, saya juga mau persyaratan itu berbentuk tulisan dengan tanda tangan diatas materi, yang artinya persyaratan itu resmi yang mana jika anda ataupun saya itu melanggar maka akan ada konsekuensinya.Bagaimana menurut anda?" tanya Zhie.
(Hmm apakah dia berusaha menjebakku dengan sebuah persyaratan.) gumam Ceo Gavin.
"Ya baiklah aku akan melakukannya, katakan apa saja syaratnya." jawab Ceo itu mulai dingin.
"Pertama setelah menikah saya tak ingin anda menyentuhku di ranjang,kedua sa.." belum selesai berbicara Ceo Gavin memutuskan pembicaraan Zhie.Matanya menatap tak percaya.
"Apa?Kau tak ingin aku menyentuhmu di ranjang bahkan setelah menikah? Apa kau gila?" tanya Ceo itu tak kuasa menahan emosinya.
"Dengarkan saya dulu tuan, saya belum selesai berbicara." jawab Zhie singkat.
"Tuan biarkan Nona Zhie menyelesaikan kalimatnya." kata Sekretaris Marc yang sedari tadi hanya diam kini angkat bicara dan berusaha menenangkan Tuannya meskipun ia ikut tak suka dengan peraturan yang diminta Nona Zhie kepada Tuannya.
"Lanjutkan!" jawab Ceo itu mengalah.
"Baiklah, kedua saya tak ingin anda ikut campur urusan pribadi saya, ketiga anda tidak boleh melarang saya apapun yang ingin saya lakukan.Dan untuk syarat pertama tolong mengertilah tuan, saya masih 19 tahun dan saya masih kuliah.Saya tak ingin apabila nantinya kuliah saya terganggu dengan kehamilan saya, tuan" jawab Zhie menjelaskan.
Ceo itu menatap Sekretarisnya berusaha berdiskusi lewat tatap mata.Sekretaris Marc hanya menganggukkan kepala pelan kepada Tuannya.
"Baiklah sebenarnya aku sangat keberatan dengan syarat yang kau minta. Tapi tak apalah selama itu tak mengganggu reputasiku aku akan menerima syarat yang kau berikan itu." jawab Ceo Gavin dingin.
Sementara Zhie hanya tersenyum menang mendengar jawaban Ceo itu.
(Oh diriku yang beruntung) gumam Zhie penuh kemenangan.
Haii terimakasih sudah mampir😗😗
Jangan lupa like dan vote ya❤❤❤